Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Keterkejutan Shakira


__ADS_3

"Pak Rama, masakan bibi udah matang. Apa Pak Rama mau bibi siapkan makanan untuk Pak Rama sarapan?" tanya Bik Ijah.


"Oh. Iya Bik. Vika dan Liza udah pergi. Mereka tidak sarapan di rumah."


"Oh iya Pak Rama. Jadi Pak Rama saja yang mau sarapan?" tanya Bik Ijah.


"Iya. Nanti Mbak Shakira setelah nyuci suruh nyuapin mama ya Bik."


"Iya Pak Rama. Kalau begitu Saya siapkan dulu ya Pak sarapannya untuk bapak."


"Iya."


Bik Ijah kemudian menyiapkan sarapan untuk Rama di meja makan. Setelah itu, Rama pun bangkit dari duduknya dan melangkah untuk ke meja makan.


Setelah Bik Ijah menyiapkan sarapan untuk Rama, Rama pun kemudian makan. Selesai makan, Rama melangkah ke halaman belakang rumahnya.


Dia menatap Shakira yang saat ini sedang menjemur baju di halaman belakang rumah. Rama tersenyum dan mendekat ke arah Shakira.


"Sudah selesai nyucinya?" tanya Rama pada Shakira.


Shakira menoleh kebelakang di mana Rama berdiri. Dia tersenyum saat melihat Rama.


"Eh, Pak Rama. Ada apa Pak?" tanya Shakira.


"Tidak ada apa-apa. Aku cuma mau bilang, kalau udah selesai jemur bajunya, nanti kamu siapkan makanan ya untuk mama di kamar. Sekalian kamu suapin mama," pinta Rama.


Shakira mengangguk.


"Iya Pak. Sebentar lagi selesai kok."


Sebenarnya ada yang ingin Rama bicarakan dengan Shakira. Ini mengenai Safia. Rama masih bingung dengan masalah Anna. Siapa sebenarnya ayah kandung Anna itu. Rama masih penasaran dengan ayah kandung anak itu.


Rama orang yang paling cuek sekali dengan urusan orang, mendadak menjadi Rama yang kepo jika ini mengenai Anna.


"Shakira, sebenarnya aku ingin ngobrol sebentar sama kamu. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Rama.


"Pak Rama mau bicara apa? saya di sini mau profesional kerja Pak. Saya tidak mau membahas urusan pribadi di sini."


"Nggak apa-apa Shakira kalau kita membahas urusan pribadi kita. Lagian, Vika juga lagi nggak ada di rumah sekarang. Shakira, aku cuma mau tanya kabar keluarga kamu saja. Bagaimana kabar bapak dan ibu kamu."


Shakira diam.


"Bapak sama ibu sekarang juga ada di Jakarta Mas. Mereka sengaja aku ajak ke sini. Aku nggak tega meninggalkan mereka berdua di kampung. Apalagi bapak yang lagi sakit keras."


"Bapak kamu memang sakit apa?" tanya Rama.

__ADS_1


"Bapak aku sakit paru-paru Mas. Dan butuh banyak biaya untuk pengobatannya. Aku sengaja bawa bapak ke sini, untuk berobat di rumah sakit yang ada di Jakarta. Yang perlengkapannya lebih lengkap dari pada rumah sakit yang ada di kampung. Sekalian aku mau mencari Safia. Karena bapak dan ibu merindukan Safia. Dan sangat ingin bertemu dengan Safia. Teman aku katanya pernah melihat Safia di Jakarta. Makanya kami ke sini, sekalian untuk mencari Safia."


"Oh... jadi kalian lagi nyari Safia?" tanya Rama.


"Iya Mas."


"Aku tahu di mana Safia sekarang," ucap Rama yang membuat Shakira terkejut.


Shakira lantas menatap Rama dengan mata berbinar-binar.


"Mas Rama yakin, tahu di mana Safia? dia tinggal di mana Mas? dan apa kabarnya dia sekarang Mas? kenapa dia nggak pernah pulang kampung dan nengokin orang tua?"


"Kita ngobrol di sana saja ya Shakira. Biar lebih enak ngobrolnya."


"Iya Mas"


Shakira dan Rama kemudian melangkah ke arah kursi yang ada di halaman belakang rumah. Rama dan Shakira kemudian duduk di kursi itu untuk melanjutkan obrolannya.


