
Hari ini, hari minggu. Minggu pagi, Safia masih berada di dalam kamarnya. Sejak tadi Safia masih menatap gadis kecilnya yang masih terlelap di atas tempat tidurnya.
"Sayang, tidur kamu nyenyak banget sayang," ucap Safia sembari mengusap-usap rambut anaknya.
Sejak tadi Safia masih mencoba membangunkan anaknya. Namun Anna, sangat susah sekali untuk dibangunin. Mungkin karena hari ini dia libur sekolah. Sehingga membuat Anna malas untuk bangun pagi.
"Anna sayang, bangun yuk! udah siang Nak. Mama udah masak ayam goreng dan sop ayam buat kamu Nak. Katanya kemarin kamu pengin makan lauk ayam. Bangun yuk Nak!" ucap Safia.
Anna hanya menggeliat saat dibangunin bundanya. Dia malah semakin erat saja memeluk gulingnya.
Safia tersenyum dan tidak tinggal diam. Dia melangkah dan mendekati jendela kamarnya untuk membuka korden yang ada di jendela.
Aku yakin, kalau aku buka jendela, pasti Anna akan cepat bangun. batin Safia.
Safia kemudian membuka korden jendela itu perlahan.
Sinar mentari dari luar sudah menyorot masuk ke dalam kamar Anna. Sinar itu menembus jendela kaca dan mengenai wajah Anna.
Anna yang merasakan silau, mulai mengerjapkan matanya. Dia kemudian menutup matanya dengan tangannya.
"Bunda, kenapa jendelanya di buka sih. Anna masih ngantuk Bun..."ucap Anna.
"Anna, kamu harus bangun. Bunda udah masakin ayam untuk kamu. Katanya kemarin kamu pengin makan lauk ayam," ucap Safia sembari melangkah dan mendekat ke arah Anna.
Anna mengucek matanya. Setelah itu dia beringsut duduk. Anna kemudian menatap ke arah jam dinding yang saat ini jarum jamnya sudah menunjukkan ke angka 6.
"Bunda, ini kan hari minggu. Hari ini sekolah libur. Biarkan Anna tidur lebih lama lagi bunda," ucap Anna yang tidak suka, bundanya mengusik tidurnya.
"Anna, kamu itu seorang gadis. Nggak baik kalau gadis kecil itu tidur sampai siang," ucap Safia pada Anna.
"Kenapa bun? Anna kan nggak mau ke sekolah. Kenapa Anna harus bangun pagi. Ini masih jam enam. Masih pagi banget Bun."
"Iya. Tapi bunda mau ajak Anna untuk ke pasar beli sepatu baru."
Anna membelalakkan matanya saat mendengar ucapan bundanya.
"Yang benar Bun? bunda udah dapat gaji ya?" tanya Anna dengan mata berbinar-binar.
Safia tersenyum dan mengangguk.
"Iya sayang. Kamu seneng kan?" tanya Safia.
"Iya Bun. Aku seneng banget Bun. Kapan kita ke pasarnya? sekarang?" tanya Anna yang tampak sangat bersemangat.
"Iya. Tapi kamu harus makan dan mandi dulu ya?"
"Bunda udah mandi?" tanya Anna.
"Bunda udah mandi dari subuh," jawab Safia.
__ADS_1
"Terus, bunda udah makan?" tanya Anna lagi.
"Belumlah. Bunda nungguin kamu sayang. Bunda pengin sarapan bareng sama kamu."
Dengan bersemangat, Anna langsung turun dari ranjangnya. Dia kemudian mengambil handuk dan memakai sandalnya. Anna langsung berlarian menuju ke kamar mandi.
Safia hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat anak gadisnya itu bahagia.
Safia keluar dari kamarnya dan melangkah ke ruang makan. Safia duduk di ruang makan untuk menunggu anaknya mandi.
Beberapa saat kemudian, Anna keluar dari kamar mandi dan melangkah ke ruang makan.
"Bunda..."
"Lho, anak bunda udah mandi? cepat banget mandinya?"
"Aku mandinya cepetan bunda. Soalnya dingin banget airnya"
"Oh. Ya udah, sana kamu ganti baju di kamar. Bunda tungguin di sini ya."
