Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kedatangan Vika


__ADS_3

Pagi ini, cahaya mentari sudah bersinar cerah. Waktu saat ini, sudah menunjukan jam delapan pagi. Mobil Vika masih tampak berada di tengah-tengah kepadatan lalu lintas.


"Ih, kenapa sih harus pakai acara macet segala," gerutu Vika.


Sejak tadi Vika hanya bisa menggerutu. Sementara Liza hanya bisa diam di sisi ibunya.


Di tengah-tengah kemacetan lalu lintas, Liza menatap keluar jendela mobilnya.


Liza terkejut saat melihat mobil ayahnya.


"Papa," ucap Liza.


Vika terkejut saat tiba-tiba saja anaknya menyebut papanya. Vika langsung menatap anaknya.


"Papa? mana Papa?" tanya Vika menatap ke sekeliling.


"Mama, itu mobil papa Ma."


Lampu hijau tiba-tiba saja menyala. Mobil Rama meluncur begitu cepat meninggalkan lampu merah.


"Ma, ayo kejar Papa Ma. Aku yakin tadi itu Papa," ucap Liza.


"Kamu yakin?" tanya Vika.


"Yakin Ma, tadi itu memang Papa."


Vika menatap ke depan. Mencari mobil Rama yang tadi dilihat Liza.


"Kamu yakin tadi Papa kamu Liz?" tanya Vika sekali lagi, di sela-sela menyetirnya.


"Aku yakin Ma, kalau tadi itu Papa. Masa mama nggak mengenali mobil Papa sih."


"Papa kamu sama siapa?" tanya Vika penasaran.


"Nggak tahu Ma. Aku cuma lihat Papa tadi di mobil. Aku nggak lihat orang yang ada di dalam mobil bersama Papa."


Vika melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh untuk mengejar mobil Rama.


Benar saja kalau tadi memang mobil Rama. Vika tersenyum saat melihat mobil Rama sudah terlihat di depan.


"Iya. Itu mobil Papa kamu. Mau ke mana ya dia," ucap Vika.


"Ayo Ma, kita ikutin Papa."


"Iya Sayang. Mama juga penasaran sama Papa kamu. Sebenarnya, dia mau ke mana ya. Dan kenapa dia semalam nggak pulang."


Vika masih mengendarai mobilnya mengejar mobil suaminya. Dia penasaran dengan suaminya. Semalam dia tidak pulang ke rumah. Vika ingin tahu, sebenarnya apa yang dilakukan Rama di luar rumah.


Setelah lama Vika mengikuti Rama, beberapa saat kemudian, Vika sampai di depan mesjid.


"Lho, kok Papa kamu ke sini," ucap Vika. Dia tampak bingung saat mobil suaminya berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil. Vika tidak tahu siapa sebenarnya yang suaminya temui itu.

__ADS_1


"Itu Papa Ma." Liza menunjuk ke arah Rama yang turun dari mobilnya. Beberapa saat kemudian, seorang anak perempuan sepantaran Liza turun dari mobil Rama.


Liza terkejut saat melihat Anna. Dia sangat mengenal betul siapa Anna. Karena waktu itu, Liza pernah kenalan sama Anna.


"Lho, bukannya itu Anna. Ponakannya Mbak Shakira," ucap Liza.


"Kamu kenal sama anak kecil itu?" tanya Vika menatap Liza lekat.


"Iya Ma. Dia itu namanya Anna. Aku pernah main ke rumah Mbak Shakira. Dan aku ketemu sama Anna, dan kenalan sama Anna," jelas Liza.


"Oh. Jadi anak kecil itu ponakannya Mbak Shakira."


"Iya Ma."


"Apa hubungannya ya,Papa kamu sama anak kecil itu," ucap Vika.


Sudah timbul berbagai macam pertanyaan di benak Vika siapa anak kecil yang saat ini bersama Rama.


Siapa ya, anak kecil itu. Jangan-jangan, Mas Rama selingkuh lagi. Dan itu anak, anaknya selingkuhan suami ku.


Liza akan turun dari mobilnya. Namun Vika buru-buru mencekal tangannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Vika.


"Turun lah Ma."


"Jangan, kita di sini aja dulu. Kita tidak tahu kan apa yang Papa kamu lakukan di rumah itu."


"Iya Ma."


"Assalamualaikum," ucap Rama dan Anna setelah mereka sampai di depan rumahnya.


