Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Complicated Situation 1


__ADS_3

Kepalanya menengadah, langit-langit ruangan ini seakan melukis angan. Kira mengatur nafasnya yang masih berantakan, tak beraturan, lebih banyak menarik dari pada membuang. Kepalanya bersandar di tangan sofa yang lembut, kakinya terlipat sempurna, polos, hingga beberapa inch di atas lutut. Tubuh tengahnya tertutup, kemeja.


"Apa kata Vivian?" Suara di atas kepalanya menempel di kening. Dekat, dan hangat.


"Dia belum melapor padamu?" Tangannya mengulur, meremas belakang kepala, menyisir rambut hitam itu pelan. Matanya terpejam, menikmati aliran kehangatan.


"Belum," Jawabnya singkat, lembut, dia beralih ke ujung hidung dan menanamkan gigitan disana.


"Aku tidak jadi kesana, Abangku sayang. Dokter Vivian ada operasi mendadak, katanya sore ini, jika aku mau, dia akan meluangkan waktu untukku," Kira memiringkan kepalanya ke kanan, menghindari kontak dengan bibir penuh itu.


"Kau menyetujuinya?" Janggut dengan bulu halus itu menggesek pelan pipi merona merah. Membuat punggung Kira kembali berdesir. Kira menggeleng.


Kira menelan ludah, dengan tegas, dia menolak wajah itu agar menjauh. Ah, bisa gila jika terus-terusan seperti ini.


Harris berseri, senyum kepuasan meniti ke ujung bibirnya. "Kau mau lagi?"


Kira menggeleng, seraya memeluk bahu dan perpotongan pinggang dan kakinya. Lututnya tertekuk sedikit, seakan membentengi tubuhnya. Ini sudah dua jam lamanya, bahkan makanan pun sudah dingin, tak enak lagi di makan.


Harris menegakkan badannya yang sudah segar dan wangi. Bunyi khas tulang yang meregang, menggelitik telinga, lalu, tubuh indah itu menyangga kepala Kira, dan memposisikan dirinya sebagai tumpuan. Keduanya leluasa saling memandang. Enggan kehilangan momen keintiman yang masih menyelimuti keduanya.


"Mintalah kapan pun kau mau, Sayang," Lagi, kecupan ringan mendarat di ujung bibir Kira.


"Aku tak perlu meminta, kau yang selalu datang padaku," Jemari panjang Kira mengelus pipi berbulu lembut suaminya, "Sudah waktunya bercukur, Yang."


"Kau tidak suka?" Kedua pasang mata itu saling meneliti.


"Suka, tapi kau akan terlihat garang dengan jambang di pipimu. Aku lebih suka kamu yang imut, Yang," Bibir itu membulat, menahan senyum menggoda.


Harris menaikkan sebelah alisnya, diikuti tarikan di sisi wajahnya, "Kau pikir aku kelinci?"


Kira mengangguk, menggoyangkan kaki berbalut celana panjang hitam, "Iya, kau kelinci bajak laut."


"Adakah yang seperti itu?" Tangan Harris menata helaian rambut Kira yang tak beraturan, dengan jari tengahnya.


"Ada, itu kamu, kau seimut kelinci saat tidur, dan garang saat berdiri, seperti bajak laut," Kira melukis pipi, menekan-nekan ujung hidung, dan mengusap lengan bergelombang milik suaminya.


Harris mengernyit, perumpamaan yang buruk, tapi, mungkin ada benarnya. Hidupnya keras seperti kehidupan bajak laut. Kehilangan kasih sayang dan buta arah.


"Kenapa aku tidak mirip seperti Cristiano Ronaldo atau Kaka, atau Zanneti, mungkin?" Bibir Harris mengembangkan gestur penuh sindirian. Seakan kata-kata istrinya menyakitinya, meski tidak sama sekali.


