Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kecelakaan


__ADS_3

Sore ini Rama masih berada d jalan raya. Sudah sejak tadi pagi,dia muter-muter mencari lowongan pekerjaan, namun dia belum juga mendapatkan pekerjaan.


"Kenapa sih, susah banget nyari kerjaan di Jakarta," ucap Rama sembari sesekali mengusap peluhnya.


Rama menghentikan langkahnya saat dia akan menyebrang jalan.


Saat Rama melintasi jalan raya itu untuk menyeberang jalan, sebuah mobil dari arah utara melaju sangat kencang hingga akhirnya mobil itu menabrak tubuh Rama, sehingga membuat tubuh Rama terpental beberapa meter dari tempat kejadian.


Bruaaak...


Semua orang menatap ke arah di mana Rama tertabrak. Mereka semua berlari berbondong-bondong untuk melihat kecelakaan itu.


"Ya ampun. Kasihan sekali pemuda ini," ucap salah seorang bapak yang melihat Rama tergelak tidak berdaya ditengah jalan raya.


Orang-orang merasa sangat iba saat melihat kondisi Rama yang sudah berlumuran darah.


Seorang pemuda buru-buru melangkah dan mendekat ke arah mobil yang menabrak Rama. Dia takut, kalau mobil itu akan kabur. Karena sejak tadi, belum ada tanda-tanda orang akan keluar dari mobil itu.


Tok... tok...tok...


"Woi. Buka Woi...! turun lu. Lu udah nabrak pemuda ini. Lu harus tanggung jawab...!" ucap pemuda itu dengan nada tinggi.


Seorang gadis yang masih berada di dalam mobil, tampak ketakutan saat ada seorang pemuda yang mengetuk pintu mobilnya dengan keras. Gadis itu tidak mau membuka pintu mobil apalagi untuk keluar dari mobil karena dia takut.


Dia takut dikeroyok masa, karena dia sudah membawa mobil dengan kebut-kebutan di jalan. Untuk kabur pun, gadis itu juga percuma karena di depan mobilnya, sudah banyak orang yang berkerumun.


Tok tok tok ..


Pemuda itu kembali mengetuk pintu dengan sangat keras.


"Woi... Lu harus tanggung jawab...! Lu udah nabrak orang. Bagaimana kalau dia mati. Bisa dihukum seumur hidup lu di penjara...!" ucap pemuda itu lagi.


"Nggak. Aku nggak sengaja menabrak dia. Aku ngga mau di penjara." Keringat dingin sudah mulai membasahi wajah gadis itu.


Dengan penuh rasa takut, gadis itu akhirnya mau keluar juga dari mobilnya. Dia sudah tidak bisa kabur kemana-mana lagi.


"Woi, bisa bawa mobil nggak sih lu. Lu udah nabrak lelaki itu!" Pemuda yang berpenampilan seperti preman itu masih ngotot-ngotot di depan gadis yang menabrak Rama tadi.


"Bang, aku nggak sengaja nabrak lelaki itu Bang. Tapi aku janji, aku akan bertanggung jawab," ucap Vika nama gadis itu.


"Makanya kalau bawa mobil jangan kencang-kencang..."

__ADS_1


"Iya Bang. Aku ngaku salah. Aku janji aku akan tanggung jawab," ucap Vika.


Pandangan Vika tertuju pada Rama yang masih tergelak di jalan. Dia terkejut saat melihat darah sudah mengalir ke mana-mana.


"Saya akan tanggung jawab Bang. Saya akan bawa pemuda itu ke rumah sakit. Tapi tolong ya Bang. Jangan laporkan saya ke polisi. Karena urusannya bisa panjang Bang," ucap Vika dengan wajah memelas.


"Ya udah. Cepat! Bawa dia." Bentak pemuda itu.


Pemuda itu, tidak mau melihat kejadian tabrak lari lagi, seperti kejadian waktu itu. Makanya dia buru-buru menghadang mobil itu dan menyuruh pengemudinya untuk turun.


"Tapi aku ngga berani bang gotong dia sendiri. Aku juga sendirian sekarang. Harus ada salah satu yang mau ikut," ucap Vika.


Seorang lelaki paruh baya, mendekat ke arah Vika dam pemuda itu.


"Kenapa kalian malah diskusi di sini. Cepat, buruan bawa lelaki itu ke rumah sakit. Mumpung dia masih bernafas. Keburu mati dia kalau kelamaan di sini," ucap bapak itu.


