
"Ya udahlah terserah kamu Vika. Kamu itu dari dulu memang susah untuk di bilangin." Bu Tari tampak kesal dengan anaknya. Mungkin, jika Bu Tari sehat dan bisa berjalan seperti orang normal lainnya, Vika akan pergi dan lupa waktu.
Dia pasti akan lebih banyak di luar rumah dari pada di rumah. Memang sudah sejak dari Vika masih gadis, dia sudah suka jalan-jalan dan pergi-pergi jauh dengan teman-temannya.
Setelah berpamitan pada suami, anak dan ibunya, Vika pun pergi keluar dari rumahnya dengan menyeret kopernya.
Sesampainya di depan rumah, Vika menelpon Bram.
"Halo Bram. Aku sudah siap nih Bram."
"Kamu ke apartemen aku aja sayang. Kamu naik taksi aja dan aku tunggu di sini. Kalau aku ke rumah kamu, aku nggak mau ada yang curiga sama aku. Aku nggak enak sama orang-orang yang melihat kita."
"Iya deh. Aku meluncur ke sana ya Bram."
Setelah Vika pergi, Rama menatap Liza. Liza tampak sedih saat ditinggal ibunya.
"Liza kenapa?" tanya Rama.
Liza menggeleng. "Aku nggak apa-apa."
"Jangan sedih sayang. Kan masih ada Papa, Bik Ijah dan Oma. Nanti papa antar kamu ke sekolah ya? nanti Bik Ijah yang jemput kamu."
"Iya Pa."
Rama dan Liza kemudian berpamitan pada Bu Tari. Setelah mereka berpamitan pada Bu Tari, mereka pun kemudian pergi keluar dari rumahnya.
Liza dan Rama masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
Rama masih fokus menyetir. Sejak tadi, dia masih kefikiran dengan Vika.
Sebenarnya Vika mau ke mana ya, kenapa dia mendadak banget perginya. Ke Bali mau ngapain? masa sih, dia ke Bali sama teman-temannya. Teman-teman yang mana. Seharusnya kan teman-teman Vika itu sekarang sedang sibuk dengan suami dan anaknya. Bisa-bisanya mereka para perempuan jalan-jalan ke Bali tanpa mengajak anaknya. Nggak masuk akal banget sih, batin Rama
Sesampainya di depan sekolah Liza, Rama turun dari mobilnya. Dia kemudian membukakan pintu mobil untuk anaknya.
"Sayang, papa cuma bisa antar kamu sampai sini aja. Nggak apa-apa kan kamu masuk sendiri ke dalam?"
Liza menatap ayahnya lekat.
"Iya. Nggak apa-apa Pa."
"Ya udah, sekarang Liza masuk ke dalam. Papa pergi dulu ya."
Liza mencium punggung tangan Rama sebelum dia masuk ke dalam sekolahnya. Setelah Liza masuk ke dalam sekolah, Rama pun kemudian meluncur pergi meninggalkan sekolah Liza.
****
__ADS_1
Malam ini, Shakira masih duduk di teras depan rumah kontrakannya. Beberapa saat kemudian, Safia dan Anna datang menghampirinya.
Shakira terkejut saat melihat kedatangan mereka.
"Safia, Anna. Tumben banget malam-malam gini datang ke sini. Ada apa?"
"Anna minta main ke sini Mbak. Besok kan dia libur sekolahnya."
"Kalian naik apa ke sini?"
"Naik taksi. Kami berhenti di depan."
Shakira bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menyuruh Anna dan Safia masuk ke dalam.
"Bagaimana kondisi bapak Mbak?" tanya Safia.
"Bapak ada di kamarnya. Dia belum bisa melakukan aktifitas apa-apa. Luka bekas operasinya masih belum sembuh."
"Boleh Mbak, aku masuk ke dalam?"
"Ya udah, ayo dong."
Safia, Anna dan Shakira kemudian melangkah untuk ke kamar Pak Junedi.
"Bapak..." ucap Safia. Dia langsung mencium punggung tangan ayahnya.