"Kaka? CR ?" Raut wajah Kira berubah menjadi penuh minat saat mendengar nama-nama yang tidak asing bagi telinganya, "Kenapa tidak Pacman saja? Ivy suka sama Pacman!" Kira terkikik, geli. "Aku rindu Kaka, apa dia sudah bahagia, ya?"


Kira meraba-raba, mencari ponsel. Dapat, tapi ponsel milik suaminya, ponselnya masih rapi di dalam tas di sofa nun jauh di sana. Kira enggan menggerakkan punggungnya yang serasa akan patah.


"Kau mau apa? Menelponnya? Memastikan kebahagiaan idolamu?"


Kira mendengus, "Andai kami sedekat itu, tentu aku tidak bersamamu, Yang."


"Kanapa? Kau akan memilih dia?" Harris berdecak kecewa, meski hanya bercanda, tapi perasaan itu melintas begitu saja. Dan, tidak begitu besar, namun terasa menggelitik.


"Tidak juga. Jika aku lahir di Brazil atau Italia, mungkin ngga sih kita ketemu? Mungkin aku menikahi Harris yang lain. Dan kau menikahi Kira yang lain. Kau terlalu banyak berpikir," Kira mencibir, bibirnya mengerucut persis dengan bibir Jen, hanya saja, garis bibir istrinya lebih tegas.


"Kau ini aneh, saat gadis seusiamu suka bintang film, kau malah suka bintang bola? Apa dulu kau bercita-cita jadi pemain sepak bola?"


Kira tertawa, "Aku hanya suka sepak bola, tapi mungkin, jika ada klub sepakbola wanita aku akan mendaftar paling awal."


Ponsel di tangan Kira bergetar, "Johan, Yang,"


Harris mengambil ponsel itu dari tangan istrinya.


"Ya, Jo,"


"Tuan Winata sudah menunggu anda! Apa anda masih lama?"


"Sebentar lagi, aku akan segera menemuinya,"


Harris mematikan sambungan telepon dari Johan. "Sayang, aku harus bekerja lagi, kau istirahat saja dulu, tunggu aku, kita pulang bersama."


Kira bangkit dari paha suaminya, menyambut kecupan di keningnya. "Ini tidak akan lama,"


"Baiklah, aku akan menunggumu,"


***


Usai membersihkan diri dan berganti baju yang menutupi lehernya, Kira keluar ruang kerja Harris, hendak mencari Kalina. Namun, dia di kejutkan dengan adanya Raka dan Nina. Mereka terlihat akrab. Pikiran Kira menggelap seketika, satu per satu prasangka melakukan absensi di dalam otaknya. Tidak terlewat, hanya, prasangka baik yang tidak hadir.


"Raka? Nina?" Tatapan Kira mengeras, bersama suaranya yang terlontar penuh penekanan. Pikirannya sudah kacau, melihat keduanya yang semula tertawa, dan terkejut saat mendengar suara Kira. Seperti pencuri yang ketahuan.


"Mbak Kira?" Lirih Nina. Dia terlihat bingung saat terpergok mendatangi kantor Kakak iparnya, menemui suami mantan ipar kakaknya. Berulang kali, Nina memandang antara Kakaknya dan Raka, yang tetiba berkerut takut dan cemas. Juga tidak tahu harus berbuat apa.


"Sedang apa di sini?" Kira memaku pandangannya pada Nina. Dia tak peduli pada Raka. Toh, Raka juga tidak pernah menganggapnya ada selama ini.


"Mbak, jangan salah paham, kami hanya kebetulan bertemu," Ucap Raka hati-hati, dan seakan mereka terlibat hubungan yang sangat akrab sebelumnya.


Kira mencibir, dan melirik tajam ke arah Raka, "Kebetulan? Kau benar-benar suami Riana, yang pandai membodohi orang, ya?,"

__ADS_1


Raka terdiam, membisu, tidak mampu menjawab, dia merasa ucapan mantan istri kakak iparnya, adalah benar. Dia membodohi Nina, menarik simpati gadis polos itu dengan kisah sedih hidupnya. Beberapa saat, pandangan keduanya masih saling bertaut.


