Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Menangislah Safia


__ADS_3

Di ruang tengah, Vika menatap sekeliling. Namun dia tidak melihat ada suaminya di sekelilingnya duduk.


"Mas Rama kemana ya?" ucap Vika.


Vika kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah ke ruang makan.


"Liz. Papa kamu kemana? lihat papa kamu nggak?" tanya Vika pada anaknya.


Liza yang sejak tadi masih makan, menatap Vika lekat.


"Tadi sih aku lihat papa ke depan Ma."


"Ke depan? dia pergi?"


"Nggak tahu Ma. Lihat aja di depan."


Vika buru-buru ke depan untuk melihat suaminya. Vika terkejut saat melihat suaminya sedang ngobrol dengan pembantu barunya di luar.


"Mas Rama, lagi ngapain kamu di sini? dan Mbak Shakira ngapain di sini?" tanya Vika menatap Rama dan Shakira penuh curiga.


"Eh, Bu Vika. Ini Bu, tadi saya baru buatin kopi untuk Pak Rama. Pak Rama minta kopi."


"Oh. Terus, kenapa kamu masih di sini. Sana kerja...!" ucap Vika dengan nada tinggi.


"Iya Bu."


Shakira kemudian melangkah untuk kembali ke dapur. Sementara Vika menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Rama.


"Mas, kenapa kamu minta dibuatin kopi sama Mbak Shakira. Biasanya kan kamu nyuruh aku."


"Emang kenapa kalau aku minta dibuatin kopi Shakira. Itu kan sudah tugas dia di rumah ini. Jangan bilang kamu cemburu sama Shakira."


"Nggak. Aku nggak cemburu kok sama dia."


Rama bangkit dari duduknya.


"Aku lagi malas berantem sama kamu. Aku mau pergi."


"Kamu mau pergi ke mana Mas? ini kan hari libur. Kamu libur kan kerjanya."


"Iya. Tapi aku bete di rumah terus. "


Tanpa banyak bicara Rama pun pergi meninggalkan Vika begitu saja. Vika tahu kalau sejak semalam Rama masih marah sama dia.


Vika buru-buru mengejar Rama sampai ke kamar.


"Mas, maafin aku ya soal kejadian semalam. Aku janji Mas, kejadian semalam tidak akan pernah terulang lagi."


"Iya. Aku udah maafin. Aku mau mandi. Terus aku mau keluar. Ada urusan sebentar di luar."


"Oh. Aku siapin bajunya ya."


"Nggak usah. Aku bisa siap-siap sendiri," ucap Rama yang masih bersikap dingin pada istrinya.


****

__ADS_1


Selesai mandi dan ganti baju, Rama sudah siap untuk pergi. Rama saat ini masih berdiri di dekat cermin sembari menyisir rambutnya. Setelah rapi, Rama mengambil ponselnya dan melangkah keluar dari kamarnya.


"Papa, papa rapi banget mau ke mana? papa mau jalan-jalan ya. Aku ikut dong Pa," ucap Liza saat melihat Rama tampak rapi.


Rama menatap Liza lekat.


"Sayang, kalau mau jalan-jalan, kamu sama mama saja ya. Papa ada urusan sebentar di luar."


Liza hanya mengangguk. Tanpa pamit pada istri dan mertuanya Rama pun pergi meninggalkan rumah itu. Sepertinya Rama masih kesal dengan ucapan Vika semalam.


"Aku mau ke cafenya Ovi. Aku mau temui Safia di sana," ucap Rama.


Rama kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah sampai ke cafe, Rama pun akhirnya sampai juga di depan cafe.


Rama menatap sekeliling. Namun cafe itu masih tampak sepi.


"Safia ke mana ya. Dia sudah berangkat apa belum," ucap Rama.


Rama menatap seorang wanita yang sedang memarkirkan motornya di tempat parkir. Rama buru-buru turun dari mobilnya dan melangkah mendekat ke arah wanita itu.


"Permisi Mbak," ucap Rama.


Iren menoleh ke arah Rama. Iren terkejut saat melihat Rama.


Pak Rama mau ngapain nyamperin aku. Bukankah semalam istrinya sudah membuat keributan di cafe ini, batin Iren.


"Eh, Pak Rama. Ada apa?" tanya Iren.


"Oh. Sekarang Safia nya shift siang Pak. Habis dzuhur dia datangnya."


"Boleh tahu alamat kontrakan barunya dia nggak?"


"Untuk apa Pak?"


"Aku mau ke rumahnya. Mau minta maaf sama dia soal sikap istri aku semalam."


"Oh. Rumahnya dekat sini kok Pak."


"Bisa kamu tunjukkan aku di mana rumahnya Safia?"


