Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Hampir keguguran


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Bu Maryam mendatangi rumah laundry Bu Windi untuk melihat Safia. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Safia saat ini.


"Safia..." ucap Bu Maryam saat melihat Safia dipapah oleh Bu Windi.


Tampaknya Safia sudah sangat lemah. Dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang ada di perutnya.


Bu Maryam buru-buru mendekat ke arah Bu Windi.


"Bu Windi. Apa yang terjadi?" tanya Bu Maryam.


"Safia lemas banget. Dia harus cepat-cepat dibawa ke dokter," jawab Bu Windi.


"Benarkah kalau dia pendarahan?"


"Iya benar Bu Windi. Ayo Bu, kita papah Safia sampai ke mobil."


"Iya Bu Windi."


Bu Maryam kemudian membantu Bu Windi untuk membawa Safia ke mobil.


"Bu Maryam maaf ya, kalau saya sudah ngerepotin Bu Maryam. Saya benar-benar lagi sibuk. Laundry saya lagi rame banget, jadi saya tidak bisa mengantar Safia sampai rumah sakit," ucap Bu Windi.


"Iya Bu. Nggak apa-apa. Saya ikhlas kok membantu Safia. Saya juga sudah menganggap Safia seperti anak kandung saya sendiri. Kasihan dia di sini nggak punya siapa-siapa."


"Iya Bu Maryam."


Bu Windi dan Bu Maryam kemudian membawa Safia masuk ke dalam mobil.


"Safia, kamu sama Bu Maryam aja ya ke rumah sakitnya. Soalnya ibu lagi sibuk banget. Kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi ibu ya," ucap Bu Windi setelah Safia masuk ke dalam mobilnya.


Safia yang sudah tampak tak berdaya hanya mengangguk. Setelah Safia masuk ke dalam mobil, Bu Maryam kemudian mengikuti Safia masuk ke dalam mobil.


"Rob...! Robi...! cepat Rob. Kamu antar mereka ke rumah sakit!" pinta Bu Windi pada Robi salah satu karyawannya.


Robi mengangguk. "Iya Bu."


Robi kemudian masuk ke dalam mobil untuk mengantar Safia dan Bu Maryam ke rumah sakit.


Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah Bu Windi untuk ke rumah sakit.


"Safia sebenarnya, apa sih yang terjadi? Kamu kenapa bisa pendarahan?" tanya Bu Maryam di dalam perjalanan ke rumah sakit.


Safia yang ditanya hanya diam. Dia bingung mau bicara apa sama Bu Maryam. Safia hanya bisa pasrah dengan kondisinya saat ini. Perutnya terasa sangat sakit. Dia tidak bisa bicara apa-apa.


Sesampainya di depan rumah sakit, Robi karyawan Bu Windi, turun dari mobilnya. Setelah itu dia membukakan pintu untuk Bu Maryam dan Safia.


"Rob. Tolong bantu Safia turun Rob!" Pinta Bu Maryam.


"Baik Bu."


Robi kemudian membantu Safia turun dari mobil.


Beberapa saat kemudian, seorang suster mendekat ke arah Safia.


"Ada apa ya Bu? ada yang bisa kami bantu?" tanya suster itu pada Bu Maryam.


"Tolong Safia Sus. Dia sepertinya pendarahan," ucap Bu Maryam.


"Oh, baiklah. Tunggu di sini."

__ADS_1


Suster kemudian mengambil kursi roda dan menghampiri Safia dengan membawa kursi roda itu.


"Mbaknya masih bisa kan pakai kursi roda,?" tanya suster.


Safia hanya mengangguk. Setelah itu dia naik ke kursi roda. Suster itu kemudian mendorong Safia sampai ke ruang UGD.


"Kalian tunggu di sini saja ya. Biar kami yang akan menanganinya. Ibu, bisa daftar dulu ke ruang pendaftaran," ucap suster.


Bu Maryam mengangguk."Ayo Rob. Temani saya!"


"Iya Bu."


Bu Maryam dan Robi kemudian pergi ke ruang pendaftaran untuk mendaftarkan Safia untuk rawat inap di rumah sakit.


****


Ring ring ring....


Deringan ponsel Robi terdengar dari saku baju Robi. Robi merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Dia kemudian mengangkat panggilan dari bosnya.


"Halo Bu Windi."


"Halo Rob. Bagaimana kondisi Safia? kenapa dia bisa pendarahan."


