Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Cari kerja.


__ADS_3

Safia menghentikan langkahnya saat dia berhenti di sebuah tempat makan yang cukup ramai yang ada di dekat rumahnya.


Safia masuk ke dalam tempat makan itu. Dia bertanya pada seorang wanita, salah satu pelayan yang ada di tempat itu.


"Mbak, di sini ada lowongan kerja nggak sih?" tanya Safia.


"Mbaknya sudah punya pengalaman kerja di cafe atau restoran?" wanita itu balik bertanya.


"Aku belum pernah kerja di cafe atau restoran. Tapi kemarin aku kerjanya di laundry," jawab Safia menjelaskan.


"Ya udah, Mbak ngelamar aja kerja di laundry. Di sini juga butuh karyawan. Tapi maunya yang sudah pengalaman kerja di cafe atau restoran."


"Oh begitu."


"Iya Mbak. Kalau Mbak mau melamar kerja di sini, saya rasa akan sia-sia. Soalnya pasti Mbak akan di tolak kalau Mbak nggak punya pengalaman kerja di restoran."


"Oh. Begitu. Ya udah, kalau gitu makasih ya Mbak."


"Iya Mbak. Sama-sama."


Safia tampak sedih saat mendengar ucapan wanita itu. Sudah seharian Safia mencari kerja, tapi sampai saat ini Safia belum mendapatkan pekerjaan juga. Uang gaji dan pesangon dari Bu Windi juga sudah menipis. Untung saja uang kontrakan Safia bulan ini sudah lunas. Jadi dia tidak terlalu memikirkan biaya kontrakannya.


"Duh, aku harus nyari kerja di mana lagi. Aku benar-benar bingung. Aku nggak punya pengalaman apa-apa kecuali pengalaman kerja di laundry. Semua cafe dan restoran, hanya membutuhkan karyawan yang sudah pengalaman. Dan ngelamar kerja jadi pelayan toko juga nggak ada lowongan," ucap Safia sembari melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Safia menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Mbak Safia...!" seru Resti.


Safia menoleh ke belakang. Dia terkejut saat melihat Resti anak Bu Maryam sudah berada dibelakangnya.


Resti yang sudah sangat mengenal Safia buru-buru menghampiri Safia.


"Mbak, mau ke mana?" tanya Resti.


Safia tersenyum saat melihat Resti.


"Resti. Kamu ada di Jakarta? katanya kamu ada di Bandung sama kakak kamu?"


"Iya Mbak. Aku udah lulus kuliah. Dan sekarang aku kerja di kantor."


Safia tersenyum.


"Oh ya? Syukurlah. Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Safia .


"Tadinya aku tinggal di rumah kakak aku. Tapi sudah satu mingguan aku menempati rumah ibu."


"Kamu tinggal di rumah yang dulu ya?"


Resti mengangguk. "Iya Mbak."


"Kenapa kamu nggak pernah main ke rumah Mbak. Kan rumah kita dekat."


"Maaf Mbak. Aku belum sempat Mbak main ke mana-mana. Oh iya. Pasti anak Mbak udah besar ya?"


"Iya. Dia udah besar."


"Oh iya. Ngomong-ngomong, Mbak Safia mau ke mana nih?" tanya Resti.


"Mau nyari kerja Res. Tapi susah banget karena Mbak nggak punya pengalaman apa-apa."


"Lho, Mbak nggak kerja di laundry lagi?"

__ADS_1


Safia menggeleng.


"Nggak. Laundry Bu Windi bangkrut Res. Dan Bu Windi sekeluarga juga sudah pindah ke kampung. Katanya mereka mau usaha di kampung."


"Oh..." Resti manggut-manggut mendengar ucapan Safia.


" Jadi, Mbak Safia mau cari kerja?"


"Iya."


"Oh iya. Kalau Mbak mau cari kerja, nanti ke rumah aku aja Mbak. Nanti aku cariin kerjaan. Nanti aku tanya deh sama teman-teman aku. Siapa tahu mereka ada yang tahu info lowongan pekerjaan untuk Mbak Safia."


Safia tersenyum. "Emang ada ya Res kerjaan buat aku."


"Kerjaan mah banyak Mbak kalau mau nyari. Emang Mbak Safia pengin kerja di mana? di laundry lagi?"


"Di mana aja Res. Kerjaan mah, apa aja. Yang penting halal dan tempatnya nggak jauh-jauh dari rumah Mbak dan sekolah Anna. Kalau jauh, Mbak nggak bisa ngontrol Anna."


"Ya udah, nanti aku carikan Mbak kerjaan deh. Nanti aku tanya info sama teman-teman aku ya?"


"Makasih ya Res."


"Iya Mbak. Sama-sama."


****


Sore ini, Anna masih duduk di teras depan rumahnya. Sejak tadi dia masih menunggu ibunya pulang. Sudah sejak tadi Safia pergi meninggalkan rumah.


