Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Pertanyaan Rama


__ADS_3

Rama menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di jalan depan rumah Anna. Rama turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam gang itu untuk sampai ke rumah Anna.


Sesampainya di depan rumah Anna, Rama menghentikan langkahnya. Dia kemudian menatap sekeliling.


"Kok rumahnya sepi ya. Anna ada di dalam atau nggak ya," ucap Rama. Dia tampak ragu untuk mengetuk pintu rumah Anna. Karena rumah itu tampak sepi.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita menghampiri Rama.


"Cari siapa Mas?" tanya Wati.


Rama menoleh ke belakang di mana Wati berdiri. Dia kemudian memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Wati.


"Maaf Mbak, Anna ada di dalam nggak ya?" tanya Rama pada Wati.


"Mas siapa? ayah kandungnya Anna ya?" celetuk Wati.


"Bukan, saya bukan ayah kandungnya Anna. Saya tamunya Anna," jawab Rama.


"Oh, bukan ayahnya Anna ya. Aku kira Mas ini ayah kandungnya Anna. Soalnya Mas mirip banget sama Anna," ucap Wati.


"Masa sih, aku mirip Anna. Cuma kebetulan aja kali Mbak. Katanya ayahnya Anna kan sudah meninggal."


"Sebenarnya Mas ini siapa sih? jangan-jangan Mas ini calon ayah barunya Anna ya?" terka Wati sekenanya.


"Bukan Mbak. Saya sudah punya istri dan anak kok. Saya cuma mau bertamu saja di sini. Saya mau ketemu Anna."


Di tengah-tengah pembicaraan Wati dan Rama, Bu Nunung menghampiri mereka.


"Wati, kamu ini lagi ngapain sih. Dari tadi nanya-nanya mulu. Kepo banget," celetuk Bu Nunung.


Wati memang suka kepo. Apalagi dengan lelaki tampan dan kaya raya seperti Rama. Jarang juga di sekitar rumah Wati ada tamu seorang pengusaha seperti Rama.


"Mas, mau nyari Safia ya?" tanya Bu Nunung yang membuat Rama terkejut.


Safia? kok Safia. Aku ke sini kan mau nyari Anna. batin Rama.


"Oh, saya mau nyari Anna Bu. Bukan Safia."


"Oh, saya fikir mau nyari Safia. Ternyata mau nyari Anna."


"Iya Bu. Anna ada di dalam?" tanya Rama pada Bu Nunung.


"Anna tadi keluar sama ibunya. Sepertinya mereka mau ke pasar. Hari ini kan ibunya Anna libur kerja. Jadi, dia bawa Anna ke pasar," ucap Bu Nunung menjelaskan.


"Oh... aku kira Anna ada di dalam."


"Tunggu aja Mas sebentar. Mereka udah lama kok, ke pasarnya. Sebentar lagi mungkin mereka juga pulang," ucap Bu Nunung.


"Oh iya. Makasih ya Bu."


"Iya Mas. Duduk dulu aja Mas."

__ADS_1


"Iya Bu."


"Saya pergi dulu ya Mas. Saya mau ke warung."


"Iya Bu."


Rama kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang ada di teras depan rumah Anna.


Beberapa saat kemudian, Aura menghampiri Rama.


"Om Rama ya?" ucap Aura.


Rama menoleh ke arah Aura dan tersenyum.


"Eh, Aura. Kamu ada di sini? kamu mau main sama Anna?" tanya Rama.


Aura mencium punggung tangan Rama. Setelah itu dia duduk di sisi Rama.


"Om Rama mau nyari Anna ya?"


Rama mengangguk.


"Iya. Om udah janji sama Anna. Kalau hari minggu, Om mau main ke rumah dia. Katanya Anna mau ngenalin Om sama ibunya."


"Oh... iya. Om belum kenal ya sama Tante Safia?"


Rama kembali terkejut.


"Om nggak kenal ya, sama ibunya Anna. Ibunya Anna kan namanya Safia."


"Safia? jadi ibunya Anna namanya Safia? Om nggak tahu kalau ibunya Anna itu namannya Safia. Soalnya, Anna belum pernah ngasih tahu nama ibunya pada Om."


