Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Guru baru


__ADS_3

Hiks...hiks...hiks...


Anna sejak tadi masih menangis sendiri di depan sekolahnya. Roda sepeda Anna dua-duanya kempes. Dan Anna tidak tahu siapa yang sudah merusak sepedanya.


"Aku nggak akan bisa pulang kalau ban sepeda aku, dua-duanya kempes begini. Masa aku pulang harus jalan kaki. Kan capek. Rumah aku aja sekarang jauh dari sekolah. Mana teman-teman aku sudah pulang semua lagi," ucap Anna di sela-sela tangisannya.


Beberapa saat kemudian, seorang lelaki muda menghampiri Anna.


"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Evan guru baru Anna.


Anna mengusap air matanya. Setelah itu dia menatap Evan.


"Pak Evan," ucap Anna sembari menatap Evan lekat.


"Kenapa sepeda kamu?"


"Ban sepeda aku ada yang ngempesin Pak. Dua-duanya kempes. Dan aku nggak bisa pulang."


"Coba sini bapak periksa."


Evan kemudian memeriksa ke dua roda sepeda Anna. Evan terkejut saat melihat paku kecil tertancap di ke dua ban sepeda Anna.


"Ini sih, pasti kerjaannya anak-anak usil. Dia sudah ngempesin ban roda sepeda Anna," ucap Evan.


Evan kemudian bangkit berdiri.


"Sepeda ini sih sudah tidak bisa dipakai An. Kamu pulang bareng. Pak Evan saja ya."


Anna tersenyum.


"Pak Evan mau nganterin aku pulang."


"Iya. Biar sepeda kamu kita taruh di bengkel."


"Iya Pak. Aku mau. Dari pada jalan kaki rumah aku kan jauh."


"Iya. Kamu tunggu di sini ya. Bapak ambil mobil bapak dulu."


Evan kemudian melangkah pergi ke parkiran mobil untuk mengambil mobilnya.


Beberapa saat kemudian, Evan melajukan kendaraannya sampai di depan Anna berdiri.


Evan membuka pintu depan mobilnya. Dia kemudian menyuruh Anna masuk.


"Ayo An, masuk! biarin saja dulu sepedanya. Nanti bapak yang akan bawa sepeda kamu ke bengkel..!" pinta Evan.


Anna mengangguk. Dia kemudian masuk ke dalam mobil Evan. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan sekolahan.


Beberapa saat kemudian, mobil Evan sudah sampai di depan rumah kontrakan Safia. Evan menatap lekat gadis kecil yang ada di sisinya duduk.


"Ini rumah kamu?" tanya Evan.


"Iya Pak. Ini rumah kontrakan baru bunda aku."


"Oh... bunda kamu ada di dalam?"


Anna menggeleng.


"Bunda nggak ada di dalam Pak. Kalau jam segini bunda udah berangkat kerja."

__ADS_1


"Bunda kamu kerja di mana?"


"Menjadi pelayan di cafe."


"Oh..." Evan manggut-manggut mengerti.


"Terus kamu sama siapa di rumah? sama ayah kamu atau sendirian?" tanya Evan penasaran.


"Aku di sini cuma sama bunda aja Pak."


"Cuma sama bunda kamu doang? emang ayah kamu kemana?"


"Ayah aku udah meninggal Pak."


"Ayah kamu sudah meninggal ya?"


Anna mengangguk. Setetes air mata Anna membasahi pipi mulus Anna.


"Anna, maafin Pak Evan ya, udah buat Anna sedih. Pak Evan tidak tahu kalau ayah Anna sudah meninggal."


Anna mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Evan lekat.


"Pak Evan. Pak Evan mau nggak ngantar aku ke tempat kerja bunda?"


"Iya. Bapak akan antar kamu ke tempat kerja ibu kamu. Emang di mana tempatnya?"


"Nggak jauh dari sini kok Pak."


"Di mana?"


"Kita putar balik aja Pak."


Evan kemudian memutar balikan mobilnya dan meluncur untuk ke cafe tempat Safia kerja. Dengan sekejap, mobil itu sudah sampai di depan cafe.


"Pak Evan, makasih banyak ya. Udah ngantar aku sampai ke sini.


"Iya. Sama-sama Anna."


