Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Keinginan Anna


__ADS_3

"Shakira, tadi istri Rama sebenarnya mau ngapain ke sini?" tanya Pak Junedi menatap Shakira lekat.


"Biarin aja lah Bu, Pak, nggak usah difikirin. Dia itu lagi nyariin suaminya. Katanya suaminya nggak pulang dua malam. Terus wanita itu fikir, suaminya ada di sini," jelas Shakira.


"Rama nggak pulang ke rumahnya dua malam? terus kenapa dia harus nyariin suaminya ke sini?" tanya Bu Astri.


"Aku juga nggak tahu Bu. Mungkin dia curiga kalau aku punya hubungan dengan Mas Rama. Kata Mas Rama kan, istrinya itu cemburuan dan curigaan banget."


"Kalau begitu, kemana ya Rama." Bu Astri diam dan tampak berfikir.


"Mana aku tahu. Nggak penting ngurusin orang lain. Apalagi ngurusin keluarganya mantan suami. Istrinya aja bar-bar gitu. Aku yakin tuh, kalau Mas Rama pasti nggak akan bertahan lama dengan wanita seperti itu."


"Shakira, jangan bicara seperti itu. Ucapan adalah doa. Doakan yang baik-baik saja untuk mereka," ucap Pak Junedi.


"Aku kesel banget tahu nggak sih Pak, dia udah nuduh aku sembarangan dan teriak-teriak di rumah aku pagi-pagi gini. Malu-maluin banget tahu nggak sih kalau di dengar tetangga."


"Sudahlah, sabar aja Shakira. Kita lanjut makan aja ya. Nggak usah mikirin wanita itu."


"Iya Bu."


Setelah Vika pergi dari rumah Shakira, Shakira dan keluarganya kemudian mulai makan bersama.


****


Pagi ini, Rama sudah rapi dengan baju kantornya. Saat ini, Rama masih berada di rumah Safia. Semalam dia nginap di rumah Safia atas permintaan Anna anaknya.


Rama keluar dari kamar Anna dan melangkah ke ruang makan.


"Sarapan dulu Mas kalau mau ke kantor," ucap Safia sembari menyajikan makanan di atas meja.


"Iya Safia. Kapan kamu mau periksakan Anna ke dokter? kalau mau sekarang, nanti aku antar." tanya Rama.


"Nggak tahu Mas. Anna sepertinya juga udah turun kan panasnya. Semalam dia juga kelihatannya nyenyak banget tidurnya."


"Iya sih."


"Sepertinya dia seneng banget Mas, tidur sama kamu."


"Iya lah. Dia pasti senang. Dia kan sudah dari dulu merindukan seorang ayah. Apalagi sekarang dia tahu, kalau aku adalah ayah kandungnya. Dia pasti bahagia banget."


Rama menarik kursi. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


"Mas, Anna masih di kamar kan?" tanya Safia sembari mengambil piring.

__ADS_1


"Iya. Dia masih nyenyak malah. Tadi dibangunin nggak mau," jawab Rama.


Safia kemudian mencedokan nasi dan lauk ke atas piring itu.


"Ini mas." Safia menyodorkan piring itu di depan Rama.


Rama tersenyum.


"Makasih ya Safia. Kamu baik banget sekarang sama aku."


Safia menghempaskan tubuhnya di atas kursi dan duduk di dekat Rama. Dia kemudian mengambil piring dan mencedokan nasi untuk dirinya sendiri. Setelah itu Safia mengambil ayam goreng dan meletakannya di atas piringnya.


"Mas, kamu itu ayah dari anak aku. Maaf kalau selama aku sudah menyembunyikan rahasia tentang Anna. Aku memang takut kehilangan Anna."


"Nggak apa-apa Safia. Sekarang kan aku sudah tahu kalau Anna itu anak kandung aku. Dan Anna juga sudah tahu kalau aku adalah ayahnya. Udah nggak ada masalah lagi kan sekarang."


Safia diam.


"Masalahnya, ada sama istri kamu Mas."


Rama mengernyitkan alisnya.


"Kenapa emang dengan istri aku?" tanya Rama. Setelah itu dia menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.


