
Siang ini, Vika sudah sampai di depan rumah sakit. Setelah satu minggu sejak kejadian itu, Vika belum sempat melihat kondisi Rama lagi di rumah sakit.
Hanya ke dua orang tuanya saja yang setiap hari datang ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kondisi Rama.
Saat ini Rama memang masih koma, dan tidak ada kemajuan sedikit pun untuk kondisinya. Dan akibat kecelakaan itu juga mengakibatkan patah di tulang kakinya. Mungkin seandainya Rama terbangun dari koma, dia tidak akan bisa berjalan seperti biasanya.
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir, Vika kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam rumah sakit.Dia menuju ke ruang ICU di mana Rama berada.
Di depan ruang ICU, sudah ada Intan dan Pak Hendro yang tampak masih duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu. Sudah dua hari, Pak Hendro ada di Jakarta. Dan selama dua hari itu, Pak Hendro masih berada di rumah sakit. Belum pulang ke rumah Intan.
Intan menatap tajam ke arah Vika.
Vika sebenarnya tidak berani jika menghadapi Intan. Karena dia takut Intan akan marah-marah lagi sama dia, seperti waktu itu.
Intan bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Vika.
"Vika, ngapain kamu ke sini?" tanya Intan menatap Vika tajam.
"Aku mau jengukin Mas Rama," ucap Vika penuh rasa takut.
"Rama belum bisa dijenguk. Karena kondisinya masih sama seperti kemarin. Dia masih koma, Tidak ada kemajuan sedikit pun."
"Mbak, aku ingin melihat ke dalam. Aku ingin melihat Mas Rama. Aku sudah menabraknya dan aku merasa sangat bersalah. Izinkan aku Mbak, untuk melihat Mas Rama."
Pak Hendro menatap Intan dan Vika.
"Siapa gadis itu," ucap Pak Hendro.
Pak Hendro yang penasaran, melangkah mendekati Vika dan Intan.
"Intan, ini siapa? teman kamu?" tanya Pak Hendro.
"Bukan Om. Dia ini orang yang sudah membuat Rama seperti ini. Dia yang sudah menabrak Rama."
"Oh, jadi dia orang yang sudah nabrak anak saya."
Vika menatap Pak Hendro lekat. Dia takut, Pak Hendro juga akan memarahinya seperti Intan kemarin.
__ADS_1
"Om, saya minta maaf, karena saya sudah menyebabkan Mas Rama seperti ini. Tapi saya dan keluarga saya akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk masalah ini."
Pak Hendro tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Vika.
"Nggak apa-apa Nak. Mungkin ini semua sudah takdir. Seandainya Rama tidak ke Jakarta, mungkin musibah ini nggak akan terjadi."
Vika tersenyum. Ternyata ayah Rama orang yang sangat baik. Dia tidak menyalahkan Vika sedikit pun untuk masalah ini.
"Di rumah, memang Rama sedang ada masalah sama istrinya. Mungkin dia pergi ke sini, karena untuk melupakan kejadian itu," ucap Pak Hendro pada Intan.
Intan menatap Pak Hendro lekat.
"Masalah apa Om? kok Rama nggak pernah cerita apa-apa sama saya?" tanya Intan.
Pak Hendro tersenyum kecut. Mungkinkah dia harus menceritakan aib anaknya pada orang lain, itu sama saja dia merendahkan harga dirinya sendiri sebagai seorang ayah.
"Ceritanya panjang Intan. Dan Om nggak bisa cerita di sini. Tapi nanti Om akan ceritain semuanya sama kamu."
"Tapi hubungan Rama dengan istrinya baik-baik aja kan Om?" tanya Intan lagi.
"Shakira sudah mengajukan gugatan cerainya ke pengadilan. Dan kita tinggal menunggu surat cerai saja dari pengadilan."
Oh, jadi Mas Rama itu di kampung sudah punya istri. Aku kira Mas Rama itu masih perjaka. Soalnya, yang aku lihat dia masih muda banget, batin Vika.
