Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Cemburu kah?


__ADS_3

Safia melepaskan tangan Rama. Setelah itu dia menatap Rama lekat.


"Mas, tapi aku nggak mau jadi istri yang ke dua. Jika saja kamu tidak punya istri, mungkin aku mau menikah dengan kamu. Tapi aku nggak mungkin menikahi lelaki yang masih beristri seperti kamu," ucap Safia menegaskan.


"Terus mau kamu apa? apa kamu mau aku ceraikan istri aku, biar aku bisa nikah sama kamu? oke, aku bisa lakukan itu demi kamu Safia."


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama


"Jangan dong Mas. Kalau kamu ceraikan istri kamu, kasihan anak kamu. Aku nggak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kamu. Aku nggak ingin Mas, menghancurkan rumah tangga kamu."


"Terus apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menikah dengan kamu. Kamu nggak kasihan sama Anna? selama ini dia menginginkan orang tua yang lengkap. Selama ini, dia rindu akan sosok ayahnya."


Safia bingung sekarang. Rama benar-benar serius dengan ucapannya. Safia tidak mungkin menikah dengan Rama karena dia sudah punya istri.


Dan Safia juga tidak tega dengan Anna, karena Anna selama ini, menginginkan orang tua yang lengkap. Dan sekarang, ayah kandung Anna ada di depan Safia, dan dia ingin bertanggung jawab sepenuhnya akan anaknya.


"Ya sudahlah Mas. Kita jalani aja dulu hubungan persahabatan kita. Kalau masalah menikah, aku juga belum punya niatan untuk punya suami. Jika kamu menginginkan aku menjadi istri kamu, aku akan fikirkan lagi. Karena tidak mudah, untuk seorang wanita menjalani kehidupan poligami. Apalagi jadi istri ke dua."


"Hubungan kita akan aman-aman saja Safia. Selama kita bisa merahasiakannya. Jika aku menikahi mu, istri aku pun tidak akan pernah tahu."


"Sudahlah Mas. Jangan bahas menikah. Jika kamu mau bertanggung jawab atas Anna, aku akan sangat berterima kasih sekali Mas sama kamu. Tapi untuk menikah dengan kamu, aku akan fikirkan lagi."


"Iya Safia. Aku akan tunggu kamu, sampai kamu siap."


****


Siang ini, Evan sudah sampai di depan rumah Safia. Setelah selesai mengajar, Evan langsung buru-buru ke rumah Anna. Sudah dua hari Anna tidak masuk sekolah. Evan khawatir kalau Anna sakit. Karena tidak biasanya dia bolos sekolah.


Evan menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di depan rumah Safia. Sebelum turun dari mobilnya, dia menatap mobil hitam yang terparkir di depan rumah Safia.


"Mobil siapa itu? seperti ada tamu di rumah Safia," ucap Evan.


Evan buru-buru turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah ke teras depan rumah Safia.


"Assalamualaikum," ucap Evan sesampainya di depan pintu.


"Wa'alakiumsalam," ucap Safia dan Rama bersamaan.


Safia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia keluar untuk menemui Evan.

__ADS_1


"Eh, Pak Evan. Ada apa Pak?" tanya Safia menatap Evan lekat.


"Lagi ada tamu ya Safia?"


"Oh iya. Ayo masuk Pak! mau ketemu Anna ya?"


"Sebenarnya iya, saya mau ketemu Anna. Sudah dua hari ini dia nggak masuk sekolah. Anna kenapa nggak masuk sekolah?"


"Anna nya lagi sakit Pak. Semalam dia demam."


"Udah kamu bawa ke dokter?"


"Belum Pak. Belum ada waktu."


Rama sejak tadi masih menatap tajam ke arah Safia dan Evan yang masih mengobrol di depan pintu.


Siapa lelaki itu. Kenapa dia bisa akrab banget begitu sama Safia. Aku benar-benar nggak suka, melihat pemandangan seperti ini. Safia nggak boleh cuekin aku, batin Rama.


Rama bangkit berdiri. Setelah itu dia mendekat ke arah Evan dan Safia. Evan terkejut saat melihat Rama.