"Aku kebetulan mampir usai menemui teman, Mbak! Mbak Kira jangan salah paham," Nina meraih tangan Kakaknya. Nina takut saat melihat raut wajah kakaknya yang dingin disertai sorot mata membunuh, mirip dengan Kakak iparnya.


"Teman?" Kira melirik tajam ke arah Nina yang langsung membisu.


Kira menarik tangan Nina ke koridor sepi. Pikirannya benar-benar kalang kabut, apalagi saat melihat Raka memandang Nina. Seperti ada perasaan ingin memiliki. Bukan sekedar teman, meski Kira sendiri menolak percaya dan berusaha mengusir jauh-jauh pemikirannya itu.


"Jelaskan?" Perintah Kira pada adiknya. Tanpa ada niat untuk melunak padanya. Kira terlalu takut dengan efek kerusakan yang akan menimpa Nina.


"Iya, Mbak. Raka adalah temanku." Nina mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit. Pasrah, menghindar juga percuma.


"Sejak kapan? Kau tau dia sudah menikah? Kau mau menjadi Melisa? Jangan kau kira Mbak tidak tahu apa-apa, Nina," Kira melotot, seakan tak kuasa menahan amarahnya. Biar saja, suaranya bergema memenuhi koridor sepi itu, dia tidak peduli.


"Sudah lama, Mbak, aku tahu kok, dia suaminya Riana," Jawab Nina, lirih. Dia berusaha jujur pada kakaknya.


"Jauhi dia. Jika kau tidak ingin mengundang masalah," Kira mendekat selangkah, seakan Nina tidak bisa mendengarnya dari jarak sebelumnya.


"Mbak, aku hanya menganggapnya teman. Dia sedang bermasalah dengan istrinya. Dan dia butuh teman curhat," Nina sedikit frustrasi, kakaknya tidak mau mengerti.


"Kau tidak belajar dari kesalahanmu, Nin! Kau lupa bagaimana kau berakhir di penjara?" Kira mengguncang bahu Nina, pelan, tapi sorot mata itu tak mereda sama sekali, malah semakin tajam.


Nina, menurunkan tangan kakaknya, "Mbak, Raka berbeda. Dia tidak seperti Andi,"


Kira menjauh, menyerah, dia tahu adiknya tidak akan mudah mengerti kekhawatirannya, "Mbak tidak mau tahu, jauhi Raka. Jika ada apa-apa denganmu, Mbak tidak bisa membantumu lagi,"


"Mbak,"


Nina menyurut, tidak jadi membantah kakaknya, saat Kakak iparnya berdiri di belakang kakaknya. Hatinya mencelos ke dasar, seakan sudah tak ada lagi tempat untuk berlari, selain menggali lebih dalam, ke dasar tanah. Nina, merasakan sekujur tubuhnya, dingin.


"Ada apa ini?" Harris mendekati keduanya, memandang Nina, yang menghadapnya.


"Sudah selesai meetingnya, Mas?" Kira berbalik, kekesalan itu nampak jelas di wajahnya. Dia tidak bisa menutupi lagi meski di hadapan suaminya.


"Sudah," Harris tersenyum singkat dan meraih pinggang istrinya. "Sedang apa di sini, Nin?"


Perlu beberapa saat bagi Nina untuk mencerna pertanyaan kakak iparnya, "Sa-saya, menemui teman saya, Mas, eh, Pak,"


Harris ingin tertawa melihat kegugupan Nina, setiap kali berbicara padanya,"Kau tidak tahu ini masih jam kerja? Siapa yang kau temui?"


"Ta-tahu, Pak," Nina tertunduk, suaranya lemah. "Raka, Pak."


"Kau boleh kesini, tapi bukan untuk menemui karyawanku. Kau memang adikku tapi ku harap, kau tidak mengganggu kinerja karyawan di sini."


