Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Nomer baru


__ADS_3

"Mas. Mas Rama...!" ucap Vika meninggikan nada bicaranya.


"Eh, iya. Kenapa?" Rama menatap sejenak istrinya sebelum dia kembali menatap ke depan.


"Mas, jadi dari tadi kamu nggak dengerin aku ngomong apa? apa sih Mas, yang lagi kamu fikirin?" Vika tampak kesal dengan Rama. Karena sejak tadi Rama cuek padanya.


"Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok. Aku dari tadi emang lagi fokus nyetir."


"Bohong. Dari tadi aku bicara tapi kamu diam aja. Kamu itu seperti nggak mendengarkan aku."


"Iya, maaf Vik. Namanya juga lagi fokus nyetir."


****


Malam ini, Shakira sudah berada di dapur. Dia tampak masih repot dengan pekerjaan mencuci piringnya. Setelah makan malam, Shakira langsung membereskan tempat makan dan mencuci piring-piring kotornya.


Shakira masih tampak memikirkan sesuatu.


"Mas Rama udah pulang belum ya jalan-jalannya. Sebenarnya tadi pagi aku ingin menanyakan soal alamat barunya Safia pada Mas Rama. Mas Rama sudah menemukan alamat rumah barunya Safia belum ya," ucap Shakira di tengah-tengah dia mencuci piring.


Shakira sebenarnya sudah sangat merindukan adiknya. Dia masih penasaran dengan anaknya Safia. Shakira masih berfikir, kalau anaknya Safia itu anaknya mantan suaminya.


Safia sudah punya anak. Dan usia anaknya itu sudah sepuluh tahun. Dia kabur dari rumah juga sudah sebelas tahun. Tidak mungkin setelah Safia kabur dari rumah dia langsung nikah dengan seorang lelaki dan langsung punya anak. Dan sepertinya Safia cuma ngarang cerita agar orang percaya kalau dia itu sudah bersuami. Padahal dia waktu itu, sedang mengandung benihnya Mas Rama. Benar nggak sih itu.


Shakira sejak tadi masih larut dalam fikirannya sendiri. Beberapa saat kemudian, seseorang menepuk bahunya pelan.


Prang...


Piring yang ada di genggaman Shakira terjatuh dan pecah berkeping-keping.


"Kir, kamu kenapa lagi sih? yang ibu lihatin dari kemarin kamu itu jadi banyak ngelamunnya. Ada apa sih Kir?" tanya Bu Astri.


Shakira menatap ibunya lekat.


"Ibu. Ngagetin aja sih."


"Kamu dari tadi nggak nyuci piring Kir. Tapi dari tadi kamu itu ngelamun. Tuh, Rio udah ngantuk. Dia udah minta pindah ke kamar. Tapi dia nggak mau sama ibu. Dia maunya tidurnya sama kamu Kir."


"Tanggung Bu. Tinggal sedikit. Suruh aja Rio tunggu sebentar lagi."


"Kamu kayak nggak tahu sifat anak kamu aja sih. Dia mana mau nunggu. Kalau sudah ngantuk ya sudah. Sana, biar ibu saja yang nerusin cuciannya."


"Nggak apa-apa Bu emang?"


"Ngak apa-apa. Sana, urusin dulu Rionya."


"Ya udah deh."


Shakira kemudian melangkah ke ruang tengah untuk menemui anaknya.


"Rio, kamu mau tidur?" tanya Shakira.


Rio mengangguk."Iya Ma."


"Ya udah, ayo kita ke kamar!" ajak Shakira.

__ADS_1


"Iya Ma."


Rio bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah Shakira. Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Rio naik ke atas tempat tidurnya. Setelah itu dia berbaring.


"Tidur ya Rio. Jangan nangis. Mama temani kamu di sini."


Rio hanya mengangguk.


Shakira mengambil selimut. Dia lantas menutupi tubuh anaknya dengan selimut. Tak selang berapa lama, Rio akhirnya terlelap.


Shakira tersenyum saat melihat anaknya terlelap.


"Tidur yang nyenyak sayang," ucap Shakira. Dia kemudian mengecup kening Rio.


Shakira kembali diam. Fikirannya saat ini masih tertuju ke Rama.


"Sebenarnya aku mau tanya soal alamatnya Safia pada Mas Rama. Tapi, Mas Rama ada di rumah nggak ya. Apa aku telpon aja dia..."