"Aku nggak tahu, bagaimana reaksi istri kamu, kalau dia nanti tahu Anna itu anak kamu. Apakah kamu akan tetap merahasiakannya Mas?"


"Nggak Safia. Anna itu anak kandung aku. Sudah seharusnya semua orang tahu kalau dia anak aku. Aku nggak mau menyembunyikan identitas Anna ke orang lain. Aku akan mengakuinya di depan semua orang kalau Anna adalah anak kandung aku."


"Tapi Mas, itu sama saja kamu membuka aib kita Mas."


"Tapi Anna juga berhak atas harta yang aku punya Safia. Aku nggak akan membedakan Anna dengan Liza. Semua orang harus tahu Anna juga anak kandung aku."


Safia diam. Dia tidak tahu maksud Rama bicara soal harta. Mungkinkah, Rama akan mewariskan hartanya untuk Anna juga.


Safia tahu Rama itu seorang direktur perusahaan. Walau perusahaan yang dia kelola adalah perusahaan milik mertuanya. Namun Safia yakin, kalau sebagian ada harta Rama di dalam perusahaan itu. Apalagi, Rama juga sudah lama mengelola perusahaan itu.


Safia terkejut saat tiba-tiba saja Rama memegang tangannya dan menggenggamnya erat.


"Safia, sekarang kamu nggak usah mikirin biaya kehidupan kamu dan Anna. Karena setiap bulan aku akan memberikan kalian jatah."


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.


"Ka-kamu yakin Mas dengan ucapan kamu?" tanya Safia dengan terbata.

__ADS_1


"Ya, anggap aja itu nafkah buat Anna. Karena aku masih wajib menafkahi Anna."


"Makasih banyak ya Mas, atas semua kebaikan kamu."


"Iya Safia. Aku akan memberikan kamu, sama besar seperti aku memberikan nafkah untuk istri aku."


Setelah menghabiskan makanannya, Rama mengambil gelas dan minum satu gelas air putih. Setelah itu dia menatap Safia.


"Safia, aku ke kantor dulu ya. Kalau Anna tanya, bilang aja besok aku akan datang lagi ke sini."


"Iya Mas."


Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia keluar dari rumah Safia. Sementara Safia hanya bisa mengekor di belakang Rama.


"Hati-hati ya Mas."


"Iya."


Rama masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia meluncur pergi meninggalkan rumah Safia.


Setelah Rama pergi, Safia masuk ke dalam rumahnya kembali.


"Bunda..." suara Anna sudah terdengar dari dalam kamar.


Safia buru-buru masuk kamar untuk melihat Anna di dalam kamar.


"Anna, kamu sudah bangun? gimana sayang keadaan kamu sekarang?" tanya Safia.


"Aku udah nggak apa-apa kok Bun," ucap Anna sembari beringsut duduk.


Anna kemudian menatap bundanya lekat dan menatap sekeliling.


"Di mana ayah?'' tanya Anna.


"Ayah kamu sudah berangkat kantor," jawab Safia.


"Lho, kok aku nggak dibangunin? kenapa ayah nggak izin dulu sama aku kalau dia mau pergi."


"Anna, kamu kan masih sakit. Kata ayah kamu, besok dia akan ke sini lagi. Sudah dua malam dia nggak pulang. Pasti sekarang Liza lagi nungguin Karena Liza juga kan habis sakit. Dia pasti pengin ketemu juga sama papanya."


"Bunda, kan Liza udah setiap hari sama ayah. Kalau aku, baru satu malam sama ayah. Aku pengin ayah temani aku terus. Aku pengin bobok sama ayah terus Bun."


"Ya nggak bisa gitu dong sayang. Ayah kamu itu kan punya keluarga. Ayah kamu masih punya istri dan anak. Dia nggak mungkin bersama kamu terus. Kamu harus ngerti dong posisi ayah kamu sekarang."

__ADS_1


"Iya bunda. Aku tahu itu. Aku tahu siapa ayah kandungku aja, aku sudah seneng banget. Aku nggak berharap lebih dari ayah. Terserah ayah saja mau ke sini kapan."


"Nah gitu dong. Baru namanya anak bunda."


__ADS_2