"Maaf, Pak,"


"G*** Pak,"


"Jo, kita pulang sekarang. Kau bawa mobil Kira, aku akan mengemudi sendiri,"


"Baik, Tuan."


"Nina, pulanglah bersama Johan,"


"Baik, Pak,"


"Jo, bawa dia kerumah, aku belum selesai dengannya," Kira berbicara kepada Johan, tapi matanya menatap Nina yang belum mengangkat wajahnya.


"Baik, Nyonya," Johan mengangguk.


***


"Kau mau minum?" Tanya Johan pada Nina yang belum berbicara sepatah katapun sejak meninggalkan kantor.


"Terimakasih, Pak," Nina menerima botol air mineral dari Johan. Dengan malu-malu Nina meminumnya.


"Jangan sungkan, santai saja," Johan tersenyum melihat Nina yang canggung padanya.


"Baik, Pak,"


Johan memperhatikan Nina yang memutar-mutar botol air mineral itu, kepalanya menunduk. Lalu fokus lagi ke jalanan. "Masih kesal dengan kakakmu?"


Nina melirik sekilas ke arah Johan yang mengawasi jalanan. Sebelah tangannya menyisir rambutnya yang sedikit menyentuh dahi.


"Sedikit," Jawab Nina ragu.


Johan tertawa tertahan, namun tak bisa menyembunyikan barisan giginya yang rapi.


"Kau tak perlu takut padaku, katakan saja, aku bisa menyimpan rahasia,"


Nina tersenyum kikuk, meski Johan bersikap santai, tapi bagi Nina, Johan tetaplah tangan kanan kakak iparnya. Nina takut, apa yang di katakannya akan sampai pada Kakak ipar dan Kakaknya.


"Kau tidak percaya padaku?" Tanya Johan, saat Nina tidak menyahuti ucapannya.


"Bukan, Pak. Saya hanya merasa tidak enak hati saja," Nina berbohong, agar Johan tidak merasa tersinggung.

__ADS_1


Johan tersenyum, "Baiklah, aku tidak memaksa, tapi, aku sarankan agar kau menuruti kata-kata kakakmu, menjauhi masalah itu lebih baik, karena sekarang Kakakmu tidak bisa mengawasimu seperti dulu,"


"Pak Johan tahu sesuatu tentang Mbak Kira atau Raka?"


"Sedikit tahu, Nina. Intinya, meski apa yang Raka ucapkan adalah kebenaran, kau harus tahu apa tujuan Raka mengatakan itu padamu, mengerti?,"


"Dia hanya butuh teman bicara, Pak. Dan aku hanya kasihan padanya,"


"Membicarakan urusan rumah tangganya?"


"Iya, Pak. Kasihan sama anak-anaknya, Pak,"


Johan tertawa, melihat kepolosan Nina.


"Ada yang salah, Pak?" Nina merengut kesal saat Johan tertawa.


"Kau memang sangat polos, Nin. Berapa usiamu?"


"24 tahun, kenapa Pak?"


"Kau sudah dewasa tapi kau sangat lugu, Nin. Di mata kami, Raka itu menyukaimu, namun dia menggunakan masalahnya untuk menarik simpatimu,"


"Tidak mungkin, Pak. Kami kenal bahkan saat dia belum bermasalah,"


"Kau ini keras kepala ya,"


"Kalau lembek namanya bubur, Pak, bukan kepala," Nina menabrakkan punggungnya ke sandaran kursi. Pandangannya menyapu jalanan di luar mobil. Pikirannya terus berdiskusi, selama ini dia menganggap Raka adalah saudara ipar kakaknya, dan rekan kerja saat bekerja di grup WD. Benarkah apa yang di katakan kakaknya dan Johan? Nina pusing memikirkan ini. Serumit ini kah, sebuah hubungan pertemanan?


