Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Syok


__ADS_3

Rama mengambil air minum yang ada di depannya duduk. Dia kemudian menegak sampai setengah gelas air putih.


"Halo Mas... kamu kenapa Mas? kamu nggak apa-apa Mas?"


"Eh, Safia, aku nggak apa-apa sayang."


"Kamu kenapa sih sampai batuk-batuk gitu? kamu lagi ngapain sebenarnya?"


"Aku lagi makan mie instan sayang. Entah kenapa, perut aku itu jadi lapar banget. Coba aja kalau aku di dekat kamu, pasti aku udah suruh kamu masakin mie instan untuk aku."


"Emang kamu masak sendiri? nggak nyuruh pembantu kamu atau istri kamu?"


"Iya. Aku masak sendiri. Istriku baru pulang tadi. Dan mau nyuruh pembantu juga nggak enak, udah malam."


"Istri kamu baru pulang? emang dia dari mana?"


"Nggak tahu. Oh ya sayang, aku mau pulang ke rumah kamu."


"Apa! pulang ke rumah aku? kenapa? kan kamu baru nyampe ke rumah kamu. Belum ada semalam juga kamu nginap di sana."


"Kok kamu sepertinya kaget begitu. Aku itu kangen sama kamu sayang."


"Kan, kita belum 24 jam pisah. Kok udah kangen lagi."


"Pokoknya aku mau pulang ke rumah kamu sekarang Safia. Aku mau habiskan mie aku dulu. Setelah itu, aku mau ke rumah kamu, dan mau tidur sama kamu."


"Ya udahlah terserah kamu aja Mas. Aku juga sudah nggak bisa melarang kamu."


"Ya udah ya sayang. Aku tutup dulu telponnya. Aku mau habiskan makanannya dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah menelpon istri ke duanya, Rama menghabiskan makanannya. Setelah itu, Rama bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah naik ke lantai atas untuk ke kamarnya.


Rama membuka pintu kamarnya. Dia terkejut saat melihat Liza sudah tidur di dalam kamar Vika.


Vika yang dari tadi belum tidur, menatap suaminya lekat.


"Liza ketiduran di kamar kita Mas. Kamu mau tidur di sini bersama kami Mas?" tanya Vika.


Rama yang ditanya hanya diam. Dia melangkah ke lemari bajunya untuk mengambil jaket. Rama kemudian memakai jaketnya .


"Kamu mau pergi?" tanya Vika yang sudah melihat suaminya tampak rapi.


"Iya," jawab Rama singkat.


Setelah memakai jaketnya, Rama mengambil kunci mobilnya.


"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Vika.


Rama menatap Vika tajam.


"Aku mau pergi ke mana, itu bukan urusan kamu."


"Kok kamu bicara begitu. Aku ini kan istri kamu. Jadi wajarlah kalau aku bertanya begitu."


"Sudahlah, aku capek. Dan aku udah nggak mau berdebat lagi sama kamu."


Tanpa berucap sepatah katapun, Rama kemudian keluar dari kamar Vika dan meninggalkan Vika begitu saja.


"Sebenarnya, Mas Rama mau ke mana sih. Dan selama satu minggu ini, dia nginap di mana," ucap Vika.


Vika yang sudah merasa lelah, karena aktivitasnya tadi siang, tidak mau mengejar Rama. Dia lebih memilih berbaring di sisi anaknya dan mulai memejamkan matanya untuk tidur.


****

__ADS_1


Pagi ini, Rama, Safia dan Anna masih berada di ruang makan. Mereka masih sarapan bareng. Hari ini adalah hari minggu. Rama lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bercengkrama bersama Safia di rumah kontrakan kecil Safia.


"Sayang," ucap Rama di sela-selanya kunyahannya.


Safia dan Anna menatap Rama bersamaan. Mereka bingung, siapa yang lagi Rama ajak bicara. Karena Rama selalu memanggil sayang, pada Safia dan Anna.


"Em, maksudku, bunda," ucap Rama.


Anna tersenyum. Dia kemudian melanjutkan makannya, sementara Safia menatap Rama lekat.


"Iya ayah, kenapa?" tanya Safia.


"Em, minggu depan kita pindah rumah ya."


Anna dan Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.


"Pindah? pindah ke mana?" tanya Safia.


"Aku sudah suruh Yogi karyawan kepercayaan aku untuk mencarikan rumah buat kalian."


Anna tersenyum.


"Ayah, mau membelikan aku dan bunda rumah?" tanya Anna tampak bahagia.


"Iya. Kamu senang kan?"


"Seneng banget dong ayah. Terus rumahnya sama rumah ini, besar mana?" tanya Anna yang begitu sangat antusias.


"Nanti kamu juga tahu sendiri. Biar kita nggak ngontrak lagi."


"Asyik... aku seneng banget deh ayah. Ayah mau membelikan aku dan bunda rumah. Makasih banyak ya ayah."


"Iya."


"Safia, sepertinya ada tamu," ucap Rama


"Iya mungkin itu Mbak Shakira. Kemarin aku udah telpon dia, dan aku suruh di ke sini."