Beberapa saat kemudian, sirine mobil ambulan dan mobil polisi mendatangi lokasi kejadian secara bersamaan.


Beberapa orang polisi dan supir ambulan turun dari mobil. Mereka segera menggotong tubuh Rama dan memasukkan Rama ke dalam ambulan.


Setelah itu mereka membawa Rama ke rumah sakit beserta seorang bapak yang akan dijadikan saksi untuk kecelakaan ini.


Seorang polisi mendekat ke arah Vika.


"Tapi Pak. Saya nggak salah. Saya nggak sengaja menabrak lelaki tadi. Saya nggak akan lari dari tanggung jawab Pak. Saya janji saya akan tanggung jawab."


"Nona, anda bisa jelaskan masalah ini nanti di kantor polisi. Mari sekarang ikut kami!"


Polisi itu kemudian membawa Vika naik ke atas mobilnya. Sementara mobil Vika dibawa polisi untuk diperiksa.


****


Bu Maryam masih menggandeng Safia untuk kembali ke ruangannya. Setelah dua hari Safia berada di rumah sakit, dia pergi keluar dari ruangannya untuk jalan-jalan. Karena dia sudah tidak betah berbaring di ruangannya terus.


Bu Maryam dan Safia menghentikan langkahnya saat dia melihat beberapa orang polisi berada di depan ruang UGD.


"Bu, kok ada polisi ya di sini," ucap Safia.


"Mungkin, ada orang kecelakaan kali Saf."


Beberapa saat kemudian, beberapa orang perawat mendorong seorang lelaki masuk ke dalam ruangan UGD.

__ADS_1


Safia terkejut saat melihat wajah lelaki itu.


Itu kok seperti Mas Rama ya. Apa aku cuma salah lihat.


Safia mengucek matanya dan menatap kembali ke depan. Namun, perawat sudah membawa lelaki itu masuk ke ruang UGD.


Tapi, mana mungkin sih itu Mas Rama. Mas Rama kan ada di kampung. Dia kan lagi kerja di kampung. Mana mungkin dia datang ke Jakarta. Dan setelah aku pergi, mungkin Mba Shakira dan Mas Rama sudah kembali bersatu lagi dan melupakan kejadian itu.


"Kenapa kita berhenti di sini Saf," ucap Bu Maryam.


"Perut kamu sakit lagi?" tanya Bu Maryam.


Safia menggeleng.


"Nggak Bu. Aku cuma ngeri saja melihat wajah lelaki yang dibawa ke ruang UGD itu."


"Biasalah namanya juga kecelakaan. Kita tidak tahu takdir orang Safia. Makanya, mumpung kita masih hidup dan masih di beri umur panjang, kita manfaatkan waktu-waktu kita saja untuk berbuat kebaikan."


"Iya Bu."


Safia dan Bu Maryam melanjutkan langkahnya. Mereka akan kembali ke ruangan Safia melewati ruang UGD.


"Sebenarnya, kamu itu belum boleh kebanyakan jalan. Kamu harus banyak istirahat. Usia kandungan kamu itu kan masih satu bulan. Kasihan anak kamu Safia," ucap Bu Maryam.


"Tapi kan aku udah nggak betah Bu, tinggal di rumah sakit lama-lama. Aku pengin pulang ke rumah kontrakan dan kembali kerja. Tiduran terus juga rasanya bosan," ucap Safia.


"Tapi kan dokter belum mengizinkan kamu pulang ke rumah Saf. Mungkin, besok atau lusa Robi dan Bu Windi mau datang ke sini. Karena mungkin besok atau lusa kamu sudah boleh pulang."


Setelah sampai di depan ruangan Safia, Bu Maryam dan Safia masuk ke dalam ruangan itu.


Bu Maryam masih mengandeng Safia sampai Safia naik ke atas ranjang. Setelah Safia naik ke atas ranjangnya, Bu Maryam menggantungkan botol infusnya itu ke tempat semula.


"Istirahat aja dulu Nak."


Safia tersenyum.


"Iya Bu."


Safia kemudian merobohkan tubuhnya dan kembali berbaring.


"Robi nggak datang ke sini lagi Bu,"ucap Safia menatap lekat Bu Maryam.

__ADS_1


"Laundrinya Bu Windi itu lagi rame banget katanya Safia. Mungkin, Robi juga lagi sibuk. Bu Windi juga belum bisa datang ke sini, karena dia masih sibuk. Mungkin, kalau kamu sudah mau pulang baru dia ke sini, sekalian untuk melunasi biaya rumah sakit kamu."


__ADS_2