
"Bunda, aku gerah. Aku mau mandi dulu ya Bun," ucap Anna.
Safia mengangguk. "Ya udah. Kalau Anna mau mandi."
Anna bangkit dari duduknya. Setelah itu dia meninggalkan ruang tamu dan bergegas untuk mandi.
"Saf, yang aku lihat-lihat, anak kamu itu kok mirip Pak Rama ya. Kamu ingat kan Pak Rama yang waktu itu belain kamu waktu kamu dimarahin Pak Dito."
Deg.
Safia terkejut saat mendengar ucapan Iren.
Ya, tidak bisa dipungkiri lagi, kalau Anna itu 70 persen mirip Rama. Dan banyak yang menyadari kemiripan itu. Namun Rama sama sekali tidak menyadari kalau Anna punya kemiripan dengannya. Dan dia juga sama sekali tidak curiga, kalau Anna adalah anaknya.
"Masa sih. Nggak mungkinlah. Anna itu kan mirip ayahnya. Dan ayah Anna ada di kampung dan sudah meninggal. Kalau ada kemiripan dengan Pak Rama, itu cuma kebetulan aja."
"Iya. Mungkin ya. Tapi anak kamu cantik lho Saf. Aku juga seneng banget lihatnya. Udah cantik, imut, lucu, pokoknya gemes deh. Aku jadi pengin punya anak cewek."
"Ya udah, buat lagi aja. Siapa tahu nanti kalau kamu hamil lagi, lahirnya anak cewek."
"Belum ada fikiran ke situ. Aku pengin kerja dulu bantu suami. Biar aku nggak numpang terus sama orang tua. Aku lagi kumpulin uang untuk beli rumah. Aku pengin punya rumah sendiri Saf."
Setelah lama Iren dan Safia ngobrol, akhirnya Iren berpamitan untuk pulang.
"Saf, udah sore Saf. Aku pulang dulu ya Saf."
"Kamu mau pulang ya?" tanya Safia.
"Iya Saf. Nanti anak aku nungguin lagi di rumah."
"Ya udah, kamu ingat kan. Tolong carikan aku kontrakan ya. Pokoknya kontrakan yang letaknya di pinggir jalan gitu. Yang strategis. Jadi nggak perlu masuk-masuk gang gitu."
"Iya deh. Nanti aku carikan. Bila perlu, aku carikan yang dekat rumah aku. Biar nanti kita bisa berangkat dan pulang kerja bareng."
"Makasih ya Ren."
*****
Minggu pagi, Rama sudah berada di ruang makan. Dia masih tampak mengolesi roti dengan selai. Beberapa saat kemudian, Vika datang menghampiri Rama. Dia kemudian duduk di sisi Rama.
"Mas, kamu lagi nggak sibuk kan?" tanya Vika pada suaminya.
Rama hanya menggeleng. Setelah itu dia menyuapkan roti itu ke dalam mulutnya.
"Mas, mau nggak antar aku?"
"Antar ke mana?" tanya Rama di sela-sela kunyahannya.
"Ke rumah sakit," jawab Vika singkat.
__ADS_1
"Siapa emang yang sakit?"
"Aku mau jengukin teman habis lahiran. Dia lahiran sesar di rumah sakit. Dan rencananya aku mau ke sana. Mau jengukin dia," ucap Vika menjelaskan.
"Duh, aku lagi malas pergi ke mana-mana. Kamu pergi sendiri aja Vik. Aku capek," ucap Rama dengan malas.
"Tuh kan, kamu kayak gitu lagi. Kalau aku yang ngajak, pasti kamu selalu nolak."
"Kamu kan bisa bawa mobil, pergi sendiri aja. Ajak sekalian Liza biar seneng. Minggu kemarin kan aku sudah ngajakin kalian jalan. Giliran minggu ini aku di rumah," ucap Rama.
"Ya udah deh. Aku mau pergi sendiri aja ngajak Liza."
Vika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan Rama di ruang makan. Vika masuk ke dalam kamar Liza dan membangunkan Liza.
