Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Ingkar


__ADS_3

Vika melepaskan pelukan anaknya. Dia kemudian menangkup ke dua pipi anaknya.


"Sayang, maafkan mama ya, udah membuat kamu takut," ucap Vika sembari mengusap air mata anaknya.


"Mama, aku takut. Bagaimana kalau tadi kita kecelakaan," ucap Liza.


"Nggak sayang, Tuhan masih sayang sama Mama dan Liza kok," ucap Vika mencoba menenangkan anaknya.


"Maafin mama ya sayang. Tadi mama khilaf bawa mobilnya ngebut."


"Mama janji ya, jangan ngebut-ngebut lagi bawa mobilnya. Karena aku takut."


"Iya sayang Mama janji. Mama nggak akan bawa mobil ngebut-ngebut lagi."


Vika kemudian mencium kening Liza dan ke dua pipi Liza. Tiba-tiba saja, air mata Vika mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.


Hiks...hiks...hiks...


Liza terkejut saat melihat ibunya tiba-tiba menangis sesenggukan di depannya.


"Mama, sebenarnya mama kenapa? kenapa mama nangis?" tanya Liza.


Vika mengusap air matanya.


"Mama nggak apa-apa sayang," bohong Vika. Vika sepertinya sudah tidak sanggup untuk menahan perasaannya saat ini.


Hatinya hancur berkeping-keping saat tahu kalau suaminya diam-diam sudah menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya.


Vika juga tidak sanggup untuk menceritakan pada Liza kalau ayah Liza sudah menikah lagi.


Liza pasti akan sangat sedih kalau tahu ayahnya sudah menikah lagi dengan wanita lain.


"Mama nggak apa-apa sayang. Ayo lanjutkan lagi perjalanan kita"


"Mama yakin kalau mama nggak apa-apa? kalau mama lagi sedih, mending kita turun dulu."


"Mama nggak apa-apa kok sayang. Kita lanjutkan lagi ya perjalanannya."


"Iya Mama. Kita mau ke mana?" tanya Liza.


"Pulang sayang," jawab Vika singkat.


"Iya Mama. Mendingan kita pulang aja. Biar Mama bisa istirahat."


Vika menancap kan gasnya kembali untuk melanjutkan perjalanannya. Sebenarnya hati Vika sudah bergemuruh. Emosi Vika juga sudah mulai memuncak. Namun Vika masih bisa meredam emosinya di depan Liza.


Vika sadar kalau sekarang dia ada di jalan raya. Dan Vika harus hati-hati, apalagi saat ini dia membawa Liza.


Tiba-tiba, ingatan Vika kembali lagi ke beberapa tahun yang lalu saat dia pertama kali bertemu Rama.

__ADS_1


Waktu itu Vika juga lagi kebut-kebutan di jalan. Dan dia menabrak Rama lelaki yang sedang mencari pekerjaan.


Kenapa sih . Kenapa tadi aku harus ngebut. Dan kenapa bayangan Mas Rama muncul lagi dalam ingatan aku. Mas Rama itu udah jahat sama aku. Nggak pantas lelaki itu mendapat kan cinta aku, batin Vika.


***


Rama dan Safia masih duduk di ruang tamu. Setelah kejadian tadi, mereka masih saling diam. Entah sekarang siapa yang pantas untuk disalahkan di antara ketiga orang itu. Vika, Rama, atau Safia. Yang jelas konflik ini muncul setelah Rama mengetahui kalau Vika nginap di Bali bersama Bram.


Safia menatap Rama lekat. Rama masih tampak mengurut-urut keningnya. Sepertinya dia sedang memikirkan kejadian tadi.


"Mas, kamu nggak mau kejar Mbak Vika dan jelasin ke dia tentang hubungan kita?" tanya Safia.


Rama menatap Safia tajam.


"Untuk apa? bukankah semuanya sudah jelas, Vika itu sudah tahu kalau kita sekarang suami istri."


"Kamu yakin, kalau Mbak Vika nggak akan ngamuk-ngamuk di rumah?"


Rama tiba-tiba saja teringat dengan Liza anaknya.


"Oh, iya ya. Bagaimana kalau Vika ngamuk-ngamuk di rumah. Aku tahu siapa Vika. Kasihan Liza kalau sampai melihat Vika ngamuk-ngamuk," ucap Rama yang tampak mengkhawatirkan Liza.


