Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Hape baru


__ADS_3

Vika masuk ke dalam kamar Liza. Dia tersenyum saat melihat Rama dan Liza terlelap.


"Ternyata mereka tidur di sini. Mereka pasti seneng karena aku sudah pulang," ucap Vika.


Vika kemudian mendekat ke arah suaminya dan duduk di sisi ranjang dekat suaminya berbaring.


Vika mengusap-usap kepala Rama dengan sayang. Dia memang menyesal telah berbuat dosa dengan tidur dengan lelaki lain.


Namun, Vika sudah janji, kalau dia tidak akan mengulangi perbuatannya itu lagi, karena dia masih sangat mencintai suaminya.


Maafkan aku Mas, dengan apa yang sudah aku lakukan sama kamu. Aku semalam khilaf sudah tidur dengan Bram. Aku janji, aku nggak akan mengulanginya lagi. Semoga kamu nggak pernah tahu, dengan apa yang sudah aku lakukan di Bali bersama Bram. Karena sesungguhnya , aku masih sayang banget sama kamu dan aku sama sekali nggak mau kehilangan kamu.


Rama yang merasakan kehadiran seseorang di sisinya, mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat istrinya sudah berada di sisinya.


Vika tersenyum menampakan deretan gigi putihnya.


"Sayang, maaf ya. Aku sudah membuat kamu terbangun," ucap Vika.


Rama masih diam. Dia mengucek matanya dan beringsut duduk.


Sebenarnya Rama ingin marah dan ingin menanyakan soal lelaki siapa yang ada di Bali bersama Vika. Namun dia urungkan karena dia tidak mau membuat keributan di saat anaknya sedang sakit.


Rama turun dari tempat tidur Liza. Tanpa banyak bicara, Rama pun pergi meninggalkan Vika. Dia keluar dari kamar Liza dan melangkah untuk ke kamarnya.


Rama masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sisi ranjang.


Kenapa aku merasa muak sekali saat melihat wanita itu. Dia sudah membohongiku. Tapi aku harus bisa sabar. Aku nggak boleh terpancing emosi. Aku harus selidiki dulu siapa lelaki yang ada di foto itu," batin Rama.


Rama sudah mengepalkan tangannya geram. Rahangnya juga sudah mulai mengeras. Ingin rasanya dia melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya ke wajah Vika. Namun sejak tadi dia masih berusaha untuk mengendalikan emosinya.


Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah jendela kamarnya. Rama menatap ke luar jendela.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Vika masuk dan mendekati Rama. Rama terkejut saat Vika tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dengan erat.


"Sayang, aku kangen sama kamu. Satu minggu nggak ketemu kamu, rasanya seperti satu tahun kita nggak ketemu. Sebenarnya dari dulu aku pengin jalan-jalan ke Bali sama kamu dan Liza. Tapi kamu nggak pernah punya waktu untuk kami. Jadi, kemarin ada teman-teman aku yang mau pergi rombongan ke sana, jadi aku ikut deh."


"Rombongan kata mu?"


Rama melepaskan tangan Vika yang sejak tadi masih melingkar di perutnya. Setelah itu Rama memutar tubuhnya dan menghadap istrinya.


"Kamu yakin, kalau kamu pergi sama teman-teman perempuan kamu? kamu yakin kalau kamu pergi ke Bali bersama rombongan?"


Vika mengangguk.


"Iya. Kamu kenapa sih, nanyanya serius banget begitu. Kamu nggak percaya sama aku."

__ADS_1


"Aku nggak percaya kalau kamu pergi sama teman-teman kamu."


"Mas kamu harus percaya dong sama aku. Aku memang pergi sama teman aku. Kamu fikir, aku pergi sama siapa?"


Rama sudah tidak mau mendengarkan ucapan Vika. Untuk kali ini, Rama tidak mau bertengkar dengan Vika karena Liza sedang sakit. Dia lebih memilih untuk pergi meninggalkan Vika.


Rama mengambil jaket dan mengambil kunci mobilnya. Dia akan pergi meninggalkan Vika, namun Vika buru-buru mencekal tangan Rama.


