Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Tugas penting


__ADS_3

Safia tersenyum dan hanya bisa geleng-geleng kepala dengan ucapan Rama yang terdengar sangat konyol.


"Safia, kenapa kamu diam aja? gimana?" tanya Rama.


"Gimana apanya Mas?"


"Ya, aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku."


"Mas, sudahlah, nggak usah berfikiran yang aneh-aneh deh. Kamu tahu ini jam berapa? ini udah jam delapan. Kamu mau berangkat kantor jam berapa Mas?" Safia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam delapan.


"Santai ajalah. Aku kan bos. Jadi terserah aku mau berangkat jam berapa aja. Kantor juga kantorku. Yang gaji karyawan juga aku. Siapa juga yang mau protes kalau aku berangkat siang."


"Tapi kalau menurut aku, bos itu harus mencontohkan sikap yang baik untuk karyawannya. Bos harus datang tepat waktu dan disiplin. Kalau bosnya malas, gimana dengan karyawannya."


"Ya udahlah, aku berangkat dulu ya. Kamu mau ikut?"


"Ikut ke mana?"


"Ikut aku kerja."


"Untuk apa? aku juga mau kerja sendiri."


Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia keluar meninggalkan rumah Safia.


"Safia, aku pergi dulu ya. Kalau kamu kangen, kamu telpon aja aku," ucap Rama setelah sampai di teras depan rumah.


"Ih, apaan sih. Siapa juga yang mau kangen sama kamu."


Rama terkekeh. Merasa gemas dengan sikap Safia.


"Yah, itu kan seumpama. Kalau kamu kangen sama aku. Kamu tinggal telpon aja aku."


"Untuk apa aku kangen sama suami orang."


"Ya udahlah, kalau kamu nggak mau aku kangenin ya udah, untuk Anna aja kangennya."


"Apaan sih..."


Rama berjalan mendekati mobilnya. Setelah itu, dia pun masuk ke dalam mobilnya. Sebelum pergi, Rama melambaikan tangannya ke arah Safia.


"Hati-hati ya Mas," ucap Safia.


"Iya sayang."


"Apa! sayang."


Rama hanya bisa tersenyum bahagia melihat Safia yang sering salah tingkah saat mendapat perhatiannya.


Setelah masuk mobil, Rama pun meluncur pergi meninggalkan rumah Safia. Sementara Safia kembali masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya lagi.


"Ih, Mas Rama. Kenapa jadi genit gitu sih. Dia fikir aku mau apa, menikah dan menjadi istri ke dua. Selama dia masih sama istrinya, aku nggak akan pernah mau jadi istri Mas Rama. Kayak nggak ada lelaki lain aja di dunia ini."

__ADS_1


****


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah Safia sampai kantor, akhirnya Rama sampai juga di depan kantornya.


Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran kantor, Rama kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam kantornya.


Dia berjalan ke arah ruangannya. Sesampainya Rama di depan ruangannya, Rama kemudian masuk ke dalam.


Rama menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya. Setelah itu dia mulai membuka layar monitornya dan memulai pekerjaannya.


"Oh iya. Aku mau bicara dulu sama Yogi. Bicara di telepon, kayaknya kurang jelas," ucap Rama.


Rama kemudian menelpon Yogi dengan telpon yang ada di atas meja kerjanya.


"Halo..."


"Halo Yog. Bisa ke ruangan saya sebentar. Ada yang mau saya bicarakan. Penting."


"Baik Pak Rama. Saya akan segera ke sana."


Beberapa saat kemudian, suara ketukan sudah terdengar dari luar ruangan Rama.


Tok tok tok...


"Permisi..." suara seorang lelaki sudah terdengar dari luar ruangan Rama.


"Masuk!"


Beberapa saat kemudian, Yogi seorang lelaki muda masuk ke dalam ruangan Rama.


"Pagi. Silahkan duduk Yog."


Yogi kemudian duduk di depan Rama setelah Rama mempersilahkannya duduk.


"Ada apa ya Pak?" tanya Yogi yang melihat Rama tampak serius.


"Kamu masih ingat kan, tugas yang aku berikan ke kamu."


"Iya Pak. Saya harus menyelidiki seorang lelaki yang sekarang sedang dekat dengan istri bapak."


