Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Mengantar Anna pulang


__ADS_3

Rama menghentikan laju mobilnya setelah melihat Anna menangis. Setelah itu Rama menatap anak itu lekat dan mencoba untuk menenangkannya.


"Anna, maafkan Om ya. Om sudah membuat kamu sedih lagi. Om nggak ada maksud untuk mengingatkan kamu dengan ayah kamu lagi," ucap Rama tampak menyesal dengan apa yang sudah dia ucapkan.


Tidak seharusnya Rama mengingatkan Anna pada ayah kandungnya.


Anna mengusap air matanya dan kembali menatap Rama.


"Om, sejak bayi sampai sebesar ini aku belum pernah melihat seperti apa wajah ayah aku," ucap Anna.


"Begitu?"


"Iya Om. Aku ini sampai sekarang saja tidak tahu siapa nama ayah aku, di mana dia tinggal, dan seperti apa wajahnya. Karena jika aku menanyakan tentang ayah, bunda selalu marah. Padahal aku sebenarnya penasaran seperti apa ayah aku.


"Bunda cuma mengatakan kalau ayah aku sudah meninggal. Dan saat aku menanyakan di mana makam ayah, bunda selalu bilang kalau makam ayah itu jauh di kampung," ucap Anna menjelaskan panjang lebar.


"Oh..." Rama manggut-manggut saat mendengar cerita Anna. Dia sekarang semakin mengerti dengan kondisi keluarga Anna.


Kasihan banget kamu Anna. Kamu nggak pernah melihat sosok ayah kamu, batin Rama yang prihatin dengan Anna.


Rama mengusap air mata Anna dan mengusap rambut panjang Anna, mencoba untuk menenangkan tangisan anak itu.


"Sudah, Anna jangan nangis lagi ya. Om janji Om nggak akan membahas lagi tentang ayah Anna," ucap Rama.


"Sabar ya Anna. Kalau Anna mau, boleh kok, kalau Anna mau menganggap Om Rama ayah Anna. Anggap saja Om Rama ini seperti ayah kandung Anna sendiri."


Anna tersenyum.


"Makasih ya Om."


"Iya Anna, sama-sama. Sekarang, kita mau ke mana Anna? mau pulang, atau Anna mau jalan-jalan dulu?" tanya Rama.


Anna menggeleng.


"Aku mau langsung pulang aja Om. Takut bunda nungguin. Soalnya Anna kan belum minta izin dulu sama bunda waktu kita mau pergi."


"Baiklah. Kalau Anna mau telpon bunda Anna, telpon aja pakai hape Om. Biar bunda Anna nggak khawatir sama Anna. Anna bilang kalau sekarang Anna lagi sama Om."


"Bunda nggak pegang hape Om."


"Lho, bunda kamu nggak punya hape?" tanya Rama.


"Iya. Bunda hapenya rusak. Dan belum ada uang untuk beli lagi," jelas Anna.


Rama kemudian mengambil dompet yang ada di sakunya. Setelah itu dia mengambil beberapa lembar uang untuk Anna.


"Apa ini Om?" tanya Anna.


"Ini uang buat kamu." Rama menyodorkan uang itu pada Anna.


"Tapi, kemarin kan Om sudah ngasih aku uang banyak. Kenapa ngasih lagi?"


"Nggak apa-apa. Ambil saja."


"Nggak mau Om. Nanti aku dimarahin bunda. Kalau sering menerima bantuan dari Om."

__ADS_1


"Kenapa? kan Om ikhlas ngasih uang ini ke kamu."


"Tapi aku nggak mau Om. Aku takut di marahin bunda. Nanti pasti bunda akan tanya macam-macam sama aku. Lagian tadi Om juga udah ngajak aku makan di restoran dan membelikan aku makanan enak, itu sudah lebih dari cukup untuk aku Om."


Rama tersenyum.


"Ya udah, Anna simpan sendiri aja uang ini. Dan jangan kasih tahu bunda Anna tentang uang ini. Anna pakai aja buat kepentingan Anna sendiri," ucap Rama sembari meletakan uang itu di telapak tangan Anna.


Anna diam dan tampak berfikir.


Sebenernya aku pengin beli baju baru. Tapi bunda nggak punya uang. Apa aku terima aja ya uang dari Om Rama untuk beli baju baru. Tapi aku nggak enak sama Om Rama.


"Ambilah Anna. Jangan sungkan-sungkan. Katanya kamu sudah menganggap Om ayah kamu sendiri. Jadi, jangan sungkan-sungkan ya untuk menerima pemberian Om."


Anna tersenyum dengan menunjukkan lesung pipinya.


