
Malam ini Bu Maryam dan Safia sudah sampai di depan sebuah rumah kecil yang terlihat asri karena banyak tanaman hias yang menghiasi teras depan rumah. Ya, rumah itu adalah rumah Bu Maryam.
Bu Maryam yang merasa iba dengan Safia, mengajak Safia untuk sementara tinggal di rumahnya.
Setelah Bu Maryam dan Safia sampai di depan teras rumah itu, Bu Maryam mengetuk pintu rumahnya.
Tok tok tok ...
"Assalamualaikum. Res...Resti...!" seru Bu Maryam.
Beberapa saat kemudian, seorang gadis 15 tahun muncul dari balik pintu.
Resti menatap ibunya dan wanita yang ada di sisi ibunya.
"Resti, kenalkan. Ini Mbak Safia teman ibu." Bu Maryam memperkenalkan Safia pada Resti.
Resti tampak bingung saat melihat tas baju Safia.
"Kenapa dia bawa-bawa tas segala? apa dia mau tinggal di sini?" tanya Resti.
"Untuk sementara Mbak Safia mau tinggal di sini. Biar dia bantu-bantu ibu dulu di sini," Bu Maryam menjelaskan.
"Oh..." Resti hanya mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O.
"Safia. Ini Resti anak bungsu ibu." Bu Maryam memperkenalkan Resti pada Safia.
"Hai Resti. Kenalkan, aku Safia, " Safia mengulurkan tangannya yang di sambut uluran tangan Resti.
"Resti Mbak."
"Ayo masuk Saf!" Bu Maryam mempersilahkan Safia masuk.
Safia mengangguk. "Iya Bu."
Safia kemudian masuk setelah Bu Maryam mempersilahkan dia masuk.
"Ibu cuma tinggal sama Resti?" tanya Safia menatap Bu Resti lekat.
"Iya. Karena kakak Resti sudah berumah tangga semua dan ikut tinggal di rumah suaminya. Tapi mereka juga tinggal dekat kok dengan ibu. Kalau ada waktu luang, mereka sering ke warung ibu untuk bantu-bantu. Kalau Resti ini setiap hari sekolah." Bu Maryam menjelaskan.
"Oh..."
"Duduk Saf," pinta Bu Maryam.
"Iya Bu."
Safia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu rumah Bu Maryam.
"Tunggu di sini ya Saf. Ibu beresin kamar dulu untuk kamu tidur malam ini."
__ADS_1
"Iya Bu."
Bu Maryam kemudian melangkah ke kamar anaknya. Dia masuk ke dalam kamar Resti.
"Ibu. Ibu yakin mau ngajak dia tinggal di rumah kita? rumah kita kan kecil. Hanya punya dua kamar. Kalau dia tinggal di sini, dia mau tidur di mana," Resti tampak keberatan saat dia tahu kalau Safia akan tinggal di rumahnya.
"Res ini cuma untuk sementara aja kok. Mbak Safia itu datang ke kota ini mau nyari kerja dan dia tidak punya siapa-siapa di sini. Jadi ibu mau bantu dia. Untuk sementara ibu tidur di kamar kamu dulu ya sama kamu. Soalnya kamar ibu, mau buat tidur Safia dulu."
"Terserah ibu lah."
"Oh iya. Di lemari kamu masih ada sprei? sini ibu pinjam dulu untuk ganti seprei di kamar ibu. Soalnya sprei di kamar ibu belum ibu ganti."
"Ya Bu."
Resti mengambil sprei yang ada di lemarinya. Setelah itu dia memberikan sprei itu pada ibunya.
Bu Maryam kemudian melangkah ke kamarnya. Dia mulai membereskan kamarnya. Dia mengganti sprei dan membersihkan kamarnya untuk tidur Safia malam ini.
Usai itu, Bu Maryam kembali ke ruang tamu untuk menemui Safia.
"Safia, ayo kita ikut ibu! Ibu mau tunjukan kamar kamu."
"Iya Bu."
"Bawa sekalian tas kamu."
"Iya Bu."
