
"Permisi, apa benar ini rumah keluarga Rama?"
"Iya benar Pak. Saya kakaknya. Lebih tepatnya, kakak sepupunya. Ada apa ya Pak dengan adik sepupu saya?" tanya Intan.
"Saya dari pihak kepolisian, mau memberi tahukan, kalau adik anda sekarang ada di rumah sakit. Tadi sore, saudara Rama kecelakaan di jalan dan sekarang dia ada di rumah sakit."
"Apa! di rumah sakit? nggak mungkin Pak. Mungkin bukan adik saya yang kecelakaan."
"Saya menemukan KTP, berkas-berkas, dan hape korban yang sudah hancur."
Polisi kemudian mengambil barang-barang Rama untuk bukti.
Intan sangat syok saat melihat barang-barang milik Rama.
"Benarkah, itu barang-barang adik sepupu anda?"
Setetes air mata Intan terjatuh dari pelupuk matanya. Dia menangis sembari menatap barang-barang milik Rama yang berupa KTP, bekas-bekas, dompet, dan hape Rama yang hancur karena kecelakaan itu.
"Hiks...hiks...Rama... hiks."
Intan tidak sanggup menahan tangisannya. Dia menangis sesenggukan di depan polisi tanpa dia sanggup untuk berkata-kata lagi.
Beberapa saat kemudian, Hamdan keluar dari kamarnya. Dia penasaran dengan siapa yang datang. Hamdan terkejut saat melihat ke depan. Ternyata sudah ada dua orang berseragam polisi sudah berdiri di depan istrinya.
Polisi, mau ngapain polisi ke sini, ada apa sebenarnya.
Hamdan mendekati istrinya. Dia terkejut saat melihat istrinya menangis.
"Sayang, ada apa sayang? kenapa kamu nangis?"
Intan menatap Hamdan dan memberikan barang-barang yang dibawa polisi tadi.
"Rama Pa... Rama..." Intan sudah tidak sanggup bicara. Lidahnya kelu untuk mengatakan hal ini pada suaminya.
Hamdan menatap ke dua polisi yang ada di depan istrinya.
"Maaf ya Pak polisi. Ada apa ini sebenarnya?" tanya Hamdan pada ke dua polisi itu.
"Kedatangan kami ke sini, karena kami ingin memberitahu, kalau saudara Rama tadi sore kecelakaan di jalan. Dan sekarang dia ada di rumah sakit."
"Apa!"
"Dan itu adalah barang-barang saudara Rama."
"Terus, bagaimana dengan kondisi Rama?"
"Kalau itu saya kurang tahu kondisi Rama saat ini. Tapi tadi sore saya ke rumah sakit, Saudara Rama, masih berada di ruang UGD. Dia masih ditangani dokter. Tapi entahlah sekarang. Jika kalian mau tahu kondisi Rama, kalian bisa datang langsung ke rumah sakit."
__ADS_1
"Iya Pak. Saya akan ke sana."
*****
Hamdan dan istrinya masih syok saat mendengar kabar kecelakaan Rama. Setelah polisi pergi, Hamdan menatap istrinya. Saat ini mereka berdua sudah duduk di kursi ruang tamu.
"Ma, mama jangan nangis terus. Kita harus ke rumah sakit Ma, sekarang," ucap Hamdan.
Intan menatap Hamdan dengan berderaian air mata.
"Pa, mama khawatir dengan kondisi Rama. hape Rama aja sampe hancur. Mama takut, Rama tidak akan bisa diselamatkan," ucap Intan.
"Ma, jangan bicara macam-macam. Mama itu jangan nangis terus. Alangkah baiknya, kalau kita doakan Rama biar dia selamat. Jangan berfikiran yang nggak nggak."
"Kalau kita ke rumah sakit, lalu bagaimana dengan Chiko? apa kita akan tinggal Chiko sendiri di rumah malam-malam begini? anak sekecil Chiko kan nggak boleh masuk ke rumah sakit."
"Apa papa aja ya Ma, yang ke rumah sakit. Mama tunggu aja di rumah. Biar mama nemenin Chiko. Lagian ini udah malam Ma. Biar Papa aja yang ke rumah sakit." Hamdan mengusulkan.
