
"Assalamualaikum," ucap Safia setelah sampai di depan rumah orang tuanya.
Beberapa saat kemudian, Shakira membuka pintu rumahnya. Dia tersenyum saat melihat Safia dan Anna.
"Ya ampun, ternyata ponakan Tante yang datang. Apa kabar sayang. Lama sekali kamu nggak main ke sini," ucap Shakira. Dia kemudian berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Anna.
Anna tersenyum. Dia kemudian segera mencium tangan Shakira. Shakira merangkul bahu Anna dan mengajak anak itu masuk ke dalam.
"Ayo Safia, kita masuk!" ucap Shakira.
Safia kemudian masuk ke dalam rumah orang tuanya.
"Bapak dan ibu ke mana? kok rumah sepi banget begini?" tanya Safia sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.
"Bapak dan ibu lagi keluar sebentar. Katanya sih, bapak mau ngantar ibu belanja di warung depan."
"Ngantar ibu? naik apa?"
"Naik motor. Tadi pinjam motornya tetangga. Maklumlah kami itu kan nggak punya motor. Kemana-mana juga harus naik ojek atau angkot Apalagi sekarang aku belum dapat kerjaan."
"Sabar ya Mbak. Aku juga lagi nyariin Mbak kerjaan. Tapi belum nemuin yang cocok. Tapi kalau Mbak mau, ART mah banyak."
"Jangan ART lah. Yang lain aja."
"Rio mana Tante?" tanya Anna.
"Kalau Rio sih ada di kamarnya. Lagi mainan mobil-mobilan tadi. Kalau Anna mau temani Rio, silahkan aja."
"Iya Tante."
Anna kemudian berlari kecil untuk ke kamar Rio.
Shakira menatap Safia.
"Safia kamu kenapa?" tanya Shakira yang melihat adiknya tampak resah.
"Em, aku nggak apa-apa Mbak."
"Kamu yakin nggak apa-apa?"
"Iya. Nggak apa-apa. Sebenarnya aku ke sini, mau ketemu sama ibu dan bapak. Aku mau membicarakan masalah serius."
"Masalah apa?" tanya Shakira penasaran.
"Mbak, aku mau nikah dalam waktu dekat ini," ucap Safia tiba-tiba.
Shakira terkejut saat mendengar ucapan adiknya. Dia kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya? kamu mau nikah? kamu emang udah punya calon?" tanya Shakira tampak bahagia.
Safia mengangguk. "Udah Mbak."
"Terus siapa calon kamu? kalau dia mau menerima anak kamu seperti anaknya sendiri, ya nggak apa-apa. Mbak sih, setuju-setuju aja. Bagi Mbak, yang paling penting sekarang adalah kebahagiaan kamu dan Anna," ucap Shakira.
"Iya Mbak. Saya ke sini sebenarnya mau bilang ke bapak, saya mau bapak jadi wali nikah saya."
"Ya tentu dong. Mbak juga seneng banget. Akhirnya kamu itu nurut juga sama ucapan Mbak. Akhirnya kamu mau mencarikan sosok ayah untuk anak kamu. Seharusnya, sudah sejak dulu kamu lakukan ini Safia. Karena Anna itu masih butuh sosok ayah."
Safia tersenyum.
"Kamu belum jawab pertanyaan Mbak. Kamu mau nikah sama siapa?" tanya Shakira penasaran.
"Sama ayah kandung anak aku Mbak."
Shakira terkejut saat mendengar ucapan Safia.
"Apa! jangan bilang kamu mau menikah dengan Mas Rama."
Safia menundukkan kepalanya.
"Iya Mbak. Aku memang mau menikah dengan Mas Rama."
Ekspresi wajah Shakira berubah setelah mendengar ucapan Safia.
Safia diam. Dia tampak ragu untuk menjawabnya. Sejak tadi, dia hanya bisa menundukan kepalanya.
"Safia. Lihat Mbak Safia. Kamu yakin mau nikah sama Mas Rama? Mas Rama itu sudah punya istri lho. Kamu kayak nggak punya harga diri banget sih. Mau-maunya nikah sama suami orang," ucap Shakira yang sudah mulai kesal dengan adiknya.
Shakira kesal bukan karena dia masih mencintai Rama. Tapi karena dia tahu seperti apa istri Rama. Dan Shakira tidak mau, adiknya akhirnya kecewa karena Rama.
Safia mengangkat kepalanya dan menatap Shakira lekat.
"Mbak, aku nggak punya pilihan lain Mbak. Aku harus menikah dengan Mas Rama. Aku nggak enak dengan tetangga dekat rumahku. Mereka sudah menggosipi aku dengan Mas Rama. Mereka berfikir, kalau aku punya hubungan dengan Mas Rama. Karena setiap hari Mas Rama main ke rumah. Bahkan sempat beberapa kali dia nginap di rumah aku," jelas Safia panjang lebar.
