Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kabar tentang Safia


__ADS_3

Uhuk...uhuk...uhuk....


Suara batuk-batuk sudah terdengar dari kamar Pak Junedi.


Prang...


Suara pecahan gelas juga ikut mengiringi suara batuk-batuk Pak Junedi.


Shakira dan ibunya yang masih berada di ruang tengah saling menatap saat mendengar suara yang ada di dalam kamar Pak Junedi.


"Shakira. Kenapa dengan bapak kamu Shakira," ucap Bu Astri.


"Aku nggak tahu Bu. Apa jangan-jangan, sudah terjadi sesuatu sama bapak."Shakira tampak khawatir sama ayahnya.


Bu Astri dan Shakira bangkit dari duduknya. Tanpa butuh waktu lama, mereka kemudian melangkah ke kamar untuk melihat Pak Junedi.


Sejak di Vonis kanker paru stadium awal satu bulan yang lalu, Pak Junedi sudah tidak bisa melakukan aktifitas lagi seperti biasa.


Biasanya setiap hari Pak Junedi itu pergi ke sawah untuk mencangkul atau mengerjakan pekerjaan lain. Namun saat ini, tubuh Pak Junedi sudah semakin melemah.


Pak Junedi sudah tidak bisa melakukan kerja berat. Dia juga sudah tidak bisa memberikan nafkah ke Bu Astri. Namun walaupun begitu, Bu Astri tetap sabar.


Dia tetap telaten mengurus suaminya. Setiap hari Bu Astri jualan sayur keliling untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya.


Sementara Shakira, saat ini masih numpang hidup pada Bu Astri.


Suami Shakira sudah meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan. Dan Shakira belum punya penghasilan tetap untuk menghidupi dirinya sendiri dan anaknya.


Sejak perceraiannya dengan Rama beberapa tahun yang lalu, Shakira sudah mendapatkan suami baru dan Shakira sekarang sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang berusia enam tahun.


Satu tahun yang lalu, suami Shakira meninggal karena kecelakaan. Dan Shakira kembali menjadi janda untuk yang ke dua kalinya.


"Safia... Safia..." ucap Pak Junedi memanggil-manggil Safia sembari memegangi dadanya yang sakit.


Beberapa saat kemudian, Bu Astri dan Shakira masuk ke dalam kamar Pak Junedi untuk melihat kondisi Pak Junedi.


"Bapak..." ucap Bu Astri sembari mendekat ke arah suaminya.


Bu Astri terkejut saat melihat pecahkan gelas di bawah tempat tidur.


"Bapak pecahin gelas lagi," ucap Bu Astri.


"Bu, maafkan bapak. Tadi bapak mau ambil minum. Tapi tangan bapak nggak nyampe."

__ADS_1


Bu Astri tersenyum. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


"Pak, kalau mau minum bilang sama ibu dan Shakira. Nanti kita ambilin. Jangan ambil sendiri," ucap Bu Astri yang merasa iba dengan kondisi suaminya saat ini.


"Maafkan bapak Bu. Tadi bapak udah manggil-manggil kalian. Tapi kalian nggak dengar."


Shakira mendekat ke arah ayahnya. Dia kemudian duduk di sisi tempat tidur ayahnya.


"Bapak, besok kita periksa lagi ya ke dokter. Bapak dari kemarin batuk-batuk terus Pak," ucap Shakira.


"Nggak usah Shakira. Bapak nggak apa-apa. Percuma kamu bawa bapak ke dokter atau ke rumah sakit lagi. Nggak akan sembuh. Karena bapak ini sudah divonis kanker," ucap Pak Junedi.


"Pak, jangan bilang begitu. Bapak harus yakin kalau bapak pasti akan sembuh dari penyakit itu," ucap Shakira yang selalu memberikan dukungan penuh pada ayahnya.


"Tapi percuma kita berobat ke rumah sakit Shakira. Buang-buang biaya saja. Hidup kita juga sekarang sedang kesulitan. Uang dari mana kita untuk berobat," ucap Pak Junedi lagi.


Tampaknya Pak Junedi sudah mulai putus asa dengan penyakit yang di deritanya.


"Pak, bapak harus semangat Pak. Tuhan tidak akan memberikan kesulitan di luar kemampuan hamba Nya. Jika bapak sakit, Tuhan akan membantu kita untuk menyembuhkan penyakit bapak, asal kitanya mau berusaha. Dan bapak harus percaya itu," ucap Shakira.


Setetes air mata Pak Junedi mengalir dari pelupuk matanya. Air mata itu jatuh sampai membasahi kumis tebalnya.


"Kenapa bapak nangis?" tanya Bu Astri.