Rama menatap Safia lekat.


"Safia, aku pergi dulu ya. Aku harus kejar Vika. Aku takut Liza kenapa-kenapa."


"Iya Mas. Kamu harus tenangin Mbak Vika dulu."


"Ayah, setelah urusan ayah sudah selesai, ayah janji kan mau datang ke sini lagi?" tanya Anna sebelum Rama pergi.


"Iya sayang, ayah janji, ayah akan datang ke sini lagi. Kan ayah udah janji, kalau ayah akan membelikan kalian rumah. Nanti setelah ayah mendapatkan rumah untuk kalian, ayah akan ke sini lagi."


"Wah, makasih banget ya ayah."


"Iya sayang. Ayah pergi dulu ya."


"Iya ayah."


Sebelum pergi, Rama mencium kening dan ke dua pipi Anna. Setelah itu dia juga mencium kening Safia. Setelah itu Rama pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Rama keluar dari rumah Safia. Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan langsung meluncur pergi meninggalkan rumah Safia.


****


Vika sudah sampai di depan rumahnya. Dia memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.


"Liza udah sampai. Sekarang kamu turun!" pinta Vika.


"Iya Ma."

__ADS_1


Liza membuka pintu mobilnya. Dia kemudian menunggu Vika turun dari mobil. Namun Vika yang ditunggu-tunggu, belum mau turun juga.


"Mama kenapa nggak turun-turun sih. Aku masuk dulu aja deh," ucap Liza.


Liza kemudian masuk ke dalam rumahnya. Sementara Via masih belum mau beranjak turun dari mobilnya.


Bruak...


Vika tiba-tiba saja memukul setir mobilnya. Dia sepertinya sudah ingin meluapkan emosinya.


"Ih. Mas Rama. Benar-benar menyebalkan kamu Mas. Mana janji kamu dulu sama ayah aku. Kamu bilang kamu mau membahagiakan aku selamanya. Kamu janji kamu tidak akan pernah menyakiti aku dan tidak akan pernah meninggalkan aku. Tapi sekarang..." ucap Vika.


Hiks...hiks ..hiks ..


"Wanita itu juga benar-benar menyebalkan. Kelihatannya aja dia alim. Tapi dia cuma pura-pura polos aja di depan orang-orang. Tapi pada kenyataannya dia itu memang pelakor. Dia sudah merebut suamiku..." geram Vika di dalam mobilnya.


"Oma...! Oma...! Bibik...!" seru Vika setelah dia sampai di ruang tengah.


Beberapa saat kemudian, Bik Ijal mendekat ke arah anak majikannya.


"Non, Non Liza udah pulang?"


Liza tersenyum. Dia mendekat ke arah Bik Ijah dan langsung memeluknya.


Bik Ijah terkejut saat tiba-tiba saja Liza menangis.


"Hiks ..hiks ..hiks ... bibi aku takut. Aku takut sama Mama," ucap Liza di sela-sela tangisnya.


"Takut kenapa Non? emang apa yang sudah mama Non lakuin?" Bik Ijah melepaskan pelukan Liza. Setelah itu dia berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Liza.


"Sayang, sekarang Liza cerita sama bibi. Apa yang sudah mama lakuin? apa dia mukul Non?"


"Aku takut. Tadi di jalan mama seperti orang kesetanan. Dia nyetir kenceng banget. Hampir aja aku dan mama celaka."


"Ya ampun, tapi Non Liza nggak apa-apa kan?"


Liza menggeleng.


"Nggak apa-apa Bi. Tapi aku takut."


"Non Liza dari mana sebenarnya?"


"Tadi di jalan aku ketemu sama Papa. Aku dan mama ngikutin mobil Papa."


"Terus ?"


"Terus , papa masuk ke rumah yang ada di dekat masjid. Mama juga ikut masuk ke situ, pas mama keluar, mama seperti orang yang lagi kesal. Nggak tahu apa yang udah Papa lakukan ke Mama,"cerita Liza dengan polosnya.


Bik Ijah mencoba untuk mencerna dan memikirkan ucapan Liza.

__ADS_1


Ada apa ya ini. Kenapa perasaan aku jadi nggak enak. Apa jangan-jangan ada masalah besar di antara Pak Rama dan Bu Vika.


__ADS_2