Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Obrolan pagi ini


__ADS_3

"Safia, sebenarnya selama ini kamu di mana? kenapa kamu pergi dari rumah?" tanya Rama pada Safia.


Safia diam. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rama. Sejak tadi Safia masih larut dalam fikirannya sendiri.


Nggak, Mas Rama nggak boleh tahu tentang Anna. Kalau dia tahu Anna adalah anak kandungannya, bagaimana kalau dia membawa Anna pergi dari aku. Aku nggak mau berpisah dari Anna. Aku harus rahasiakan Anna dari Mas Rama, batin Safia.


"Safia, kenapa kamu diam aja. Kenapa kamu nggak jawab pertanyaan aku? apakah kamu tahu, kalau aku selama ini mencari kamu Safia. Sudah sepuluh tahun lebih aku masih berusaha mencari keberadaan kamu. Karena aku khawatir sama kamu. Aku takut hal-hal buruk akan terjadi sama kamu."


"Untuk apa kamu mencari aku Mas?" tanya Safia menatap Rama lekat.


"Karena aku ingin minta maaf sama kamu. Aku ingin bertanggung jawab atas semua perbuatan aku ke kamu."


"Tanggung jawab. Itu sudah masa lalu Mas. Aku juga sudah melupakan kenangan buruk itu. Aku pergi, juga karena aku ingin melupakan kejadian itu. Jika aku masih terus di kampung, aku akan selalu ingat dengan kejadian itu. Dan aku juga tidak mau menghancurkan rumah tangga kamu dan Mbak Shakira."


"Oh, jadi itu yang membuat kamu pergi dari rumah dan tidak mau kembali ke kampung?"


Safia mengangguk. "Iya Mas. Itu alasan aku pergi dan tidak kembali ke kampung."


"Terus, kamu di sini sama siapa? kamu kan tidak punya saudara di sini?" tanya Rama


"Alhamdulillah Mas sejak aku di sini, aku selalu bertemu dengan orang-orang baik yang mau menolong aku dan membantu segala kesulitan aku. Di sini, aku juga banyak belajar tentang kehidupan. Dengan aku jauh dari orang tua, membuat aku jadi mandiri."


Rama menghela nafas dalam.


"Kamu nggak kangen sama kampung kamu? kamu nggak kangen sama orang tua kamu dan kakak kamu? kenapa kamu nggak kembali ke kampung"


"Mas Rama sendiri, apa pernah pulang kampung?"


"Kalau aku, sibuk banget Saf dengan kerjaan aku di sini, makanya aku tidak pernah pulang kampung."


"Sama Mas. Di sini juga aku sibuk. Dan aku juga nggak pernah punya uang lebih untuk ongkos ke kampung."


"Oh iya. Minum dulu Saf. Nanti keburu dingin minumannya."


Safia mengangguk. Safia kemudian mengambil gelas yang ada di depannya. Setelah itu dia menyeruput minuman hangat itu. Begitu juga dengan Rama yang ikut mengambil gelas dan menyeruput minumannya.

__ADS_1


"Yang aku dengar, Mas Rama dan Mbak Shakira sudah bercerai?"


"Iya. Kakak kamu Shakira sudah tidak mau menerima aku lagi. Setelah kamu pergi, dia melayangkan gugatan cerainya padaku. Padahal aku sudah minta maaf sama dia berkali-kali. Tapi dia tidak mau memaafkan aku. Dia lebih memilih jalan perceraian. "


"Oh... begitu?"


"Iya Safia. Dan katanya kakak kamu itu sudah punya anak dan suami lagi."


"Iya. Itu memang benar. Kemarin aku ketemu sama Mas Fandi. Tetangga dekat rumah aku, yang merantau di sini. Katanya Mbak Shakira sekarang sudah menjadi janda lagi."


Rama terkejut saat mendengar ucapan Safia.


"Yang benar? emang kemana suaminya?" tanya Rama.


Rama sekarang memang sudah melupakan kenangannya dengan Shakira. Namun walau bagaimanapun juga, Shakira pernah hadir di hati Rama, dan mereka pernah saling mencintai. Jadi Rama tidak akan pernah melupakan kenangannya dengan Shakira begitu saja.


