Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Lelah


__ADS_3

"Safia, kamu Safia kan?" ucap Rama pada wanita yang saat ini ada di depannya.


Safia bingung untuk bicara apa pada Rama. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Rama. Dan sekarang lelaki itu sudah berdiri di depannya.


"Safia, kenapa kamu diam aja?" tanya Rama.


Rama bingung saat melihat Safia yang tiba-tiba saja ada di depannya. Rama tidak menyangka kalau dia akan dipertemukan lagi dengan wanita yang selama ini dia cari. Setelah kejadian malam itu, Rama dan Safia memang belum pernah bertemu lagi.


Sudah lama Rama mencari Safia. Dan sekarang, wanita itu ada dihadapannya. Rama tidak akan pernah membiarkan Safia pergi lagi dari hidupnya. Karena Safia masih punya hutang penjelasan pada Rama.


"Safia, kamu ternyata kerja di sini? aku nggak nyangka kalau kita akan bertemu lagi di sini," ucap Rama.


"Mas Rama, maaf. Aku masih banyak kerjaan. Aku lagi sibuk Mas."


Safia buru-buru pergi meninggalkan Rama. Rama akan mengejar Safia. Namun langkah Rama terhenti saat istrinya memanggilnya.


"Mas Rama...!" seru Vika.


Rama menoleh ke belakang. Sementara Vika langsung menghampirinya.


"Mas Rama, kamu dari mana aja? ke toilet kok lama sekali?" tanya Vika yang merasa heran dengan suaminya.


"Eh, Vika. Maaf, kalau aku sudah membuat kamu menunggu lama."


Vika meraih tangan Rama dan menggandengnya untuk kembali ke tempat duduknya semula.


Rama masih menatap ke belakang dimana tadi dia bertemu dengan Safia.


Aku nggak lagi mimpi kan, tadi itu memang benar-benar Safia kan.


"Mas, kamu kenapa sih? kenapa kamu ngelihatin ke belakang terus. Ada apa di belakang?" tanya Vika sembari menggandeng tangan suaminya berjalan ke tempat duduknya.


Vika dan Rama kemudian duduk di tempatnya masing-masing.


Vika bingung dengan sikap Rama. Sejak tadi, Rama tidak nyambung jika di ajak bicara. Fikirannya seperti sudah dipenuhi oleh Safia. Sejak tadi Rama masih melamun.


Masa sih, tadi Safia. Kenapa aku baru tahu ya, kalau Safia kerja di sini.


Liza dan Vika saling menatap. Mereka bingung dengan Rama yang seperti orang kesambet. Dari tadi Rama hanya bisa bengong tanpa menyentuh makanannya sedikit pun.


"Mas, kamu kenapa sih. Setelah ke toilet kamu kok jadi aneh gini. Tadi kamu ketemu sama siapa?" tanya Vika dengan nada tinggi yang membuat Rama tersentak.


"Eh iya. Ada apa sayang?' tanya Rama menatap Vika lekat.


"Ada apa, ada apa! kenapa sih kamu Mas, dari tadi di ajak ngomong diam aja. Kayak orang kesambet tahu nggak. Dari tadi ngelamun aja. Lagi mikirin apa sih?" tanya Vika.


Rama menghela nafas dalam dan tersenyum.


"Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok sayang. Ayo kita lanjutin makannya."


"Kamu aja yang lanjutin makannya. Aku udah kenyang," ucap Vika yang sudah mulai kesal dengan sikap suaminya.


"Papa ke mana aja sih tadi? kenapa ke toilet lama banget. Sampai aku habis makanannya," ucap Liza menatap ayahnya lekat.


"Kalian sudah habis ya makannya?" tanya Rama sembari menatap anak dan istrinya bergantian.


"Aku mau pulang," ucap Vika tiba-tiba.

__ADS_1


"Pulang? kenapa pulang?"


"Kan makanannya sudah habis. Aku juga bete di sini terus."


"Ya udahlah. Aku mau bayar makanan dulu ya," ucap Rama.


Setelah lama Rama dan istrinya berada di cafe, mereka kemudian memutuskan untuk pulang.


Setelah membayar makanannya, Rama, Vika dan Liza keluar dari cafe. Mereka berjalan menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Liza, Vika dan Rama, kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka semua meluncur pergi meninggalkan cafe.


Safia masih tampak melamun. Beberapa saat kemudian, seorang wanita sepantarannya menghampirinya.


"Safia, kamu kenapa?" tanya Iren pada Safia teman kerjanya.


Safia tidak menjawab pertanyaan dari Iren. Sepertinya Safia itu memang tidak mendengar ucapan Iren.


"Kamu masih kefikiran ya dengan kejadian tadi?" ucap Iren sembari menepuk bahu Safia yang membuat Safia terperanjat.


"Eh, iya. Kenapa Ren?" tanya Safia.


Iren tersenyum.


"Kamu masih kefikiran ucapan Pak Dito tadi ya? sudahlah jangan di fikirin. Namanya juga atasan. Kalau kita kerja sama orang, pasti lah kalau salah sedikit akan dimarahi. Di bilang cerobohlah, nggak becus kerjalah, ini lah, itulah, jangan di fikirin terus dan jangan di ambil hati."


Safia tersenyum.


