
Pagi ini Pak Hendro masih berkutat di dapur, untuk menyiapkan sarapan keluarganya. Sejak kepergian Rama, istrinya jatuh sakit.
Bu Lina sudah periksa dua kali ke dokter, namun sampai saat ini dia belum sembuh. Mungkin sudah hampir sepuluh hari, Bu Lina berbaring di tempat tidur tanpa melakukan aktifitas apapun.
Pak Hendro juga belum ada uang untuk membawa istrinya ke rumah sakit. Bu Lina sakit mungkin karena dia stres memikirkan masalah Rama.
Hubungan Rama dengan Shakira hancur berantakan karena kesalahan satu malam Rama dengan Safia. Dan sekarang Rama pergi dari rumah dan sampai saat ini dia belum memberikan kabar apapun pada ke dua orang tuanya.
Ring ring ring ..
Suara deringan ponsel Pak Hendro terdengar dari dalam kamarnya.
"Pak... bapak... ada telpon Pak..." ucap Bu Lina.
Beberapa saat kemudian, Bayu melangkah masuk ke kamar ibunya.
"Ada apa Bu?" tanya Bayu.
"Itu. Handphone bapak kamu bunyi. Di mana bapak kamu?"
"Bapak lagi ada di dapur Bu, dia lagi goreng telor untuk sarapan aku."
"Sana, cepat bawa hape itu ke bapakmu. Dari tadi telponnya bunyi terus. Siapa tahu penting."
"Iya Bu."
Bayu mengambil ponsel ayahnya yang ada di atas nakas. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk memberikan ponsel itu pada ayahnya.
"Pak, hape bapak bunyi terus nih dari tadi," ucap Bayu sembari menyodorkan ponsel itu pada ayahnya.
"Telpon dari siapa Bayu?" tanya Pak Hendro.
Bayu mengedikan bahunya. "Nggak tahu Pak."
Pak Hendro mengambil ponsel itu dari tangan bayu. Setelah itu dia memeriksa panggilan dari nomer tak dikenalnya itu.
"Nomer baru Bay. Tapi kenapa banyak sekali panggilan dari nomer ini. Nomer siapa ya ini sebenarnya."
"Telpon balik aja Pak. Siapa tahu itu dari Mas Rama."
"Iya. Bapak telpon dulu ya Bay. Kalau kamu mau makan, tuh telornya udah matang. Kamu tinggal ambil nasi saja ya."
"Iya Pak."
Pak Hendro kemudian pergi meninggalkan dapur untuk menelpon nomer yang sejak tadi menelponnya.
Tanpa butuh waktu lama, Pak Hendro menekan nomer tak dikenalnya itu.
"Halo..." suara seorang wanita sudah terdengar dari balik telpon
"Halo, ini siapa ya?"
__ADS_1
"Halo Om, ini Intan Om."
"Intan siapa?"
"Intan ponakan Om. Anaknya Pak Hasan."
"Oh. Ya ampun. Om sampai lupa kalau Om punya ponakan yang sudah menetap di Jakarta. Kamu tahu nomer Om dari siapa?"
"Dari bapak Om. Om apa kabarnya. Sehat ya Om?"
"Iya Alhamdulillah. Om sekeluarga sehat Tan. Keluarga kamu gimana di Jakarta?"
"Kami sekeluarga baik Om. Oh iya Om, ada sesuatu yang mau Intan bicarakan Om."
"Apa Intan? kamu mau bicara apa?"
"Ini tentang Rama Om."
"Rama. Kamu tahu keberadaan dia?"
"Sudah ada satu minggu lebih Rama berada di rumah Intan. Tapi sekarang Rama ada di rumah sakit Om."
"Rama sakit? sakit apa emang Rama?"
"Rama kemarin kecelakaan Om. Dan kondisinya sekarang kritis."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Rama kecelakaan? dan kondisinya kritis."
"Iya Om. Apa Om bisa datang ke Jakarta?"
"Iya Om. Aku akan jagain Rama."
"Iya. Om pasti akan ke Jakarta untuk melihat kondisi Rama. Tapi nggak bisa sekarang. Sekarang nggak memungkinkan Om untuk ke sana. Karena Bayu juga lagi sekolah. Tante kamu nggak ada yang ngurus."