"Kemana sih sebenarnya bunda. Kenapa dia nggak pulang-pulang," ucap Anna.


"Sebel deh, kalau bunda pergi dan pulangnya lama."


Anna bangkit dari duduknya. Dia akan masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba saja, Safia memanggil-manggilnya.


Anna menoleh ke arah ibunya. Dia langsung cemberut saat melihat Safia. Safia bersama Resti kemudian mendekat ke arah Anna.


Anna menatap Safia tajam.


"Bunda dari mana aja sih? dari tadi aku nungguin bunda tahu. Tapi sampai sore, bundanya nggak pulang-pulang," ucap Anna yang tampak kesal pada Safia.


"Lho, Anna. Kan bunda udah bilang tadi pagi, kalau bunda mau pergi nyari kerja."


"Tapi kenapa harus sampai sore begini sih."


"Ya maafin bunda. Karena bunda kan ngelamar kerja, nggak di satu tempat. Tapi ngelamar di banyak tempat sayang."


"Terus sekarang bunda udah dapat kerjaan?"


Safia diam dan tampak sedih. Setelah itu dia menggeleng.


"Belum Nak. Bunda belum dapat kerjaan."


"Terus, besok bunda akan pergi lagi nyari kerja dan ninggalin aku di rumah sendirian?"


"Nggak sayang. Bunda mau nemenin kamu dulu di rumah."


Resti tersenyum saat melihat Anna.


"Hai Anna," ucap Resti.


Anna menatap Resti lekat. Dia tidak mengenali Resti.

__ADS_1


"Siapa dia Bun?" tanya Anna.


"Ini Tante Resti Anna," jawab Safia.


"Anna masih ingat nggak sama Tante, dulu waktu Anna bayi Tante sering gendong Anna," ucap Resti mencoba mengingatkan Anna pada masa lalunya.


Anna diam. Dia sama sekali tidak mengingat Resti. Karena sewaktu Resti pergi meninggalkan Jakarta, Anna masih sangat kecil.


Safia menghela nafasnya dalam.


"Anna pasti lupa ya, sama Tante Resti. Tante Resti ini anaknya Bu Maryam yang tinggal di rumah gang sebelah. Dia ini,baru pulang dari Bandung. Dan sekarang Tante Resti ini sudah kerja di sini dan akan menetap di sini," ucap Safia menjelaskan.


"Oh..." Anna manggut-manggut mengerti.


"Resti, ayo masuk Res. Mampir dulu ke rumah." Safia mempersilahkan Resti untuk masuk ke dalam rumahnya.


Resti mengangguk." Iya Mbak. Makasih."


Resti, Anna, dan Safia kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka kemudian duduk di sofa ruang tamu rumah Safia.


"Res, kamu mau minum apa?" tanya Safia pada Resti.


"Nggak usah repot-repot Mbak. Sebentar lagi, aku juga mau pulang kok."


"Kamu baru pulang kerja ya Res?" tanya Safia.


Resti mengangguk. "Iya Mbak."


"Sudah berapa bulan kamu kerja di kantor?"


"Sudah tiga bulanan lah Mbak kira-kira."


"Ya syukurlah kalau sekarang kamu sudah kerja. Mbak ikut seneng dengarnya."


"Iya Mbak. Alhamdulillah."


Anna yang sejak tadi merasa dicuekin oleh Resti dan Safia bangkit dari duduknya.


"Ma, aku ke kamar dulu ya."


"Oh iya Anna."


Anna kemudian ke kamarnya dengan wajah di tekuk.


"Anna kenapa Mbak? dari tadi yang aku lihatin dia cemberut terus?" tanya Resti.


"Biarin ajalah. Anna udah biasa kayak gitu. Nggak usah difikirin. Pasti dia juga lagi kesal sama aku, karena dari tadi pagi, aku pergi. Dan sampai sore aku baru pulang."


"Oh. Begitu. Aku fikir, Anna nggak suka melihat kedatangan aku."


"Nggak kok. Dia cuma lagi kesal saja sama aku. Dia cuma baru lihat kamu. Jadi dia masih malu. Lama-lama dia juga mau kok, di ajak main sama kamu."


"Iya Mbak."


"Anna itu anaknya pemalu. Dia juga nggak mudah akrab sama orang baru. Lama beradaptasinya."


"Namanya juga anak-anak Mbak. Anna cantik banget ya Mbak. Mirip siapa sih? ayahnya ya atau mirip Mbak Safia?"


"Menurut kamu?"


"Kemiripan dengan Mbak Safia cuma sedikit. Cuma lesung pipinya doang. Pasti yang lain itu mirip dengan ayahnya ya."

__ADS_1


"Yah, mungkin."


__ADS_2