"Nggak. Mama juga ingin melihat kondisi Rama. Kita titipkan Chiko ke tetangga aja Pa."
"Baiklah. Ayo, sekarang mama siap-siap. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang. Dan kita titipkan Chiko sama tetangga."
"Iya Pa."
****
Sesampainya di rumah sakit, Hamdan memarkirkan motornya di tempat parkir. Setelah itu mereka berdua turun dari motornya dan melangkah masuk ke dalam
"Ayo Ma, kita ke dalam!" ajak Hamdan.
Hamdan dan Intan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Mereka mencari keberadaan Rama. Hamdan dan Intan pergi ke ruang UGD untuk melihat Rama di sana.
"Suster tunggu..." ucap Hamdan pada seorang suster yang kebetulan lewat di depannya.
"Iya Pak, ada apa? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya suster itu pada Hamdan.
"Saya mau tanya, pasien kecelakaan tadi sore yang bernama Rama itu, di mana ya? katanya dia ada di ruang UGD. Apa dia sudah dipindahkan ke ruang rawat?" tanya Hamdan.
Suster diam dan berfikir.
"Oh, lelaki muda yang kecelakaan tadi sore itu ya," ucap suster.
"Iya Sus."
"Kalian keluarganya ya?" Suster itu menatap lekat Hamdan dan Intan bergantian.
Intan mengangguk.
__ADS_1
"Saya kakak sepupunya Sus. Kebetulan adik saya itu kan dari kampung. Dan dia lagi ikut saya di sini. Jadi semua keluarganya ada di kampung."
"Oh..."
Suster diam dengan menunjukkan wajah sedih.
"Suster, ada apa Sus?" tanya Intan menatap suster lekat.
"Saudara Rama sudah dipindahkan ke ruang ICU. Karena kondisinya kritis dan sekarang dia sudah di tetapkan koma," ucap suster yang membuat Hamdan dan Intan terkejut.
"Apa! koma?" ucap Hamdan dan Intan bersama.
"Iya. Kita tinggal doain saja, agar Rama tidak apa-apa dan bisa melewati masa kritisnya. Mudah-mudahan saja, ada sebuah keajaiban untuk Rama. Agar Rama bisa bangun dari komanya," ucap suster.
"Jadi sekarang Rama ada di ruang ICU?" tanya Hamdan.
"Iya Pak."
"Ya udah, ayo Ma. Kita ke sana!" ajak Hamdan pada istrinya.
Tanpa butuh waktu lama, Hamdan dan Intan pergi untuk ke ruang ICU.
Sesampai di ruang ICU, Intan dan Hamdan tidak melihat siapa-siapa di sana. Hanya ada seorang suster yang keluar dari ruang ICU.
Hamdan dan Intan menghampiri suster itu.
"Suster, apakah Rama ada di dalam?" tanya Intan.
"Iya Sus. Bagaimana keadaan Rama?" Hamdan ikut bertanya sembari menatap suter itu lekat.
Suster tidak langsung menjawab pertanyaan dari Hamdan dan Intan. Dia tampak masih bingung dengan kehadiran Hamdan dan Intan.
"Apakah saya boleh masuk ke dalam Sus. Saya ingin melihat kondisi Rama," ucap Intan.
"Maaf. Saudara Rama masih kritis. Dan dia belum bisa dijenguk. Kalian bisa tunggu di sini dulu untuk menunggu kondisi kabar selanjutnya," ucap suster.
"Iya Sus," ucap Hamdan.
Suster kemudian pergi meninggalkan ruang ICU. Sementara Intan kembali menangis.
"Hiks...hiks... Rama. Kenapa Rama jadi seperti ini, kenapa dengan adik aku Pa," ucap Intan di sela-sela tangisannya..
"Sudahlah Ma, mama yang sabar. Kita doain saja semoga Rama tidak kenapa-kenapa."
Hamdan merengkuh tubuh Intan dan menenggelamkan Intan ke dalam pelukannya. Intan hanya bisa menangis di pelukan suaminya. Dia sangat sedih dengan nasib yang menimpa Rama adik sepupunya.
"Sabar Ma, mama harus tenang. Nanti kita kabari keluarga Rama di kampung ya."
__ADS_1
Intan mengangguk.