Anna kemudian turun dari mobil Evan. Anna hanya bisa menatap cafe itu tanpa berani masuk ke dalam cafe itu.


"Kenapa Anna malah berdiri aja di situ. Kenapa dia nggak masuk ke dalam," ucap Evan.


Evan diam dan tampak berfikir.


Ternyata, Anna ini anak yatim. Dia tinggal ngontrak cuma sama ibunya saja. Kasihan Anna. Andai aku bisa membantu kesulitannya, batin Evan.


Beberapa saat kemudian, Safia keluar dari cafe dan menghampiri anaknya yang masih berdiri di dekat cafe. Sementara Evan sejak tadi masih penasaran dengan sosok bundanya Anna.


"Oh. Jadi itu bundanya Anna. Ternyata bundanya Anna masih muda banget. Kasian ya, wanita semuda itu harus banting tulang sendirian untuk menghidupi anaknya." Evan tampak prihatin dengan kondisi Anna.


"Anna, kamu kok ke sini? mau ngapain Nak?" tanya Safia sembari menangkup wajah putri kecilnya.


"Bunda, sepeda aku rusak bunda. ban sepeda aku dua-duanya ada yang kempesin. Sekarang sepeda aku bocor dan nggak bisa dipakai."


"Ya ampun. Kasihan banget kamu Nak. Terus sepeda kamu mana sekarang?" tanya Safia.


"Sepeda aku masih ada di sekolah Bun," jawab Anna.


"Kenapa nggak di bawa pulang sayang sepedanya?"

__ADS_1


"Tadi aku ke sininya kan naik mobil sama Pak Evan. Dan katanya Pak Evan nanti yang akan bawa sepeda aku ke bengkel."


Safia mengerutkan keningnya.


"Pak Evan. Siapa Pak Evan?" tanya Safia penasaran.


"Pak Evan itu guru baru aku Bun."


"Oh ya. Sekarang Pak Evannya ke mana?"


"Itu. Masih ada di dalam mobil." Anna menunjuk ke arah gurunya yang masih ada dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, Evan membuka pintu mobil. Dia keluar dari mobilnya dan menghampiri Safia.


"Ibunya Anna ya?"


"Iya."


"Di sekolah Anna, ada anak yang usil sama Anna. Dia sudah menancapkan paku ke roda sepedanya Anna. Dan sepedanya Anna sekarang bocor dan tidak bisa di pakai."


"Siapa yang udah jahilin anak saya?" tanya Safia menatap Evan lekat.


"Saya juga tidak tahu Mbak."


"Mestinya pihak sekolah harus bersikap tegas pada anak-anak bandel seperti itu. Masih SD sudah sering jahil seperti itu bagaimana nanti kalau besar."


"Maaf ya Mbak. Nanti saya akan cari dan akan tindak anak-anak bandel itu. Agar tidak terjadi hal-hal seperti ini ke depannya."


Evan mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.


"Oh ya Mbak. Nama saya Evan. Saya guru baru di sekolah Anna," ucap Anna.


Safia tersenyum dan menyambut uluran tangan Evan.


"Safia ibunya Anna."


"Senang Mbak. Bisa berkenalan dengan anda"


"Oh ya. Anna, kamu mau pulang ke rumah, atau mau ikut bunda ke dalam. Kalau kamu ikut ke dalam, ayo kita ke dalam."


"Aku mau ikut bunda."


"Ya udah ayo."


Sebelum masuk ke dalam cafe, Safia menatap Evan.


"Oh ya Pak Evan. Makasih banyak ya, Pak Evan sudah mau mengantarkan anak saya pulang."


Evan tersenyum.


"Iya. Sama-sama Mbak."


Safia dan Anna kemudian melangkah masuk ke dalam cafe. Sementara Evan dia masuk kembali ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan cafe itu.


Di sela-sela menyetirnya, Evan masih memikirkan Anna dan Safia. Dia senyam-senyum sendiri saat mengingat Safia.


"Ternyata ibunya Anna cantik. Dia juga masih muda. Mungkin dia masih sepantaran aku," gumam Evan.


Entah apa yang ada di dalam fikirin lelaki tiga puluh tahunan itu. Mungkinkah dia suka dengan Safia sehingga sejak tadi dia masih kefikiran dengan Safia.

__ADS_1


__ADS_2