Siapa lelaki ini, kenapa dia bisa ada di rumah Safia, batin Evan.


"Oh iya. Aku lupa ngenalin kalian. Mas Rama, ini Pak Evan gurunya Anna," ucap Safia memperkenalkan Evan pada Rama.


"Dan Pak Evan, ini Mas Rama temanku," lanjut Safia memperkenalkan Rama pada Evan.


Evan mengulurkan tangannya yang di sambut langsung uluran tangan Rama.


"Evan," ucap Evan.


"Rama. Calon suaminya Safia," ucap Rama. Setelah itu dia melepas tangannya.


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama. Begitu juga dengan Evan.


"Ja-jadi... dia calon suami kamu?" tanya Evan menatap Safia lekat.


Ada rasa sedih di hati Evan saat mendengar ucapan Rama. Karena selama ini Evan suka sama Safia. Sejak pertama kali dia bertemu dengan Safia, Evan sudah mulai suka sama Safia. Dan rencana Evan saat ini, dia ingin mendekati Safia.


Jadi, Safia sudah punya calon suami. Aku fikir, dia belum ada yang memiliki. Duh, kenapa hati ini nggak nyaman banget begini ya. Sebenarnya aku ke sini mau dekatin Safia. Tapi kenapa malah jadi seperti ini. Kenapa aku harus ketemu dengan calon suaminya Safia.

__ADS_1


"Maaf Pak Evan, Mas Rama ini cuma bercanda. Kami nggak ada hubungan apa-apa kok. Kami cuma teman," ucap Safia menjelaskan.


"Sayang, kenapa kamu bilang begitu, akui saja kalau kita itu sekarang sudah pacaran. Dan sebentar lagi kita mau nikah," ucap Rama yang sudah merangkul bahu Safia dengan paksa.


"Oh..." Evan hanya manggut-manggut.


Hati Evan benar-benar tidak nyaman rasanya. Apalagi, sejak tadi tatapan Rama berubah sinis padanya.


"Maaf ya Safia, kalau kedatangan saya ke sini, sudah ganggu kamu. Saya pamit pulang dulu," ucap Evan.


"Pak Evan kan belum masuk dan belum ketemu Anna. Kenapa Pak Evan mau pulang. Kami sama sekali nggak merasa terganggu kok. "


Safia benar-benar tidak enak dengan Evan karena Rama yang tiba-tiba saja memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Safia. Dan Rama juga berani untuk merangkul-rangkul bahu Safia di depan Evan.


"Saya masih punya banyak urusan. Kapan-kapan, saya mampir lagi ke sini Safia. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya Pak Evan."


Evan kembali lagi untuk ke mobilnya.


Safia benar-benar kesal dengan sikap Rama. Setelah Evan pergi, dia lantas menginjak keras kaki Rama yang membuat Rama memekik dan berhenti merangkulnya.


"Auh... kenapa kamu injak kaki aku Safia."


"Kamu ternyata nyebelin banget tahu nggak. Kenapa kamu bilang ke gurunya Anna kalau kamu calon suami aku."


"Lah, emang kenapa? memang benar kan, kalau kamu calon istri aku. Aku kan sudah bilang kalau aku akan nikahi kamu."


"Iya. Tapi kan aku belum menyetujuinya Mas."


"Ya sudahlah, jangan ngambek dong. Maafin aku. Lagian, aku nggak suka sama lelaki tadi. Dia kelihatannya suka sama kamu Safia. Tatapan dia ke kamu aja beda. Jadi aku sengaja bicara seperti itu, agar dia nggak dekatin kamu lagi."


"Kenapa kamu bisa berfikiran begitu. Dia itu gurunya Anna Mas. Dan dia ke sini mau jengukin Anna. Bukan mau dekatin aku."


"Iya, maaf Safia. Tapi aku nggak suka kamu akrab sama lelaki lain, dan kamu cuekin aku."


"Jangan bilang, kamu cemburu Mas, sama gurunya Anna," ucap Safia. Setelah itu dia berjalan duduk kembali di sofa.


Rama tersenyum dan menatap Safia lekat.

__ADS_1


"Kalau aku cemburu, emang nggak boleh Safia?"


__ADS_2