
"Aku minta sekarang kamu pergi dari rumah aku! dan jangan pernah kamu temui Anna lagi," ucap Safia menatap Rama nanar.
Rama terkejut saat mendengar ucapan Safia.
"Tapi kenapa Safia? aku ini udah terlanjur sayang sama Anna. Aku sudah menganggap Anna seperti anak kandung aku sendiri. Kenapa kamu usir aku dari sini. Aku kan baru nyampe, setidaknya kamu suruh aku masuk dulu. Kita bisa bicara kan ini baik-baik."
Safia tiba-tiba saja melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dia kemudian mengambil boneka beruang pink dan uang.
"Aku akan kembalikan semua barang-barang yang sudah Mas Rama berikan ke anak aku. Aku nggak mau sampai Mas Rama tahu kalau Anna adalah anak kandungnya, aku nggak mau Mas Rama membawa Anna,"ucap Safia.
Safia kembali keluar dari rumahnya dengan membawa uang dan boneka beruang. Dia kemudian mendekat ke arah Rama.
"Ini, ambil uang ini dan boneka ini. Aku nggak butuh bantuan kamu Mas Rama," ucap Safia menatap tajam wajah Rama.
Rama bingung dengan sikap Safia. Rama tidak tahu, apa yang sudah membuat Safia bisa semarah ini.
"Kenapa kamu kembalikan lagi barang-barang ini. Semua barang-barang ini kan, untuk Anna anak kamu. Aku ikhlas kok memberikan semua ini untuk Anna."
"Tapi Anna nggak butuh semua barang-barang dari kamu Mas...!" ucap Safia dengan nada tinggi.
Safia melangkah ke arah Anna.
"Anna. Mana hape kamu?" tanya Safia.
Anna juga ikut bingung saat melihat sikap ibunya. "Hape untuk apa bunda?" tanya Anna.
"Mana hape kamu! Bunda akan kembali kan hape kamu pada lelaki itu...!" Safia menunjuk ke arah Rama.
Rama tidak tahu apa yang membuat Safia semarah ini. Padahal waktu mereka bertemu di cafe, Safia masih bersikap baik pada Rama. Tapi Rama tidak tahu, apa yang menyebabkan Safia marah.
Anna enggan untuk memberikan hape itu pada Safia.
"Tapi bunda, hape ini kan untuk telponan aku dengan Om Rama. Kenapa bunda mau mengembalikan hape ini pada Om Rama. Terus nanti aku gimana dong kalau mau telpon Om Rama."
"Anna. Mulai sekarang kamu nggak boleh berhubungan lagi dengan Om Rama. Mulai sekarang bunda akan melarang kamu untuk ketemu Om Rama lagi."
"Tapi kenapa bunda. Apa salah Om Rama. Om Rama orang yang baik. Dia sayang sama Anna. Dan Anna juga sayang sama Om Rama. Kenapa bunda tega banget sama kami."
__ADS_1
"Anna cukup! hentikan bicaramu. Berikan hape itu pada bunda. Cepat...! apa kamu mau jadi anak durhaka?" ucap Safia dengan nada tinggi.
Anna terkejut saat mendengar ucapan ibunya. Baru kali ini, Safia berani membentak Anna dan bicara kasar pada Anna. Dan Anna tidak tahu setan apa yang sudah merasuki ibunya.
Anna yang takut dengan kemarahan Safia, kemudian memberikan hape itu pada Safia.
"Anna, sekarang kamu masuk ke dalam...!" ucap Safia.
Anna menggeleng.
"Aku nggak mau masuk ke dalam. Aku masih ingin sama Om Rama."
"Anna. Kamu dengar bunda Ngomong nggak sih. Mulai sekarang, kamu jangan pernah berhubungan lagi dengan Om Rama. Bunda bilang masuk ya masuk Anna...! kenapa kamu masih berdiri di sini...!"
Anna menangis. Dia tidak menyangka dengan sikap ibunya. Kenapa Ibunya bisa sangat kasar sama Anna.