"Aku nggak lagi mikirin Pak Dito kok. Aku cuma lagi kefikiran anak aku aja yang ada di rumah. Aku nggak biasa lho, kerja sampai larut begini."


"Kamu sudah punya anak berapa? dan sekarang anak kamu umur berapa?" tanya Iren.


"Aku sudah punya anak satu. Dan anak aku sekarang umur sepuluh tahun," jawab Safia.


"Anak aku, aku titipkan ke tetangga dekat rumah Ren. Soalnya di rumah kontrakan aku nggak ada siapa-siapa."


"Suami kamu ke mana Saf?"


"Suami aku sudah meninggal Ren."


"Oh... ya ampun. Maaf ya, aku nggak bermaksud untuk mengingatkan kamu dengan suami kamu. Sabar ya..."


Safia tersenyum dan mengangguk. "Iya. Aku selalu sabar kok."


"Cafe sudah sepi. Sebentar lagi, kita juga pasti sudah di perbolehkan pulang. Sabar ya, namanya juga single mom. Jadi kita harus menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak kita," ucap Iren.


"Iya Ren. Kalau anak kamu sama siapa di rumah?" Safia balik bertanya.


"Sama ibu aku. Karena suami aku juga kerja," jawab Iren.


"Oh, semoga rumah tangga kamu selalu langgeng ya Ren."


"Amin."


*****


Jam sepuluh malam, Safia masih berada di jalan raya. Untunglah di jam sepuluh malam, masih ada ojek. Malam ini Safia pulang dengan ojek.


"Bang, nanti kita turun di depan ya," ucap Safia.

__ADS_1


"Iya Mbak."


Abang ojek itu kemudian menghentikan laju motornya setelah sampai di gang rumah Safia.


Safia turun dari ojek dan membayar ongkos ojek itu.


"Ini bang," Safia menyodorkan sejumlah uang pada Abang ojek.


"Makasih ya Mbak."


"Iya. Sama-sama."


Setelah turun dari ojeknya, Safia kemudian berjalan ke gang kecil itu untuk menuju ke rumah kontrakannya.


Safia melangkah ke teras depan rumahnya. Namun rumah Safia masih tampak terkunci.


"Ternyata Anna masih ada di rumahnya Aura," ucap Safia.


Safia kemudian melangkah untuk ke rumah aura. Sesampainya dia di depan rumah Aura, Safia mengetuk pintu rumah Aura.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," ucap Safia.


"Wa'alakiumsalam." Ucapan dari dalam rumah Aura terdengar.


Nunung ibu Aura membuka pintunya.


"Eh, Safia. Kamu baru pulang?" tanya Bu Nunung.


"Iya Bu Nunung. Tadi cafenya rame banget. Mungkin karena baru pertama buka kali ya, jadinya pengunjungnya banyak banget."


"Kamu sekarang kerja di cafe?"


"Iya Bu Nunung. Tapi capek sekali kalau setiap hari harus pulang malam. Masih mending kerja di laundrinya Bu Windi. Jam lima sore saja sudah di bolehkan pulang. Terus dekat lagi, nggak harus naik ojek. Jalan kaki juga nyampe."


"Yang sabar ya Safia. Kamu itu lagi ngurusin anak kamu. Kamu harus semangat Safia, membesarkan dan merawat anak kamu. Karena kamu itu cuma orang tua tunggal. Beda kalau kamu nikah lagi dan punya suami. Pasti biaya Anna, suami kamu yang akan ikut nanggung."


Safia tersenyum. Safia selalu mendengar nasihat dari orang-orang yang lebih tua darinya seperti Bu Nunung. Sebenarnya Safia tahu, kalau seandainya dia nikah lagi dan punya suami baru, pasti dia tidak akan terlalu lelah seperti ini. Karena suaminya pasti akan ikut membantunya untuk mencari nafkah.


Safia belum mau menikah lagi karena Safia masih sayang sama Anna. Dia tidak mau membuat Anna terlantar jika dia harus mengurus suami barunya apalagi jika nanti Safia punya anak lagi.


"Tapi aku belum ada fikiran ke sana Bu. Mungkin kalau Anna sudah SMP baru aku nyari lelaki yang mau nerima janda anak satu seperti aku," ucap Safia.


"Kamu itu cantik Safia. Kalau kamu mau membuka hati kamu untuk lelaki, pasti banyak yang ngantri untuk jadi suami kamu," puji Bu Nunung.


"Ah, kata siapa Bu. Aku ini kan cuma janda miskin. Mana ada lelaki yang mau sama aku."


"Hush jangan bilang begitu. Kamu harus banyak-banyak berdoa.Agar kamu dipertemukan dengan lelaki yang benar-benar sayang sama Anna. Lelaki yang sudah mapan, dan mau menerima kamu dan mau menerima Anna jadi anaknya."


"Iya Bu. Doain aja ya. Insya Allah aku mau nikah lagi. Tapi nanti nunggu Anna SMP atau SMA. Jadi dia sudah mandiri."


Bu Nunung tersenyum.


"Oh iya. Ngomong-ngomong, di mana Bu Anna?" tanya Safia pada Bu Nunung.


"Anna sudah tidur, di kamarnya Aura. Ayo masuk aja Safia."

__ADS_1


"Iya Bu."


__ADS_2