
"Ya biarin ajalah Ma. Untuk apa mama kesel. Mama kan udah tahu kalau Papa seperti itu. Papa suka bantu orang-orang yang tidak punya seperti itu,"
"Tapi mama nggak suka kalau papa kamu terlalu baik sama orang. Bisa-bisa nanti papa kamu itu selalu dimanfaatin orang Kayak Opa kamu dulu."
"Ma, sudahlah, masalah sepele seperti ini, nggak usah di besar-besarin. Kasihan papa kalau setiap hari diomelin terus," ucap Liza.
Ih, sebel banget sama Mas Rama. Aku pengin beli mobil edisi terbaru aja, belum dibeli-belikan. Dia malah suka banget menghambur-hamburkan uang untuk anak-anak jalanan.
****
Sore ini, Anna berlarian dan masuk ke dalam rumah. Dia benar-benar bahagia karena dia sudah mendapatkan banyak uang dari Om-om baik yang dia temui di pinggir jalan tadi.
"Bunda... bunda..." seru Anna memanggil-manggil bundanya.
Namun, tampaknya bunda Anna tidak ada di dalam rumahnya.
Anna mencari ibunya di kamar. Namun, ibunya tidak ada di kamar.
"Bunda Safia ke mana ya. Kenapa dia nggak ada."
Anna kemudian melangkah keluar. Dia terkejut saat melihat ibunya sedang cekcok dengan pemilik kontrakan.
"Kamu itu sudah nunggak kontrakan tiga bulan. Dan kamu, cuma mau bayar sebulan saja. Kamu gimana sih. Lama-lama, aku usir juga kamu dan anak haram kamu itu dari sini Safia...!" ucap wanita muda yang saat ini ada di depan Safia.
"Wati, saya ngontrak di sini sudah sepuluh tahun, sejak Bu Nining ibu kamu masih hidup. Tapi saya nggak pernah nunggak. Dan baru tahun ini, saya lagi kesulitan uang. Tolong, berbaik hatilah sama saya. Saya cuma bisa bayar satu bulan dulu," ucap Safia pada Wati anak Bu Nining.
"Berbaik hati bagaimana. Saya nggak bisa berbaik hati kalau ini sudah masalah tunggak menunggak." Wati melotot ke arah Safia.
Sejak Bu Nining meninggal, semuanya jadi berubah. Karena saat ini, yang memegang uang kontrakan itu Wati anaknya Bu Nining. Sementara Wati anaknya Bu Nining sikapnya sangat berbeda jauh dari ibunya. Dia kasar dan cerewet.
Beberapa saat kemudian, Anna menghampiri ibunya dan Wati yang sedang cekcok di depan rumah Wati.
"Bunda, bunda lagi ngapain di sini?" tanya Anna.
"Bunda, mau bayar kontrakan. Tapi bunda cuma bisa bayar kontrakan bulan yang lalu, karena laundry lagi sepi. Bu Windi juga belum ngasih gaji bulan ini. Tapi Mbak Wati ini nggak mau di bayar satu bulan," ucap Safia menatap anaknya lekat.
__ADS_1
"Kamu gimana sih Safia. Masa bayar kontrakan cuma bulan yang lalu. Kamu nggak lihat kalau teman-teman yang lain sudah lunas semua," ucap Wati.
Anna tampak bingung. Sebenarnya dia ingin mengeluarkan uang itu di depan ibunya. Tapi pasti nanti ibunya akan mempertanyakan asal uang itu.
Anna merogoh ke tas kecilnya untuk mengambil uang itu.
"Mbak Wati, apakah uang segini cukup untuk membayar rumah kontrakan bunda?" tanya Anna sembari menyodorkan sejumlah uang pada Wati.
Wati dan Safia terkejut saat melihat beberapa lembar uang ratusan yang dipegang Anna.
"Uang sebanyak ini kamu dapat dari mana Nak?" tanya Safia menatap anaknya lekat.
"Heh Anna. Kamu dapat uang banyak begitu dari mana? apa kamu habis mencuri ya?"
Safia terkejut saat mendengar ucapan Wati.
"Wati, kamu bicara apa? jaga mulut kamu. Anak aku itu anak baik-baik. Dia tidak mungkin mencuri. Jangan sembarangan nuduh kamu," ucap Safia.
