
Sore ini, Anna masih mengurung dirinya di dalam kamar. Sejak tadi pagi dia belum keluar dari kamarnya. Membuat Safia dan Rama bingung karena saat ini Anna sedang sakit. Dan dia belum makan sejak tadi pagi.
"Coba sana Safia. Bujuk Anna lagi. Siapa tahu dia mau keluar. Kasihan, dia lagi sakit. Dia belum makan kan dari tadi pagi?"
"Belum Mas."
"Ya udah, sana. Kamu bujuk dia lagi. Aku mau pamitan sama dia. Aku mau pulang. Dari kemarin aku belum pulang ke rumah. Aku gerah mau ganti baju."
Safia mengangguk. Dia kemudian bangkit dari duduk dan mendekati kamar Anna.
"Anna... Anna sayang, keluar dong sayang. Bunda kan udah minta maaf sama Anna. Apa Anna nggak mau maafin bunda? Anna kok tega gitu sama bunda."
"Aku kecewa sama bunda. Bunda pembohong. Aku benci sama bunda...!" hanya ucapan itu, yang Anna ulang- ulang sejak tadi pagi.
"Anna, ayah mau pulang. Udah dari tadi pagi dia ke sini. Kamu nggak mau, kasih peluk dan cium ayah? katanya kamu kangen sama ayah," ucap Safia.
Rama berjalan dan mendekati Safia.
"Sayang. Buka pintunya sayang. Ayah mau pulang dulu ya An. Besok ayah ke sini lagi."
Tak ada sahutan dari dalam kamar Anna.
"Mas, aku khawatir sama Anna Mas. Dia sepertinya marah banget sama aku."
"Sudah, biar aku aja yang bujuk Anna."
Rama mengetuk pintu Anna.
Tok tok tok...
"Anna. Anna buka pintunya sayang. Anna sayang nggak sih, sama ayah dan bunda. Ayah dan bunda nggak akan pernah ninggalin Anna lagi sekarang. Kami akan selalu ada buat Anna. Anna pengin apa, dan Anna pengin kemana? apa Anna mau, kalau ayah ajak bunda dan Anna jalan-jalan?" ucap Rama.
Beberapa saat kemudian, Anna membuka pintu kamarnya. Safia dan Rama tersenyum saat melihat Anna
Rama berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Anna. Dia kemudian mencium kening Anna dan ke dua pipinya.
"Anna, ini ayah kamu sayang. Ayah yang selama ini kamu rindukan dan kamu cari-cari keberadaannya. Dan sekarang ayah ada di depan kamu."
Anna menatap ibunya lekat.
"Bun, benarkah kalau Om Rama adalah ayah kandung aku?"
"Iya sayang. Maafin bunda ya, karena bunda nggak jujur sama kamu. Selama ini bunda selalu menutup-nutupi kebenaran ini karena bunda takut kehilangan Anna."
Anna kembali menatap Rama.
"Ayah, jangan tinggalin aku ayah..." ucap Anna sembari memeluk ayahnya lekat.
"Iya sayang. Ayah nggak akan ninggalin kamu."
__ADS_1
Anna melepaskan pelukannya.
"Ayah, jangan pulang. Apa ayah mau tetap di sini sama Anna. Anna pengin ayah nginap di sini. Semalam aja ayah. Anna rindu sama ayah."
Cairan bening sudah berkumpul di pelupuk mata Rama. Rama sangat terharu saat Anna memanggilnya Ayah. Rama jadi tidak tega untuk meninggalkan Anna.
Setetes air mata Rama membasahi pipinya.
"Ayah jangan nangis," ucap Anna sembari mengusap air mata ayahnya.
"Ayah nggak apa-apa. Ayah cuma terharu aja Anna." Rama mengusap sisa-sisa air matanya.
"Anna, ayah kamu mau pulang dulu. Dia belum pulang dari kemarin. Nanti dia ke sini lagi," ucap Safia.
"Bunda, aku kangen sama ayah. Aku ingin malam ini ayah nginap di rumah kita."
"Tapi Anna..." Safia meninggikan nada suaranya, tampak kesal dengan keinginan Anna.
Rama bangkit berdiri.
"Safia, sudahlah jangan marah sama Anna. Iya, aku akan nginap di sini, seperti permintaan Anna."
Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.
