Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Mendatangi Safia


__ADS_3

Setelah mengambilkan Rama air minum, Vika kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia tersenyum saat melihat suaminya sudah berdiri di sisi jendela kamarnya.


Vika mendekat ke arah suaminya.


"Mas, ini Mas air minumnya," ucap Vika sembari menyodorkan satu gelas air putih pada Rama.


Rama menoleh ke belakang di mana Vika berdiri. Dia kemudian mengambil gelas yang ada di tangan Vika.


"Makasih banyak ya sayang," ucap Rama.


Rama kemudian menegak air itu sampai habis.


"Haus banget ya Mas?" tanya Vika.


Rama hanya mengangguk dan meletakan gelas itu di atas meja.


"Kamu lagi ngelihatin apa Mas?" tanya Vika yang ikut menatap ke luar jendela.


"Aku nggak ngelihatin apa-apa kok," jawab Rama.


"Terus, kenapa dari tadi kamu bengong di sini? apa yang lagi kamu fikirkan Mas?"


"Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok sayang."


"Oh, ya udah, ayo kita tidur."


"Iya."


Rama menutup korden jendelanya kembali. Setelah itu, Rama kembali ke tempat tidurnya dan naik ke atas ranjangnya.


Vika hanya bisa menatap suaminya. Setelah itu dia menyusul suaminya naik ke atas ranjang.


****


Matahari di pagi ini, sudah menampakan sinarnya dengan sempurna. Rama sudah berada di ruang makan bersama istri, mertua, dan anaknya. Mereka tampak masih menikmati sarapannya pagi ini.


"Aku nggak usah dibawain bekal makan siang Vik," ucap Rama di sela-sela kunyahannya.


"Kenapa Mas? tapi kan aku udah siapin bekal makan siang untuk kamu," ucap Vika.


"Nggak usah. Aku mau makan di luar aja."


"Tapi kenapa Mas?"


"Nggak kenapa-kenapa. Nanti siang, aku mau ada pertemuan penting dengan klien di luar. Nggak tahu lama atau cepat. Mungkin siang ini aku mau makan siang di luar," ucap Rama.


"Ya udah kalau gitu."


Setelah selesai makan, Rama menatap Liza.


"Liza, kamu udah habis makannya? tanya Rama pada anaknya.


"Udah Pa."


"Kamu udah siapin semuanya?"


"Udah Pa, semua udah siap," jawab Liza.


"Ya udah, ayo kita berangkat!" ajak Rama.


"Iya Pa."

__ADS_1


Liza bangkit berdiri dan menggendong tasnya. Begitu juga dengan Rama, yang mengikuti anaknya berdiri. Liza dan Rama kemudian berpamitan pada Bu Tari.


"Aku berangkat dulu ya Ma," ucap Rama pada Bu Tari. Setelah itu Rama mencium tangan Bu Tari. Begitu juga dengan Liza yang ikut mencium tangan Bu Tari.


"Aku juga pergi dulu ya Oma," ucap Liza.


"Iya. Hati-hati di jalan ya Liza."


"Iya Oma."


Rama, Liza dan Vika kemudian melangkah ke depan rumahnya. Sesampainya di teras depan, Vika mencium tangan suaminya.


"Hati-hati ya Mas," ucap Vika.


"Iya sayang."


"Mama, aku berangkat dulu ya," ucap Liza yang ikut mencium punggung tangan ibunya.


"Iya sayang. Hati-hati ya."


Setelah berpamitan pada Vika, Rama dan Liza kemudian melangkah masuk ke dalam mobil mereka Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


Rama mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Seperti rutinitasnya setiap pagi. Rama selalu mengantar anaknya ke sekolah.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah ke sekolah Liza, akhirnya mobil Rama pun sampai juga di depan sekolah Liza. Rama menghentikan laju mobilnya dan menatap Liza lekat.


"Sudah sampai sayang," ucap Rama.


Sebelum turun, Liza mencium punggung tangan ayahnya. Setelah itu dia turun dari mobilnya. Sebelum masuk ke dalam sekolahnya, Liza menatap Rama lekat.


