
Dengan bantuan Anna, Safia akhirnya sudah bisa memapah tubuh Rama dan membawa Rama masuk ke dalam kamarnya.
"Duh, Mas Rama berat banget sih," ucap Safia.
Safia mencoba untuk membaringkan tubuh Rama di atas ranjangnya. Namun apa yang terjadi, karena tidak bisa menjaga keseimbangan, justru Safia jatuh di atas ranjangnya bersama tubuh Rama yang ikut jatuh juga di atas tubuh Safia.
Anna terkejut saat melihat adegan itu.
"Bunda..."
"Anna. Tolongin bunda, tubuh Om Rama berat banget. Bunda nggak kuat An..."
Dengan sekuat tenaga, Safia mencoba menyingkirkan tubuh Rama dari atas tubuhnya. Sementara Anna tidak tinggal diam. Dia juga ikut menarik Rama agar bundanya bisa bangun.
"Bunda ayo bangun" Anna sudah mengulurkan tangannya untuk membantu bundanya bangun.
Setelah Safia berhasil menyingkirkan tubuh Rama yang berat itu, akhirnya Safia bisa bangun juga. Sementara Rama sudah terbaring di atas ranjang kecil Safia.
"Anna, kamu boleh tidur lagi sayang. Biar bunda yang urus Om Rama."
"Iya Bun. Bunda mau tidur sama Om Rama di kamar ini?" tanya Anna sekenanya.
Safia terkejut saat melihat pertanyaan Anna.
"Apa! nggak. Bunda mau tidur di kamar Anna aja. Bunda nggak boleh dong tidur sama lelaki berdua di kamar. Om Rama kan bukan suami bunda. Dosa kalau bunda tidur sama Om Rama."
Anna tersenyum menunjukan lesung pipinya.
"Andai aja ya Bun, ayah Anna masih hidup. Pasti kita bisa lebih seru dari ini. Kita bisa bercanda bareng bertiga," ucap Anna yang membuat Safia kembali terkejut.
Deg.
Mata Safia mulai berkaca-kaca. Sebenarnya Safia tidak tega membohongi Anna terus. Namun mau bagaimana lagi. Safia sudah terlanjur membohongi semua orang.
Dia juga belum sanggup untuk jujur dan mengatakan pada Anna, bahwa Om Rama adalah ayah kandung Anna yang sesungguhnya.
"Bunda, bunda kenapa sedih? bunda ke ingat lagi ya sama ayah. Maafin Anna ya bunda," ucap Anna.
Setetes air mata Safia membasahi pipi mulusnya. Air mata itu mengalir begitu saja dari pelupuk mata Safia.
Anna mendekati bundanya. Setelah itu dia mengusap air mata bundanya dengan sayang.
__ADS_1
"Maaf, kalau Anna sudah bahas soal ayah lagi. Anna janji Anna nggak akan bahas ayah lagi."
Safia mengusap sisa-sisa air matanya. Setelah itu dia menatap anaknya.
"Sudah malam. Anna bobok sana. Jangan mikirin macam-macam. Nanti bunda nyusul Anna ke kamar. Jangan di kunci ya pintu kamarnya."
"Iya Bun."
Anna kemudian pergi meninggalkan Safia. Dia kembali untuk tidur di kamarnya.
Safia sudah duduk di sisi ranjang di mana Rama berbaring. Safia menatap wajah Rama lekat.
"Kenapa kamu mabuk bisa sampai sini Mas. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?" ucap Safia.
Safia terkejut saat tiba-tiba saja Rama mengerjapkan matanya. Karena pengaruh alkohol Rama seperti tidak mengenali Safia. Rama meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat. Dia kemudian memanggil-manggil nama Vika.
"Vika... aku benci sama kamu Vika. Bisa-bisanya kamu mengkhianati aku Vika.." ucap Rama merancau tak karuan di depan Safia.
Safia memejamkan matanya. Tiba-tiba saja bayangan kejadian beberapa tahun yang lalu berkelebatan cepat di memori otaknya.
Safia langsung melepaskan genggaman tangan Rama.