"Safia masih ada di ruang UGD. Dia saat ini masih ditangani oleh dokter. Dan kami belum tahu, kenapa penyebab Safia pendarahan."


"Oh. Mana Bu Maryam. Saya ingin bicara sama dia."


"Ini Bu."


Robi kemudian menyerahkan ponselnya ke Bu Maryam.


"Ini dari Bu Windi."


Bu Maryam kemudian mengangkat telpon dari Bu Windi.


"Halo Bu Windi. Ada apa?"


"Bu Maryam. Saya titip Safia dulu ya. Nanti kalau sudah ada waktu longgar, saya akan ke sana jengukin dia."


"Iya. Nanti saya kabari kalau sudah ada perkembangan kondisi Safia."


"Oh iya. Bu Maryam jangan khawatir dengan biaya rumah sakit. Karena saya yang akan membayari semua biaya Safia. Karena saya yang berkewajiban untuk menolong karyawan saya."


"Iya Bu Windi."


"Ya udah. Robi jangan disuruh pulang dulu Bu. Biar dia di sana dulu nemenin ibu."


"Iya."


"Ya udah, mana Robi. Saya mau bicara lagi sama dia."


Bu Maryam kemudian mengembalikan ponsel Robi.


"Halo Bu Windi. Kenapa Bu?"


"Kamu jangan pulang dulu ya Rob. Temani Bu Maryam di sana. Kalau ada waktu longgar, nanti saya akan ke sana."


"Iya Bu."

__ADS_1


"Ya udah. Kalau ada apa-apa sama Safia, cepat kabari saya ya."


"Iya Bu."


"Ya udah. Gitu aja Rob."


"Iya Bu."


****


Setelah lama Robi dan Bu Maryam berada di ruang tunggu UGD, beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan UGD.


Dia kemudian menghampiri Bu Maryam dan Doni.


"Maaf, dengan keluarga Mbak Safia?" tanya Dokter menatap Bu Maryam dan Robi bergantian.


Bu Maryam mendekat ke arah dokter.


"Iya Dok. Saya bu Maryam keluarganya Safia," jawab Bu Maryam.


"Ibu siapanya Safia ya? Ibu kandungnya?"


"Saya ibu angkatnya Dok.


"Oh." Dokter mengerutkan bibirnya membentuk huruf O.


"Bagaimana keadaan Safia Dok?" tanya Robi yang sejak tadi masih sangat mengkhawatirkan kondisi Safia.


Walau Robi dan Safia baru saling kenal, namun Robi melihat Safia itu wanita yang baik. Robi mengenal Safia, sejak Safia kerja di rumah laundrinya Bu Windi. Dan mereka berteman baik sampai saat ini.


"Untung kalian membawa Safia ke sini tepat waktu, kalau tidak mungkin janin yang ada di dalam kandungannya Mbak Safia tidak akan selamat."


Robi dan Bu Maryam terkejut saat mendengar ucapan dokter.


"Apa! jadi Safia hamil?" ucap Bu Maryam dan Robi bersamaan .


"Iya. Apa kalian belum tahu kalau Mbak Safia hamil?"


Robi dan Bu Maryam menggeleng. Setelah itu mereka saling menatap.


"Seharusnya, bapak itu harus lebih memperhatikan istri bapak. Karena usia kandungan yang baru beberapa minggu itu masih rawan keguguran. Bagaimana kalau tadi Mbak Safia sampai keguguran," ucap Dokter menatap Robi lekat.


Robi bingung saat mendengar ucapan dokter.


"Maaf Dokter, tapi saya bukan suaminya. Saya cuma teman kerjanya."


"Oh... maaf. Saya fikir suaminya. Lalu, suaminya mana ini? kok nggak menemani istrinya di sini?"


"Saya tidak kenal sama suaminya Dok," ucap Robi.


"Ya sudah nggak apa-apa. Yang penting sekarang Mbak Safia dan janinnya sudah selamat."


Bu Maryam dan Robi hanya mengangguk.


"Kalau begitu, saya pergi dulu ya. Sebentar lagi, Mbak Safia akan dipindahkan ke ruang rawat. Kalian bisa temani dia di sana."


"Iya Dok. Makasih banyak ya Dok."


Dokter kemudian pergi meninggalkan Robi dan Bu Maryam.

__ADS_1


__ADS_2