
Satu minggu kemudian.
Rama masih terlelap di atas tempat tidurnya. Sementara Vika sejak tadi masih mengemasi semua barang-barangnya. Vika memasukan satu persatu baju-bajunya ke dalam koper.
Rama yang merasa terganggu dengan keberadaan Vika, mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat Vika tampak sibuk mengemasi semua barang-barangnya.
Rama beringsut duduk. Dia kemudian menatap Vika lekat.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rama pada Vika.
Vika menatap Rama tajam.
"Aku mau pergi dari rumah ini. Aku mau bawa Mama dan Liza juga keluar dari rumah ini," ucap Vika.
Rama terkejut saat mendengar ucapan Vika.
"Apa! kamu mau bawa Liza dan ibu kamu pergi? kamu mau pergi ke mana?" tanya Rama yang merasa khawatir. Apalagi melihat kondisi Bu Tari yang sudah sakit-sakitan.
"Terserah aku mau pergi ke mana. Itu bukan urusan kamu. Karena mulai sekarang, aku udah nggak mau jadi istri kamu lagi. Aku mau kita cerai Mas. Aku akan segera urus surat perceraian kita."
"Tapi aku nggak akan menceraikan kamu Vika. Dan aku nggak akan membiarkan kamu, Liza dan mama kamu pergi dari sini."
"Kamu fikir, aku mau hidup dimadu Mas? nggak Mas. Aku nggak mau hidup berbagi suami. Apalagi dengan wanita kampungan seperti Safia. Mendingan aku cerai aja dari pada harus bertahan bersama suami licik seperti kamu...!" ucap Vika dengan nada tinggi.
"Kamu bilang aku licik? siapa yang licik. Kalau aku licik, pasti sudah aku usir kamu dan ibu kamu dari dulu dari rumah ini. Lelaki mana yang mau memaafkan istrinya selingkuh dengan pria lain. Nggak ada vika ."
Vika diam. Dia tampaknya sudah tidak mau memperdulikan ucapan Rama lagi.
"Ya udah Vika, aku nggak akan melarang kamu lagi. Sekarang terserah kamu, kamu mau pergi ke mana. Terserah kamu kalau kamu mau gugat cerai aku. Mulai sekarang, aku udah bebaskan langkah kamu."
Vika menghela nafas dalam. Dia kemudian memasukkan semua baju-bajunya ke dalam kopernya. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamar Rama dengan menyeret kopernya keluar dari kamar Rama.
Rama hanya bisa mengusap wajahnya kasar saat melihat kepergian Vika dari kamarnya.
"Maafkan aku Pak Angga. Karena aku tidak bisa membimbing Vika dengan baik. Aku juga belum bisa menjadi suami yang baik untuk Vika. Vika masih sama seperti dulu. Dan nampaknya aku sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tanggaku bersama dia," ucap Rama.
Rama turun dari tempat tidurnya. Dia keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang akan Vika lakukan setelah ini.
Vika masuk ke dalam kamar Liza. Beberapa saat kemudian, Vika keluar dengan membawa Liza dan koper yang berisi baju-baju Liza.
Vika turun ke lantai bawah. Dia kemudian masuk ke dalam kamar ibunya. Vika mendorong kursi Bu Tari keluar. Dia juga membawa koper yang berisi baju-baju Bu Tari. Nampaknya, Vika juga akan membawa Bu Tari pergi dari rumah itu.
"Kalian mau ke mana?" tanya Rama pada ketiga orang itu setelah mereka kumpul di ruang tengah.
"Aku mau pergi Mas. Silahkan kamu nikmati semua harta yang sudah kamu rebut dari ayahku," ucap Vika dengan menekan nada bicaranya.
"Apa!"
"Aku mau bawa mama sama Liza pergi dari rumah ini," ucap Vika menjelaskan.
__ADS_1
"Terus kalian mau tinggal di mana?" tanya Rama khawatir.
Sebenarnya Rama tidak pernah punya niat untuk mengusir Vika dan ibunya dari rumah itu. Tapi jika keinginan Vika sudah seperti itu, Rama tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Aku udah bilang, itu bukan urusan kamu Mas," ucap Vika dengan nada tinggi.
"Aku nggak akan pernah ngizinin kamu untuk bawa Liza dan Mama pergi. Mereka harus ikut bersama ku di rumah ini. Dan kamu yakin, mau ngurus mereka berdua tanpa aku?" tanya Rama.
"Aku yakin, aku bisa hidup tanpa kamu Mas."
Rama menatap Liza.
"Liza, kamu yakin mau ikut mama? kamu nggak mau tinggal bersama Papa di sini?" tanya Rama pada Liza.
Liza menggeleng.
"Aku mau ikut mama papa. Maafkan aku ya Papa."
Rama kemudian menatap ibu mertuanya.
"Ma, mama mau ikut Vika pergi juga? sebenarnya kalian mau pergi ke mana?" tanya Rama.
"Mama mau ikut Vika saja Rama. Karena Vika itu anak mama. Dia juga anak perempuan. Kalau Vika pergi dari rumah ini, mama pun akan ikut Vika pergi," ucap Bu Tari.