Sejak tadi Shakira ingin menelpon Rama. Tapi dia bingung. Dia takut jika dia telpon Rama, bagaimana kalau nanti Vika yang angkat telponnya.


Shakira menatap jam dinding. Waktu saat ini sudah menunjukan jam sembilan malam.


"Jangan deh. Aku takut telpon Mas Rama. Dia itu kan sekarang bos aku. Dan Bu Vika itu kan cemburuan. Kalau aku telpon Mas Rama malam-malam gini dan Bu Vika tahu, pasti Bu Vika akan berfikiran macam-macam tentang aku."


****


Di dalam kamarnya, Rama sudah terlelap. Sementara Vika sejak tadi masih bermain hape di samping Rama.


Tiba-tiba saja hape Rama berdering. Vika menatap hape Rama yang ada di atas nakas.


"Siapa sih yang nelpon malam-malam gini," ucap Vika.


Vika mengambil ponsel suaminya.


"Nomer siapa ini, kok nggak ada namanya. Apa ini nomer baru?" ucap Vika setelah melihat layar ponsel suaminya.


Vika kemudian mengangkat panggilan dari nomer baru itu.


"Halo..."


Tidak ada sahutan dari dalam telpon.


"Halo, ini siapa?"


"Halo..."


Sejak tadi Vika bicara. Namun tak ada sahutan dari dalam telpon. Membuat Vika kesal dengan si penelpon itu.


"Nomer siapa sih ini. Nyebelin banget deh," gerutu Vika.


Rama yang merasa terganggu dengan suara Vika, mengerjapkan matanya. Dia terbangun dan menatap Vika lekat.


"Ada apa sih Vik?" tanya Rama sembari mengucek matanya yang masih mengantuk.

__ADS_1


"Ini orang nelpon ke nomer kamu. Tapi dia diam aja dan nggak mau bicara. Kayaknya dia cuma mau ngerjain doang deh."


"Coba sini berikan hapenya ke aku "


"Ini." Vika kemudian memberikan ponsel itu pada Rama. Setelah itu Vika bangkit dari duduknya.


"Mas, aku mau ke luar dulu ya. Haus banget. Mau ambil minum. Sekalian mau lihat Liza di kamarnya."


Rama hanya mengangguk.


Setelah Vika pergi dari kamar, Rama mengecek nomer yang menelponnya tadi.


"Nomer baru. Nomernya siapa ya ini," ucap Rama.


Setelah itu Rama pun menekan nomer itu.


"Halo..."


"Halo. Ini Mas Rama ya."


"Shakira. Ini nomer kamu. Tadi kamu nelepon aku?"


"Iya Mas. Tapi tadi istri kamu yang angkat. Ya aku nggak berani bicaralah."


"Sebenarnya tadi aku udah tidur."


"Oh. Maaf banget aku udah ganggu kalian berdua.".


"Nggak apa-apa. Ada apa nelpon?"


"Aku cuma mau tanya Mas. Tanya alamatnya Safia. Apa kamu sudah tahu alamat barunya Safia?"


"Oh. Iya. Aku udah tahu. Tadi pagi aku juga ke rumahnya Safia."


"Terus?"


"Aku udah kasih tahu dia. Kalau kamu dan orang tua kamu sekarang ada di sini."


"Terus adik aku bilang apa?"


"Katanya dia kangen sama ibu dan bapak. Dia ingin ketemu sama ibu dan bapak. Dia juga minta alamat rumah kalian."


"Oh ya. Kenapa kamu nggak kasih alamat kami Mas."


"Emang kamu pernah ngasih alamat ke aku. Nggak kan?"


"Oh iya Mas. Aku belum ngasih alamat aku ke kamu."


"Begini aja Kir. Kamu kasih alamat kamu ke aku. Biar aku antar Safia dan Anna ke rumah kamu. Biar Safia sekalian ketemu sama orang tua kalian. Gimana?"


"Emang Safia mau datang ke sini sama kamu?"


"Ya aku akan bujuk dia."


"Ya udah, bujuk aja Safia. Agar dia mau datang ke sini. Kalau dia nggak mau ke sini, biar aku aja nanti yang ke rumahnya Safia."

__ADS_1


__ADS_2