Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Tanggung jawab


__ADS_3

Di dalam ruangannya, Rama masih terbaring lemah. Sejak tadi dia hanya bisa diam. Setelah operasi kemarin, Rama merasa sangat sedih, saat dia tahu kalau kakinya sudah tidak bisa digunakan untuk jalan lagi.


'Kenapa hidup aku jadi seperti ini. Aku sudah kehilangan wanita yang aku cintai. Sekarang aku cacat, kaki aku udah ngga bisa untuk jalan. Aku harus bagaimana sekarang. Apakah ini adalah karma untuk aku,yang sudah menodai Safia.'


Setetes air mata Rama mengalir begitu saja dari pelupuk mata Rama. Rama menangis di dalam kesendiriannya. Tiba-tiba saja, Vika muncul dari balik pintu. Dia menatap ke arah Rama.


"Mas Rama. Kamu sudah bangun?" Vika melangkah mendekati Rama.


Rama menoleh ke arah Vika dan menatap Vika lekat.


"Vika..."


"Mas Rama kenapa nangis?" tanya Vika setelah sampai di sisi ranjang Rama.


"Aku nggak apa-apa Vik," jawab Rama sembari mengusap air matanya.


"Mas Rama, nanti sore dokter akan buka perban yang ada di wajah Mas Rama. Aku nggak sabar deh, pengin lihat wajah barunya Mas Rama. Biar Mas Rama ngga jadi mumi terus," ucap Vika.


Semenjak kecelakaan itu, Rama di perban rapat seluruh wajahnya. Sampai selesai operasi pun, wajah Rama masih diperban.


Rama memutar bola matanya. Dia tampak sedang mencari sesuatu.


"Ada apa Mas? apa yang kamu cari?" tanya Vika.


"Ke mana keluarga aku Vik?"


"Keluarga Mas Rama aku suruh pulang Mas. Kasihan Mbak Intan, sudah satu minggu dia nungguin Mas Rama di sini."


"Mbak Intan, sudah satu minggu di sini? terus siapa yang jaga anaknya?"


"Katanya sih, anak Mbak Intan dititipkan ke tetangga."


"Oh."


Vika sepertinya sudah kenal dan sudah mulai akrab dengan Intan dan keluarga Rama yang lain. Karena sejak Rama bangun dari koma, Vika selalu ada di rumah sakit menggantikan Intan dan Pak Hendro menunggui Rama.

__ADS_1


Entah kenapa, sejak pertama kali Vika masuk ke ruang ICU, dia merasa iba sekaligus penasaran dengan sosok Rama. Dia juga sudah tidak sabar ingin melihat wajah lelaki itu.


"Bapak aku juga pulang?" tanya Rama.


"Iya. Kasihan dia Mas. Jauh-jauh dari kampung langsung ke sini. Dan dia juga sudah tiga hari di sini. Sampai operasi Mas selesai."


Rama kembali diam. Tiba-tiba saja ingatannya tertuju ke Safia wanita yang sudah dinodainya itu.


Kalau aku cacat, aku nggak bisa dong, cari Safia dan minta maaf sama dia. Dan siapa yang akan mau ngurus orang cacat seperti aku. Istriku saja yang seharusnya ada di sisi aku, sudah tidak mau berhubungan lagi dengan aku.


Vika menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di sisi ranjang Rama. Dia kemudian menatap Rama lekat.


"Mas Rama, aku mau minta maaf ya sama Mas Rama. Karena aku sudah menyebabkan Mas Rama seperti ini," ucap Vika.


Rama tersenyum. "Ngga apa-apa Vik. Mungkin semua ini sudah takdir aku."


"Mas Rama jangan sedih ya. Karena aku janji, aku akan bertanggung jawab untuk semua yang sudah aku lakukan sama Mas Rama. Aku janji, aku akan merawat Mas Rama dengan baik sampai Mas Rama sembuh. Dan sampai Mas Rama bisa jalan lagi.


"Iya Vik."


***


Beberapa saat kemudian, seorang dokter dan dua orang suster, melangkah masuk ke dalam ruangan Rama. Mereka akan membuka perban yang ada di wajah Rama.