"Kamu mau nginap di sini Mas?" Safia menatap Rama tajam. Sepertinya dia tidak suka dengan keinginan Anna dan Rama.
"Iya Safia.Izinkan aku untuk nginap di sini, malam ini aja Safia."
****
Seperti keinginan Anna, Rama akan menginap di rumah Anna malam ini. Safia pun sudah tidak bisa melarangnya lagi.
Safia, Anna dan Rama saat ini, sudah berada di ruang makan. Mereka masih menikmati makan malamnya.
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Rama sejak tadi masih berbunyi. Namun Rama hanya membiarkannya saja karena yang menelponnya itu Vika. Rama tidak mau ada yang menggangu momen-momen indahnya bersama Anna dan Safia.
"Mas, siapa sih yang nelpon? telpon kamu dari tadi bunyi kenapa nggak kamu angkat?" tanya Safia do sela-sela kunyahannya.
"Biarin. Biasa istri aku."
"Di angkat dong. Siapa tahu penting Mas."
"Biarin ajalah. Pasti nggak penting. Paling dia juga akan nanyain di mana aku dan kenapa nggak pulang. Aku nggak mau dia mengganggu waktuku bersama kalian," ucap Rama santai.
"Mas, jangan gitu dong. Kasihan kan istri kamu, dari kemarin nungguin kamu. Dan berisik tahu."
"Ya udah deh. Aku angkat."
__ADS_1
Rama kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja untuk mengangkat panggilan dari istrinya.
"Halo..."
"Halo Mas, akhirnya kamu angkat juga telpon dari aku. Kamu ada di mana sih, kenapa dari kemarin kamu nggak pulang?"
"Aku lagi sibuk banget Vik. Makanya aku semalam lembur di kantor."
"Terus sekarang kamu lagi ada di mana? masih di kantor? kenapa udah malam begini, belum pulang? apa kamu mau nginap di kantor lagi?"
"Yah, nggak tahu Vik. Lihat aja nanti. Kalau aku kerjaannya belum beres, ya terpaksa aku nginap lagi."
"Kamu lagi ngerjain apa sih sebenarnya? kamu nggak bohong kan sama aku? kamu ada di kantor kan sekarang."
"Iya. Aku nggak bohong. Untuk apa aku bohong. Aku memang lagi ada di kantor sekarang."
"Ya udahlah kalau begitu. Aku tutup dulu teleponnya. Liza nya udah manggil-manggil."
"Iya."
Rama kemudian menutup saluran telponnya.
"Kenapa kamu bohongin istri kamu?" tanya Vika menatap Rama sembari menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
"Lalu, aku harus bilang apa sama istriku. Aku harus jujur gitu, aku lagi di rumah wanita? pulang-pulang, bisa di geprek aku Safia sama istriku."
Safia tersenyum.
Ih Mas Rama, dia takut juga ternyata sama istrinya. Gayanya, dia ingin menikahi ku dan menceraikan istrinya. Dia saja takut gitu sama istrinya, batin Safia.
Anna yang sejak tadi masih menikmati makanannya menatap ayahnya lekat.
"Ayah, ayah jangan pulang ya malam ini. Anna pengin tidur bareng ayah," ucap Anna.
Rama tersenyum.
"Iya sayang. Ayah akan tidur di kamar Anna. Asal Anna jangan suruh ayah tidur sama bunda Anna aja. Soalnya kita belum menikah, "ucap Rama.
"Iya ayah."
Anna menyantap makanannya kembali. Setelah itu dia kembali menatap ayahnya.
"Ayah, kenapa ayah nggak nikah aja sama bunda. Biar ayah bisa tidur bareng bunda?"
Safia terkejut saat mendengar ucapan anaknya. Safia dan Rama saling menatap sebelum mereka menatap kembali anak mereka.
"Anna, kalau makan ya makan aja. Nggak usah sambil bicara. Nggak boleh makan sambil bicara," ucap Safia kesal.
"Bunda dan ayah juga tadi makan sambil ngobrol. Masa aku nggak boleh sih ikut ngobrol." Anna cemberut saat dimarahi bundanya. Dia hanya bisa menundukan wajahnya.
__ADS_1
"Safia sudahlah, jangan marahi Anna. Kasihan kan Anna, kalau dimarahin terus. Maklumin aja, dia kan masih kecil," ucap Rama.