"Mas, di mana kamu ketemu Safia?" tanya Shakira penasaran.


"Safia sekarang tinggal di dekat sini Shakira. Dia tinggal di rumah kontrakan kecil sama anaknya," jawab Rama.


"Apa! Safia sudah punya anak?" Shakira tidak menyangka dengan ucapan Rama.


"Iya. Dia sudah punya anak satu perempuan. Dan sepertinya dia seumuran Liza anak aku."


"Makanya itu yang aku bingung Kir. Safia punya anak satu tapi aku tidak tahu siapa ayah dari anak itu. Dan anak itu juga sampai sekarang tidak tahu siapa ayahnya."


"Kamu kenal sama anaknya Safia?"


"Iya. Aku dekat sama anaknya Safia. Namanya Anna. Sampai sebesar itu, Anna juga tidak tahu siapa ayahnya dan seperti apa ayahnya."


"Masa sih?"


"Sepertinya Safia memang sengaja menyembunyikan identitas ayahnya Anna dari Anna dan orang-orang. Safia selalu bilang kalau ayahnya Anna itu sudah meninggal."


"Mas Rama, kalau kamu tahu di mana Safia, tolong kasih tahu aku di mana alamat rumah kontrakannya Safia. Atau kamu antarkan aku ke sana. Sudah sepuluh tahun lebih aku nggak ketemu dia. Dan aku ingin mengajaknya bertemu dengan bapak."


Rama hanya mengangguk. "Iya."


"Bapak sudah sakit-sakitan. Dan saya tidak tahu bapak bisa bertahan sampai kapan. Dan keinginan terakhir bapak itu cuma ingin bertemu dengan Safia sebelum dia meninggal."


Setetes air mata Shakira membasahi pipinya. Shakira lantas mengusap air matanya dan kembali menatap Rama.


"Iya. Nanti kapan-kapan aku ajak kamu ke rumah Safia. Tapi nunggu aku ada waktu senggang ya."

__ADS_1


"Iya. Tapi..." Shakira menghentikan ucapannya.


"Tapi apa?"


"Kalau istri kamu tahu aku pergi sama kamu, dia bakalan marah nggak? jangan deh, aku pergi sendiri aja ke alamat rumahnya Safia."


"Vika nggak akan marah, kalau Vika itu tidak tahu kita pergi bareng."


"Aku tetap nggak enak aja kalau aku pergi bareng kamu. Lebih baik kamu berikan aja alamat Safia ke aku. Nanti aku yang akan ke sana."


"Oke. Nanti aku berikan alamat rumahnya Safia. Kamu bisa ke sana sendiri," ucap Rama.


****


Setelah mencuci dan menjemur baju, Shakira kemudian melangkah ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Bu Tari. Shakira kemudian membawa makanan dan minuman itu ke kamar Bu Tari.


Tok tok tok...


"Permisi..."


"Masuk..." seru Bu Tari dalam kamarnya.


"Bu, saya bawa makanan untuk ibu," ucap Shakira.


"Masuk aja Kira," ucap Bu Tari.


Shakira kemudian masuk ke dalam kamar Bu Tari.


"Sudah waktunya ibu untuk makan," ucap Shakira.


Bu Tari hanya mengangguk.


"Iya Shakira."


Shakira kemudian meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja makan. Setelah itu dia duduk di dekat Bu Tari.


"Tadi Bu Vika pergi keluar sama Non Liza. Katanya Bu Vika, saya disuruh nyuapin ibu. Katanya tangan ibu kaku nggak bisa digerakkin."


"Iya nih Kir. Kalau ibu nggak minum obat, pasti tangan ibu kayak gini lagi. Tapi nanti kalau ibu sudah periksa dan minum obat dari dokter, tangan ibu bisa di gerakin. Nggak tahu nih penyakit apa," ucap Bu Tari.


"Jadi ibu belum periksa lagi?" tanya Shakira.


Bu Tari menggeleng.


"Belum.Vika dan Rama sepertinya masih sibuk. Mereka belum ada yang ngajak ibu untuk periksa."

__ADS_1


"Ya udah, sekarang ibu makan ya. Nanti aku suapin."


"Iya Kir."


__ADS_2