"Tunggu tunggu tunggu, maksud semua ini apa ya Safia? aku benar-benar nggak ngerti maksud kamu."
"Mas Rama itu sudah tahu siapa Anna Mbak. Dan dia sudah membuktikan dengan tes DNA. Dan sekarang, Mas Rama dan Anna sudah tidak bisa dipisahkan lagi.'
"Apa! jadi Mas Rama sudah tahu kalau Anna adalah anak kandungnya?"
"Iya Mbak. Sejak Mas Rama tahu kalau Anna adalah anak kandungnya, dia main terus ke rumahku. Dan tetangga di sekitar rumah kontrakan ku sudah salah paham sama kami. Dan mereka menyuruh kami menikah untuk menghindari fitnah."
"Safia, kamu nggak boleh gegabah begini. Emang kamu sama Mas Rama saling cinta? nggak kan. Dan Mas Rama itu sudah punya istri. Dan aku tahu banget bagaimana sikap istrinya itu. Mbak cuma nggak mau kamu kecewa dan menyesal Safia."
"Tapi Mbak. Aku melakukan semua ini juga untuk Anna. Aku harus menikah dengan Mas Rama, agar nama baik aku terjaga. Dan aku juga nggak mungkin menjauhkan Anna dari Mas Rama lagi. Sudah cukup aku membohongi mereka berdua. Dan mereka sekarang sangat sulit sekali untuk dipisahkan Mbak."
__ADS_1
"Pernikahan itu bukan untuk main-main lho Safia. Buka mata kamu lebar-lebar Safia. Mbak nggak ingin suatu saat kamu kecewa Safia telah memilih jalan yang salah. Kalau kamu ingin menikah, menikahlah dengan lelaki yang single. Yang duda atau yang bujang. Tapi jangan Mas Rama dong."
"Tapi Mbak, Mas Rama juga sudah bilang kalau dia mau membahagiakan aku dan Anna. Dia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas Anna."
"Tapi Mbak nggak setuju kamu menikah dengan Mas Rama. Walau Mas Rama itu adalah ayah kandung Anna. Kecuali kalau Mas Rama itu masih single."
"Mbak, tolong restui aku ya Mbak, untuk menikah dengan Mas Rama. Aku melakukan semua ini juga demi Anna Mbak." Safia masih tampak memohon agar Shakira merestuinya juga.
"Mbak nggak merestui kamu, bukan karena Mbak masih punya rasa sama Mas Rama. Tapi kamu lihat dong, Mas Rama itu masih punya istri dan anak. Kamu jangan jadi orang ketiga di antara mereka Safia. Dan Mas Rama, sepertinya juga sangat mencintai istri dan anaknya."
Mbak Shakira nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Mas Rama dengan istrinya. Tapi percuma juga aku menjelaskan ke Mbak Shakira soal itu. Mbak Shakira pasti nggak akan percaya padaku. Dia pasti akan nuduh aku cuma mengarang cerita.
Di sela-sela Safia dan Shakira ngobrol, tiba-tiba saja Pak Junedi dan Bu Astri pulang. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah.
Pak Junedi dan Bu Astri terkejut saat melihat Safia sudah duduk di ruang tamu.
"Safia, kamu ada di sini? sudah sejak kapan kamu datang? tanya Bu Astri.
"Sudah sejak tadi Bu," jawab Safia singkat.
Pak Junedi tersenyum. Dia merasa bahagia saat melihat Safia.
"Bapak sudah sangat merindukan kamu Safia. Dari kemarin bapak juga ingin ke rumah kamu. Tapi ibu dan kakak kamu belum membolehkan bapak pergi jauh-jauh."
"Jangan dulu lah Pak. Bapak juga kan belum sembuh," ucap Safia.
Safia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mencium punggung tangan ayah dan ibunya.
"Kalian dari mana Bu, Pak?" tanya Safia menatap ke dua orang tuanya lekat.
"Bapak dari warung depan tadi. Bapak barusan ngantar ibu belanja," jawab Pak Junedi.
"Oh... bapak sepertinya udah sehat ya?"
"Iya. Alhamdulillah Safia. Bapak sudah sehat sekarang."
"Syukurlah kalau begitu."
Shakira menatap ibu dan bapaknya lekat.
"Bu, Pak, duduk dulu! ada yang ingin aku dan Safia bicarakan," ucap Shakira yang sudah menunjukkan wajah serius.
"Kalian mau bicara apa?" tanya Bu Astri.
Dia kemudian meletakan barang-barang belanjaannya di atas meja. Setelah itu dia duduk berbaur bersama ke dua anaknya. Begitu juga dengan Pak Junedi yang ikut duduk di sisi Bu Astri.
"Ada apa? kalian mau bicara apa?" tanya Bu Astri menatap Shakira dan Safia bergantian.
__ADS_1