
Setelah masuk ke dalam kamar Aura, Safia kemudian membangunkan Anna.
"Anna, ayo bangun sayang," ucap Safia sembari menepuk-nepuk pipi Anna.
Anna yang merasakan kehadiran ibunya, segera mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat Safia sudah berada di dekatnya.
"Mama," ucap Anna sembari beringsut duduk.
Safia tersenyum.
Anna mengucek matanya yang masih mengantuk. Dia kemudian menatap ibunya lekat.
"Mama dari mana aja? kenapa mama baru pulang?" tanya Anna.
"Mama baru pulang kerja Nak, tadi mama ada lemburan di cafe," jawab Safia.
"Mama baru pulang kerja? jam berapa ini Ma. Ini udah jam sepuluh," ucap Anna. Dia tampak lelah saat menunggu kepulangan ibunya. Sudah sejak tadi dia menunggu Safia. Sampai akhirnya dia ketiduran di rumah Aura temannya.
"Iya Nak. Mama sekarang kan kerja di cafe. Dan cafe lagi rame banget. Jadi mama harus lembur sampai jam segini," ucap Safia menjelaskan.
"Oh..."
"Kenapa kamu nggak pulang dan tidur di rumah?" tanya Safia.
"Aku nggak berani tidur sendirian tanpa mama. Mendingan aku tidur di sini aja sama Aura, kalau mama pulangnya malam."
"Ya udah, ayo kita pulang."
"Iya Ma."
Setelah Anna bangun, Anna dan Safia melangkah pergi keluar dari kamar Aura. Mereka kemudian menghampiri Bu Nunung.
"Safia, kenapa Anna dibangunin sih. Kasihan dia. Biarin aja dia tidur di sini sama Aura. Lagian, Aura juga tidurnya sendiri nggak ada temannya," ucap Bu Nunung.
Safia tersenyum.
"Nggak apa-apa Bu. Biar Anna tidur di rumah aja. Besok kan dia mau sekolah."
"Oh ya udah."
Safia kemudian mengajak Anna pulang. Setelah sampai di ruang tamu rumah kontrakan, Anna menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Begitu juga dengan Safia. Dia mengikuti anaknya duduk.
Safia menatap Anna lekat. Tiba-tiba saja fikirannya tertuju pada Rama lelaki yang tadi ditemuinya di cafe.
__ADS_1
Safia sama sekali tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Rama lagi, setelah lama mereka tidak saling bertemu.
Aku nggak nyangka kalau ternyata selama ini, Mas Rama ada di Jakarta. Tapi kenapa aku nggak pernah ketemu sama dia. Kenapa baru kali ini aku bertemu dengan dia. Dan penampilannya juga sangat berubah. Apakah sekarang dia sudah punya istri di sini, katanya kan dia sudah cerai dari Mbak Shakira, batin Safia.
Anna menatap ibunya lekat. Safia saat ini, masih diam dan masih tampak melamun.
"Bunda..." Safia diam saat Anna memanggilnya
"Bunda..." Safia masih belum mendengar panggilan Anna.
Anna tiba-tiba saja menepuk bahu Safia.
"Bunda lagi mikirin apa?" tanya Anna yang membuat Safia terkejut.
"Eh, Anna. Kenapa sayang? kamu mau ke kamar?"
Anna menatap ibunya lekat.
"Bunda kenapa diam aja. Anna ajak bunda bicara tapi bunda diam aja. Ada apa sih Bunda? kenapa bunda ngelamun. Apa yang lagi bunda fikirkan? bunda capek ya?"
"Nggak kok, bunda nggak lagi mikirin apa-apa. Bunda cuma sedikit lelah aja."
"Mau Anna pijit?"
Safia tersenyum. "Nggak usah Anna. Anna, kamu kan besok mau sekolah. Kita tidur di kamar ya, nanti kamu kesiangan kalau kebanyakan begadang. Bunda juga besok harus berangkat kerja pagi-pagi."
Sesampainya di kamar, Anna naik ke atas tempat tidurnya. Dia kemudian menatap Safia yang masih berdiri di dekat pintu.
"Selamat malam sayang."
"Malam bunda..."
Setelah mengantar Anna ke kamarnya, Safia kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Anna. Dia menuju ke kamarnya sendiri.