"Bapak nggak apa-apa. Bapak cuma teringat sama Safia. Sebelum bapak meninggal, bapak ingin bertemu Safia. Bapak kangen sama dia. Bapak takut, sampai bapak mati bapak nggak bisa melihat Safia lagi."


"Shakira. Berjanjilah sama bapak, kalau kamu akan cari adik kamu Safia sampai ketemu. Bapak sudah tidak punya banyak waktu lagi. Mungkin sebentar lagi bapak akan pergi selamanya meninggalkan dunia ini. Tapi sebelum bapak pergi, bapak ingin bertemu dengan Safia. Sepuluh tahun bapak menunggu Safia kembali, tapi dia sama sekali tidak mau kembali lagi ke rumah ini."


Shakira meneteskan air matanya. Dia tidak tega mendengar ucapan ayahnya.


"Pak, bapak jangan bilang seperti itu. Bapak harus semangat Pak. Bapak pasti akan sembuh," ucap Shakira.


"Iya Pak. Bapak jangan bilang seperti itu. Ibu dan Shakira janji, akan mengobati bapak agar bapak cepat sembuh. Ibu janji ibu akan giat lagi untuk mencari uang agar bapak bisa ke kota untuk berobat," ucap Bu Astri.


"Ibu yakin, kalau perlengkapan rumah sakit di kota itu sangat lengkap. Kalau ibu sudah punya banyak uang, ibu janji, ibu akan bawa bapak untuk berobat ke kota yang peralatannya lebih lengkap. Agar bapak bisa cepat sembuh," lanjut Bu Astri.


Pak Junedi tersenyum saat melihat ketulusan cinta dari sang istri dan Shakira anak sulungnya.


"Shakira juga janji sama bapak, kalau Shakira akan cari Safia sampai ketemu," ucap Shakira.


"Tapi kita mau cari Safia di mana Shakira. Sampai sekarang saja kita tidak tahu dimana keberadaan Safia," ucap Bu Astri.


Shakira diam. Tiba-tiba saja dia teringat dengan cerita Rahma sahabatnya yang selama ini merantau di Jakarta beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu, Shakira bertemu dengan Rahma di pinggir jalan. Mereka berbincang-bincang waktu Shakira dan anaknya sedang makan bakso di pinggir jalan. Karena kebetulan, Rahma dan suaminya juga makan di tempat itu.


Flashback.


"Shakira, ini anak kamu?" tanya Rahma pada Shakira.


"Iya. Ini anak aku dari suami ke dua aku."


"Oh... kamu nggak pernah ketemu Rama lagi?"


Shakira menggeleng.


"Nggak. Sejak aku bercerai dengan Mas Rama, sampai sekarang aku nggak tahu keberadaannya lagi. Aku juga nggak tahu keberadaan adik aku Safia. Safia dan Mas Rama, pergi secara bersamaan."


"Kok bisa sih? mereka udah janjian perginya ya?"


Shakira tersenyum.


"Ya nggaklah. Untuk apa Safia janjian pergi sama Mas Rama. Mereka pergi sendiri-sendiri. Karena sebuah masalah besar yang sudah menimpa keluarga kami. Membuat mereka pergi."


"Oh..." Rahma manggut-manggut mendengar ucapan Shakira.


Rahma diam dan tampak mengingat-ingat sesuatu.


"Kalau adik kamu, kayaknya saya pernah lihat dia di Jakarta deh."


Shakira terkejut saat mendengar ucapan Rahma.


"Kamu yakin kalau itu adik aku? kapan kamu lihat adik aku?"


"Belum lama sih. Tapi dia sepertinya sudah punya anak."


"Oh ya?"


"Iya. Anaknya udah besar lagi. Kalau nggak salah, waktu aku ketemu dia, dia lagi jalan sama anak cewek sepantaran Atika anak aku."


"Atika anak sulung kamu yang masih sepuluh tahunan itu?"


"Iya. Nggak tahu sih, itu anaknya Safia apa bukan. Tapi aku nggak pernah pangling kok, sama wajah adik kamu. Aku yakin, kalau wanita yang sedang menggandeng anak kecil sepantaran anak aku itu Safia adik kamu."


"Terus, kamu lihat bagaimana wajah anak kecil itu?"


Rahma menggeleng.

__ADS_1


"Mungkin Safia adik kamu sudah menikah dan sudah punya suami di Jakarta."


"Iya. Tapi dia nggak pernah mau pulang ke sini. Entah kenapa. Atau mungkin Safia sudah melupakan keluarganya di kampung. Tega banget Safia sama bapak dan ibu. Sejak dia pergi, dia tidak pernah memberi kabar kami sedikit pun," ucap Shakira sedih.


__ADS_2