"Bagus. Apa kamu sudah melakukan tugas kamu?"


"Belum Pak. Tapi menurut informasi yang saya dapatkan, lelaki itu sedang tugas di Bali dan dia belum kembali lagi ke sini."


"Ya, dia memang ke Bali dan mengajak istri saya ke sana. Entah apa yang mereka lakukan di sana. Jujur saya penasaran dengan hubungan mereka Yog. Karena istri saya sudah membohongi saya. Dia bilang dia mau ke Bali dengan teman perempuan. Tapi pada kenyataannya dia pergi sama lelaki. Itu yang membuat saya curiga."


"Baik Pak Rama. Saya nanti akan cari tahu informasi lelaki itu sebanyak-banyaknya. Saya akan minta bantuan teman-teman detektif saya untuk ikut menyelidiki lelaki itu."


"Bagus. Kamu kerjakan tugas kamu dengan baik. Saya akan kasih imbalan ke kamu, dan imbalannya akan lebih besar berlipat-lipat dari gaji kamu."


"Siap Pak Rama."

__ADS_1


"Sekarang kamu bisa kembali ke ruangan kamu."


"Iya Pak Rama. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Yogi sebelum bangkit berdiri.


Setelah itu, Yogi pun pergi meninggalkan ruangan Rama.


"Awas aja kamu Vik, kalau sampai kamu punya hubungan sama lelaki itu, aku nggak akan pernah maafin kamu. Aku akan balas pengkhianatan kamu itu dengan pembalasan yang lebih pedih."


****


Malam telah larut, Rama masih berada di ruangan kantornya. Rama masih berkutat di depan layar monitornya. Sepertinya pekerjaan Rama saat ini sangat banyak. Sehingga dia harus lembur di kantor sampai malam.


Seharusnya pekerjaan itu sudah selesai dari kemarin. Namun, karena beberapa hari Rama tidak masuk kantor, jadi pekerjaan Rama semakin menumpuk. Banyak file-file yang belum dia tanda tangani.


Hoaaamm...


"Kenapa aku jadi ngantuk gini ya," ucap Rama.


Rama yang sudah tidak kuat menahan kantuk, segera menenggelamkan kepalanya di atas meja kerjanya. Rama memejamkan matanya dan terlelap di ruangannya.


Di sisi lain, Vika masih menunggu Rama. Sejak tadi dia masih bolak-balik di dalam kamar Liza.


"Mama, mama kenapa jam segini belum tidur?" tanya Liza yang terbangun karena merasa terganggu dengan kehadiran Vika di kamarnya.


"Liza, papa kamu pulang malam lagi Liza. Kemarin juga dia pulang malam," ucap Vika menuturkan.


Liza mengucek matanya dan menatap lekat ke arah Vika.


"Mungkin papa lagi sibuk di kantor. Maklum kan, papa dari kemarin nggak masuk kantor gara-gara harus jagain aku," ucap Liza.


"Tapi masa sampai jam segini. Udah hampir jam dua belas lho."


"Udahlah, mama tidur aja. Nggak usah tungguin papa. Nanti juga papa pulang kok. Nggak mungkin kan kalau papa akan nginap di kantor."


"Iya sih. Tapi mama cuma khawatir aja sama papa kamu. Nggak biasanya dia pulang malam terus seperti ini."


"Kalau mama khawatir, kenapa mama nggak telpon Papa aja."


"Mama udah telpon. Tapi papa kamu nggak pernah mau angkat telpon mama. Mama jadi bingung. Papa kamu sebenarnya kenapa ya. Dia seperti lagi jauhin mama."


Vika mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Dia kemudian menelpon kembali suaminya.


Tut...Tut...Tut...


Lagi-lagi tidak ada jawaban. Vika kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Beberapa saat kemudian, deringan ponsel Vika berbunyi.


Vika tersenyum.


"Itu pasti papa kamu."

__ADS_1


Vika kembali mengambil ponsel itu. Namun Vika terkejut saat melihat nama Bram terpampang jelas di ponselnya.


Ih, kenapa Bram harus nelpon aku sih. Untung Mas Rama nggak ada di rumah. Mau ngapain dia nelpon tengah malam begini.


__ADS_2