Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Keinginan Shakira


__ADS_3

"Anna. Kenapa kamu diam aja. Kamu dari mana aja tadi? kamu pergi sama siapa? teman kamu?" runtutan pertanyaan dari Safia sudah membuat Anna bingung untuk menjawab pertanyaan dari ibunya.


Apa yang harus aku katakan sama bunda. Kalau seandainya aku jujur kalau tadi aku baru pergi sama Om Rama, apa bunda nggak akan marah, batin Anna.


"Tadi di jalan aku ketemu sama Om Rama Bun. Dan Om Rama ngajakin aku makan siang," jujur Anna pada ibunya.


Safia terkejut saat mendengar ucapan Anna.


"Apa! Om Rama. Orang yang sudah memberikan kamu uang kemarin?" tanya Safia.


Anna mengangguk. "Iya Bun. Om Rama, Om baik yang aku temuin kemarin. Tadi aku ketemu dia lagi di jalan. Dan dia ngajak aku pergi."


Safia menghela nafas dalam dan menatap manik mata anaknya lekat.


"Anna. Dengerin bunda. Kamu hati-hati sama orang yang baru kamu kenal. Akhir-akhir ini banyak pemberitaan tentang penculikan anak. Bagaimana kalau orang yang bernama Rama itu punya niat jahat sama kamu," ucap Safia.


Safia memang selalu khawatir saat Anna pergi tanpa memberi tahunya. Safia takut akan terjadi apa-apa sama anaknya. Safia tidak mau kehilangan Anna. Karena Anna adalah satu-satunya keluarga yang Safia punya saat ini.


"Mungkin dia baik-baikin kamu karena ada maunya. Bagaimana kalau ternyata dia adalah mafia perdagangan anak. Kamu bisa di culik dan bunda nggak mau kehilangan kamu Anna. Karena cuma kamu satu-satunya keluarga bunda," lanjut Safia.


Anna diam dan tampak berfikir.


Mas sih Om Rama jahat. Tapi Om Rama nggak seperti orang jahat kok. Dia orangnya baik banget, batin Anna.


"Anna. Apa yang kamu fikirkan Anna? ayo sekarang kita masuk ke dalam," ucap Safia sembari bangkit berdiri.


Aryo sejak tadi masih menatap ke arah Safia dan Anna.


"Aryo, aku masuk dulu ya," ucap Anna sebelum masuk ke dalam rumahnya.


"Aryo, kamu mau ikut masuk? mau main sama Anna?" tanya Safia.


Aryo menggeleng.


"Nggak usah Tan. Aku mau pulang aja."


"Ya udah sana kamu pulang. Hati-hati ya," ucap Safia pada Aryo.

__ADS_1


"Iya."


Aryo kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah Anna. Setelah Aryo pergi, Anna dan ibunya kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Sesampai di ruang tamu, Safia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Begitu juga dengan Anna yang mengikuti ibunya duduk.


"Anna, lain kali kamu jangan ulangi hal ini lagi ya. Kalau kamu pulang sekolah, kamu harus pulang dulu ke rumah. Kalau kamu mau pergi, kamu harus izin dulu sama bunda. Biar bunda nggak nyariin kamu dan khawatirin kamu," ucap Safia menasihati Anna agar dia tidak mengulangi perbuatannya lagi.


"Iya Bun. Maafin Anna ya Bun, karena Anna udah buat bunda cemas."


Safia tersenyum.


"Anna udah makan?"' tanya Safia menatap anaknya lekat. "Kalau Anna belum makan, bunda udah siapin Anna makanan di meja makan."


"Anna udah makan tadi di restoran sama Om Rama," jawab Anna.


"Restoran?" Safia mengerutkan keningnya.


"Iya. Om Rama itu baik banget Bun. Dia nggak jahat kok. Dia nggak seperti apa yang bunda fikirkan. Kalau Om Rama mau jahat dan mau culik aku, nggak mungkin dia ngantar aku pulang ke rumah. Kita berfikiran yang positif aja deh Bun," ucap Anna.


"Iya Anna."


Rama? sebenarnya siapa sih Rama itu? kenapa dia bisa baik banget sama anak aku. Aku jadi penasaran sama orang itu.