"Kamu jangan nakal ya, dan belajar yang rajin," ucap Rama.


"Iya Pa. Aku masuk dulu ya."


****


Setelah mengantarkan Liza ke sekolahnya, Rama tidak langsung ke kantornya. Dia mampir dulu ke cafe di mana semalam dia bertemu dengan Safia.


Rama masih penasaran dengan Safia. Rama menatap ke depan cafe, di mana para karyawan cafe berlalu lalang berangkat ke cafe itu.


Rama membelalakkan matanya saat dia melihat Safia. Rama buru-buru turun dari mobilnya dan menghadang langkah Safia.


"Safia," ucap Rama setelah dia berada di depan Safia.


Safia terkejut saat melihat Rama. Safia tidak tahu kenapa Rama bisa tiba-tiba ada di depannya saat ini. Sebenarnya Safia tidak mau perduli dengan Rama, namun berkali-kali Rama menghalang-halangi jalan Safia.


"Mas, aku mau lewat. Bisa nggak jangan halangi jalan aku," ucap Safia kesal.


"Safia, aku mau bicara sama kamu," ucap Rama


Safia menatap Rama lekat.


"Maaf Mas. Aku nggak ada waktu. Aku mau kerja. Aku udah terlambat."


"Safia, berikan aku waktu sebentar aja untuk bicara sama kamu," ucap Rama memohon agar Safia mau memberikan dia waktu untuk bicara.


"Maaf Mas, aku nggak bisa. Dan aku nggak punya waktu."


"Safia, aku mohon. Beri aku waktu. Bila perlu, aku akan izin sama bos kamu untuk pinjam kamu sebentar."


"Pinjam? emang aku barang."

__ADS_1


"Safia, aku serius ingin bicara berdua dengan kamu. Aku mohon berikan aku waktu. Aku akan bilang sama bos kamu agar dia mau memberikan kita waktu untuk bicara."


Safia benar-benar bingung dengan Rama. Safia tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat ini. Mengusir Rama pun itu tidak mungkin. Karena saat ini dia ada di depan tempat umum.


Safia terkejut saat tiba-tiba saja Rama meraih tangannya.


"Ayo kita duduk di dalam," ucap Rama mengajak Safia duduk di dalam cafe.


Safia hanya mengangguk. Mengiyakan saja apa yang Rama ucapkan.


Rama kemudian mengajak Safia duduk.


"Ayo duduk Safia!" pinta Rama.


Safia menurut duduk. Dia tidak tahu apa yang akan Rama bicarakan.


"Kamu tunggu di sini ya," ucap Rama


Rama bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah untuk mencari Pak Dito manager yang ada di cafe Safia.


"Maaf Pak, saya mau bicara dengan anda," ucap Rama.


Pak Dito menoleh ke arah Rama. Dia terkejut saat melihat Rama.


Dia kan lelaki yang semalam,


"Maaf, ngapain anda ke sini? ada perlu apa Pak?" tanya Pak Dito.


"Saya mau pinjam pelayan anda sebentar. Saya ingin bicara penting dengannya," ucap Rama.


"Pelayan saya siapa?" tanya Pak Dito lagi.


"Safia."


"Oh, boleh Pak. Silahkan. Lagian, ini juga masih pagi, cafe belum begitu ramai."


"Makasih ya."


"Iya Pak sama-sama."


Rama kemudian kembali ke tempat duduknya di mana Safia duduk.


"Safia, kamu udah makan belum?" tanya Rama.


"Udah," jawab Safia.


"Kita pesan minuman aja ya untuk teman kita ngobrol."


"Terserah kamu Mas."


Rama kemudian memanggil pelayan. Dia kemudian memesan teh manis hangat untuk menemaninya ngobrol pagi ini dengan Safia.


"Kita tunggu pesanan kita dulu ya," ucap Rama.


Safia hanya mengangguk.


"Iya Mas."


Beberapa saat kemudian pelayan datang. Dia kemudian meletakkan minuman pesanan Rama ke atas meja.


"Silahkan Pak," ucap pelayan itu.

__ADS_1


"Makasih ya Mbak."


__ADS_2