"Mas kamu mau kemana?" tanya Vika.


"Aku mau pergi."


"Kan aku baru pulang Mas, masa kamu mau tinggalin aku sih. Aku kan masih kangen sama kamu. Seminggu kita nggak ketemu lho Mas."


Rama menghempaskan tangan Vika begitu saja. Membuat Vika terkejut. Dia tidak tahu, apa yang membuat suaminya marah. Padahal Vika ke Bali juga atas izin suaminya.


"Lepaskan aku. Aku jenuh Vik, di rumah terus. Dari kemarin aku nggak berangkat kantor karena harus ngurusin Liza yang sakit. Dia nggak mau ditinggal dari kemarin. Sekarang kamu temani Liza, karena dari kemarin dia sudah nanyain kamu."


Tanpa banyak basa-basi lagi, Rama akhirnya pergi meninggalkan Vika. Dia tidak sanggup untuk berlama-lama bersama Vika, karena hatinya terlalu sakit atas pengkhianatan yang sudah Vika lakukan padanya.


Rama keluar dari rumahnya. Dia kemudian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumah. Entah Rama akan pergi ke mana setelah ini. Yang pasti, dia ingin menjauhkan dirinya dari Vika.


***


Sore ini, Anna masih berada di teras depan rumah kontrakannya. Dia masih tampak bermain-main di depan rumah bersama teman-teman sebayanya.


Anna tersenyum saat melihat mobil itu. Dia sudah sangat mengenal betul mobil siapa itu.


"Siapa Na itu?" tanya teman-teman Anna pada Anna.


"Itu temannya bunda. Namanya Om Rama. Nanti aku kenalin deh sama kalian."


"Kita mau pulang aja deh Na. Udah sore, nanti orang tua kita nyariin lagi."


Anna menatap satu persatu teman-temannya.


"Jadi kalian mau pulang?"


"Iya Na. Kapan-kapan aja ya kita kenalannya."


"Ya udah deh."


Setelah Rama turun dari mobilnya, Rama kemudian mendekati Anna.


"Lho, teman-teman kamu pada kemana? kok Om datang mereka pada bubar?"

__ADS_1


"Katanya udah sore Om. Mereka takut di cariin orang tuanya. Rumah mereka kan jauh."


"Siapa sih tadi? Aura dan Aryo ya?"


Anna menggeleng.


"Bukan Om. Beda lagi. Mereka teman-teman baru aku. Rumahnya nggak jauh-jauh amat sih. Masih komplek sini juga. Lagian mereka juga sudah dari tadi kok main di sini."


"Oh..."


"Om kenapa dari kemarin nggak main ke sini. Om nggak kangen ya sama aku?"


"Om kangen banget sama kamu. Tapi dari kemarin Liza sakit. Jadi Om nggak bisa deh main ke rumah Anna."


"Ayo Om kita masuk. Kita tunggu bunda pulang di dalam," ucap Anna sembari menggenggam tangan Rama.


"Iya."


Rama dan Anna kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah itu mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Bunda kamu pasti pulangnya malam ya?" tanya Rama.


"Nggak mesti Om. Kadang sore dia juga udah pulang."


"Anna, Om punya sesuatu buat Anna?"


"Apa Om?"


Rama kemudian mengambil sesuatu dari dalam kantong yang dibawanya.


"Ini coba lihat." Rama menunjukan sebuah kotak pada Anna.


"Wah, hape baru Om?"


"Iya. Om sengaja membelikan hape baru untuk kamu."


"Kok ada dua Om hapenya?"


"Iya. Yang satu untuk bunda kamu."


Wajah Anna tiba-tiba saja menjadi murung.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku takut, bunda nggak mau menerimanya Om."

__ADS_1


"Nggak akan. Percaya sama Om. Bunda kamu pasti seneng Om belikan dia hape baru. Kan bunda kamu pasti butuh hape baru."


"Iya Om. Semoga bunda nggak marah lagi sama kita."


__ADS_2