Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Cerita Mas Fandi


__ADS_3

"Shakira, apa yang sedang kamu fikirkan Nak?" tanya Bu Astri pada Shakira yang sejak tadi masih diam.


Shakira menatap ibunya lekat.


"Bu, kemarin aku ketemu sama Rahma. Terus Rahma cerita sama aku. Katanya, dia pernah melihat Safia di Jakarta," ucap Shakira menjelaskan.


Bu Astri dan Pak Junedi terkejut saat mendengar ucapan Shakira.


"Kamu yakin, kalau Safia itu ada di Jakarta?"tanya Bu Astri.


"Aku juga nggak tahu Bu. Itu Rahma teman aku yang cerita. Katanya dia pernah melihat Safia ada di Jakarta."


"Terus Rahma cerita apa saja sama kamu Nak?" tanya Bu Astri lagi.


"Iya, Rahma cerita apa saja? apakah Rahma tahu di mana alamat rumah Safia di sana. Soalnya kalau dia tahu alamat Safia di Jakarta, bapak ingin menyusulnya ke sana," ucap Pak Junedi dengan mata berbinar-binar.


"Rahma nggak tahu Pak alamat Safia. Tapi dia cuma lihat sekilas aja wanita yang mirip Safia. Dan katanya dia bawa anak kecil sepantaran Atika anaknya Rahma. Dan Rahma nggak tahu dia anaknya Safia apa bukan."


"Itu pasti benar Safia. Apakah Safia sudah punya suami dan anak?" ucap Bu Astri. Hanya mendengar ceritanya saja, Bu Astri sudah begitu bahagia. Karena dia selama ini juga sangat merindukan Safia. Sama seperti Pak Junedi.


"Entahlah Bu, aku juga nggak tahu soal itu. Emang aku pernah ketemu sama Safia. Dari dulu, aku juga di kampung terus, nggak pernah kemana-mana lagi. Jadi mana aku tahu kalau Safia ada di Jakarta."


****


Safia dan Anna masih berada di toko sepatu. Sejak tadi Anna masih memilih-milih sepatu. Sementara Safia masih berdiri menunggu anaknya memilih sepatu.


Anna mengambil sepatu yang dia suka. Setelah itu dia mendekat ke arah Safia sembari membawa sepatu itu.


"Bunda, aku pengin sepatu yang ini," ucap Anna sembari menunjukan sepatu yang sudah dipilihnya.


"Oh, ambil aja sayang."


"Bunda bawa uang lagi nggak? Anna pengin beli baju baru," ucap Anna.


"Baju baru? tapi Anna kan masih punya baju bagus. Untuk apa beli lagi. Lagian kita itu harus ngirit sayang. Agar kita bisa bayar kontrakan bulan depan."


Anna cemberut. Dia sebenarnya pengin juga beli baju baru. Tapi bundanya tidak mengizinkan dia untuk beli baju baru.


"Anna, nanti aja ya kita beli baju barunya. Beli sepatu dulu aja. Satu-satu dong belinya. Nanti kalau bunda punya uang lagi, kita beli baju baru."


"Ya udah deh. Sepatu aja."


Anna akhirnya menurut juga dengan Safia.


Anna tidak tahu, kalau ibunya sekarang sudah tidak punya kerjaan. Karena kemarin, Bu Windi sudah memberhentikan Safia dari pekerjaannya. Anna fikir, kalau ibunya pegang uang banyak. Padahal gaji dan pesangon dari Bu Windi saja tidak seberapa.


"Anna tunggu di sini, bunda mau ke kasir dulu untuk bayar sepatu ini."


Anna hanya mengangguk.


Safia kemudian melangkah ke arah kasir sembari membawa sepatu Anna. Setelah membayar sepatu Anna, Safia mengajak anaknya keluar dari toko sepatu. Mereka kemudian melangkah pergi meninggalkan toko sepatu itu.


"Kita mau ke mana lagi Bun?" tanya Anna.


"Bunda mau ke pasar sayang."


"Ke pasar mau beli apa?"

__ADS_1


"Mau beli kebutuhan dapur."


"Bun, Anna capek Bun. Apakah kita bisa berhenti sebentar?" tanya Anna.


"Iya. Kita beli es dulu ya sayang."


"Iya Bun. Aku juga haus."


Safia dan Anna kemudian mampir untuk membeli es.


"Bang, es buahnya dua bungkus ya," ucap Safia pada Abang penjual Es buah.


"Baik Mbak..."


"Kamu tungguin di sini dulu ya sayang. Bunda mau ke sana dulu," ucap Safia.


Anna mengangguk.


"Iya Bun."


Setelah itu Safia melangkah sedikit menjauh dari anaknya. Dia kemudian mengambil dompet untuk menghitung isinya.