"Om, apakah aku boleh masuk ke dalam? aku ingin melihat Mas Rama di dalam," tanya Vika.
"Iya. Boleh. Silahkan saja. Lagian dokter juga sudah mengizinkan kita masuk ke ruangan Rama untuk menjenguk Rama."
Vika tersenyum.
"Makasih banyak ya Om."
Setelah diizinkan masuk oleh ayahnya Rama, Vika kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Rama. Dia mendekat ke arah Rama.
Vika meneteskan air matanya saat melihat tubuh mengenaskan dari lelaki yang sudah ditabraknya itu.
Wajah Rama diperban penuh karena luka-luka yang cukup serius yang berada di bagian wajahnya.
__ADS_1
"Kasihan sekali Mas Rama. Gara-gara aku, dia jadi masuk ruang ICU. Mas Rama, aku ingin kamu cepat sadar Mas. Kasihan ayah dan Kakak sepupu kamu. Dia sudah nungguin kamu sadar dari kemarin," ucap Vika.
Vika meraih tangan Rama dan menggenggamnya erat. Vika memang tidak kenal dengan Rama. Namun entah kenapa, hatinya merasa sangat sakit saat dia melihat Rama. Dia tidak tega melihat Rama terbaring koma di rumah sakit.
"Cepat sadar ya Mas. Aku akan merasa sangat bersalah jika sampai terjadi apa-apa sama kamu. Cepat bangun ya Mas. Jangan membuat kami semua cemas karena memikirkan kondisi kamu. Kasian ayah kamu, dia sudah jauh-jauh dari kampung demi melihat kondisi kamu. Tolong Mas, sadar... aku mohon. Jangan membuat kami semua cemas dan khawatir karena memikirkan kondisi kamu," ucap Vika.
Vika menangis di sisi Rama berbaring. Air matanya sudah menetes deras membasahi tangan Rama yang sedang ada dalam genggamannya.
Setetes air mata Rama mengalir dari pelupuk matanya. Air mata itu tumpah dan membasahi pelipis Rama.
Vika terkejut saat melihat air mata itu.
"Hah, Mas Rama nangis! benarkah dia bisa mendengar semua ucapan ku tadi?"
Vika tiba-tiba saja merasakan gerakan di jari-jari tangan Rama. Dia menatap tangan Rama. Dan benar, kalau jari-jari Rama mulai bergerak-gerak.
Vika melepas genggamannya dan meletakan kembali tangan Rama di atas ranjang. Vika kemudian keluar dari ruangan Rama untuk menghampiri Intan dan Pak Hendro.
"Vika. Ada apa?'" tanya Intan.
"Mbak, Om, tadi saya melihat kalau jari jari Mas Rama sudah bisa bergerak sendiri. Dan tadi dia juga meneteskan air matanya. Apakah itu ada tanda-tanda baik untuk kondisinya," ucap Vika menuturkan.
"Yang benar kamu Vik?"
"Coba saja Mba Intan lihat ke dalam."
Intan dan Pak Hendro saling menatap.
"Ya udah, aku mau panggil dokter saja. Agar dokter mau memeriksa kondisinya Rama," ucap Intan.
Intan kemudian pergi meninggalkan ruangan ICU untuk memanggil dokter. Beberapa saat kemudian, Intan dan seorang dokter buru-buru melangkah dan masuk ke ruangan Rama.
"Dokter, tadi Vika melihat sudah ada perkembangan pada kondisi Rama. Tadi katanya jari jari Rama sudah bisa gerak-gerak. Tolong Dok periksa kembali kondisi adik sepupu saya," ucap Intan.
Dokter mengangguk. "Baiklah."
Dokter kemudian mulai memeriksa kondisi Rama. Dokter tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Mungkin ini adalah tanda-tanda kalau sebentar lagi Rama mau bangun dari komanya. Kalian awasi Rama terus ya. Kalau dia sudah bangun, panggil saja saya biar saya periksa lagi."
"Baik Dok."