
"Tanya aja tuh sama Safia," ucap Shakira.
Bu Astri dan Pak Junedi yang masih diselimuti rasa penasaran, menatap Safia bersamaan.
"Ada apa Nak?" tanya Pak Junedi.
"Bapak, aku mau nikah. Apa bapak mau jadi wali nikah aku?" tanya Safia tanpa banyak basa-basi lagi.
"Apa! nikah?" ucap Bu Astri dan Pak Junedi bersamaan.
Mereka terkejut saat mendengar ucapan Safia.
"Kamu mau nikah sama siapa Safia?" tanya Bu Astri penasaran. .
"Mas Rama," jawab Safia singkat.
Bu Astri dan Pak Junedi kembali terkejut.
"Rama? kamu mau nikah sama Rama? bukankah Rama masih punya istri?" tanya Bu Astri.
"Iya Bu. Aku tahu, tapi aku mau nikah sama dia. Aku udah nggak ada pilihan lain. Anna dan Mas Rama juga sudah tidak bisa dipisahkan lagi."
Safia kemudian menjelaskan semua duduk permasalahannya pada ayah dan ibunya.
"Safia, kamu yakin ingin menikah dengan Rama? tapi dia masih punya istri Nak. Kamu harus fikirkan baik-baik untuk ke depannya," ucap Bu Astri.
Bu Astri masih tidak setuju dengan keinginan Safia yang tiba-tiba saja ingin menikah dengan Rama.
"Bu, Pak, Mbak, kalian itu nggak tahu masalah yang sebenarnya di antara Mas Rama dan istrinya. Aku malah nggak tega melihat Mas Rama terluka karena istrinya," ucap Safia.
Shakira, Bu Astri, dan Pak Junedi sama sekali tidak mengerti dengan maksud Safia. Safia tidak mau terlalu banyak membeberkan masalah Rama dengan istrinya pada keluarganya. Namun sejak tadi, Safia masih membujuk mereka agar mereka mau merestui hubungannya dengan Rama.
Setelah lama Pak Junedi dan Bu Astri berfikir, akhirnya mereka menyetujui juga dengan keinginan Safia untuk menikah dengan Rama.
__ADS_1
"Baiklah, kalau keinginan kamu seperti itu. Bapak akan merestui hubungan kamu dan Rama. Bagaimana Bu?" tanya Pak Junedi menatap istrinya lekat.
"Iya. Ibu juga akan merestui jika itu kamu lakukan demi Anna anak kamu. Sudah seharusnya Anna itu bahagia dengan kehadiran ayah kandungnya di kehidupannya. Dia sudah terlalu banyak menderita bersama kamu Nak," ucap Bu Astri.
"Tapi aku nggak setuju kalau Safia menikah dengan Mas Rama. Safia nggak akan bahagia menikah sama lelaki beristri. Karena Mas Rama pasti akan lebih memperhatikan istri pertamanya dari pada Safia. Aku tahu, Mas Rama ingin menikahi Safia hanya karena Anna. Mereka juga menikah bukan karena cinta. Aku yakin, tidak lama lagi, pasti Mas Rama akan meninggalkan Safia. Aku nggak mau Safia pada akhirnya kecewa," ucap Shakira panjang lebar.
Shakira tidak setuju bukan karena dia masih punya perasaan pada mantan suaminya. Tapi dia tidak ingin, adiknya kecewa karena Rama.
Pak Junedi dan Bu Astri menatap Shakira bersamaan
"Shakira, kita doakan saja yang terbaik untuk adik kamu. Kamu jangan bicara seperti itu. Siapa tahu, Rama memang ingin bertanggung jawab pada anaknya dengan memperistri Safia," ucap Bu Astri.
"Tapi bapak sama ibu lihat sendiri kan bagaimana istrinya Mas Rama. Dia itu wanita bar-bar. Kalau dia tahu, adik aku nikah sama suaminya. Bagaimana nasib Safia. Dan nggak gampang menjalani pernikahan yang nggak sehat seperti itu," ucap Shakira.