"Duh, mudah-mudahan uang aku cukup untuk makan satu bulan. Aku harus cepat-cepat cari kerja sebelum uang ini habis," ucap Safia.


Seorang lelaki menatap ke arah Safia yang sedang berdiri di sisi jalan.


"Itu wanita seperti aku kenal," ucap Fandi lelaki itu.


Fandi yang masih diselimuti rasa penasaran mendekat ke arah Safia.


"Safia, kamu Safia kan?" ucap Fandi setelah dekat dengan Safia.


"Mas Fandi. Mas Fandi kok bisa ada di sini?" tanya Safia.


"Kamu ternyata masih ingat ya sama aku."


"Iya. Bagaimana mungkin aku nggak ingat sama Mas Fandi. Kita kan tetanggaan di kampung."


Fandi tersenyum dan menatap anak kecil yang sedang berdiri lumayan jauh dari Safia.


"Tadi kamu datang ke sini sama anak kecil itu. Gadis kecil itu, anak kamu Safia?" tanya Fandi.


"Iya. Itu anak aku Mas Fandi," jawab Safia.


"Kamu sudah punya suami ya ternyata ya?"


Safia diam. Sebenarnya Safia belum punya suami sampai sekarang. Namun dia iyakan saja ucapan Fandi.


"Iya. Saya sudah punya suami. Tapi suami saya sudah meninggal sejak anak saya masih bayi," bohong Safia.


"Oh..." Fandi manggut-manggut mengerti.


"Selama aku di Jakarta, kenapa aku baru pernah lihat kamu ya Safia. Kamu tinggal di mana sih?" tanya Fandi.


"Aku tinggal di dekat sini kok Mas."


"Oh, kapan-kapan boleh nggak aku main ke rumah kamu?"

__ADS_1


"Yah, boleh-boleh aja Mas Fandi. Mas Fandi di sini tinggal sama siapa?"


"Saya tinggal ngontrak sama istri saya. Dan saya kerja jadi sopir pribadi di rumah orang kaya."


"Oh... jadi Mas Fandi sudah lama ya tinggal di Jakarta?"


"Iya. Sudah lama. Sudah sekitar lima tahunan lah."


"Mas Fandi sering pulang kampung?"


"Iya. Saya sering pulang kampung nengokin orang tua."


"Mas Fandi tahu kabar orang tua dan kakak saya di kampung?"


Fandi merasa tidak enak, jika ngobrol sambil berdiri di pinggir jalan. Fandi kemudian mengajak Safia duduk.


"Ngga enak bicara di sini Safia. Kita duduk di situ saja yuk."


"Oh. Iya Mas Fandi."


Safia dan Fandi kemudian duduk dan kembali ngobrol.


"Mas Fandi kan sering pulang kampung. Mas Fandi pasti tahu dong kabar orang tuaku dan Mbak Shakira."


"Yang saya dengar waktu kemarin saya pulang kampung, bapak kamu lagi sakit Safia."


"Oh ya? sakit apa?"


"Saya juga kurang tahu. Dan kalau suami Shakira itu sudah meninggal satu tahun yang lalu."


Deg.


Safia terkejut saat mendengar ucapan Fandi. Safia fikir, suami Shakira yang meninggal itu Rama.


Jadi, ayahnya Anna benar-benar sudah meninggal. Kenapa Mas Rama bisa meninggal ya.


"Kalau boleh saya tahu, suami Mbak Shakira meninggal kenapa ya?" tanya Safia.


"Dia kecelakaan lalu lintas satu tahun yang lalu."


Ya Allah, kasihan banget Mas Rama. Dia harus meninggal dengan tragis.


"Terus bagaimana dengan Mbak Shakira?" tanya Safia yang masih penasaran dengan cerita Fandi.


"Ya dia harus jadi janda lagi untuk yang ke dua kalinya. Dan dia sekarang sudah punya anak cowok usia lima tahun."


"Maksud Mas Fandi apa? kakak aku jadi janda dua kali?"


"Ya iyalah. Kan pernikahan Shakira dengan suami pertama gagal. Dan Shakira menikah lagi dengan lelaki lain dan sudah punya anak satu. Terus dia meninggal karena kecelakaan. Kamu emang nggak tahu soal ini?"


"Jadi Mas Rama dan Mbak Shakira sudah cerai?"


"Ya itu sih sudah lama Safia. Mereka cerai setelah kamu pergi."


Jadi benar, kalau hubungan satu malam aku dengan Mas Rama sudah membuat rumah tangga Mas Rama dan Mbak Shakira berantakan. Kasihan banget Mbak Shakira. Gara-gara aku, dia harus bercerai dengan suaminya.


"Terus Mas Rama di mana sekarang?"

__ADS_1


"Saya juga nggak tahu Rama di mana. Sejak kamu pergi dari rumah, Rama juga pergi dari rumah. Dia juga hilang kabar sama seperti kamu."


__ADS_2