"Baiklah. Aku nggak akan bilang-bilang sama bunda," ucap Anna.


Setelah berhenti cukup lama, Rama kembali mengendarai mobilnya. Mereka akan meluncur pergi untuk ke rumah Anna.


"Anna, mana rumah kamu?" tanya Rama menatap sekeliling.


"Om, kita nanti turun di depan aja ya Om."


"Iya Anna."


Rama menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di sebuah gang kecil.


"Aku tinggal di rumah kontrakan Om. Dan rumah kontrakan itu masuk ke dalam gang ini Om," ucap Anna.


"Iya Om. Kita harus jalan kaki kalau mau ke kontrakan Anna."


Rama menatap gang sempit itu.


Duh, ternyata Anna tinggal di pemukiman kumuh begini, aku kenapa jadi nggak tega ya, melihat dia.


"Jadi bunda kamu masih ngontrak?" tanya Rama.


"Iya Om. Uang Om yang kemarin aja, Anna kasih ke bunda untuk melunasi bayar kontrakan."


"Oh ya."


"Iya Om. Oh iya, apa Om mau mampir ke rumah aku dulu?" tanya Anna.


Rama diam dan tampak berfikir. Dia kemudian menatap jam tangannya.


Duh, aku harus kembali ke kantor nih. Kapan-kapan aja aku mampir ke rumah Anna, batin Rama.


"Anna. Maafkan Om ya. Om nggak bisa mampir ke rumah Anna. Om harus kembali ke kantor. Om masih banyak kerjaan di kantor soalnya," ucap Rama.


"Om katanya mau kenalan sama bunda aku?"


"Iya. Tapi kapan-kapan aja ya Anna. Om mau langsung ke kantor soalnya."


"Iya Om."

__ADS_1


Anna meraih tangan Rama dan mencium punggung tangannya.


"Om, aku pergi dulu ya. Hati-hati ya Om di jalan."


"Iya Anna."


Anna turun dari mobil Rama. Sebelum pergi, Anna menatap Rama dan melambaikan tangannya.


"Hati-hati ya Om."


Rama hanya mengangguk.


Anna kemudian masuk ke dalam gang kecil itu. Setelah Anna menghilang dari hadapannya, Rama pun meluncur pergi meninggalkan tempat itu.


Anna melangkah sampai ke depan teras rumah kontrakannya. Tiba-tiba saja Aryo memanggil-manggilnya.


"Anna... Anna...!" seru Aryo.


Anna menoleh ke arah Aryo dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Aryo.


"Anna. Ibu kamu nggak ada di rumah," ucap Aryo menuturkan.


"Emang bunda ke mana?" tanya Anna menatap Aryo lekat.


"Bunda kamu tadi siang pergi. Sepertinya dia lagi nyari kamu deh."


"Duh, bunda pergi ya. Sudah lama ya bunda pergi?"


"Sudah lama Na. Kamu dari mana aja sih?"


"Aku dari..." Anna bingung untuk menceritakan pada Aryo kalau tadi Anna habis makan di restoran mahal. Anna yakin , kalau Aryo tidak akan percaya dengan cerita Anna.


"Dari mana?" tanya Aryo lagi.


Beberapa saat kemudian, Safia datang dan menghampiri Aryo dan Anna yang ada di teras depan rumah kontrakannya.


"Anna..." seru Safia sembari mendekat ke arah Anna.


Anna menoleh ke arah bundanya.


"Bunda." Anna tersenyum saat melihat bundanya.


"Anna. Kamu dari mana aja Anna?" Safia sudah menatap tajam ke arah anaknya.


Safia lantas mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anaknya dan memegang ke dua bahu Anna.


"Anna. Kamu dari mana aja sih? kamu sudah membuat bunda khawatir tahu nggak!" ucap Safia dengan nada tinggi.


"Maafkan aku Bun. Udah membuat bunda cemas," ucap Anna.


"Anna. Bunda sudah nyari kamu kemana-mana. Tadi juga bunda sudah ke rumah teman-teman kamu untuk menanyakan keberadaan kamu. Tapi mereka nggak ada yang tahu di mana kamu. Sebenarnya kamu itu dari mana aja sih Nak? kamu pergi kemana dan pergi sama siapa?"


Anna menghela nafas dalam. Anna bingung dengan apa yang akan Anna ceritakan pada ibunya kalau tadi dia diajak Om baik makan di restoran. Anna takut dimarahin ibunya karena sudah membuat ibunya cemas.


Anna yang ditanya hanya bisa diam. Dia masih belum mau cerita pada Safia kemana dia pergi dan dengan siapa tadi dia pergi.

__ADS_1


__ADS_2