Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Amukan Vika


__ADS_3

Bruak...


Prang... prang...


Bik Ijah dan Liza terkejut saat mendengar suara benda jatuh dari ruang tamu.


Liza dan Bik Ijah saling menatap.


"Bik, suara apa itu bik ?" tanya Liza.


Bik Ijah menggelengkan kepalanya.


"Ngga tahu Non," jawab Bik Ijah.


"Tunggu di sini ya Non. Bibik Lihat ke depan."


Liza mengangguk. "Iya Bik."


Bik Ijah bangkit dari jongkoknya. Setelah itu dia melangkah untuk melihat ke ruang tamu.


Bik Ijah terkejut saat melihat barang-barang yang ada di ruang tamu pecah berantakan. Vika yang sudah memecahkan semua barang-barang itu.


"Ya Allah, Bu Vika...! apa yang udah Bu Vika lakukan. Itu semua kan barang-barang kesayangan Bu Tari. Kenapa bisa sampai hancur seperti itu. Vas bunga, Guci, pot bunga. Duh bagaimana ini," ucap Bik Ijah saat melihat banyak barang-barang yang sudah Vika pecahkan di ruang tamu.


Bik Ijah menghampiri Vika. Vika yang sudah hilang kendali menatap Bik Ijah tajam.


"Nggak usah ikut campur masalah aku kamu Bik!" ucap Vika dengan nada tinggi. Setelah itu dia pergi meninggalkan Bik Ijah begitu saja.


Vika melangkah naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menuntaskan amarahnya di sana.


"Kurang ajar! aku benci sama kamu Mas Rama. Kamu harus pergi dari rumah ini Mas. Nggak sudi aku punya suami pengkhianat seperti kamu," geram Vika.


Prang...


Bruak...


Semua barang-barang yang ada di kamar Vika pun, ikut hancur akibat amukan Vika. Vika sudah membuang semua bantal-bantalnya. Dia juga memecahkan barang-barang apa saja yang bisa dia pecahkan.


Cermin rias Vika pun ikut hancur berantakan. Gara-gara dilempari Vika dengan parfum dan alat-alat kosmetiknya.


Bik Ijah masuk kembali ruang tengah dan menghampiri Liza.


"Mama kenapa Bik?" tanya Liza menatap Bik Ijah lekat.


"Sssttt. Biarkan mama kamu sendiri dulu. Biarkan dia tenang dulu. Jangan di ganggu dulu ya sayang. Bibik yakin, kalau mama kamu sekarang lagi punya masalah besar dengan Papa kamu," ucap Bik Ijah.


Liza mengangguk."Iya Bik," ucap Liza.


"Ayo Non, kita ke kamar bibi aja," ajak Bik Ijah pada Liza.


"Iya. Bik."

__ADS_1


Liza menurut untuk ikut Bik Ijah ke kamarnya.


*


Bu Tari, yang sedang istirahat merasa terganggu dengan suara amukan Vika. Dia mengerjapkan matanya dan menatap ke sekeliling.


"Duh,suara apa itu sih. Berisik sekali. Nggak tahu ada orang sakit begini apa, " ucap Bu Tari.


"Bik...Bik Ijah..." seru Bu Tari.


Bik Ijah yang dipanggil tidak menyahut. Sepertinya dia sedang ada di kamar pembantu bersama Liza.


Di kamarnya Bik Ijah menatap Liza lekat.


"Non Liza tunggu di sini aja ya. Jangan ke mana-mana. Bibik mau lihat Oma dulu. Oma tadi lagi tidur. Bibik takut dia terbangun,"


"Iya Bik. Jangan lama-lama ya."


Bik Ijah mengangguk. Setelah itu Bik Ijah pergi meninggalkan kamarnya, dan berjalan ke ruang tengah. Samar-samar dia mendengar seruan Bu Tari dari kamar.


"Bik...! Bik Ijah...!" seru Bu Tari.


Bik Ijah yang mendengar seruan Bu Tari, buru-buru masuk ke dalam kamar Bu Tari.


"Bu Tari, ibu udah bangun?" tanya Bik Ijah. Dia kemudian mendekat ke arah Bu Tari. Dia kemudian duduk di sisi tempat tidur Bu Tari.


"Kenapa di luar berisik sekali. Ada apa sebenarnya Bik?" tanya Bu Tari penasaran.