"Katanya suami Kak Shakira sudah meninggal. Dan mereka sudah mempunyai seorang anak laki-laki dari pernikahan mereka," jawab Safia.


"Oh..." Rama hanya manggut-manggut mengerti mendengar cerita Safia.


"Kalau Mas Rama sendiri, pasti sekarang sudah punya istri ya?" tanya Safia.


Safia sebenernya penasaran juga dengan Rama dan kehidupan Rama sekarang. Apalagi Safia melihat Rama itu berubah. Sekarang Rama jauh lebih tampan, jauh lebih keren, dan jauh lebih kaya. Kehidupannya berubah 180 derajat sejak menikahi Vika anak Pak Angga salah satu pengusaha ternama di kota ini.


Rama mengangguk.


"Iya. Aku sudah punya istri dan anak."


"Oh. Berapa anaknya sekarang Mas?" tanya Safia.


"Baru satu. Dia masih sembilan tahun."


"Oh. Cewek apa cowok?"


"Cewek."

__ADS_1


Jadi anak Mas Rama cewek. Beda setahun dengan Anna. Dan Mas Rama tidak tahu, kalau dia juga punya anak dari aku. Lebih baik aku rahasiakan saja Anna dari Mas Rama. Kalau Mas Rama tahu, dia juga punya anak dari aku, aku takut Mas Rama akan ngambil Anna dari aku. Dan aku belum siap kehilangan Anna. Anna adalah satu-satunya harta yang paling berharga untuk aku, batin Safia.


"Kalau kamu, sudah punya suami?"


Safia diam. Dia bingung untuk menjawab apa?


"Aku belum punya suami Mas," jawab Safia jujur.


"Oh, jadi kamu masih sendirian aja? atau kamu udah pernah nikah sebelumnya?"


"Aku belum pernah nikah sebelumnya."


"Oh. Begitu?"


"Iya Mas."


Duh, aku nggak mau berlama-lama ngobrol dengan Mas Rama di sini. Bisa-bisa nanti aku ketahuan kalau aku punya anak. Seandainya Mas Rama tahu aku punya anak, dia pasti akan menanyakan soal ayah anak aku. Aku harus bilang apa sama Mas Rama nanti.


"Mas Rama, kayaknya kita sudah terlalu lama berada di sini. Aku nggak enak sama karyawan yang lain kalau aku kelamaan di sini. Mendingan Mas Rama sekarang pulang aja deh. Biarkan aku kembali kerja."


Rama menatap sekeliling. Cafe memang pagi ini, sudah terlihat ramai. Rama juga sudah harus ke kantor. Jadi dia tidak mungkin berlama-lama berada di tempat itu.


"Ya udah, kalau begitu aku pergi dulu ya Safia."


"Iya Mas."


Rama kemudian bangkit dari duduknya. Setelah dia berpamitan dengan Safia, dia kemudian melangkah pergi keluar dari cafe. Safia menghela nafas dalam setelah lelaki itu pergi.


Safia diam dan tampak berfikir.


Kenapa sih, aku harus ketemu lelaki itu lagi. Seharusnya aku nggak pernah ketemu sama dia. Bagaimana kalau dia tahu tentang Anna. Bakalan runyam semua urusannya. Dan dia juga sudah punya keluarga sekarang. Aku nggak mau, sampai menghancurkan kebahagiaan keluarga Mas Rama. Aku tidak akan pernah membiarkan Mas Rama tahu, tentang Anna.


Setelah Rama pergi, Safia kemudian kembali untuk bekerja. Sementara di depan cafe, Rama masih berdiri di sisi mobilnya sembari menatap ke arah cafe.


"Safia, kenapa aku jadi kasihan saat melihat kamu di bentak-bentak bos kamu. Andai aku bisa membantu kamu, mencari pekerjaan yang lain. Aku ingin membawa kamu kerja di tempat yang lebih bagus dari tempat ini. Yang bosnya lebih baik dari bos kamu di sini. Kasihan kamu Safia, punya bos seperti Pak Dito. Mudah-mudahan saja kamu betah punya bos seperti itu," ucap Rama sebelum masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Setelah itu Rama pun masuk ke dalam mobilnya. Dia kemudian meluncur pergi meninggalkan cafe itu.


__ADS_2