"Permisi, saya akan buka perbannya dulu ya Mas Rama," ucap Dokter.


Rama hanya mengangguk. Setelah itu, dokter pun membuka dengan perlahan perban yang ada di wajah Rama.


Vika terkejut saat melihat wajah Rama.


"Wah, Operasinya berhasil, Mas Rama ternyata tampan sekali," ucap Vika yang tampak kagum dengan wajah baru Rama.


Rama memegang wajahnya dan merabanya. Namun, tidak tampak ada luka di sana. Karena dokter sudah menyulap wajah Rama menjadi wajah baru.


"Operasinya berhasil," ucap Pak Angga yang ikut bahagia menyaksikan wajah Rama.

__ADS_1


Memang biaya operasi ini sangat mahal. Namun, hasilnya tidak mengecewakan. Wajah Rama yang tadi hancur karena kecelakaan itu, mendadak menjadi wajah yang mulus tanpa luka.


"Dokter, bagaimana dengan kaki anak saya?" tanya Pak Hendro.


"Maaf Pak, kalau dibagian kaki itu sembuhnya lama. Mungkin butuh beberapa terapi untuk Rama bisa jalan kembali."


"Lakukan saja yang terbaik Dok. Saya yang akan tanggung semua biayanya. Mau terapi berapa kali pun, saya akan tanggung biayanya. Yang penting Rama bisa sembuh dan bisa jalan seperti sedia kala," ucap Pak Angga.


"Iya Pak Angga."


"Pokoknya dokter harus melakukan yang terbaik. Bila perlu, panggil dokter spesialis tulang yang paling handal untuk menyembuhkan kakinya Rama," ucap Pak Angga.


"Iya. Saya juga sudah mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan wajah dan kaki Rama."


Setelah memeriksa kondisi Rama, Dokter pun pergi meninggalkan ruangan Rama. Setelah dokter pergi, Vika menatap Pak Hendro dan Intan.


"Mbak Intan, Pak Hendro, biarkan Rama tinggal di rumah saya sampai dia benar-benar sembuh. Saya akan mengundang dokter spesialis ke rumah untuk mengobati kaki Rama. Dan saya kan sudah janji, kalau saya akan bertanggung jawab dengan semua perbuatan putri saya," ucap Pak Angga.


"Ya udah, kalau Pak Angga mau membawa Rama dan merawat Rama. Saya tidak keberatan kok. Jika saya yang harus merawat Rama, itu juga tidak mungkin. Karena di kampung, saya juga harus merawat ibunya Rama yang sedang sakit keras," ucap Pak Hendro.


"Saya juga repot jika harus mengurus Rama. Karena di rumah, saya masih punya anak kecil, yang harus saya urus juga."


Vika menatap Rama lekat.


"Bagaimana Mas Rama? apakah Mas Rama mau tinggal di rumah aku? ini semua untuk kebaikan Mas Rama juga kok. Karena Papa mau mengobati kaki Mas Rama agar Mas Rama cepat sembuh," ucap Vika.


Rama tersenyum.


"Iya. Aku mau."


Tanpa banyak berfikir, akhirnya Rama menyetujui juga usulan dari Vika dan Pak Angga.


"Rama, bapak sekarang sudah bisa tenang melihat kamu sudah bisa bicara dan tersenyum lagi. Bapak bisa tenang meninggalkan kamu di Jakarta bersama orang-orang baik seperti Pak Angga dan Vika. Karena di rumah, ibu kamu juga sedang sakit. Bapak harus mengurusi ibu kamu yang sakit.


"Iya Pak."

__ADS_1


Rama hanya bisa pasrah dengan kondisinya saat ini. Dia juga bahagia, karena ada orang baik seperti Pak Angga yang mau mengobatinya sampai sembuh total.


Seandainya orang lain, mungkin mereka akan lepas tanggung jawab setelah Rama keluar dari rumah sakit. Mereka akan membiarkan Rama lumpuh. Dan Rama tida akan punya uang untuk berobat sendiri.


__ADS_2