"Nggak. Aku nggak boleh dekat-dekat Mas Rama. Bagaimana kalau dia macam-macam lagi sama aku seperti dulu," ucap Safia.
Rama memejamkan matanya kembali.
"Kenapa harus muntah di sini sih. Ih, menyebalkan sekali lelaki ini. Aku kan jadinya yang repot," gerutu Safia
Tapi bagaimana pun juga, dia ayahnya Anna. Jika tidak ada Mas Rama, tidak akan mungkin ada Anna. Anna permata hatiku yang selama ini menjadi warna di kehidupanku , batin Safia.
Safia mengambil tisu yang ada di tasnya. Dia kemudian dengan telaten membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di wajah dan baju Rama.
Selesai itu, Safia membuka jas Rama. Dia meletakan jas itu di lantai. Safia juga membuka dasi Rama dan dengan perlahan dia membuka satu persatu kancing kemeja Rama.
Setelah semua kancing kemeja terbuka, Safia melepaskan kemeja itu dari tubuh Rama, sehingga membuat tubuh Rama bagian atas telanjang.
"Aku nggak punya baju ganti. Aku biarkan aja Mas Rama telanjang seperti ini. Biarin nanti aku cuci jas dan kemejanya besok."
Safia mendekat ke lemari bajunya. Dia kemudian mengambil selimut untuk menutupi tubuh Rama.
Setelah itu Safia keluar dari kamarnya. Dia menuju ke kamar anaknya untuk tidur di dalam kamar Anna.
__ADS_1
Safia sudah berbaring di sisi anaknya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Sejak tadi rupanya Anna belum tidur.
"Bun, aku fikir bunda mau tidur bareng Om Rama," ucap Anna lirih.
Safia membuka matanya dan menatap Anna yang sudah berbaring menghadapnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Safia.
Anna menggeleng.
"Aku nungguin bunda masuk ke kamar. Tapi bunda lama banget sama Om Rama di kamar sebelah. Bunda dan Om Rama lagi ngapain aja sih?"
"Ssstttt. Apa yang kamu fikirkan An? bunda nggak ngapa-ngapain sama Om Rama. Tadi Om Rama muntah-muntah. Jadi bunda lepaskan bajunya Om Rama. Makanya lama."
"Bun, sekarang Om Rama lagi ngapain?"
"Dia tidur lah. Udah, sekarang Anna tidur. Besok mau sekolah kan. Jangan sampai telat lagi.
"Iya Bun."
****
Mentari pagi ini sudah bersinar sempurna. Waktu saat ini sudah menunjukkan jam setengah tujuh. Safia dan Anna sudah berada di ruang makan. Mereka masih tampak menikmati sarapannya pagi ini.
"An, kapan sekolah kamu mulai tes?" tanya Safia pada anaknya.
"Mungkin minggu depan Bun," jawab Anna di sela-sela kunyahannya.
"An, bunda belum bisa bayar sekolah Anna untuk yang bulan ini. Soalnya uang gajian bunda, sudah bunda berikan ke Budhe kamu kemarin."
"Nggak apa-apa kok Bun. Bunda tenang aja. Sekarang wali kelas Anna kan Pak Evan. Dia orangnya santai kok Bun. Nggak bawel kayak guru yang kemarin."
Di dalam kamarnya, Rama mengerjapkan matanya. Dia menatap sekeliling kamarnya.
"Duh, aku ada di mana ini," ucap Rama sembari beringsut duduk.
Rama sejak tadi masih memegangi kepalanya yang terasa nyeri.
"Duh, kenapa aku pusing banget begini. Kepala aku sakit banget begini kenapa ya."
Rama terkejut saat melihat tubuhnya telanjang. Dia menatap ke lantai. baju-bajunya tampak tergeletak di lantai. Nampaknya sejak semalam, Safia belum masuk kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan aku semalam. Dan ada di mana aku ini," ucap Rama yang masih menatap sekeliling kamar kecil itu. Dia benar-benar lupa dengan kejadian apa saja yang sudah menimpanya semalam.