Iren tampak bingung.


Kalau aku tunjukkan alamat rumah barunya Safia pada Pak Rama, Safia marah nggak ya, batin Iren.


"Mbak, kenapa diam aja?"


"Oh. Rumah kontrakan Safia dekat masjid Pak."


"Masjid yang mana?"


"Masjid dekat sini lah. Tuh lihat, kalau jalan lurus terus ke sana kan ada Masjid. Rumahnya dekat masjid. Cari saja Pak. Maaf Pak. Saya tidak bisa lama-lama di sini. Saya sudah terlambat."


Iren kemudian buru-buru melangkah masuk ke dalam cafe.

__ADS_1


"Masjid yang mana. Emang di sana ada masjid. Ih tuh orang. Nggak jelas banget kalau nunjukin alamat orang."


Setelah Iren masuk ke dalam cafe, Rama kemudian melangkah kembali ke mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Setelah itu Rama pun meluncur untuk ke arah masjid di mana tadi yang Iren tunjukan.


Sesampainya di depan masjid, Rama pun menatap sekeliling.


"Ini ada masjid. Tapi di mana kontrakan Anna? ah apa wanita itu udah bohongin aku. Di sini seperti nggak ada rumah kontrakan."


Rama yang sejak tadi masih kebingungan turun dari mobilnya. Dia kemudian bertanya pada seorang lelaki yang kebetulan lewat di depannya.


"Pak, kenal Safia nggak?" tanya Rama pada lelaki itu.


"Safia siapa?"


"Wanita yang baru ngontrak rumah di dekat sini."


"Maaf Mas. Saya nggak tahu siapa Safia. Tapi kalau wanita yang baru ngontrak rumah di sini, saya tahu. Itu rumahnya."


Bapak itu menunjuk ke arah rumah kecil yang bercat hijau.


"Tapi sepertinya rumahnya sepi terus Mas."


"Iya. Nanti saya ke sana. Mungkin betul kalau itu rumah temanku. Makasih banyak ya Pak."


"Iya. Sama-sama."


Rama berjalan untuk ke rumah kecil yang ditunjukan bapak itu. Sesampainya di depan rumah itu, Rama mengetuk pintu rumah itu.


Tok tok tok ...


"Assalamualaikum..." ucap Rama.


Beberapa saat kemudian, Safia membuka pintu rumahnya. Safia terkejut saat melihat kedatangan Rama.


Safia akan menutup pintunya kembali, namun Rama buru-buru menghalanginya.


"Mau ngapain kamu ke sini Mas. Dari mana kamu tahu kontrakan aku," ucap Safia dengan tatapan nanar.


"Safia. Jangan tutup pintunya Safia. Biarkan aku masuk. Aku ingin bicara sama kamu. Sebentar aja Safia."


"Aku nggak akan pernah membiarkan kamu dekat lagi dengan Anna. Pergi kamu Mas. Pergi...!"


"Kenapa aku nggak boleh dekat dengan Anna Safia. Katakan kenapa? apa alasannya? kenapa kamu nggak membolehkan aku dekat dengan Anna? "


"Karena kamu akan membawa pengaruh buruk untuk anak aku Mas. Kamu tuh lelaki jahat. Kamu sudah menghancurkan aku, dan masa depan aku. Aku nggak mau nasib anak aku sama seperti aku."


"Safia. Aku sudah berubah Safia. Aku menyesal dengan semua perbuatan yang pernah aku lakukan ke kamu. Aku mohon Safia. Aku ke sini bukan untuk ketemu Anna. Tapi aku ke sini mau ketemu kamu. Aku ingin bicara baik-baik dengan kamu. Aku mohon, jangan benci aku Safia. Aku ke sini mau minta maaf."


"Nggak. Aku nggak akan pernah maafin kamu."


Sekuat tenaga Rama masih menghalangi Safia menutup pintu. Setelah Safia lelah karena Rama yang masih nekat ingin masuk ke dalam rumahnya, akhirnya Safia pun menyerah.


Dia kemudian membuka pintu itu lebar-lebar dan menangis di depan Rama.


"Hiks...hiks... kenapa kamu datang ke sini Mas. Kenapa...! aku benci sama kamu. Sebenarnya aku sudah nggak mau melihat wajah kamu lagi. Aku nggak bisa melupakan apa yang sudah kamu lakukan padaku Mas."

__ADS_1


"Safia, menangislah jika kamu ingin menangis. Asal kamu tahu Safia. Kalau selama ini aku selalu mencari keberadaan kamu. Aku selama ini selalu dihantui rasa bersalah. Apa yang harus aku lakukan. Agar kamu mau maafin aku dan tidak lagi membenciku."


__ADS_2