
Vika menarik koper itu keluar dari kamarnya. Dia kemudian membawa koper itu turun ke bawah.
Bik Ijah dan Bu Tari terkejut saat melihat Vika.
"Vika, apa yang kamu lakukan Vik? kamu mau pergi ke mana?" tanya Bu Tari yang sudah berada di bawah dengan Bik Ijah sejak tadi.
"Bukan aku yang akan pergi Ma. Tapi Mas Rama yang akan pergi dari rumah ini,"ucap Vika sembari menatap Bu Tari tajam.
Bik Ijah dan Bu Tari terkejut saat mendengar ucapan Vika.
"Apa! kamu mau ngusir Rama Vik? tapi kenapa?" tanya Bu Tari. Dia masih belum tahu menahu masalah Vika.
"Ma, Mas Rama itu sudah mengkhianati aku Ma. Ternyata dia itu sudah punya istri lain selain aku. Diam-diam dia itu udah menikah dengan wanita lain," ucap Vika menjelaskan.
Bu Tari kembali terkejut.
"Apa! kamu yakin Vik?" tanya Bu Tari.
"Iya Ma. Tadi pagi aku nggak sengaja ngikutin mobil Mas Rama. Ternyata sekarang dia lagi berada di rumah istri barunya."
Bu Tari masih tidak menyangka dan masih tidak percaya dengan ucapan Vika. Namun Bu Tari yakin kalau Vika itu jujur dan tidak mungkin mengada-ada. Bu Tari percaya pada Vika karena Vika tidak pernah membohonginya.
Apa iya Rama udah nikah diam-diam. Tapi masa dia tega sih, mengkhianati Vika. Dia kan sudah janji sama ayahnya Vika, kalau dia nggak akan nyakitin Vika dan nggak akan meninggalkan Vika. Tapi kenapa bisa jadi seperti ini, batin Bu Tari.
Beberapa saat kemudian, Liza menuruni anak tangga sembari menangis. Dia kemudian mendekat ke arah ibunya.
"Mama, aku mohon Mama. Jangan usir papa dari sini. Mama harus mau maafin kesalahan papa. Aku nggak mau Mama dan Papa sampai pisah. Aku nggak mau kalian pisah. Hiks...hiks..hiks..." ratap Liza di depan ibunya.
Liza sejak tadi masih menangis. Dia masih memohon agar ibunya tidak mengusir ayahnya dari rumah.
Namun Vika yang masih emosi, sama sekali tidak mempedulikan tangisan dan ratapan anaknya. Dia melanjutkan langkahnya untuk ke ruang tamu sembari menyeret koper yang berisi baju-baju Rama itu keluar.
Setelah sampai di depan rumahnya, Vika menghentikan langkahnya. Dia kemudian meletakkan koper itu di teras depan rumahnya.
"Mama, aku mohon. Jangan usir Papa dari sini Ma. Aku masih butuh Papa Ma," ucap Liza sembari memegangi tangan Vika.
"Liza. Tidak ada kata maaf, untuk seorang pengkhianat seperti Papa kamu."
"Tapi Ma."
"Liza ayo kita masuk ke dalam! biarkan papa kamu pergi dari sini."
Vika memaksa Liza untuk masuk ke dalam rumah. Vika kemudian mengunci pintu ruang tamu dari dalam.
****
Rama masih dalam perjalanan ke rumahnya. Dia masih khawatir dengan Liza.
__ADS_1
"Mudah-mudahan Vika bisa mengendalikan emosinya dan tidak ngamuk-ngamuk di rumah. Kasihan Liza kalau sampai lihat ibunya ngamuk," ucap Rama di sela-sela menyetirnya.
Beberapa saat kemudian, mobil Rama sampai di depan rumahnya. Rama memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Setelah itu Rama turun dari mobilnya. Dia terkejut saat melihat ke teras depan rumah. Sebuah koper sudah tergeletak di sana.
"Koper siapa ini. Siapa yang mau pergi."
Rama yang penasaran , kemudian membuka koper itu.
Dia terkejut saat melihat ke dalam koper. Ternyata koper itu berisi baju-baju miliknya.
Rama tidak tinggal diam. Dia kemudian mengetuk pintu rumah Vika dengan keras.
"Vika...! Vika...! buka pintunya Vika...! kamu tidak berhak ngusir aku dari sini. Seharusnya kamu yang pergi dari sini Vika. Karena ini rumah ku...!" Seru Rama.
Dia sudah meninggikan nada suaranya.
