
Sore ini, Rama masih berada di ruang kerjanya. Sejak tadi Rama masih fokus ke layar monitornya.
"Aku mau ke rumah Safia. Nggak apa-apa kalau Safia nggak ada di rumah. Aku kan bisa ketemu sama Anna."
Rama mematikan layar monitornya. Setelah itu dia mengambil jas dan memakainya.
Rama bangkit berdiri. Dia kemudian mengambil ponselnya dan keluar dari ruangannya.
Rama berjalan ke arah parkiran mobil untuk mengambil mobilnya. Setelah itu dia pun masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan kantornya.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari kantor sampai ke rumah Safia, Rama kemudian menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di depan rumah Safia.
Rama turun dari mobilnya. Setelah itu dia berjalan sampai ke teras depan rumah Anna.
Tok tok tok...
Rama mengetuk pintu rumah Anna. Beberapa saat kemudian, Anna membuka pintu rumahnya. Anna terkejut saat melihat kedatangan Rama.
"Om Rama," ucap Anna dengan mata berbinar-binar.
Rama mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Anna. Setelah itu dia menatap lekat Anna.
"Anna. Om kangen sama Anna. Apa Anna kangen juga sama Om?" tanya Rama.
Anna tersenyum.
"Aku juga kangen sama Om," jawab Anna.
Anna yang sudah lama tidak bertemu Rama, sangat merindukan Rama. Tanpa aba-aba, Anna pun langsung memeluk Rama dengan erat.
"Om. Aku kangen banget sama Om.."
Sesaat kemudian, Rama melepaskan pelukannya.
"Sayang, mana Mama kamu? dia masih ada di cafe?"
"Iya Om. Mama aku masih kerja dan belum pulang. Kalau Om mau masuk, masuk aja Om. Om kan udah baikan sama mama. Jadi mama nggak akan marah kalau Om masuk ke dalam rumah Anna."
"Iya sayang. Ayo kita masuk." Rama mengajak Anna masuk ke dalam.
Setelah Anna dan Rama masuk ke dalam, mereka kemudian duduk bersama di sofa ruang tamu.
"Om ke sini nggak bawa apa-apa An. Om takut bunda kamu marah, kalau Om membawakan kamu sesuatu buat kamu."
"Anna nggak butuh apa-apa Om. Om mau menemui Anna, itu sudah lebih cukup untuk Anna Om." Anna bahagia karena dia bisa bertemu dengan Om baiknya itu.
Rama tersenyum.
"Mama kamu biasanya pulang jam berapa?"
"Nggak mesti Om. Biasanya sore dia juga udah pulang. Tapi kalau cafe lagi rame, Mama pulangnya malam."
__ADS_1
"Oh..." Rama mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O.
Rama terkejut saat melihat ekspresi wajah Anna berubah. Yang tadi ceria, mendadak Anna murung.
"Anna, kamu kenapa?" Rama tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Anna.
"Om, aku sedih banget Om." Anna mulai bicara.
"Sedih kenapa?" Rama menatap manik mata Anna. Mencoba mencari tahu apa yang membuat gadis kecil kesayangannya itu murung.
"Aku sedih karena tadi siang, ada anak di sekolah aku yang usil sama aku Om."
"Usil gimana?" Rama masih tidak mengerti.
"Dia udah ngempesin ke dua ban sepeda aku Om," jelas Anna.
Rama terkejut saat mendengar cerita Anna.
"Apa! siapa yang sudah melakukan itu An?" Rama tampak geram mendengar ucapan Anna.
"Anna juga nggak tahu Om. Pas Anna mau pulang, ke dua ban sepeda Anna kempes. Dan Anna nggak bisa pulang deh." Anna melanjutkan ceritanya.
"Terus, Anna pulang sama siapa?"
"Anna pulang sama Pak guru."
Rama manggut-manggut mengerti dengan cerita Anna.
"Sepeda aku ada sama Pak Evan guru aku. Katanya Pak Evan mau bawa sepeda aku ke bengkel."
Kasihan sekali Anna. Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Anna. Jika aku membelikan sepeda baru untuk Anna, apa Safia nggak akan marah sama aku.