Safia memang sudah penasaran dari kemarin dengan Om baik yang ngasih uang ke Anna. Rama, orang itu namanya mirip dengan ayah kandungnya Anna.


***


Malam ini Shakira masih duduk bersama dengan Bu Asrti di ruang tengah. Bu Astri sejak tadi masih tampak menghitung-hitung uang receh hasilnya jualan keliling.


Shakira merasa prihatin dengan kondisi ekonomi orang tuanya saat ini.


Aku nggak boleh berdiam diri terus seperti ini. Aku harus bantu ibu mencari nafkah. Tapi bagaimana caranya. Sementara Rio masih susah ditinggal kerja. Dia pasti minta ikut terus kemana aku pergi. Sebenarnya aku juga ingin membantu perekonomian ayah dan ibu. Tapi bagaimana caranya sementara aku masih punya anak kecil.


Shakira menatap ibunya lekat.


"Bu, kalau aku kerja di Jakarta seperti dulu lagi boleh nggak Bu?" tanya Shakira pada ibunya.

__ADS_1


Bu Astri menatap Shakira lekat.


"Kamu mau kerja ke Jakarta? lalu bagaimana dengan Rio? Rio itu masih kecil," ucap Bu Astri.


"Bu, aku pengin kerja di Jakarta untuk bantuin ibu. Aku nggak mungkin dong, di kampung terus cuma ngandelin ibu. Apalagi sekarang bapak sedang sakit dan butuh biaya yang banyak. Kalau bukan aku, siapa lagi yang mau bantuin ibu nyari uang," ucap Shakira.


Bu Astri tampak sedih saat mendengar ucapan Shakira. Sebenarnya Bu Astri juga lelah harus banting tulang sendiri demi mencukupi kebutuhan keluarganya.


Seandainya Shakira mau membantu aku mencari uang, mungkin aku nggak akan selelah ini. Tapi bagaimana dengan Rio. kasihan dia kalau ditinggal kerja. Dia masih kecil.


Bu Astri sejak tadi masih diam dan masih tampak berfikir.


"Bu, apa boleh aku kerja lagi di Jakarta. Kerja di sana gajinya lumayan Bu. Aku yakin kalau aku kerja di sana, aku bisa menghidupi ibu, bapak dan Rio. Dan ibu di rumah aja momong Rio. Gimana Bu?" Sejak tadi Shakira masih membujuk ibunya agar ibunya mau mengizinkan dia kerja ke Jakarta.


Bu Astri masih diam. Dia belum mengiyakan ucapan Shakira.


"Tapi kamu mau kerja apa di Jakarta Shakira?" tanya Bu Astri menatap anaknya lekat.


"Kalau aku sih, kerja apa aja Bu. Mau di PT, mau jadi ART, yang penting bisa untuk memenuhi kebutuhan ibu, bapak, dan Rio. Dan aku juga mau kumpulin uang untuk berobat bapak. Sekalian nyari Safia Bu di Jakarta."


Bu Astri menatap tajam Shakira.


"Mencari Safia? kamu yakin mau nyari adik kamu di kota?"


Shakira mengangguk.


"Makanya, ibu izinkan aku ke Jakarta ya. Ibu di sini aja momong Rio. Biar aku kerja sekalian nyari Safia."


"Yah, terserah kamu saja lah Shakira. Kalau kamu mau kerja dan mau nyari Safia, silahkan aja."


Shakira tersenyum. Dia kemudian meraih tangan ibunya dan menggenggamnya erat.


"Iya. Aku juga udah janji sama bapak. Kalau aku akan nyari Safia sampai ketemu. Dan membawa Safia pulang ke rumah ini. Agar Safia bisa ketemu dengan ibu dan bapak lagi."


"Ya udah, biar ibu yang momong Rio. Kalau kamu mau kerja, kerja aja."


"Ibu yakin, udah izinkan aku ke Jakarta?"

__ADS_1


"Iya. Tapi kamu harus izin juga sama Rio. Dia ngizinin kamu nggak. Dia mau nggak ditinggal."


"Iya Bu. Nanti aku akan bujuk Rio. Agar dia mau ngizinin aku kerja."


__ADS_2