
"Jadi Safia pernah hamil dan pernah melahirkan? apa ibu bisa cerita tentang Safia padaku?" tanya Shakira.
"Jadi waktu adik kamu kabur dari rumah suaminya kamu tidak tahu ya, kalau dia dalam keadaan hamil. Waktu kabur dari rumah, Safia itu dalam keadaan hamil. Dan dia melahirkan juga di sini," ucap Bu Nunung menjelaskan.
Bu Nunung memang tahu banyak cerita dari Safia. Karena Safia waktu itu memang mengarang cerita agar dia tidak ketahuan kalau dia hamil di luar nikah. Karena jika Safia jujur pada orang-orang kalau dia sedang hamil tanpa seorang suami, Safia takut akan di usir dari rumah kontrakan itu.
"Dulu waktu Bu Maryam masih hidup, Bu Maryam yang sudah menolong Safia. Dia sudah menganggap Safia itu anaknya sendiri. Dari Safia hamil, sampai dia melahirkan, Bu Maryam yang ngurusin Safia. Dan sekarang Bu Maryam nya sudah meninggal," lanjut Bu Nunung menceritakan.
Kok, Safia bisa hamil dan punya anak. Kenapa Safia bilang sama orang-orang kalau dia kabur dari suaminya. Kan masalah sebenarnya bukan seperti itu. Lalu, Safia hamil anak siapa? apa jangan-jangan Safia hamil anaknya Mas Rama. Ya ampun, aku benar-benar nggak nyangka.
Di tengah-tengah percakapan Bu Nunung dengan Shakira, Rio memanggil-manggil Shakira.
"Mama... Mama... kenapa mama di situ saja... " seru Rio.
Shakira menoleh ke arah Rio
"Oh iya sayang. Sebentar sayang..." seru Shakira.
Sebelum kembali ke taksi, Safia menatap Bu Nunung lekat.
"Bu, makasih banyak ya Bu untuk informasinya. Nanti saya cari sendiri di mana kontrakan baru Safia," ucap Shakira sebelum pergi meninggalkan Bu Nunung.
Bu Nunung mengangguk. "Iya Mbak."
Shakira kemudian mendekat ke arah taksi dan masuk kembali ke dalam taksi. Setelah itu dia duduk kembali di samping ibunya.
"Jalan Pak..." ucap Shakira.
"Shakira. Kok kamu malah balik lagi ke sini. Katanya kita mau ke rumahnya Safia." Bu Astri tampak bingung saat melihat Shakira kembali ke mobil dan menyuruh sopir untuk jalan.
"Safia nya nggak ada Bu. Safia sudah pindah kontrakan," jawab Shakira yang membuat ibunya terkejut.
"Apa! sudah pindah kontrakan? jadi kita ke sini sia-sia dong."
__ADS_1
"Iya Bu. Nanti kita cari lagi ya rumah kontrakan Safia yang baru."
Di dalam taksi, Shakira lebih banyak diam dari pada bicara. Dia masih bingung dengan cerita ibu-ibu yang tadi dia temui.
Aku harus selidiki dulu masalah ini. Aku nggak boleh bilang apa-apa dulu soal anaknya Safia itu pada ibu dan bapak. Bisa jadi, waktu Safia kabur dari rumah, dia itu sedang mengandung benihnya mantan suamiku. Aku juga nggak mau bilang apa-apa sama Mas Rama dulu soal ini, sebelum aku bertemu langsung dan bertanya langsung pada Safia,"
"Kira, kamu kenapa sih Kir? dari tadi diam aja? apa yang lagi kamu fikirkan Kir?" tanya Bu Astri.
Shakira menatap ibunya lekat.
"Aku nggak apa-apa Bu. Aku cuma kecewa aja. Sudah jauh-jauh kita datang ke alamat rumah itu, tapi kita tidak ketemu dengan Safia."
"Iya. Ibu juga jadi sedih. Kenapa ya kita tidak ke sini dari kemarin-kemarin. Kalau dari kemarin-kemarin kita ke sini, kita kan bisa ketemu dengan Safia."
