
Setelah lama Intan dan Hamdan berada di depan ruang ICU, Seorang polisi bersama Vika dan Pak Angga menghampiri ruang ICU.
Hamdan dan Intan saling menatap.
"Siapa mereka Pa," ucap Intan.
"Nggak tahu Ma. Apa jangan-jangan, mereka yang sudah menabrak Rama," terka Hamdan.
"Kita samperin Pa."
Hamdan dan Intan bangkit dari duduknya dan menghampiri orang yang tak dikenalnya yang datang bersama seorang polisi.
"Maaf, kalian siapa?" tanya Hamdan.
Vika, Pak Angga, dan polisi menatap Hamdan dan Intan lekat.
"Kalian berdua, keluarganya Saudara Rama?" tanya polisi itu pada Hamdan dan Intan.
"Iya. Saya kakak sepupunya," jawab Intan.
Vika mendekat ke arah Intan. Setelah itu dia meraih tangan Intan.
"Mbak, saya mau minta maaf atas semua yang sudah terjadi pada adik sepupunya Mbak," ucap Vika.
"Kenapa kamu harus minta maaf? apakah kamu yang sudah menyebabkan adik saya kecelakaan?" Intan sudah bisa menebak kalau Vika adalah pelakunya.
Intan sejak tadi hanya bisa menatap Vika tajam. Dia benar-benar kesal saat melihat orang yang sudah membuat Rama kecelakaan.
Vika mengangguk.
Vika, Hamdan, Pak Angga dan polisi terkejut saat tiba-tiba saja Intan mendorong tubuh Vika.
"Oh, jadi kamu. Penyebab adik saya kecelakaan. Kamu yang sudah nabrak adik saya sampai dia sekarang kritis dan koma?" ucap Intan dengan nada tinggi.
"Maafkan saya Mbak. Karena saya sudah menabrak adik Mbak. Tapi saya nggak sengaja Mbak," ucap Vika.
Vika juga tidak menyangka kalau seorang lelaki yang ditabraknya akan mengalami koma dan masuk ke ruang ICU.
"Bagaimana kalau adik saya kenapa-kenapa. Sekarang dia kritis dan terbaring koma di dalam. Bagaimana kalau nyawa adik saya nggak bisa diselamatkan. Ini semua salah kamu ..!" Intan menunjuk wajah Vika.
"Saya menyesal Mbak. Karena kecerobohan saya, saya sudah membuat adik Mbak celaka. Tapi saya janji Mbak. Saya akan tanggung jawab," ucap Vika penuh penyesalan.
__ADS_1
Intan sudah hilang kendali. Dia tidak bisa mengontrol emosinya saat dia melihat orang yang sudah menabrak adiknya.
"Sayang, sabar sayang. Kendalikan emosi kamu. Ini semua sudah takdir sayang. Kita nggak bisa menyalahkan siapa-siapa. Rama seperti ini, juga sudah takdir sayang," ucap Hamdan mencoba menenangkan istrinya.
"Tapi kalau dia nggak nabrak Rama, Rama nggak akan mungkin seperti ini Mas Hamdan. Hiks...hiks..."
"Sayang. Kamu harus sabar sayang. Aku kan sudah bilang, jangan nangis terus. Lebih baik kita sholat dan meminta sama Allah untuk kesembuhan Rama."
Vika menghela nafas dalam. Setelah itu dia mendekat ke arah ayahnya.
"Papa, tolong bantu aku. Tolong bantu jelasin sama kakaknya Mas Rama, kalau aku nggak sengaja menabrak dia," ucap Vika. Dia sudah tidak sanggup menghadapi kemarahan Intan.
Pak Angga mengangguk. Setelah itu dia melangkah mendekati Intan dan Hamdan.
"Saya dari keluarganya Vika, mau meminta maaf yang sebesar-besarnya, atas kesalahan yang sudah dilakukan anak saya. Saya janji, saya akan bertanggung jawab untuk semua masalah ini. Saya akan membiayai pengobatan Rama sampai sembuh."
Intan mengusap air matanya. Mencoba untuk tenang saat menghadapi Vika sang penabrak adiknya.
"Apa yang akan aku katakan pada orang tuanya Rama dan istrinya. Mereka pasti syok saat mendengar semua ini. Aku benar-benar sudah lalai menjaga Rama. Seharusnya aku tidak biarkan dia pergi sendiri tadi pagi, "ucap Intan.