"Oh gitu ya Om. Ibunya Anna itu cantik Om. Dia itu masih sangat muda."


"Iya. Om percaya. Anaknya aja masih sepantaran Anna. Pasti masih muda."


Kok nama ibunya Anna bisa samaan sih sama mantan adik ipar ku. Apa jangan-jangan, Anna anaknya Safia? ah, mana mungkin sih Safia punya anak. Dia aja belum pernah nikah.


"Om telpon aja Anna. Siapa tahu dia bawa hape," ucap Aura mengusulkan.


"Iya. Benar kamu Aura. Om telpon Anna aja deh, biar dia tahu kalau Om sudah nunggu dia di depan rumahnya."


Rama kemudian menelpon Anna.


"Halo..." suara Anna sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo sayang, kamu lagi di mana?"


"Aku lagi ikut bunda ke pasar Om."


"Oh... Om udah ada di depan rumah kamu An."

__ADS_1


"Om Rama kepagian datangnya. Aku dan bunda kan sengaja ke pasar. Mau belanja buat masak. Biar Om Rama ikut makan bersama kami. Jadi bunda mau masak banyak."


"Oh... gitu ya. Om sekarang lagi sama Aura di depan rumah kamu."


"Tunggu aja Om. Sebentar lagi aku dan bunda pulang kok."


"Ya udah. Om tunggu ya."


"Iya Om."


****


Di sisi lain, Safia masih bersama Anna di pasar.


"Siapa An? Om Rama kamu yang nelpon?" tanya Safia.


"Iya. Bunda. Dia udah datang ke rumah."


"Iya. Ini bunda juga udahan kok."


"Ya udah, ayo kita pulang Bun. Aku pengin cepat-cepat kenalin bunda sama Om Rama."


"Iya."


Setelah belanja, Safia dan Anna kemudian berjalan untuk pulang ke rumahnya. Kebetulan, rumah kontrakan Safia itu dekat dengan pasar. Jadi Safia dan Anna cukup jalan kaki saja untuk sampai ke pasar. Mereka pun kembali jalan kaki untuk sampai ke rumah mereka.


Safia dan Anna menghentikan langkahnya setelah mereka sampai di depan rumahnya. Safia terkejut saat melihat kehadiran Rama di depan rumahnya.


Hampir saja Safia terkena serangan jantung saat melihat Rama. Tas yang ada dalam genggaman Safia pun Safia jatuhkan. Sehingga membuat barang-barang belanjaan Safia jatuh berserakan di tanah.


Anna dan Aura yang melihat Safia tampak bingung. Begitu juga dengan Rama. Dia juga sama terkejutnya seperti Safia. Dia masih tidak menyangka kalau dia akan dipertemukan lagi dengan Safia dalam kondisi yang berbeda.


Rama perlahan-lahan menghampiri Safia.


"Safia, kamu bundanya Anna?" tanya Rama.


Safia yang ditanya hanya diam.


"Safia, Anna anak kamu?" tanya Rama satu kali lagi.


Safia menghela nafas dalam. Dia sejenak memejamkan matanya dan mengangguk.


"Iya. Dia anak kandung aku."


"Apa! jadi Anna anak kecil yang aku kenal dan sedang dekat dengan aku, adalah anak kandung kamu? lalu siapa ayah Anna. Kata kamu, kamu belum pernah menikah. Tapi kenapa kamu punya anak. Dan kata Anna, ayah Anna itu ada di kampung dan sudah meninggal. Mana ini yang benar Safia?"


Deg.


Bagai tersambar petir di siang bolong saat Safia mendengar pertanyaan Rama. Mungkinkah Safia harus mengatakan kejujuran itu, kalau Anna sebenarnya adalah anak kandung Rama. Atau dia simpan saja rahasia itu.


"Kamu bukan siapa-siapa aku Mas Rama. Kamu tidak perlu tahu siapa ayah kandung Anna. Dan kamu tidak perlu tahu, urusan pribadi aku, ucap Safia dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


__ADS_2