"Mas Rama juga kan baru ngasih alamatnya kemarin. Sabar ya Bu. Jangan sedih. Nanti aku akan cari informasi lagi tentang Safia," ucap Shakira sembari mengusap-usap bahu ibunya.
"Iya Kir. Setelah ini kamu mau ke tempat kerja kamu ya?" tanya Bu Astri.
"Iya."
*****
Siang ini, Anna masih duduk di teras depan rumah barunya. Sepulang sekolah, Anna hanya bisa duduk-duduk di teras depan rumahnya. Dia tidak bisa main bersama Aryo dan Aura lagi karena rumah mereka jauh dari rumah kontrakan baru Anna.
Anna merasa sangat kesepian siang ini. Sementara Safia, tidak pernah mau mengerti perasaan Anna. Dia lebih memilih untuk kerja dan meninggalkan Anna di rumah sendiri dari pada menemani Anna di rumah.
Menurut Safia, jarak cafe dengan rumah kontrakan barunya itu lumayan dekat. Jika Anna mau, Anna juga bisa jalan kaki sampai ke tempat kerja ibunya. Jadi Safia tidak perlu Khawatirkan lagi soal Anna.
Anna juga sudah besar dan sudah mandiri. Dia bisa jaga diri. Dia sudah bisa makan sendiri, mandi sendiri dan dia juga sudah bisa membantu Safia mengerjakan pekerjaan rumah.
Anna meneteskan air matanya. Dia menangis saat dia mengingat Safia sudah memperlakukan Rama dengan buruk.
"Kemarin baru aku seneng dibelikan hape oleh Om Rama. Tapi, kenapa bunda mengembalikan lagi hape itu pada Om Rama. Seharusnya bunda jangan seperti itu. Aku juga butuh hape itu. Teman-teman aku aja pada punya hape, kenapa aku nggak boleh pegang hape," ucap Anna di sela-sela tangisannya.
__ADS_1
Dia masih ingat bagaimana ibunya berkata kasar padanya. Ibunya menyuruh Anna untuk mengembalikan semua barang-barang yang sudah pernah Rama belikan untuk Anna.
Di sisi lain, Rama sudah sampai di depan sekolah Anna. Rama ingin menemui Anna di sekolahnya.
"Kok, sekolah sudah sepi ya," ucap Rama.
"Mudah-mudahan saja Anna belum pulang. Aku sudah kangen banget sama Anna dari kemarin. Aku ingin ngajak dia makan siang. Aku yakin, Safia tidak akan mungkin memantau Anna selama 24 jam. Karena dia juga pasti lagi sibuk kerja di cafe," ucap Rama sembari menatap sekeliling.
Rama tidak mau berlama-lama berada di dalam mobil. Dia kemudian turun dari mobilnya dan melangkah mendekat ke arah satpam.
"Pak, anak-anak semua sudah pada pulang ya?" tanya Rama pada satpam itu.
"Iya Pak."
"Kalau Anna, dia udah pulang juga?" tanya Rama.
"Anna siapa? di sini kan yang namanya Anna banyak Mas."
"Anna yang rambutnya lurus panjang. Dia seringnya memakai bando dengan rambut yang terurai ke belakang. Kadang dia juga di kuncir dua. Tingginya segini nih Pak," ucap Rama.
"Anna kelas berapa?" tanya Pak satpam.
"Kalau nggak salah, dia kelas empat Pak."
"Tapi anak kelas empat, sudah pada pulang semua. Di sini sudah tidak ada anak-anak lagi. Cuma tinggal kelas enam aja yang masih ada di dalam. Mereka lagi ikut les."
Rama menatap sekeliling. Namun tampaknya Anna memang tidak ada di sekitar sekolah.
"Iya. Mungkin, Anna sudah pulang. Makasih banyak ya Pak, kalau begitu."
"Iya Mas."
Rama kemudian meninggalkan satpam itu dan melangkah kembali ke mobilnya. Setelah itu Rama pun masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan sekolah Anna.
__ADS_1