
"Siapa yang menjebak kamu. Aku nggak mungkin dong sayang, sejahat itu sama wanita yang aku cintai."
"Tapi tadi kamu bilang kamu akan mengirimkan video kita ke suamiku."
"Kenapa, kamu takut suami kamu tahu tentang hubungan kita? kamu tidak perlu takut, kalau kamu mau nurut sama aku sayang. Karena aku tidak mungkin sejahat itu sama kamu, asal kamu nggak menjauhiku dan mau nurut sama semua permintaan aku."
Bram tersenyum. Dia sudah berhasil membuat Vika ketakutan dengan ancamannya.
Memang itu tujuan utama Bram. Ingin menghancurkan rumah tangga Vika dan Rama. Bram memang masih punya rasa pada Vika dan masih berambisi untuk memiliki wanita itu.
Namun Vika yang masih sayang dengan anak dan suaminya, sekarang lebih memilih untuk menjauh dari Bram. Walau dia sudah pernah melakukan hubungan satu malam dengan Bram.
Di dalam kamarnya, Rama menatap keluar jendela. Tiba-tiba pandangannya tertuju ke bawah di mana istrinya sedang ngobrol dengan seseorang yang saat ini berada di dalam mobil.
"Itu kan Vika. Dia lagi ngobrol sama siapa. Siapa orang yang ada di dalam mobil itu," ucap Rama.
Rama sejak tadi masih memperhatikan istrinya dari jendela kamarnya. Beberapa saat kemudian, mobil itu pergi meninggalkan rumah Rama. Setelah mobil itu pergi, Vika pun kembali masuk ke dalam rumahnya.
Rama memutar tubuhnya. Dia yang baru selesai mandi, berjalan mendekati lemari untuk mengambil baju kerjanya.
Setelah ganti baju, pintu kamar tiba-tiba saja terbuka. Vika muncul dari balik pintu.
Vika tersenyum saat melihat suaminya. Dia kemudian mendekati Rama.
"Kamu sudah rapi ternyata Mas. Mau aku pakaikan dasinya Mas?"
"Nggak perlu. Aku bisa pakai sendiri."
"Mas, mau sampai kapan sih kamu bersikap dingin gini sama aku. Apa salah aku selama ini ke kamu. Kamu bilang dong, sama aku. Apa salah aku. Agar aku ngerti. Jangan diamin aku terus seperti ini. Karena aku nggak sanggup Mas."
Vika meraih tangan Rama dan menggenggamnya erat. Namun Rama buru-buru menghempaskan tangan Vika.
"Mas, kenapa kamu berubah. Kamu udah bukan Mas Rama yang dulu aku kenal. Apa sih yang membuat kamu berubah. Apa jangan-jangan, kamu sudah mulai mencintai wanita lain, sehingga kamu berubah begini sama aku?"
"Vika, bisa diam nggak sih kamu. Jadi istri itu cerewet banget sih!" ucap Rama dengan nada tinggi.
Vika diam, setelah Rama membentaknya. Dia tidak mau membuat Rama semakin marah padanya. Vika lebih memilih diam dan duduk.
Vika kemudian mendekati tempat tidur dan duduk di sisi tempat tidur. Sementara Rama kembali melakukan aktivitasnya memakai dasi.
Setelah rapi, Rama menatap Vika.
"Kamu bicara dengan siapa tadi di luar?" tanya Rama
__ADS_1
Vika terkejut saat mendengar ucapan Rama. Dia tampak gugup namun dia berusaha untuk menyembunyikannya.
"Aku nggak bicara sama siapa-siapa Mas."
"Tadi aku lihat diluar. Ada mobil. Siapa orang yang ada di dalam mobil."
Duh, aku harus jawab apa. Apa Mas Rama lihat Bram tadi. Mudah-mudahan saja nggak, batin Vika.
"Vika, kamu kenapa? kamu kok kelihatan gugup gitu?"
Vika tersenyum dan menghela nafas dalam. Dia kemudian berdiri dan mendekati suaminya.
"Sayang, tadi cuma orang nyasar. Dia lagi nyari alamat. Kebetulan aku ada di luar, makanya dia nanya sama aku. Nggak mungkin dong, aku mau cuekin dia."
"Oh. Orang cari alamat."
"Iya Mas."
"Ya udah, aku mau langsung ke kantor. Aku titip Liza ya sama kamu. Jangan ditinggal-tinggal Lizanya. Kasihan dia."