"Bunda jahat...! bunda jahat...! bunda nggak pernah sayang sama Anna." teriak Anna.
Anna kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya dan merobohkan dirinya di atas kasur. Anna menangis sesenggukan di atas ranjangnya. Namun Safia sama sekali tidak mau mengerti perasaan anaknya. Dia masih egois mengusir Rama dari rumahnya.
Safia melangkah mendekati Rama. Dia kemudian meraih tangan Rama dan memberikan hape itu pada Rama.
Setelah berkata seperti itu, Safia melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sementara Rama hanya bisa diam mematung menatap kepergian Safia.
Kenapa dengan Safia. Apa salah aku dekat sama Anna. Padahal niat aku baik. Aku ingin membantu Anna karena aku tahu kalau Anna anak yatim. Ayahnya sudah meninggal. Tapi kenapa saat aku menanyakan siapa ayah Anna, kenapa Safia bisa semarah ini. Dan kenapa dia mengembalikan barang-barang ini. Apa yang harus aku lakukan.
Rama tidak tinggal diam. Dia kemudian mengetuk pintu rumah Safia.
Tok tok tok...
"Safia, Anna, buka pintunya. Biarkan aku bicara. Kenapa kamu kembalikan barang-barang pemberian aku untuk Anna.
Kenapa Safia. Aku ikhlas memberikan barang-barang ini untuk Anna anak kamu."
Safia yang masih berdiri di balik pintu hanya bisa menangis.
Mas Rama, andai kamu tahu kalau Anna adalah darah daging mu, aku yakin kamu akan membawa Anna pergi dariku. Kamu orang kaya, kamu bisa melakukan apapun demi uang. Jika kamu tahu Anna adalah anak kandungmu, aku yakin kamu akan membawa Anna dan menjauhkan Anna dariku. Aku nggak mau kehilangan Anna.
__ADS_1
Aura hanya bisa menyaksikan kejadian bagaimana Safia membentak-bentak anaknya. Aura merasa kasihan sama Anna. Aura mendekat ke arah Rama.
"Om Rama," ucap Aura.
Rama menatap ke belakang di mana Aura berdiri.
"Sabar ya Om. Tante Safia mungkin lagi banyak masalah. Makanya dia seperti itu. Tapi sebenernya bundanya Anna itu orang yang sangat baik kok Om."
Rama mengangguk.
"Iya. Om tahu itu Aura. Ibunya Anna memang orang yang sangat baik."
"Mendingan Om pulang dulu aja. Tante Safia masih emosi Om. Dia tidak akan pernah membukakan pintu untuk Om Rama."
Rama mengangguk.
"Iya Aura. Benar apa kata kamu. Sebaiknya, Om pulang dulu aja. Biar nanti kapan-kapan Om datang ke sini lagi."
"Iya Om."
Rama menyodorkan Boneka dan ponsel pada Aura.
"Aura, apa Om boleh titip boneka dan hape ini sama kamu. Besok kamu bisa berikan barang-barang ini ke Anna."
Aura diam. Dia takut dengan kemarahan Safia. Dia hanya bisa menatap barang-barang yang ada di tangan Rama.
"Aura ini, ambil."
Aura menggeleng.
"Om bawa pulang aja barang-barang itu. Nanti Om bisa berikan lagi ke Anna kalau Om ke sini lagi. Aku nggak mau pegang barang-barangnya Anna. Karena aku takut sama Tante Safia. Bagaimana nanti kalau dia marah sama aku dan tidak mengizinkan aku main sama Anna lagi," ucap Aura.
"Baiklah. Om simpan dulu aja barang-barang ini."
"Om mau pulang?" tanya Aura
"Iya Aura. Percuma juga Om di sini. Om saja tidak boleh masuk ke dalam."
__ADS_1
"Sabar ya Om."
Rama mengangguk. Setelah itu Rama pun memutuskan untuk pulang. Dia melangkah ke arah mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan tempat itu.