
"Tapi sayangnya rumah ini sudah bukan milik ayah kamu lagi Vika. Rumah ini, sudah lebih dulu dipindah nama kan atas nama aku Vika. Begitu juga dengan perusahaan ayah kamu, perusahaan itu juga sudah menjadi atas nama aku sekarang," ucap Rama.
Vika terkejut saat mendengar ucapan Rama.
"Apa! nggak mungkin Mas. Kamu pasti bohong. Nggak mungkin kamu bisa memindah nama kan perusahaan papa dan rumah Papa tanpa tanda tangan Papa,"ucap Vika. Dia tampak tidak percaya dengan ucapan Rama.
"Tapi kenyataan memang seperti itu Vika. Rumah ini dan perusahaan ayah kamu itu sudah atas namaku. Dan Papa kamu menyerahkan semuanya padaku sebelum dia meninggal."
"Apa!" pekik Vika. "Aku nggak percaya Mas."
"Apa kamu mau bukti? silahkan kamu tanya langsung ke pengacara keluarga kamu."
Vika tiba-tiba saja menangis. Dia tidak menyangka kalau ternyata Rama sudah berhasil menguasai semua harta ayahnya.
Entah bagaimana caranya lelaki yang di anggap bodoh dan kampungan oleh Vika itu, bisa menguasai harta Pak Angga dengan sekejap.
"Hiks.. hiks.. kenapa papa jahat banget sama aku. Seharusnya aku yang menjadi ahli waris papa. Seharusnya rumah ini dan perusahaan itu atas nama aku. Kenapa harus nama Mas Rama." Vika menangis sembari menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya.
Dia tampak frustasi dan kecewa dengan ayahnya yang tanpa sepengetahuannya, sudah memindah nama kan perusahaan dan rumah atas nama Rama.
Rama diam. Dia masih ingat dengan janji-janjinya pada ayah Vika sebelum dia meninggal. Rama sudah berjanji kalau dia akan menjaga keluarga Pak Angga dengan baik termasuk Vika.
Rama sudah berjanji dia akan menjadi pelindung keluarga Pak Angga dari orang-orang yang akan menjahati mereka. Seandainya Rama sampai bercerai dengan Vika pun, dia akan tetap melindungi anak dan istri Pak Angga.
Rama bukanlah lelaki yang suka mengingkari janjinya. Dia pasti akan menepati janjinya pada Pak Angga untuk menjaga dan melindungi keluarganya dari orang-orang yang mau berbuat jahat pada keluarga Pak Angga.
"Kamu tahu Vik, kenapa ayah kamu menyerahkan semua hartanya padaku? karena dia percaya sama aku Vik. Hartanya akan aman jika berada di tanganku," ucap Rama menegaskan.
Vika mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Rama tajam.
Rama terkejut saat tiba-tiba saja Vika mendorong tubuhnya dan memukul-mukul dada bidangnya dengan ke dua tangannya.
__ADS_1
"Jahat kamu Mas. Kamu lelaki yang paling licik yang pernah aku kenal. Aku benci sama kamu Mas. Aku benci...!" ucap Vika menatap Rama tajam dengan berderaian air mata.
Rama tidak tinggal diam. Dia kemudian mencekal ke dua pergelangan tangan Vika dan menggenggamnya erat.
"Vika, jika saja Pak Angga memberikan kamu kepercayaan untuk memegang perusahaannya. Aku yakin, perusahaan ayah kamu tidak akan berdiri lama. Pasti perusahaan ayah kamu itu akan bangkrut. Karena kamu itu tidak becus dalam mengurus perusahaan. Dan ayah kamu tidak pernah mempercayai kamu karena kamu itu bodoh Vika."
Vika terkejut saat mendengar ucapan Rama. Dia tidak terima jika Rama mengatakan dia bodoh.
"Selama hidup kamu, kamu cuma bisa menghambur-hamburkan uang ayah kamu saja. Coba saja kalau Pak Angga mengatasnamakan rumah ini menjadi rumah kamu, mungkin kamu sudah jual rumah ini untuk foya-foya."