"Mbak keluar dulu ya Safia. Ayo An!" Shakira mengajak Anna keluar dari kamar.
Setelah semua orang keluar dari kamar Pak Junedi, Pak Junedi menatap Safia lekat.
"Ada yang ingin bapak tanyakan sama kamu Saf," ucap Pak Junedi
"Bapak mau tanya soal apa?"
"Saf, sebenarnya Anna itu anaknya siapa Saf? siapa ayah kandung Anna? yang bapak lihat-lihat, Anna ini mirip Rama. Apa dia anaknya Rama?"
Safia terkejut saat mendengar pertanyaan dari ayahnya. Haruskah Safia menyimpan rahasia besarnya itu terus menerus dari ke dua orang tuanya.
Safia menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya, Anna itu anaknya Mas Rama Pak. Dulu waktu aku lari dari rumah, aku memang sedang mengandung anaknya Mas Rama."
"Apa!" suara Bu Astri sudah terdengar dari luar kamar.
Bu Astri terkejut saat mendengar ucapan Safia. Dia buru-buru menghampiri Safia.
__ADS_1
"Jadi selama ini kamu udah bohongin ibu dan bapak. Katanya kamu sudah punya suami dan Anna itu anak kamu dari suami kamu, tapi kenapa sekarang kamu bilang Anna itu anaknya Rama."
Safia mendekat ke arah ibunya.
"Ibu. Jangan keras-keras bicaranya. Bagaimana kalau sampai Anna dengar. Aku nggak mau sampai Anna tahu duluan soal ini. Aku belum siap untuk menceritakan semuanya ke Anna."
"Tapi Rama harus tahu Safia soal ini. Biar dia tanggung jawab sepenuhnya dengan masa depan Anna. Dia itu kan sekarang sudah jadi orang kaya. Biarkan dia membantu kamu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Anna. Bagaimana pun juga, seorang ayah itu harus menafkahi anaknya. Apalagi Anna itu darah dagingnya Rama."
"Bu, aku belum siap untuk mengatakan ini sama Mas Rama dan Anna. Tolong Bu, jangan bilang soal ini ke siapa pun apalagi ke Mas Rama dan Anna. Biar aku nanti yang bilang ke mereka soal ini."
"Baiklah. Tapi kamu harus jujur sama Rama tentang siapa Anna."
"Iya Bu. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk bilang ini sama Mas Rama."
Setelah Safia lama ngobrol dengan ayahnya, Safia kemudian berpamitan untuk ke ruang tengah di mana Shakira, Anna, dan Rio berkumpul. Mereka bertiga, duduk di atas tikar sembari menonton tivi.
Safia menghampiri mereka dan duduk di sisi Shakira.
"Mbak, aku punya sedikit rejeki untuk Mbak, bapak dan ibu," ucap Safia sembari merogoh tas kecilnya.
Safia kemudian mengambil beberapa lembar uang ratusan dan dia berikan ke kakaknya.
"Ini Mbak, siapa tahu Mbak lagi butuh uang untuk kontrol bapak ke rumah sakit."
Shakira menatap uang yang ada di genggaman tangannya.
"Banyak banget, ini uang dari mana?"
"Itu uang gaji aku, sama uang bonus dari Bu Ovi. Aku memang sengaja memberikannya untuk Mbak . Siapa tahu Mbak lagi butuh uang untuk berobat bapak."
"Makasih banyak ya Saf. Kamu udah baik banget sama kami."
"Kenapa Mbak harus berterima kasih sampai segitunya. Aku ini kan bukan orang lain, aku ini adiknya Mbak. Sudah kewajiban aku untuk membantu keluarga Mbak."
"Iya Safia."
Shakira menatap Anna lekat.
"An, besok sekolah kamu libur kan An?" tanya Shakira.
"Iya Tante."
"Anna kenapa nggak nginap di sini saja sama Rio dan Tante Shakira." Shakira mengusulkan.
"Aku memang mau nginap di sini sama bunda. Karena kebetulan bunda juga kan libur. Iyakan bun?"
__ADS_1
Safia mengagguk. "Iya."