Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Bertukar cerita


__ADS_3

"Ayahnya Anna sudah meninggal Mas Rama," ucap Safia.


"Jadi benar apa yang dikatakan Anna? kalau ayahnya sudah meninggal?" Rama menatap Safia lekat.


Safia mengangguk. "Iya."


"Kapan kamu nikah sampai kamu sudah punya anak sebesar Anna? kamu nikahan kok nggak ngabarin ke kampung? harusnya kan kamu panggil ayah kamu untuk jadi wali nikah kamu."


"Aku cuma nikah siri sama lelaki itu. Jadi aku cuma pakai wali hakim saja. Karena keadaan aku yang nggak memungkinkan aku untuk pulang kampung dan memanggil bapak. Karena pernikahan aku waktu itu, juga dadakan Mas," bohong Safia.


Rama semakin bingung saja saat mendengar ucapan Safia. Rasanya Rama tidak begitu percaya dengan ucapan Safia itu.


"Sejak aku lari dari rumah, aku bertemu dengan seorang lelaki yang sangat baik sama aku. Dia mau menikahi aku. Dan waktu itu kami cuma sebatas nikah siri. Dan rencananya waktu itu, kami akan pulang kampung untuk menikah secara resmi. Tapi suami aku keburu meninggal waktu Anna masih satu bulan di perut aku."


"Kenapa suami kamu meninggal?" tanya Rama yang masih penasaran dengan cerita Safia.


"Suamiku kecelakaan lalu lintas Mas. Dan dia meninggal di tempat kejadian.


Rama manggut-manggut. Dia sepertinya mulai percaya dengan cerita bohong Safia.


Mudah-mudahan saja Mas Rama mau percaya dan tidak bertanya macam-macam lagi tentang ayah kandungnya Anna, batin Safia.


Setetes air mata Safia mengalir dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya. Dia kemudian mengusap air matanya dan kembali menatap Rama.


"Kok aku jadi curhat ya. Maaf ya Mas," ucap Safia.


Rama tersenyum.


"Nggak apa-apa. Curhat aja sama aku, kalau kamu ingin curhat. Aku siap jadi pendengar yang baik untuk kamu."


"Oh ya Mas. Kamu mau minum apa? biar aku buatin kamu minuman ya?"


"Tidak usah Safia. Aku cuma mau sebentar aja kok. Oh iya. Ngomong-ngomong Anna main ke mana? jangan biarkan dia main jauh-jauh Safia," ucap Rama


"Nggak kok Mas. Dia nggak pernah main jauh."


"Aku sedih Safia. Kalau melihat anak kamu sampai jualan koran di tengah jalan. Aku jadi prihatin dengan kehidupan Anna. Kamu tahu, kalau aku sayang banget sama anak kamu. Apalagi dia itu anak yatim yang masih butuh kasih sayang seorang ayah."

__ADS_1


"Kalau soal itu aku nggak tahu Mas Rama. Sebenarnya aku juga nggak pernah ngizinin Anna untuk jualan koran. Mungkin waktu itu inisiatif Anna sendiri untuk membantu aku cari uang. Karena waktu itu aku dalam kesulitan uang. Kalau aku tahu Anna jualan koran, mungkin aku ngga akan ngizinin dia."


Safia terkejut saat tiba-tiba saja Rama menggeser posisi duduknya. Dia mendekati Safia dan duduk tepat di sisi Safia. Rama kemudian meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat.


"Safia, biarkan aku dekat dengan Anna lagi. Aku sudah menganggap anak kamu itu seperti anak aku sendiri. Kasihan Anna Safia. Biarkan aku ikut membantu semua kesulitan kamu dan anak kamu."


Safia melepaskan genggaman tangan Rama.


"Mas, kamu itu sekarang sudah punya istri dan anak. Kamu fokus aja sama mereka. Aku nggak mau dekat-dekat dengan lelaki beristri. Karena aku nggak mau ada kesalahpahaman di antara aku dan istri kamu."


"Aku cuma mau dekat dengan Anna saja Safia. Nggak akan ada kesalahpahaman."


"Sama aja Mas. Apalagi aku tahu bagaimana sikap istri kamu. Sepertinya istri kamu itu suka sekali merendahkan orang miskin seperti aku."