Vika menghempaskan tangan Rama begitu saja. Dia kemudian kembali menatap Rama tajam.
"Cukup Mas. Berhenti kamu untuk ngata-ngatain aku bodoh. Karena aku tidak sebodoh apa yang kamu fikirkan. Aku bisa Mas, merebut rumah ini dan perusahaan milik Papa aku kembali. Makanya kamu jangan senang dulu Mas."
"Silakan saja kalau bisa. Tapi ada yang harus kamu ingat satu hal. Aku akan menyerahkan harta kamu pada Liza anak kita. Tapi itu setelah dia besar dan usianya sudah di atas 21 tahun. Semoga saja Liza tidak seperti kamu dan pandai menjaga amanah kakeknya."
Vika yang hatinya sudah mulai meradang, tidak mau meladeni Rama terlalu lama. Dia kemudian buru-buru ke kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu Vika mengunci pintunya dari dalam.
****
Setelah Vika masuk ke dalam kamar, Rama turun ke bawa untuk melihat anak dan ibu mertuanya.
Setelah sampai di ruang tengah, Rama menghentikan langkahnya. Dia menatap ibu mertuanya yang saat ini, masih duduk di ruang tengah.
Rama mendekat ke arah Bu Tari dan duduk di sisi Bu Tari.
"Ma, mana Liza?" tanya Rama pada Bu Tari.
"Liza keluar. Lagi beli jajan sama Bik Ijah," jawab Bu Tari singkat.
Bu Tari sejak tadi hanya diam. Sepertinya dia mendengar pertengkaran Rama dengan Vika di atas.
__ADS_1
"Maafkan aku Ma, karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Vika. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menepati janjiku sama Papa untuk tidak menyakiti Vika," ucap Rama.
Bu Tari menatap Rama lekat.
"Sepertinya suami saya sangat mempercayai mu Rama. Sehingga dia memberikan kepercayaan yang begitu besar kepada mu untuk memegang perusahaannya dan mengatasnamakan rumah ini atas nama kamu," ucap Bu Tari.
Sepertinya dia baru tahu, kalau suaminya sudah menyerahkan semua hartanya pada Rama.
"Itu karena dia percaya kalau aku bisa menjaga mama dan Vika. Dan aku akan tepati janji aku untuk menjaga kalian sampai akhir hayatku. Dan kalian tidak bisa mengusir ku dari rumah ini."
"Saya tidak punya niatan untuk mengusir kamu dari rumah ini Rama. Dan masalah yang terjadi di antara kamu dan Vika, itu saya juga tidak mau ikut campur. Karena saya tahu kondisi saya saat ini. Saya ini cacat Rama. Saya tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain."
Rama menghela nafas dalam.
"Saya juga tidak punya niat untuk mengusir Vika dan mama dari rumah ini. Karena ini rumah kalian. Dan saya juga tidak akan pernah menceraikan Vika apapun yang terjadi."
"Mama mau tanya satu hal sama kamu Rama. Katanya kamu sudah menikah lagi. Benarkah itu?" tanya Bu Tari penasaran.
"Iya Ma. Benar, aku sudah menikah lagi."
"Kenapa kamu nggak bicara dulu sama Mama."
"Maaf Ma, saya rasa untuk hal ini, tidak perlu mama dan Vika tahu. Karena ini urusan pribadi saya dengan istri baru saya. Saya menikah dengan wanita itu, sebenarnya karena anak Ma."
Bu Tari mengernyitkan alisnya.
"Maksud kamu?"
"Sebenarnya saya punya anak yang sudah lama saya telantarkan. Sebelum saya menikah dengan Vika dan sebelum saya cerai dengan istri saya, saya pernah menghamili seorang wanita. Dan wanita itu sempat menghilang lama bersama anak yang dia kandung. Dan sekarang saya menikahinya karena saya mau tanggung jawab dengan semua perbuatan yang pernah saya lakukan pada wanita itu Ma."
"Jadi, kamu sudah menemukan wanita itu dan anak kamu ?"
__ADS_1
"Iya Ma."