"Liza sayang, bangun yuk. Udah siang. Kamu mau ikut mama jalan-jalan nggak?" tanya Vika pada Liza yang masih terlelap.
Vika bangkit dari duduknya. Dia melangkah mendekati jendela dan membuka korden jendela. Tidak lupa Vika juga membuka jendela kamar Liza yang membuat Liza merasakan silau.
"Ih... Mama. Kenapa di buka sih jendelanya," gerutu Liza sembari beringsut duduk.
"Biar udaranya masuk ke dalam. Lagian udah siang, matahari aja udah bersinar. Kenapa kamu nggak bangun-bangun sih," ucap Vika menatap anaknya lekat.
Liza mengucek matanya.
"Tapi aku kan masih ngantuk Ma," ucap Liza yang kembali berbaring dan kembali memeluk bantal gulingnya.
"Eh... ini anak. Udah dibangunin, kenapa malah tidur lagi. Ayo bangun Liza...!" Vika melangkah mendekati Liza. Dia kemudian duduk di sisi tempat tidur Liza.
Liza menatap mamanya lekat.
"Kamu mau ikut mama atau mau sama papa di rumah?" tanya Vika pada Liza.
"Aku mau ikut mama deh. Kita mau ngapain ke rumah sakit?"
"Ada teman mama yang lahiran. Mama pengin jengukin teman mama itu ke rumah sakit."
"Teman mama ada yang punya bayi?"
Vika mengangguk.
"Terus kapan dong mama buatin adek bayi untuk aku?"
Vika diam.
"Yah, mama nggak tahu sayang. Itu bukan kehendak mama. Tapi kehendak Tuhan. Kalau Tuhan sudah menghendaki mama hamil dan punya anak lagi, nanti kapan waktunya, juga mama akan hamil dan Liza bisa punya adik lagi."
"Kalau gitu, aku mau berdoa agar Tuhan mau ngasih aku adik. Aku akan berdoa agar mama bisa cepat-cepat hamil."
"Iya sayang. Sekarang kamu siap-siap ya. Mama juga mau siap-siap. Kamu mandi dulu, terus nanti kamu ganti baju. Setelah itu kita berangkat."
__ADS_1
"Kita mau berangkat sama papa?"
Vika menggeleng. "Nggak sayang. Papa capek katanya. Liza pergi sama mama aja ya."
"Iya Ma."
Setelah Liza dan Vika siap, mereka berdua melangkah ke ruang tengah.
"Mas, Shakira udah datang?" tanya Vika pada Rama.
"Iya. Dia lagi nyuci di belakang."
"Tunggu sebentar ya Liz. Mama mau bicara dulu sama Mbak Shakira."
Vika kemudian melangkah ke belakang di mana Shakira berada.
"Mbak, lagi nyuci ya?' tanya Vika.
"Eh, Bu Vika. Iya Bu."
"Hari ini saya mau pergi. Nggak tahu nanti perginya sampai jam berapa. Mamaku masih ada di kamar dan belum makan. Dia lagi nggak enak badan katanya. Tolong nanti kamu antarin mama makanan ya. Nanti kamu suapi dia juga. Soalnya tangan mama itu kan kaku, nggak bisa di gerakin dan nggak bisa makan sendiri."
"Oh siap Bu Vika. Bu Vika mau pergi sama Pak Rama juga?" tanya Shakira.
Vika menggeleng.
"Nggak. Saya mau pergi sama Liza saja. Mas Rama katanya lagi capek. Kayaknya hari ini dia nggak akan kemana-mana."
"Oh. Ya udah Bu. Setelah nyuci nanti aku suapin Bu Tari."
"Makasih ya."
'Iya Bu."
Vika kemudian melangkah kembali ke ruang tengah. Setelah itu dia berpamitan pada Rama
"Mas, aku pergi dulu ya."
"Iya."
Vika mencium punggung tangan Rama. Begitu juga dengan Liza yang ikutan mencium tangan ayahnya.
"Liza juga pergi dulu ya Pa."
"Iya sayang. Kalian berdua hati-hati ya."
"Iya Pa."
Setelah berpamitan dengan Rama, Vika dan Liza kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
****