"Untuk sementara kamu bisa tinggal di kamar ibu dulu ya. Biar ibu tidur sama Resti dulu. Karena di rumah ini kan kamarnya cuma ada dua."
"Iya Bu. Makasih ya. Sudah mengizinkan aku tinggal di sini."
"Iya. Maaf ya kalau kamarnya kecil."
"Iya Bu. Nggak apa-apa."
"Kalau begitu, ibu tinggal dulu ya Safia."
"Iya Bu."
Bu Maryam kemudian pergi meninggalkan kamar Safia.Setelah Bu Maryam pergi, Safia kemudian duduk di sisi ranjang.
"Alhamdulillah, akhirnya aku punya tempat tinggal juga. Aku akan tinggal di sini, setidaknya sampai aku mendapatkan pekerjaan dan rumah kontrakan," ucap Safia.
****
Matahari di pagi ini sudah bersinar cerah. Rama masih berada di dalam kamarnya. Dia masih frustasi karena kejadian itu. Rama belum sanggup untuk mengatakan semua hal itu pada ke dua orang tuanya.
Dia sudah di usir oleh keluarga istrinya seminggu setelah kejadian itu. Shakira sudah tidak mau memaafkan Rama lagi dan dia juga ingin mengakhiri hubungan rumah tangganya dengan Rama.
__ADS_1
Jika mereka bercerai juga tidak akan ada yang menjadi korban dari perceraian mereka karena mereka belum dikaruniai seorang anak. Jadi mereka tidak berat untuk berpisah.
"Ah, kenapa aku harus melakukan hal itu pada Safia. Dan sekarang Shakira meminta aku untuk menceraikan dia. Aku harus bagaimana sekarang. Jujur, aku masih cinta dengan Shakira. Aku tidak mau meninggalkan dia apalagi untuk menceraikan dia. Apa perbuatan aku itu tidak pantas untuk dimaafkan," ucap Rama.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar kamar Rama.
Tok tok tok
"Rama...! Rama...!" seruan dari luar kamar Rama terdengar.
Rama segera bangkit dan bergegas untuk membuka pintu.
"Rama. Kamu lagi ngapain sih di dalam. Sudah siang. Kamu nggak mau ikut sarapan sama ibu dan bapak?" tanya Bu Lina ibu Rama.
"Iya Bu. Tunggu Sebentar."
"Cepat ya Rama. Ibu dan bapak tunggu kamu di ruang makan."
"Iya Bu."
Beberapa saat kemudian, Rama keluar dan menghampiri kedua orang tuanya. Dia kemudian menarik kursi dan duduk berbaur bersama orang tuanya.
Rama adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakaknya perempuan dan sudah berkeluarga. Sedangkan adiknya laki-laki dan dia masih duduk di bangku SMA.
Saat ini di ruang makan, sudah ada Rama dan ke dua orang tuanya.
Rama menatap sekeliling.
"Mana Bayu?" tanya Rama menanyakan adiknya.
"Adik kamu sudah berangkat ke sekolah," jawab Pak Hendro ayah Rama.
"Tumben banget cepat."
"Bukan adik kamu yang cepat. Tapi kamu yang lelet," celetuk Bu Lina sembari mencedokan nasi ke piring Pak Hendro.
Setelah Bu Lina mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Pak Hendro, dia kemudian mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.
"Bu, sekalian aku dong!" pinta Rama.
Bu Lina kemudian mencedokan nasi dan lauk ke piring Rama.
Setelah itu, mereka bertiga pun sarapan bersama pagi ini.
Sejak tadi, ke empat orang itu masih menikmati makanannya. Mereka tidak ada yang saling bicara. Mereka masih larut menikmati kelezatan makanan mereka.
"Bu, rendang ibu enak banget," puji Rama di sela-sela kunyahannya.
"Iya. Itu kan makanan kesukaan kamu Rama," Bu Lina tersenyum dan menatap anaknya.
__ADS_1
Bu Lina memang sengaja memasak masakan kesukaan Rama mumpung Rama ada di rumahnya. Kapan lagi bisa makan bareng Rama. Karena sejak menikah dengan Shakira Rama jarang pulang ke rumah orang tunya karena kesibukannya.