"Aku nggak mencuri kok. Tadi aku dapat uang ini dari Om-om yang baik hati," ucap Anna.
Anna diam dan tampak berfikir.
"Aku lupa Ma, namanya. Tapi dia udah ngasih uang ini ke aku."
Wati merebut uang itu dari tangan Anna.
"Sini uangnya."
Wati kemudian menghitung jumlah uang itu. Setelah itu Wati tersenyum.
"Aku nggak mau tahu uang ini Anna dapatkan dari mana. Yang penting, uang ini sudah pas untuk melunasi kontrakan kamu yang udah nunggak tiga bulan Safia," ucap Wati. Setelah itu dia pergi meninggalkan Anna dan Safia.
Safia merangkul bahu Anna dan mengajak anaknya itu pulang. Sesampainya di depan rumah kontrakan, Safia dan Anna masuk ke dalam kontrakan.
"Mbak Wati kenapa galak banget sih Bun. Telat bayar kontrakan aja dia ngomel-ngomel," ucap Anna.
__ADS_1
"Sudahlah nggak usah difikirin sayang,"
Setelah sampai di ruang tengah, Anna menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Begitu juga dengan Safia. Dia juga ikut duduk di sofa dekat Anna duduk.
Safia menatap anaknya lekat.
"Sayang, jujur sama Mama. Kamu dapat uang sebanyak itu dari mana?" tanya Safia.
"Aku kan udah bilang. Kalau aku dapat uang itu dari Om baik."
"Iya om baik. Tapi kamu ketemu di mana dengan Om baik itu?"
"Ketemu Om baik di jalan, saat aku keliling menjual koran."
"Apa!" Safia terkejut saat mendengar penuturan anaknya. Safia tidak menyangka kalau anaknya berjualan koran di jalan raya.
"Anna. Kamu jualan koran lagi di jalanan? sudah berapa kali bunda bilang, kamu jangan ikut-ikutan bunda kerja. Kalau kamu ikut-ikutan bunda kerja dan cari uang, nilai sekolah kamu nanti akan turun karena kamu nggak fokus belajar."
"Bun, maafin aku ya. Aku udah bohongin bunda. Tapi aku melakukan semua ini demi bunda. Aku nggak tega melihat bunda kesusahan. Makanya aku mau bantu bunda cari uang."
"Anna, kamu itu masih kecil. Masih SD. Bunda nggak mau disalahkan sama orang-orang kalau membiarkan kamu cari uang sendiri. Anak SD itu nggak wajib nyari uang. Tapi anak sekolah itu wajibnya belajar. Biar orang tua yang nyari uang."
Anna menundukkan kepalanya sedih. Dia sedih saat ibunya memarahinya. Padahal, Safia hanya bicara tegas pada anaknya. Agar anaknya mau mendengarkan nasihat Safia.
"Bunda nggak mau, hidup kamu kayak bunda. Hanya menjadi karyawan laundry. Bunda ingin menyekolahkan kamu sampai kamu jadi sarjana agar kamu bisa kerja di kantor dan jadi orang kantoran. Jadi kamu fokus saja belajar. Jangan kebanyakan main apalagi ikut-ikutan cari uang seperti bunda. Biar bunda saja yang cari uang."
Anna mencoba menatap wajah ibunya.
"Anna cuma ingin bantuin bunda. Anna nggak tega melihat bunda diomelin Mbak Wati terus karena bunda nggak bisa bayar kontrakan. Anna ngga mau kalau nanti kita di usir dari rumah ini. Kalau kita diusir dari rumah ini, lalu kita mau tinggal di mana Bun?"
Safia menghela nafasnya dalam. Sesak sekali hatinya saat mendengar ucapan anaknya. Safia merasakan berat sekali menjadi seorang single mom. Membesarkan dan merawat anaknya seorang diri tanpa seorang suami.
Dan Safia, tidak ingin hal itu dirasakan oleh putrinya jika dia besar nanti. Safia ingin putrinya bahagia memiliki suami yang sayang dan bertanggung jawab.
Safia meneteskan air matanya. Anna terkejut saat melihat ibunya menangis.
__ADS_1
"Kenapa bunda nangis?" tanya Anna.