Vika mengangguk.
"Kamu nggak mau sarapan dulu Mas? kita sarapan bareng yuk! ini juga kan masih pagi. Kamu sekarang juga jarang makan di rumah. Padahal aku pengin banget kamu makan di rumah bersama aku dan Liza. Tapi kamu sekarang pulangnya udah malam banget. Dan berangkat kantornya juga pagi banget."
Rama menatap Vika lekat. Dia merasa ada yang janggal dengan Vika.
Orang nanya alamat, kenapa ngobrolnya lama sekali. Mungkinkah yang datang tadi itu Bram. Apa mungkin Bram tahu kalau aku ada di rumah, makanya dia tidak berani turun dari mobilnya, fikir Rama.
Vika tersenyum. Dia kemudian mulai memejamkan matanya. Dia fikir, kalau Rama akan menciumnya. Namun ternyata Rama meninggalkan Vika begitu saja.
Setelah Rama pergi, Vika membuka kembali matanya.
"Ih, Mas Rama. Tadi dia ngelihatin aku, aku fikir dia mau nyium aku. Tapi kenapa aku ditinggalin."
Vika tidak tinggal diam. Dia kemudian menyusul langkah suaminya dan meninggalkan kamarnya.
Sesampainya di garasi, Rama masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia meluncur pergi meninggalkan rumah. Sementara Vika, sudah kehilangan jejak Rama. Setelah sampai di teras, Rama sudah keburu pergi dengan mobilnya.
"Ih, aku benar-benar nggak suka Mas Rama cuekin aku seperti ini. Aku harus selidiki. Apa yang membuat suami aku berubah banget seperti ini," ucap Vika.
****
Seperti hari-hari biasanya, Rama selalu berangkat jam setengah enam dari rumah istrinya. Namun dia tidak langsung ke kantor karena dia mampir dulu dan sarapan di rumah Safia. Hampir setiap hari dia main ke rumah Safia untuk melihat Anna.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah Safia, Rama turun dari mobilnya. Dia kemudian melangkah ke teras depan rumah Safia.
Sebelum mengetuk pintu, Anna sudah menyambut ayahnya dengan membuka pintu rumahnya.
"Ayah...!" ucap Anna.
Rama merentangkan ke dua tangannya, seperti apa yang sering dia lakukan setiap pagi, memeluk anaknya.
"Ayah aku tahu kalau jam segini, pasti ayah sudah sampai di rumah aku," ucap Anna dalam pelukan Rama.
Setelah itu, Anna melepaskan pelukannya. Dia kemudian meraih tangan Rama dan menggenggamnya erat. Setelah itu, Anna menyuruh ayahnya masuk.
"Ayo ayah, kita masuk. Bunda udah nungguin kita di ruang makan."
"Iya sayang."
Rama dan Anna kemudian masuk ke dalam rumah Safia. Mereka menuju ke ruang makan di mana Safia berada.
Rama tersenyum saat melihat Safia.
"Safia, udah nungguin dari tadi ya?" tanya Rama
Safia hanya tersenyum.
"Nggak usah geer kamu Mas. Bukan aku yang nungguin kamu. Setiap hari yang nungguin kamu kan cuma Anna. Bukan aku."
Rama hanya terkekeh saat melihat sikap Safia yang selalu ketus padanya.
Safia memang sengaja bersikap dingin pada Rama, agar Rama mau menjauhi Safia.
Semakin hari, Safia semakin tidak nyaman dengan kedekatannya dengan Rama. Pertama, karena Safia tidak enak dengan tetangga dekat rumahnya, karena hampir setiap hari Rama main ke rumahnya.
Ke dua, karena status Rama masih suami orang. Dan Safia tidak mau disebut-sebut orang sebagai pelakor. Apalagi sampai Safia menikah dengan Rama.
Sebenarnya Safia ingin menjauhkan dirinya dari Rama. Namun sulit karena ada Anna di tengah-tengah kehidupan mereka. Safia tidak mungkin menjauhkan anaknya juga dari Rama.
Sudah cukup Safia membohongi anaknya dan mengatakan ayahnya sudah meninggal. Saat ini, hanya kebahagiaan Anna yang terpenting untuk Safia.
"Kamu lagi kenapa sih? lagi PMS ya?" ucap Rama sembari menarik kursinya.
"Nggak usah sok tahu kamu Mas."
Rama kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Begitu juga degan Anna yang mengikuti ayahnya duduk.
__ADS_1