"Itu bu Vika Bu. Saya nggak tahu kenapa? pulang-pulang dia ngamuk-ngamuk dan mecahin semua perabot rumah."


"Saya juga nggak tahu Bu Tari. Sepertinya dia lagi ada masalah sama suaminya."


"Masalah? masalah apa?" tanya Bu Tari.


"Saya juga kurang tahu Bu."


"Tolong antar saya untuk ketemu Vika."


"Bu Vika udah naik ke atas. Di kamarnya, dia juga sepertinya ngamuk-ngamuk lagi. Mending biarkan saja dia sendiri dulu Bu."


"Kalau Liza?"


"Liza saya singkirkan dulu ke kamar saya."


"Duh, bisa habis kalau gini, barang-barang berharga ku. Tolong bantu aku duduk. Aku pengin keluar." Bu Tari sudah mengulurkan tangannya di depan Bik Ijah.


"Baik Bu."


Bik Ijah kemudian membantu Bu Tari untuk duduk.


"Tolong ambilkan aku kursi roda, aku ingin keluar. Aku ingin melihat Liza."

__ADS_1


"Baik Bu."


Bik Ijah kemudian mengambil kursi roda untuk Bu Tari.


"Ayo Bu, biar bibi bantu ibu untuk duduk di kursi roda," ucap Bik Ijah.


Dia kemudian membantu Bu Tari untuk naik ke atas kursi rodanya. Setelah itu Bik Ijah mendorong kursi roda itu keluar dari kamar Bu Tari.


****


Di dalam kamarnya, Vika sudah mengambil koper besarnya. Dia meletakan koper itu di atas tempat tidurnya


"Aku nggak terima Mas Rama nyakitin aku seperti ini. Lebih baik aku usir saja dia dari sini," ucap Vika


Vika mendekat ke lemarinya. Dia kemudian mengambil semua baju-baju Rama dari lemari itu. Dia kemudian mulai mengepaki baju-baju itu ke dalam koper.


Beberapa saat kemudian, Liza masuk ke dalam kamar Vika. Dia terkejut saat melihat ibunya sedang mengemasi barang-barang.


"Mama, mama mau ke mana? mama jangan pergi Ma," ucap Liza.


Dia kemudian menghampiri Vika.


Vika menatap Liza lekat.


"Bukan Mama yang mau pergi Liza, tapi papa kamu. Dia yang seharusnya pergi dari sini."


Liza terkejut saat mendengar ucapan ibunya.


"Apa! jadi mama mau ngusir Papa Ma. Aku mohon Ma, jangan usir papa dari sini."


"Liza, papa kamu itu udah jahat sama kita. Orang jahat itu tidak seharusnya ada di tengah-tengah kehidupan kita."


"Tapi Ma, papa nggak jahat Ma. Papa sayang sama Liza. Iya sih, Liza tahu kalau Papa itu jarang punya waktu untuk kita. Tapi setiap hari dia kan kerja Ma. Buat menghidupi keluarga kita."


Vika menghentikan aktivitasnya. Dia kemudian menatap Liza tajam. Tampaknya Vika tidak suka kalau Liza lebih membela ayahnya dari pada dia.


"Liza, mulai sekarang kamu ngga usah belain papa kamu lagi. Dia itu udah jahat sama kita. Dia udah nikah lagi Liza."


Liza terkejut saat mendengar ucapan Vika.


"Apa! nikah lagi? nikah sama siapa Ma?" tanya Liza penasaran.


"Dia udah nikah sama wanita yang namanya Safia. Pelayan yang ada di cafenya Tante Ovi."


Liza terkejut saat mendengar ucapan ibunya.


"Ja-jadi. Papa nikah sama ibunya Anna?"


Vika terkejut saat mendengar ucapan anaknya.


"Ibunya Anna? jadi Safia ibunya Anna. Itu artinya, Safia kakak beradik sama Mbak Shakira."

__ADS_1


"Iya Ma. Aku memang udah lama tahu tentang hubungan Tante Safia, Anna, dan Mbak Shakira. Mereka itu satu keluarga. Karena waktu itu, Papa pernah ngajak aku ke rumah kontrakan Mbak Shakira." Dan aku kenalan sama keluarga Mbak Shakira."


Vika menghela nafas dalam. Ternyata anaknya lebih tahu segalanya dari pada dia.


__ADS_2