Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Keinginan Rama


__ADS_3

Rama keluar dari rumah sakit. Dia berjalan ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


"Aku akan ke rumah Safia. Safia sudah tidak bisa membohongi aku dan Anna lagi. Karena hasil tes DNA ini, bisa menjadi bukti, kalau Anna memang anak kandung aku," ucap Rama.


****


Safia sejak tadi masih berada di kamar Anna. Safia masih sibuk mengompres Anna. Sejak kemarin Anna sakit. Dan semalaman tubuh Anna panas. Dan sampai pagi, suhu tubuh Anna juga belum turun.


"Sayang, kenapa kamu harus sakit begini sih. Bunda nggak bisa kerja kalau kamu begini," ucap Safia.


Beberapa saat kemudian, suara ketukan dari luar rumah Safia terdengar.


Tok tok tok.


"Tunggu ya sayang. Bunda mau buka pintu dulu," ucap Safia.


Safia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Anna untuk membuka pintu depan.


Safia terkejut saat melihat kedatangan Rama.


"Mas Rama. Kamu ngapain ke sini. Bukankah seharusnya kamu ada di kantor?"


"Boleh aku masuk Safia?"


"Iya. Silahkan masuk!"


Setelah Safia mempersilahkan Rama masuk, Rama pun kemudian masuk ke dalam rumah Safia.


"Silahkan duduk Mas."


"Iya Safia." Rama kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu rumah kontrakan Safia.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Safia.


Rama menggeleng


"Aku aja baru keluar dari kantor."


"Maksudnya?"


"Aku semalam nggak pulang ke rumah. Aku lembur di kantor. Karena pekerjaanku menumpuk. Beberapa hari aku nggak masuk kantor, membuat semua pekerjaan aku terbengkalai," jelas Rama.


"Terus, kenapa kamu ke sini Mas?"


"Aku mau ketemu Anna. Anna mana? dia sekolah?"


"Nggak Mas. Anna di kamarnya. Dia demam. Tubuhnya panas tinggi. Dan sampai sekarang panasnya belum turun-turun."


"Apa! demam? apa kamu sudah periksakan dia ke dokter ?"

__ADS_1


"Belum Mas. Aku belum ada waktu."


"Ya udah, nanti aku antar kamu periksakan Anna ya. Pakai mobil aku. Aku nggak mau sampai terjadi apa-apa sama anak kita Safia."


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.


"Apa! anak kita?"


"Ya anak kita. Anna itu anak aku kan Safia. Kamu sudah nggak bisa bohongi aku lagi. Kalau Anna adalah anak kandung aku."


"Da-dari mana kamu tahu soal itu Mas? apa Mbak Shakira yang sudah memberitahu kamu?"


Rama mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya.


"Kamu baca sendiri."


Safia mengambil sebuah kertas dari tangan Rama. Setelah itu dia membacanya. Safia terkejut bukan main saat tahu kalau kertas itu adalah hasil tes DNA Rama dan Anna.


"Kamu kok nggak bilang-bilang sih kalau kamu mau tes DNA Anna?" Safia benar-benar kecewa dengan Rama.


"Safia, untuk apa aku bilang ke kamu ? kamu juga pasti nggak akan setuju jika aku tes DNA Anna. Karena kamu takut kehilangan Anna."


Safia menghela nafas dalam.


"Kenapa kamu tiba-tiba punya fikiran untuk tes DNA Anna."


"Waktu di rumah sakit, aku nggak sengaja dengar obrolan kamu dengan Kakak kamu Shakira. Dan dari situ, aku berinisiatif untuk tes DNA."


Rama meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat.


"Kenapa kamu harus sedih Safia? aku nggak akan mengambil Anna dari kamu. Aku nggak mungkin tega memisahkan Anna dengan ibu kandungnya."


Safia menatap manik mata Rama lekat.


"Safia, jika aku membawa Anna pergi, aku pun akan membawa kamu juga. Justru sekarang aku bahagia banget, aku bisa menemukan kamu dan Anna. Aku sayang sama kalian berdua. Dan aku tidak akan pernah lagi, membuat kalian menderita."