"Anna mau ikut Om nggak? mumpung bunda Anna belum pulang. Om mau ajak Anna ke suatu tempat "
"Om mau ngajak aku ke mana?"
"Ayo ikut Om."
Rama dan Anna bangkit dari duduknya. Rama kemudian mengajak Anna keluar. Mereka berdua berjalan sampai ke mobil Rama.
"Sekarang kamu masuk!" pinta Rama menyuruh Anna masuk ke dalam mobilnya.
Anna menatap Rama lekat.
"Kita mau ke mana Om?"
"Masuk aja. Nanti kamu akan tahu sendiri."
"Iya Om."
Anna masuk ke dalam mobil Rama. Setelah itu Rama pun mengikuti Anna masuk ke dalam mobil. Rama pun kemudian meluncur pergi mengajak Anna.
__ADS_1
****
Safia mengambil jaket yang ada di dalam tasnya. Sebelum pulang, Safia memakai jaketnya.
Safia mendekat ke arah Iren yang sama-sama sedang bersiap-siap mau pulang.
"Ren, aku duluan ya," ucap Safia.
"Iya Saf. Hati-hati ya Saf."
Safia kemudian pergi meninggalkan cafe. Dia berjalan kaki untuk sampai ke rumah kontrakannya.
Sesampainya di depan rumah kontrakan, Safia membuka pintu rumah itu.
"Assalamualaikum. An... Anna..." Safia memanggil-manggil anaknya. Namun tampaknya Anna tidak ada. Karena sejak tadi belum ada sahutan dari dalam rumah itu.
Safia berjalan masuk ke dalam untuk mencari Anna. Namun ternyata Anna tidak ada di rumah.
"Lho, Anna kemana ya. Kenapa dia nggak ada di dalam." Safia merasa khawatir dengan Anna. Safia takut anaknya itu pergi main dan sampai larut malam belum pulang ke rumah.
"Anna ke mana ya. Kenapa dia nggak ada di dalam. Apa jangan-jangan dia lagi ke warung"
Safia kembali ke depan. Safia terkejut saat ada sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
"Itu siapa ya." Safia sama sekali tidak mengenali mobil Rama. Walau dia sudah melihat beberapa kali mobil Rama, tapi Safia tidak mengingatnya.
Beberapa saat kemudian, Rama dan Anna turun dari mobilnya. Safia terkejut saat melihat mereka.
Safia buru-buru menghampiri Rama dan Anna.
"Mas Rama, Anna, kalian dari mana?" Safia menatap tajam ke arah Rama dan Anna. Dia seperti tidak suka melihat kedekatan Rama dan Anna.
"Maaf Saf. Aku tadi sore yang ngajak Anna pergi. Jangan marah sama Anna. Aku yang salah karena sudah ngajakin anak kamu pergi."
"Emang kalian dari mana sih?"
"Aku baru beliin sepeda untuk Anna. Tolong Safia, terima ya. Aku cuma kasihan aja sama anak kamu. Katanya sepeda Anna itu ada yang ngerusak sepeda Anna. Jadi aku beliin Anna sepeda lagi."
"Ya udah. Aku nggak akan marah. Anna, lain kali kalau mau pergi, bilang dulu ya sama bunda. Jangan main pergi begitu aja. Bunda kan jadi khawatir."
"Tapi aku kan perginya sama Om Rama Bun."
"Yah, mau sama Om Rama, mau sama Pak Evan atau siapa, pokoknya Anna nggak boleh pergi tanpa izin bunda."
"Iya Bun. Maafin aku ya Bun."
Rama membuka pintu mobilnya. Setelah itu dia mengambil sepeda baru untuk Anna. Rama kemudian membawa sepeda itu sampai ke teras depan rumah Anna.
"Ya udah Safia, Anna. Aku pulang dulu ya. Tolong ya Saf, jangan marahin Anna. Aku yang sengaja maksa dia untuk pergi denganku dan membeli sepeda baru."
"Iya. Nggak apa-apa Mas."
__ADS_1