Bu Tari dan Bik Ijah yang masih berada di ruang tengah, mendengar dengan seksama teriakan Rama. Sementara Vika dan Liza yang sudah naik ke lantai atas, mereka sama sekali tidak mendengar teriakan Rama di bawah.
"Vika buka pintunya Vika. Kalau tidak, aku dobrak pintu ini. Atau mungkin aku hancurkan rumah ini Vika ..! " Rama sudah hilang kendali. Dia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Bruak...Bruak...bruak...
Rama sejak tadi masih mencoba untuk mendobrak pintu itu.
"Bik, buka aja Bik pintunya. Rama sepertinya lagi
"Baik Bu."
Bik Ijah kemudian melangkah untuk ke membuka pintu depan.
"Pak Rama."
"Mana Vika?" tanya Rama menatap Bik Ijah tajam
"Bu Vika ada di dalam Pak."
Rama melangkah masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Dia kemudian buru-buru naik ke lantai atas di mana Vika berada.
"Vika...! Vika...! di mana kamu Vika...!" seru Rama dengan nada tinggi.
Vika dan Liza saling menatap saat mendengar seruan Rama.
"Liza, kamu tunggu di sini ya Liz. Biar Mama yang keluar nemuin papa kamu. Sepertinya papa kamu lagi marah sama Mama."
"Aku ikut ya Ma."
"Jangan, kamu di sini aja."
__ADS_1
"Tapi aku mau ikut Ma. Aku mau ketemu papa."
Vika menghela nafas dalam. Liza memang susah untuk dibilangin. Dia masih saja ngotot ingin menemui ayahnya. Padahal saat ini ayahnya sedang marah besar pada ibunya.
Beberapa saat kemudian, Bik Ijah naik ke lantai atas.
"Pak Rama, sabar Pak. Jangan marah-marah Pak, kasihan Non Liza. Tadi pagi saja dia sudah ketakutan karena mamanya ngamuk-ngamuk. Jangan tambahin lagi beban mental untuk si Non Pak. Kasihan, dia masih kecil harus melihat pertengkaran ke dua orang tuanya," ucap Bik Ijah panjang lebar.
Rama memejamkan matanya dan menghela nafas dalam. Dia mencoba untuk mengontrol emosinya.
Dia kemudian menatap ke arah Bik Ijah.
"Di mana anak aku Bi?"
"Dia ada di dalam kamarnya sama ibunya."
"Aku cuma ingin ketemu Vika. Bibi bawa Liza pergi Bik. Aku hanya ingin bicara dengan istriku."
"Iya Pak Rama."
Beberapa saat kemudian, Vika dan Liza keluar dari kamarnya. Liza ingin berlari dan memeluk ayahnya. Namun Vika masih memegangi pergelangan tangan Liza dengan erat.
"Vika, lepaskan Liza Vika," ucap Rama.
"Aku nggak mau lepasin Liza. Aku nggak mau kamu membawa Liza Mas."
"Maksud kamu apa sih? kamu ngemasin barang-barang aku ke koper dan membawa koper itu keluar. Kamu mau ngusir aku? apa kamu yakin mau ngusir aku?"
Bik Ijah mendekat ke arah Vika.
"Ikut bibik dulu yuk Non!" ajak Bik Ijah.
Vika melepaskan genggaman tangannya. Dia sepertinya sudah membolehkan Liza ikut dengan Bik Ijah.
Bik Ijah kemudian mengajak Liza untuk turun ke bawah.
"Ayo Non. Kita turun ke bawah biarin mama bicara dulu sama Papa."
"Iya Bik."
Setelah Liza dan Bik Ijah pergi, Rama menatap Vika nanar.
"Maksud kamu apa heh! bawa-bawa barang-barang aku keluar? kamu mau ngusir aku? apa nggak salah? seharusnya aku yang ngusir kamu dari sini Vika."
"Mas, ngaca kamu Mas. Ini itu rumah peninggalan ayahku. Kamu itu bukan siapa-siapa di sini. Ingat Mas, kamu itu cuma lelaki kampung yang di jadikan menantu oleh orang kaya. dan sekarang kamu sudah menikmati harta ayahku. Dan kamu berani macam-macam sama aku. Ini Mas akibatnya kalau kamu berani macam-macam sama aku."
"Tapi sayangnya rumah ini sudah bukan milik ayah kamu lagi. Rumah ini, sudah lebih dulu pindah tangan atas nama aku Vika. Begitu juga dengan perusahaan ayah kamu, sudah menjadi atas nama ku."
__ADS_1
****