"Iya Om. Aku cuma mau memberitahu Om saja."
"Kalau ada apa-apa, tolong ya. Kabarin Om."
"Iya Om."
Bayu sejak tadi masih berdiri di belakang ayahnya. Setelah bertelponan dengan Intan, Pak Hendro memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah. Dia terkejut saat melihat Bayu sudah berdiri dibelakangnya.
"Telpon dari siapa Pak?" tanya Bayu menatap ayahnya lekat.
"Aku dengar tadi katanya Mas Rama kecelakaan. Benarkah itu?"
"Sssttt. Bayu. Jangan keras-keras bicaranya. Nanti ibu kamu dengar. Dia bisa tambah sakit kalau kefikiran lagi dengan kondisi kakak kamu."
Bayu manggut-manggut. "Iya Pak, iya."
Pak Hendro merangkul bahu Bayu dan mengajaknya masuk ke dalam. Setelah itu mereka duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Pak, apa sih sebenarnya yang terjadi dengan Mas Rama? terus tadi telpon dari siapa?"
"Ini tadi telpon dari anaknya padhe kamu yang sudah lama tinggal di Jakarta. Katanya kakak kamu sudah satu minggu ada di rumahnya. Dan kemarin kakak kamu itu kecelakaan dan kondisinya kritis."
"Terus, apa yang harus kita lakukan Pak?"
"Bapak tetap akan ke Jakarta. Tapi nunggu ibu kamu sudah membaik Bay. Tapi tolong jangan bilang-bilang dulu masalah ini sama ibu kamu ya. Bapak takut kalau ibu kamu akan kefikiran dan bisa tambah sakit."
"Iya Pak."
***
Sore ini, mobil Bu Windi sudah sampai di depan rumah kontrakan Safia. Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, Safia kembali pulang ke rumah kontrakan dengan mobil Bu Windi.
Namun kali ini, Robi tidak ada. Karena Robi harus kembali kerja ke laundry. Jadi kali ini, Bu Windi langsung yang nyetir mobilnya.
Bu Windi turun dari mobilnya. Setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk Safia.
"Hati-hati Safia," ucap Bu Maryam sembari membantu Safia turun .
Safia tersenyum.
"Aku nggak apa-apa kok. Perut aku juga sudah nggak sakit," ucap Safia.
Bu Maryam dan Bu Windi kemudian mengantar Safia sampai ke dalam rumah kontrakan. Mereka kemudian duduk di ruang tamu.
"Safia, ibu nggak bisa lama-lama di sini. Soalnya di rumah ibu kan lagi sibuk banget," ucap Bu Windi.
"Makasih ya Bu, sudah mau membantu biaya pengobatan aku dan sudah mau mengantar aku pulang sampai ke rumah kontrakan."
Bu Windi mengangguk.
"Iya Safia. Itu memang sudah kewajiban saya, membantu semua karyawan-karyawan saya."
Setelah berpamitan dengan Safia dan Bu Maryam, Bu Windi kemudian bangkit dari duduknya.
Sebelum pergi, dia menatap Safia.
"Safia, kamu tenang saja ya, walaupun kamu tidak lagi kerja di tempatku, tapi aku akan sering main ke sini nengokin kamu."
"Iya Bu. Makasih banyak ya Bu."
Bu Windi kemudian pergi meninggalkan rumah kontrakan Safia.
Bu Maryam menatap Safia.
"Safia, ibu juga harus pulang. Kasihan Resti, dari kemarin ibu tinggal."
"Iya Bu. Makasih banyak ya Bu, udah mau nemenin aku di rumah sakit. Dan maaf, kalau aku sudah sering merepotkan ibu."
"Nggak apa-apa Safia. Ibu juga sedih sebenernya mendengar cerita kamu. Kalau suami kamu sudah tidak perduli lagi sama kamu, gugat cerai saja dia Safia."
__ADS_1
"Iya Bu. Nanti kalau aku udah punya uang. Sekarang itu serba uang. Kalau ngurus cerai, juga harus ada uang yang banyak. Untuk saat ini, aku belum ada fikiran untuk kembali ke kampung. Aku ingin hidup di sini membesarkan anak aku sendiri tanpa suami."
"Ya Allah, kamu itu memang wanita yang hebat Safia. Kamu begitu tegar menghadapi masalah kamu."