"Mau ngapain Mbak Shakira ke sini?" tanya Rama.


"Aku kan sudah bilang sama Bu Ovi, kalau Mbak ku yang mau gantiin aku di cafe."


"Oh. Ya udah, sana bukain."


"Iya Mas."


Safia kemudian berjalan sampai ke ruang tamu untuk membuka pintu.


Safia terkejut saat melihat Iren sudah berdiri di depan rumahnya.


"Hai Saf, maaf ya kalau aku ganggu pagi-pagi gini."


"Iren. Ada apa?" tanya Safia.


"Aku kangen sama kamu. Sebelum ke cafe, aku pengin main dulu ke rumah kamu. Nggak apa-apa kan?"


Safia tersenyum.


"Oh, iya. Nggak apa-apa. Ayo masuk."


"Makasih."


Setelah Safia mempersilahkan Iren, Iren kemudian masuk ke dalam rumah Safia.


"Silahkan duduk Ren."

__ADS_1


"Iya Saf."


Iren kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu setelah Safia mempersilahkannya duduk.


Iren diam. Samar-samar dia mendengar suara lelaki sedang ngobrol dengan Anna di dalam rumah.


"Saf, ada suara lelaki di dalam rumah kamu. Siapa? ayah kamu?" tanya Iren.


Iren memang tidak tahu kalau Safia sekarang sudah punya suami. Karena Safia tidak pernah cerita apapun sama Iren. Mungkin seandainya Iren tahu kalau lelaki yang ada di dalam rumah Safia itu Rama, dia pasti akan langsung jantungan.


"Em.. dia.." Safia tampak bingung untuk menjelaskan pada Iren tentang Rama.


Beberapa saat kemudian, Rama dan Anna muncul dari ruang tengah.


"Bun, aku mau pergi dulu ya sama ayah," ucap Anna sembari menggandeng tangan ayahnya.


Iren terkejut saat melihat lelaki yang dipanggil ayah oleh Anna.


Itu kan Pak Rama, bukankah itu suami dari Bu Vika, temannya Bu Ovi. Kok bisa Anna manggil dia ayah. Atau jangan-jangan, Pak Rama dan Safia sudah menikah. Kan, Bu Vika belum bercerai dari Pak Rama. Kok bisa Safia menikah dengan Pak Rama.


Hati Iren sudah tidak tenang. Dia sejak tadi masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Safia menatap Rama dan Anna lekat.


"Kalian mau ke mana?" tanya Safia.


"Mau keluar sebentar. Ada yang mau dibeli sayang," jawab Rama yang tidak pernah lupa memanggil sayang pada Safia.


"Oh, ya udah kalau begitu. Silahkan."


"Tadinya mau ngajak kamu. Berhubung kamu ada tamu, ya udah aku ngajak Anna saja."


"Ya udah sana kalau mau pergi. Hati-hati ya di jalan," ucap Safia.


Rama dan Anna tersenyum. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan rumah.


Iren masih syok dengan apa yang barusan dia lihat.


"Sa-Safia. Kenapa Pak Rama ada di sini? dan kenapa anak kamu, manggil dia ayah?" tanya Iren yang sudah sangat penasaran.


"Sebenarnya, Mas Rama itu ayah kandungnya Anna," jawab Safia.


"Apa!"


Jantung Iren hampir lepas dari tempatnya saat mendengar ucapan Safia. Dia masih tidak percaya dan tidak menyangka, kalau ternyata Rama adalah ayah kandungnya Anna.


"Dan Mas Rama di sini, karena sekarang dia sudah jadi suami aku," lanjut Safia.


"Terus Bu Vika?"


"Ya, dia juga masih istri sahnya Mas Rama."


"Jadi kamu sekarang jadi istri ke dua? bagaimana ceritanya, kamu bisa nikah sama Pak Rama. Dan bagaimana ceritanya kalau Pak Rama bisa menjadi ayah kandungnya anak kamu? ini semua tidak masuk akal Safia. Karena kata kamu, ayah kandungnya Anna itu sudah meninggal." Iren masih tidak percaya.


"Jadi begini ceritanya Ren."


Safia kemudian mulai menceritakan semua masalahnya dari awal sampai akhir pada Iren. Akhirnya, kebingungan Iren selama ini, sudah terjawab dengan penjelasan dan cerita Safia.


"Oh. Jadi begitu ceritanya. Pak Rama menikah dengan kamu, karena dia ingin bertanggung jawab atas semua yang sudah dia lakukan ke kamu dulu."


"Iya. Aku juga sebenarnya nggak mau menikah dengan Mas Rama karena dia masih punya istri. Tapi aku kasihan melihat Anna. Dia sangat merindukan seorang ayah.


"Selama sepuluh tahun, aku sudah berbohong dan menyembunyikan rahasia besar ini dari orang-orang. Dan sekarang, aku sudah nggak mau menyembunyikan identitas Anna lagi dari orang-orang. Jika suatu saat istri Mas Rama tahu pernikahan kami, aku pun sudah siap menanggung resikonya."


Iren manggut-manggut mendengar cerita Safia.

__ADS_1


__ADS_2