"Iya Bun."
Anna yang sejak tadi masih mengenakan handuk segera melangkah ke kamar untuk ganti baju. Setelah ganti baju Anna keluar dan kembali ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, bundanya sudah mengambilkan Anna nasi dan ayam goreng.
"Ini sayang bunda udah ambilin kamu nasi dan ayam goreng."
"Bunda, Anna pengin sayurnya juga," ucap Anna.
"Oh iya. Bunda lupa. Sebentar ya bunda ambilin."
Safia kemudian mengambil piring Anna dan mencedokan sayur sop di piring Anna. Setelah itu dia memberikannya pada Anna.
"Makasih ya Bun," ucap Anna.
"Iya Anna. Ayo kita makan!"
Anna mengangguk. Setelah itu Anna dan Safia menyantap hidangannya.
"Bunda, Bu Windi sudah ngasih gaji bunda?" tanya Anna di sela-sela kunyahannya.
"Iya Anna," jawab Safia singkat.
"Terus, bunda mau belikan Anna sepatu baru?"
"Iya dong sayang. Kan uang kontrakan bunda bulan ini udah lunas. Anna kan yang sudah melunasinya pakai uang Anna."
"Itu bukan uang Anna kok. Itu uang Om baik."
__ADS_1
Safia yang masih penasaran dengan Om baik yang selalu Anna ceritain itu langsung bertanya pada Anna. "Siapa nama Om baik kamu itu Anna?"
Anna diam dan mulai mengingat siapa nama Om baik yang pernah Anna temui itu.
"Kalau nggak salah, namanya Rama bunda."
Safia terkejut saat mendengar ucapan anaknya.
Rama? kok seperti nama ayahnya Anna. Apa jangan-jangan itu Mas Rama. Nggak mungkin, mana mungkin Mas Rama ada di Jakarta. Nama Rama juga di sini banyak. Bukan cuma kakak ipar aku saja.
"Rama?" ucap Anna.
"Iya bunda. Nama Om baik itu Rama."
"Kamu masih ingat ciri-cirinya?"
"Dia cakep banget bunda, dan dia juga pakai mobil mewah waktu itu."
"Oh..."
Nggak mungkin Rama yang ditemui anak aku itu ayah kandungnya Anna. Mana mungkin Mas Rama pakai mobil.
Yah, Rama. Nama yang selalu ada di dalam ingatan Safia selama ini. Sampai detik ini Safia belum bisa melupakan kenangan buruknya dengan Rama. Apalagi, Safia memiliki anak yang sedikit mirip dengan Rama. Membuat Safia tidak bisa melupakan wajah lelaki itu.
Jika Safia mendengar nama itu, dia kembali terbayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu, yang membuat Safia lari dari rumahnya sendiri dan memutuskan untuk menetap di Jakarta.
Sampai saat ini, belum sekali pun Safia pulang ke kampungnya. Safia tidak mau membuat masalah baru di keluarganya jika dia pulang dengan membawa Anna.
Di kampung, pasti semua orang akan mempertanyakan siapa Anna dan siapa ayah kandungnya. Dan wajah Anna juga ada sedikit kemiripan dengan Rama.
Pasti Shakira dan ke dua orang tua Safia akan langsung bisa menebak kalau Anna adalah anak kandung dari Rama. Safia tidak mau membuat masalah dengan Shakira semakin runyam.
"Bunda, bunda kenapa diam aja?" tanya Anna.
"Eh, bunda nggak apa-apa kok Anna. Ayo kita lanjutkan makannya."
"Iya bunda."
Selesai makan, Safia membereskan semua piring-piring kotornya. Dia bawa semua piring-piring itu ke dapur.
"Bunda, Anna bantuin ya?"
"Iya sayang. Bawa semua piring-piring yang ada di atas meja sayang. Bunda mau cuci piring-piring kotornya."
"Iya Bunda."
Anna kemudian membantu ibunya untuk membereskan piring-piring kotor itu.
Anna memang anak perempuan yang sangat rajin membantu bundanya. Dia selalu ikut membantu bundanya mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.
__ADS_1
Safia sangat beruntung mendapatkan anak perempuan yang cerdas dan rajin seperti Anna.