Rama menghela nafas dalam.


"Sebenarnya aku sudah lelah menghadapi sikap istri aku Safia," ucap Rama.


Safia menatap Rama lekat. "Lelah?"


"Kalau kamu nggak suka sama istri kamu, kenapa kamu mau nikah dengan dia."


"Ceritanya panjang Safia. Aku menikah dengan dia, karena aku dijodohkan oleh ayahnya Vika istri aku."


"Kamu kenal dari mana ayahnya istri kamu itu? tanya Safia penasaran.


"Sebenarnya waktu aku datang ke Jakarta itu, aku ingin mencari kamu dan sekalian aku mau mencari pekerjaan. Tapi apa yang terjadi. Waktu aku mau cari kerja, Vika nabrak aku sampai aku koma," jelas Rama.


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.


"Kamu pernah kecelakaan dan koma?" tanya Safia yang masih belum percaya.


"Iya Safia. Dan Vika yang sudah membuat aku koma dan nggak bisa jalan."


"Terus. Apa yang terjadi setelah itu?" Safia masih penasaran mendengar cerita Rama.


"Yang terjadi setelah itu, orang tuanya Vika mau bertanggung jawab dan mereka membawa aku ke rumah mereka. Keluarga Vika mau merawat dan mengobati aku sampai sembuh. Sampai aku bisa jalan kembali, dan sampai wajah aku yang hancur kembali normal," lanjut Rama.

__ADS_1


"Oh... separah itu kah Mas?"


"Iya Safia. Aku hampir mati waktu itu. Untunglah Tuhan masih mentakdirkan aku hidup."


"Oh..." Safia mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O.


"Terus setelah aku sembuh, Pak Angga ayah Vika, mempekerjakan aku di kantornya. Dan lama-lama, Pak Angga meminta aku untuk menikah dengan anaknya. Dan waktu aku menikah dengan Vika, tidak ada cinta sama sekali Safia. Karena waktu itu aku masih sangat mencintai Mbak mu."


"Mas, kenapa kamu cerai dari Mbak Shakira. Itu semua pasti karena peristiwa malam itu kan."


"Aku sebenarnya nggak ingin bercerai dari Shakira. Aku waktu itu masih cinta sama dia. Tapi dia nggak mau maafin aku. Dia malah gugat cerai aku Safia."


"Terus sekarang kamu sudah bisa melupakan Mbak Shakira dan mencintai Vika? atau kamu masih mencinta Mbak ku?" tanya Safia.


Rama tersenyum.


"Aku nggak tahu, siapa wanita yang sekarang ada di dalam hati aku. Aku sudah melupakan kenangan aku dengan Mbak kamu. Sebenarnya aku juga sudah mulai mencintai Vika. Tapi entah kenapa perasaan itu akhir-akhir ini seperti mulai hilang dalam hati aku. Aku mulai nggak nyaman dengan Vika."


"Oh iya Mas. Katanya kamu tahu kalau bapak sama ibu ada di Jakarta. Dari mana kamu tahu soal itu? kamu pernah lihat bapak sama ibu aku di mana?" tanya Safia.


"Aku sebenernya nggak pernah lihat mereka. Aku cuma dengar dari Mbak kamu aja, kalau sekarang orang tua kamu itu ada di sini."


"Oh ya? terus, kamu ketemu di mana dengan Mbak Shakira?"


"Shakira sekarang kerja di rumah aku."


Safia terkejut mendengar ucapan Rama.


"Apa! Mbak Shakira kerja di rumah kamu? lalu bagaimana istri kamu? apakah dia tahu kalau Mbak aku adalah mantan istri kamu?"


Rama tersenyum.


"Ya nggak lah Safia. Istri aku itu pencemburu. Kalau aku kasih tahu dia siapa Shakira, bisa berantem nanti Vika sama Shakira."


"Dunia ini ternyata sempit banget ya. Kok bisa-bisanya, Mbak aku kerja di rumah mantan suaminya sendiri?"


"Yah, begitulah Safia. Istri aku yang bawa Mbak kamu ke rumah. Dia nggak tahu aja kalau Mbak kamu itu mantan aku."

__ADS_1


__ADS_2