****
Beberapa saat kemudian, Bu Windi dan Robi masuk ke dalam ruangan Safia. Mereka mendekat ke arah Safia.
"Safia. Maaf ya, saya baru bisa datang ke sini jengukin kamu. Dari kemarin laundry rame banget," ucap Bu Windi.
Safia tersenyum dan menatap Bu Windi.
"Nggak apa-apa Bu Windi. Aku tahu kok, kalau laundry lagi rame," ucap Safia.
"Safia, bagaimana kondisi kamu saat ini?" tanya Bu Windi.
"Aku sudah membaik kok Bu. Mungkin, hari ini aku sudah boleh pulang."
"Kamu jangan khawatirkan soal biaya rumah sakit ya. Ibu yang akan bayar semua biaya rumah sakit kamu. Dan ibu turut prihatin dengan apa yang sudah menimpa kamu. Kata Robi, suami kamu di kampung sudah menyia-nyiakan kamu ya?"
Safia diam. Entah dia akan membohongi berapa orang lagi untuk menutupi aibnya itu.
Safia meneteskan air matanya. Dia sangat sedih saat teringat dengan kejadian di malam itu, di mana Rama sudah merenggut kesuciannya. Namun selama Safia bisa menutupi aib itu dari orang lain, dia akan selalu menutupinya walau dia harus membohongi banyak orang.
Bu Windi mengusap air mata Safia.
__ADS_1
"Maafkan ibu Safia. Ibu nggak bermaksud untuk membuat kamu teringat suami kamu."
Safia tersenyum.
"Nggak apa-apa Bu. Aku ke Jakarta juga ingin menjauh dari suami aku. Dia sudah banyak menyakiti aku dan kasar sama aku."
Robi tersenyum.
"Mana Bu Maryam?" tanya Robi.
"Dia lagi beli sarapan di luar Rob," jawab Safia.
"Oh. Kamu sekarang udah baikan?" tanya Robi.
Safia mengangguk.
"Oh iya Safia. Ibu mau bicara soal serius sama kamu," ucap Bu Windi.
Safia menatap Bu Windi lekat.
"Bicara soal apa Bu Windi?" tanya Safia.
"Safia, setelah ini kamu nggak usah kerja di laundry saya lagi ya."
Safia terkejut saat mendengar ucapan Bu Windi yang tiba-tiba saja memberhentikan dia dari pekerjaannya. Safia tidak tahu apa kesalahannya sehingga Bu Windi tiba-tiba saja menyuruh dia berhenti dari pekerjaannya.
"Apa! Bu Windi mau pecat saya? terus kalau Bu Windi mau pecat saya, bagaimana dengan saya. Saya kan harus menghidupi diri saya dan membayar rumah kontrakan. Saya mau dapat uang dari mana kalau nggak kerja?"
Bu Windi tersenyum.
"Kamu tenang saja. Untuk soal kontrakan, saya sudah mendatangi orang yang punya kontrakan. Saya sudah membayar rumah kontrakan kamu selama satu tahun."
Safia terkejut saat mendengar ucapan Bu Windi. Dia tidak mengerti dengan Bu Windi. Dia sudah memberhentikan Safia kerja, tapi dia malah sudah melunasi rumah kontrakan sampai satu tahun.
"Maksud saya begini Safia. Saya bukannya mau mecat kamu dari pekerjaan kamu. Tapi sekarang kamu itu kan sedang hamil, dan kondisi janin kamu juga sangat lemah. Saya tidak mau terjadi hal-hal seperti ini lagi Safia. Kerja di laundry saya itu berat. Dan saya memberhentikan kamu untuk sementara. Kalau anak kamu sudah lahir, kamu bisa lagi kerja di tempat saya."
"Lalu saya mau kerja apa Bu? cari kerjaan itu kan susah. Dan saya juga sudah nyaman kerja di tempat ibu."
"Safia. Tolong mengertilah dengan kondisi kamu. Kamu jangan maksa untuk kerja di laundry saya. Karena saya tidak mau terjadi pendarahan lagi sama kamu."
Safia tampak sedih saat mendengar ucapan Bu Windi. Walau Bu Windi sudah melunasi rumah kontrakan Safia sampai satu tahun, namun Safia bingung jika dia berhenti kerja. Dia akan mendapatkan uang dari mana untuk makan sehari-hari.
__ADS_1