Kedua mobil berhenti di pelataran rumah, dan ada sebuah mobil lagi yang terparkir tak jauh dari mobil yang di tumpangi Nina.


Nina menyipit, memindai mobil itu dengan perasaan yang bercampur. Perlahan dia turun, tanpa memutus kontak dari mobil itu.


Telinga Nina berdengung, menghalangi semua suara. namun matanya dengan jelas melihat apa yang terjadi.


"Dokter Vivian? Rio? Wah, mimpi apa aku semalam ya? Kedatangan tamu kehormatan,"  Kira menyambut keduanya, dengan riang dan hangat. Seperti biasa. Sedangkan Harris, membentengi dirinya dengan memasang ekspresi dingin.


"Jangan begitu, aku kemari untuk meminta maaf karena membatalkan janji kita tadi," Dokter Vivian tersenyum, canggung, dia tampak lelah sekali dan pucat.


"Dokter baik-baik saja? Kamu sangat pucat? Ayo masuk, biar saya buatkan teh hangat atau cokelat panas?"


"Tidak apa, aku hanya mengantarkan ini, dan saya akan segera pulang," Dokter Vivian mengulurkan sebuah kotak berisi gulungan, seperti perkamen tua yang berpita emas.


Kira menerima kotak itu, dan tersenyum, "Ayolah, kalian sudah sampai di sini, masa ngga mau masuk,"


Dokter Vivian memandang Rio, seolah meminta pertimbangan. Rio hanya tersenyum, dan mengangguk.


"Baiklah," Dokter Vivian akhirnya menyetujui, dan mengikuti Kira dan Harris yang memeluk pinggang Kira.


Dokter Vivian terhuyung, seakan tubuhnya tak punya keseimbangan yang cukup untuk menopang tubuhnya.


"Kau baik-baik saja?" Rio dengan tegas menangkap tubuh Dokter Vivian, dan meraihnya lebih dekat dengannya.


Semua mata kini tertuju pada keduanya. Dan itu berhasil membuat Dokter Vivian merona karena malu.


"Aku hanya lelah, tidak apa-apa," Dokter Vivian segera menjauhkan tubuhnya dari Rio. " Makasih, Yo."


Rio hanya tersenyum, dan menuntun Dokter Vivian menaiki beberapa undakan hingga sampai di ruang tamu.


"Pak Johan, tolong antarkan saya pulang, Pak," Ucap Nina saat Johan hendak ikut masuk menyusul mereka.


Johan menoleh, melihat raut wajah Nina yang memucat, "Kau sakit?"


"Tidak, Pak. Saya rasa Mbak Kira sedang sibuk, dan saya, saya masih ada urusan," Jawab Nina. Bibirnya bergetar hebat, dan matanya berembun, tertahan oleh kedipan yang sengaja di lakukan agar embun itu tak jadi menetes.


Johan tersenyum, seperti mengerti tapi belum jelas. "Baiklah, ayo,"






Ada yang kangen ngga nih sama author? 🤣


Udah 100 aja nih episode 🤗


Sekali lagi dan beribu kali lagi, terimakasih atas segala bentuk dukungan untuk author, mulai dari like, komen vote dan juga tips.


Dari reader kesayangan author, author bisa semangat nulis, apalagi saat masuk top 500 di Vote rank. Bahkan masuk 300 teratas. Uhh, Author terharu🤩🤩,


Author ini masih benar-benar pemula, dan di bandingkan yang lain, Author bukan apa-apa. Hanya para pembaca yang membuat Author yakin dan percaya diri untuk menulis. Semangat lagi, saat melihat jumlah like, baca-baca komentar dan juga lihat jumlah Vote. Hemm, Author ingin menangis.😭😭


Hanya doa terbaik, yang bisa author berikan untuk kalian semua, terimakasih untuk segala-galanya. Cinta kalian untukku sungguh luar biasa.💕💕

__ADS_1


Sekian dari Author,


Love You, All😘😘


__ADS_2