"Aku akan terima semua konsekuensinya Mbak. Aku melakukan ini juga karena Anna dan aku ingin menjaga nama baik ku di tengah-tengah pembicaraan tetanggaku. Dan aku juga nggak mungkin kan, mengusir Mas Rama dan menjauhkan dia dengan Anna."
"Terserah kamu aja lah Safia. Tapi Mbak nggak mau ikut-ikutan ya, kalau ada masalah dalam rumah tangga kamu nanti setelah kamu menikah dengan Rama." Shakira bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pergi meninggalkan Safia dan ke dua orang tuanya di ruang tamu.
"Safia, kalau Rama benar-benar mau seriusan? suruh Rama ke sini, dan temui bapak langsung. Bapak akan bicara sama dia."
"Ya udah, besok atau lusa, pokoknya, kalau Rama ada waktu senggang, suruh dia datang ke rumah bapak."
Safia mengangguk.
"Iya Pak."
****
Rama dan Vika malam ini, masih duduk berdua di ruang makan. Sementara Liza dia sudah tidur dan tidak ikut makan malam bersama ke dua orang tuanya. Dan Bu Tari, dia juga sepertinya tidak ikut makan malam di ruang makan.
Malam ini, Vika dan Rama masih saling diam. Makan malam kali ini begitu canggung. Karena Rama sama sekali tidak mau bicara pada Vika. Dia masih disibukkan membalas chat-chat yang masuk ke dalam ponselnya.
"Mas. Besok kamu ada acara nggak?" tanya Vika di sela-sela kunyahannya.
__ADS_1
Rama meletakan ponselnya di atas meja dan menatap Vika.
"Kenapa?" tanya Rama singkat.
"Mas, besok kalau kamu nggak ada acara, kita jalan yuk! udah lama banget kita nggak jalan bareng. Aku yakin , Liza pasti kangen sama kamu dan kangen dengan momen-momen kebersamaan kita. Sudah lama kamu nggak ajakin aku dan Liza jalan," ucap Vika panjang lebar.
"Maaf, aku nggak bisa. Besok sepertinya aku harus pergi karena ada urusan."
Vika tampak kecewa dengan jawaban Rama.
"Urusan apa? urusan kantor?" tanya Vika menatap lekat wajah suaminya.
"Yah, begitulah Vik."
"Em... terus, kamu nggak sibuknya kapan? kalau minggu depan gimana?" tanya Vika. Dia selalu berharap Rama masih punya waktu sedikit untuknya. Vika tidak sanggup dengan sikap Rama yang sedingin salju itu.
"Minggu depan juga kayaknya nggak bisa. Aku ada janji juga sama teman," jawab Rama. Sepertinya itu cuma alasan dia saja, sebenarnya Rama sudah malas mengajak Vika jalan.
"Kalau minggu depannya lagi?" tanya Vika lagi.
Rama mengedikan bahunya.
"Kalau itu nggak tahu juga. Kita lihat saja nanti."
Rama terkejut saat tiba-tiba saja Vika meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
"Mas, aku pengin kita bisa seperti dulu lagi. Kenapa semakin hari, kita semakin canggung banget begini," ucap Vika sembari menatap netra jernih Rama lekat.
Rama diam. Entah dia mendengarkan atau tidak ucapan Vika. Dia malah asyik menyantap makanan yang ada di depannya.
"Mas, kamu dengar aku ngomong kan? aku pengin kita bisa seperti dulu lagi. Jalan-jalan bareng, bercanda bareng, dan romantis-romantis an lagi seperti dulu. Aku merindukan suasana yang dulu Mas," ucap Vika.
Rama melepaskan tangannya dari genggaman tangan istrinya. Dia kemudian mengambil gelas yang ada di depannya duduk dan langsung menenggak air itu sampai habis setengah gelas.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar Vik," ucap Rama.
Dia kemudian bangkit dari duduknya. Tanpa banyak bicara, Rama pun pergi meninggalkan Vika di ruang makan.