"Wa'alaikumsalam," ucap Iren dan Safia kompak.


Rama dan Anna masuk ke dalam rumahnya.


"Kok cepat banget. Kalian dari mana aja?" tanya Safia.


"Kami baru beli kue Bun."


"Kue? untuk apa An? kalian kan udah makan."


Anna meletakan kantong plastik di atas meja makan.


" Apa ini?" tanya Safia.


"Buka aja Safia. Itu buat cemilan kamu sama teman kamu," pinta Rama.


Iren tersenyum.


" Ya ampun, Pak Rama baik banget sih Pak. Harusnya nggak usah repot-repot Pak. Saya juga nggak mau lama-lama kok di sini."

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Makan aja."


Sebenarnya Rama ingin mengajak Safia dan Anna pergi. Namun dia tidak enak, karena ada Iren main ke rumah Safia.


Rama dan Anna kemudian masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Safia dan Iren di ruang tamu.


"Permisi," ucap Vika yang sudah berada di depan pintu rumah Safia.


Safia dan Iren menoleh ke arah Vika. Mereka terkejut saat melihat kedatangan Vika.


"Bu Vika," ucap Iren.


Safia bangkit dari duduknya. Dia masih tidak menyangka dengan kedatangan Vika. Iren juga ikut berdiri.


"Kalian bukannya karyawannya Ovi ya?" tanya Vika yang tampak masih mengenali betul dua wanita itu.


Safia dan Iren tidak langsung menjawab pertanyaan Vika. Mereka masih dibuat jantungan dengan kehadiran Vika.


"Sebenarnya ini rumah siapa ya?" tanya Vika menatap Iren dan Safia bergantian.


"Ini rumah saya Mbak. Ada apa ya Mbak?" tanya Safia.


"Saya mau cari suami saya. Tadi saya melihat dia masuk ke rumah ini bersama anak kecil."


*Duh, kenapa Mbak Vika bisa nyampe sini ya. Dari mana dia tahu Mas Rama ada di sini. Bisa gawat ini, batin Safia.


Wah, bisa ada perang dunia ini di rumah ini. Aku nggak mau ikut-ikutan lah. Mending aku pergi aja dari sini, batin Iren*.


Iren menatap Safia.


"Saf, aku pamit dulu ya. Aku mau ke cafe. Kayaknya udah terlalu lama aku ada di sini," ucap Iren.


"Oh, iya Ren."


Setelah berpamitan pada Safia, Iren kemudian keluar dari rumah Safia. Dia akan pergi meninggalkan rumah Safia, namun dia khawatir dengan Safia.


Iren tahu seperti apa Vika. Bisa saja, Vika menyerang Safia saat dia tahu hubungan Safia dengan Rama.


"Duh, aku kok jadi nggak tega ya, meninggalkan Safia. Iya sih di sini ada Pak Rama. Tapi bagaimana kalau Bu Vika nyerang Safia. Mendingan aku tunggu di sini aja deh. Aku juga kepo sama mereka" ucap Iren. Dia belum mau beranjak pergi. Karena dia masih kepo dengan apa yang akan terjadi setelah ini.


Setelah Iren keluar rumah, Vika mendekat ke arah Safia.


"Kamu kenapa? kok kamu kelihatan gelisah begitu? tadi suamiku masuk ke rumah kamu. Sekarang dia ada di mana?" tanya Iren menatap tajam Safia.


Safia diam. Di saat-saat seperti ini, Safia seperti menemukan jalan buntu. Maju salah, mundur pun salah.


Beberapa saat kemudian, Rama muncul dari ruang tengah. Dia terkejut saat melihat Vika. Vika juga terkejut saat melihat Rama.


"Mas Rama, apa-apaan ini Mas? jadi selama ini kamu nggak pulang karena kamu nginap di rumah pelayan ini?" Vika sudah menunjuk wajah Safia dengan telunjuknya.


"Kalau iya. Emang kenapa?"

__ADS_1


"Jadi kami sudah selingkuh dengan dia? benar-benar menjijikkan kamu ya Mas. Selama satu minggu kamu nggak pulang ke rumah, ternyata kamu berzina dengan dia di sini ? dasar pelakor. Nggak tahu diri," ucap Vika. Dia sudah mulai emosi.


Vika sudah melayangkan tangannya di depan Safia. Namun buru-buru Rama mencekal tangan Vika dan menghempaskan tangan itu begitu saja.


__ADS_2