"Tapi Ma, ini kan rumah mama," ucap Rama. Dia masih mencoba membujuk Bu Tari agar tetap tinggal di rumah itu.
Rama bingung, bagaimana caranya dia membujuk Vika, Bu Tari dan Liza agar tetap tinggal di rumah itu. Namun tampaknya Vika wanita yang keras kepala itu, tetap saja membawa ibu dan anaknya pergi dari rumah itu.
Sebenarnya Rama sedih jika ibu mertua dan anaknya itu pergi dari rumah itu. Karena Rama pasti akan kesepian tanpa mereka. Tapi, Rama pun tidak akan memaksa mereka untuk tetap tinggal bersamanya di rumah itu.
***
Satu bulan setelah kepergian Vika, Liza dan Bu Tari, Rama tidak lagi menempati rumah Pak Angga.
Dia lebih memilih untuk tinggal di rumah barunya bersama anak dan istrinya. Anna dan Safia.
Rumah baru yang Rama dan Safia tempati sekarang, adalah rumah yang dibeli dari hasil kerja keras Rama selama ini. Bukan termasuk harta Pak Angga.
Dan Bik Ijah ART kepercayaan Rama pun, Rama bawa untuk ikut kerja di rumah baru Safia.
Rama masih menatap rumah yang sudah beberapa minggu dia kosongkan. Sejak Rama mendapatkan surat cerai dari Vika, Rama segera mengosongkan rumah itu dan menunggu semua keputusan dari pengadilan.
"Mungkin, rumah ini akan aku berikan ke Liza setelah dia dewasa nanti," ucap Rama.
"Iya Mas. Aku tahu, kalau sebenarnya kamu itu sayang banget sama Liza, Mbak Vika dan ibu mertua kamu. Tapi, mau bagaimana lagi Mas, itu sudah keputusan mereka untuk pergi dari rumah ini," ucap Safia.
"Iya. Mereka fikir, aku sudah merebut harta mereka. Padahal, rumah dan perusahaan Pak Angga, akan aku kembalikan pada Liza cucunya. Semoga saja, anakku Liza, tidak seperti ibunya. Semoga Liza bisa menjaga harta kakeknya dengan baik sampai dia dewasa nanti."
"Mudah-mudahan ya Mas."
__ADS_1
Rama menatap Safia lekat.
"Safia, kalau aku sudah cerai dari Vika, aku akan menikahi kamu secara resmi. Dan aku akan menjadikan kamu istri satu-satunya."
Safia tersenyum.
"Makasih ya Mas."
"Iya Safia. Dan aku ingin menggelar pernikahan aku di kampung. Agar orang-orang di kampung kita tahu kalau kita suami istri, dan Anna adalah anak kita."
"Terus di sini?"
"Aku juga akan tetap mengadakan pesta besar di sini. Aku akan undang semua rekan-rekan bisnisku."
"Makasih ya Mas. Berkat bantuan uang dari kamu, bapak sekarang udah sembuh. Bapak, Ibu, Mbak Shakira dan Rio sekarang sudah kembali ke kampung. Mudah-mudahan saja, Mbak Shakira di kampung bisa menemukan jodoh terbaiknya."
"Amin. Kita doakan saja mereka ya sayang. Dan kalau kita udah nikah secara resmi, nanti kita sering-sering ya ke kampung. Kita mudik setiap lebaran. Kita sering Nengokin orang tua dan saudara-saudara kita di kampung."
"Iya Mas."
Anna cemberut saat dia merasa di cuekin oleh ayah dan ibunya.
"Bunda, ayah, kenapa kita berhenti di sini? Anna pengin jalan-jalan Ayah."
Rama dan Safia menatap anaknya yang saat ini duduk di jok belakang mobil. Mereka tersenyum saat melihat Anna. Anna yang sejak tadi masih merengek minta jalan-jalan.
Tamat.
🌹🌹🌹🌹
Makasih ya, untuk teman-teman yang udah mengikuti novel ini sampai selesai. Dan makasih untuk yang udah mau sabar nunggu update nya. Makasih juga untuk yang udah ngasih dukungan untuk Author.
Ada yang mau tanya,
Lho kok tamat?
Jawabannya iya, karena tokoh utama, Safia dan Rama sudah dipersatukan.
Sebenarnya author punya lanjutan dari kisah ini. Tapi belum author rilis. Karena author masih punya dua novel on going. Kalau author, rada susah sih ya, kalau harus nulis tiga judul novel sekaligus. Karena author juga punya kesibukan sendiri di dunia nyata.
Mungkin novel season dua dari novel ini akan menceritakan kisah percintaan Anna dan Liza, dan juga perseteruan keluarga Rama dan Bram.
Yang masih pengin ngikuti kisahnya tunggu aja di sini. Nanti author umumkan di sini.
Author sekalian mau promo novel baru. Barang kali teman-teman ada yang minat untuk mampir ke sini. Mudah-mudahan bisa update lancar seperti novel ini. Yang satu poligami tentang ustadz, yang satu tentang CEO.
__ADS_1