****
Malam ini Rama masih berbaring di atas tempat tidurnya bersama Vika yang ada di sisinya berbaring. Rama menatap wajah istrinya lekat. Sejak bertemu Safia tadi di cafe, mendadak Rama tidak bisa tidur. Dia sejak tadi masih kefikiran dengan Safia.
Kenapa aku jadi mikirin Safia terus ya. Aku jadi merasa bersalah sama dia karena kejadian di malam itu. Aku juga jadi penasaran dengan Safia. Apa yang terjadi setelah dia pergi dari rumah ya. Aku takut kalau kejadian di malam itu, membuat Safia hamil. Tapi seandainya dia hamil, dia pasti akan datang menuntut aku dan meminta aku bertanggung jawab. Bukan malah pergi jauh ke kota ini.
Rama masih larut dalam fikirannya sendiri. Sejak tadi dia masih membolak-balikkan tubuhnya, karena sulit untuk tidur.
Beberapa saat kemudian, Vika mengerjapkan matanya dan terbangun. Dia kemudian menatap ke arah suaminya.
__ADS_1
"Mas, kamu bangun?" tanya Vika sembari beringsut duduk.
Rama hanya menoleh ke samping dan menatap istrinya.
"Aku belum tidur sayang. Mataku nggak ngantuk dan dari tadi malam aku nggak bisa tidur."
Vika mengucek matanya dan menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi.
"Sudah jam tiga, kamu belum tidur? apa kamu nggak ngantuk Mas?" tanya Vika.
"Aku kan sudah bilang. Kalau mataku nggak bisa aku ajak tidur."
Vika menghela nafas dalam.
"Kalau kamu nggak bisa tidur, kamu boleh kok peluk aku Mas. Barang kali kamu kedinginan," ucap Vika.
Dia kemudian kembali berbaring dan memeluk suaminya erat.
"Mas, aku kangen sama kamu Mas. Kamu akhir-akhir ini jarang banget ada waktu untuk aku. Setiap hari kamu kerja pulang malam. Sebenarnya aku pengin Mas, jalan-jalan berdua aja sama kamu tanpa Liza. Aku kangen dengan waktu-waktu kita berdua tanpa Liza."
Rama tersenyum dan meraih tangan istrinya.
"Sayang, kita nggak bisa kalau jalan-jalan berdua saja tanpa Liza, di rumah Liza nggak punya teman. Kecuali kalau Liza punya adik. Kenapa kita tidak buatin adik aja untuk Liza. Biar Liza punya teman," ucap Rama.
"Nggak Mas. Aku malas punya bayi lagi. Kamu kan tahu, mama aku sekarang udah nggak bisa ngapa-ngapain. Kalau aku punya bayi, siapa yang akan bantuin aku ngurus bayinya."
"Kenapa kamu harus fikirkan itu. Kita kan bisa bayar baby sitter."
"Baby sitter? aku nggak begitu percaya sama baby sitter Mas. Liza aja aku dan mama kok yang ngurus tanpa harus ada baby sitter. Lagian baby sitter sekarang kan bayarnya mahal," ucap Vika.
Rama melepaskan pelukan Vika.
"Mau ke mana Mas?" tanya Vika.
"Aku mau ke dapur, ambil minum. Entah kenapa, tiba-tiba aku haus sayang."
"Ya udah, aku ambilkan ya." Vika menatap Rama lekat.
"Ya udah kalau kamu mau ambilkan aku minum."
Vika turun dari tempat tidurnya. Setelah itu dia keluar dari kamar untuk mengambilkan suaminya air minum. Sementara Rama turun dari ranjangnya dan melangkah ke arah jendela.
Rama membuka gorden jendela dan menatap keluar jendela.
__ADS_1
"Safia, sebenarnya selama ini kamu tinggal di mana sih. Dan apakah dia sudah punya suami dan anak atau dia masih hidup sendiri," ucap Rama yang masih sangat penasaran dengan Safia.
"Besok, aku harus ke cafe itu lagi. Aku ingin minta maaf sama dia, dan aku ingin tahu kondisinya saat ini. Kenapa dia pergi dari kampung, dan tidak mau pulang ke kampung lagi, apa yang sebenarnya terjadi sama dia," lanjut Rama.