"Kamu janji ya, jangan bawa Anna untuk tinggal di rumah mu. Karena aku nggak rela, Anna dekat dengan ibu tirinya. Aku tahu seperti apa istri kamu. Aku yakin, dia nggak akan mungkin mau menerima anak kita Mas."


"Iya Safia. Aku nggak akan pernah bawa Anna ke rumahnya Vika."


Anna mengerjapkan matanya saat samar-samar dia mendengar suara orang bicara di ruang tamu.


Anna tersenyum saat mendengar suara Rama. Dia kemudian turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke ruang tamu untuk melihat Rama.


"Om Rama..." ucap Anna saat dia melihat Rama ada di ruang tamu.


"Anna. Anak ku..."


Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia memeluk Anna dengan erat.

__ADS_1


"Anna, anak papa," ucap Rama di dalam pelukan Anna.


Anna melepaskan pelukannya.


"Om Rama main ke sini lagi. Anna seneng banget kalau Om Rama sering main ke sini."


Rama menangkup wajah anaknya.


"Jangan panggil Om Rama lagi ya sayang. Panggil Om papa. Karena Om adalah ayah kandung kamu."


Anna terkejut saat mendengar ucapan Rama. Dia kemudian menatap ibunya lekat.


"Bun, benarkah apa yang di katakan Om Rama, kalau Om Rama adalah ayah kandung aku?"


Safia hanya mengangguk.


Air mata Anna tiba-tiba menetes deras dari pelupuk matanya.


"Bunda kok jahat sih sama Anna. Bunda kenapa merahasiakan ini dari Anna. Sudah lama, Anna ingin tahu siapa ayah kandung Anna. Tapi bunda selalu merahasiakan ini dari Anna. Aku benci sama bunda. Bunda itu pembohong."


Anna benar-benar kecewa karena merasa sudah dibohongi oleh ibu kandungnya sendiri.


Anna masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia kemudian menangis di sana.


Safia mencoba mengejar Anna. Dia segera mengetuk pintu kamar Anna.


"Anna, buka pintunya sayang. Maafin bunda sayang, karena bunda udah bohongin Anna. Anna, bunda mau jelasin sama Anna semuanya. Anna, buka pintunya Anna."


Tidak ada sahutan dari dalam kamar Anna. Anna mengunci pintunya rapat-rapat dan tidak mau membukakan pintu itu untuk Safia.


Safia hanya bisa menangis di sisi Rama.


"Mas, Anna marah banget sama aku. Aku harus gimana Mas," ucap Safia dengan berderaian air mata


Rama mendekat ke arah Safia. Dia kemudian mengusap air mata Safia.


"Safia, sudahlah. Biarkan Anna sendiri dulu. Dia masih syok Safia dengan semua kenyataan ini. Seharusnya dari awal kamu jujur sama Anna. Pasti tidak akan seperti ini kejadiannya.


"Iya Mas. Aku sudah salah selama ini. Aku sudah banyak membohongi orang-orang dan mengarang cerita bohong ke mereka. Seharusnya aku jujur saja dengan semua kenyataan ini."


Ssstttt. Rama sudah menempelkan jari telunjuknya ke bibir Safia.


"Sudahlah Safia. Untuk apa kamu sedih. Harusnya kamu bahagia, karena lelaki yang selama ini kamu tunggu sudah ada di sisi kamu."


Rama kemudian menangkup wajah Safia dan menatap manik mata Safia lekat.


"Safia, aku sayang sama kamu dan anak kita. Jujur, aku ingin bertanggung jawab untuk semua yang sudah pernah aku lakukan ke kamu. Aku ingin menikahi kamu Safia. Aku ingin membahagiakan kamu dan Anna."


"Tapi Mas. Istri kamu?"

__ADS_1


"Safia, untuk apa kamu mikirin istri aku. Aku sudah nggak mencintainya lagi sejak dia membohongi aku dan mengkhianati aku. Mulai sekarang, aku akan belajar untuk mencintai kamu. Aku serius Safia dengan keinginanku. Aku ingin menikahi kamu Safia."


__ADS_2