
Beberapa waktu lalu, saat menginap di rumah Uti dan Kakek.
Excel dan Jeje sedang berada di kamar, rebahan di kasur dengan dengan kedua tangan sebagai bantal, saat Mamanya mendesak paksa pintu kamar dari luar diikuti Jen. Dalam penglihatan mereka, Mamanya nampak kesal dan lelah.
"Excel, Jeje, kemas barang-barangmu, Nak. Kita pulang sekarang," Ucap Kira tanpa melihat mereka berdua, udara sore itu sangat panas dan angin enggan bertiup. Di tambah suasana hatinya yang memburuk, membuatnya semakin gerah. Sehingga memaksa Kira mengikat rambutnya, menampilkan leher mulus dengan beberapa tanda merah di sana sini. Kira lupa, akan tanda cintanya, saking kesalnya karena di sudutkan Nina.
Excel segera melakukan perintah Mamanya tanpa menunggu perintah kedua kalinya. Berbeda dengan Jeje, yang masih mematung memandang Mamanya penuh tanda tanya.
"Je, cepatlah Nak, Mama tunggu di mobil," Kira meraih tas Jen yang baru di tutup restletingnya, dan melihat sekilas ke arah Jeje yang masih berdiam diri.
"Ayo, Sayang," Jen mengekori Mamanya, yang menggirng dirinya di pundaknya. Jen heran dengan Mamanya yang tidak seperti biasanya.
Jeje melompat turun dari ranjang, dan berlari ke arah pintu. Dia memastikan Mamanya sudah menjauh dari kamar mereka. Jeje menutup pintu saat Excel manggendong tas rangselnya.
"Ada apa Je?" Excel sedikit terkejut saat Jeje berbalik dengan kecemasan.
"Kak, Kakak percaya tidak jika Papa Harris sayang sama Mama?" Jeje melangkah tergesa meraih tangan Excel, menatap wajah kakaknya dengan serius.
"Percaya! Memangnya kenapa? Kau meragukan Papa Harris?" Excel melepas telapak tangan yang mencengkeram lengannya. Pandangannya masih terpaku pada Jeje.
"Iya, aku ragu Kak, sepertinya Mama di sakiti oleh Papa Harris," Jeje mengerjap, dia yakin dengan penilaiannya.
Excel menatap Jeje keheranan, "Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?"
"Kak, lihat leher Mama, selain di cubit atau di pukul mana bisa badan kita merah-merah seperti itu?"
"Masa sih, Je? Kakak tidak melihatnya. Kau jangan mengada-ada," Excel menatap Jeje tidak percaya. Dia tidak memperhatikan sampai di situ, dia sibuk berkemas. Juga, dia tidak memperhatikan detil, dia hanya terpaku pada satu hal, biasanya pada wajah seseorang. Dia tidak seperti Jeje yang begitu teliti menilai orang
"Kak, apa sebelumnya aku pernah bercanda tentang keamanan dan keselamatan Mama? Belum kan, Kak? Atau apa aku pernah berbohong jika berurusan dengan Mama?"
Excel berpikir sebentar, memang Jeje usil dan jahil tapi dia tidak pernah bercanda atau berbohong melibatkan Mamanya. Tapi, Excel juga tidak percaya jika Papanya mampu menyakiti Mamanya. Ah, pusing, hubungan orang dewasa membuatku sakit kepala, aku bersumpah tidak akan menikah, pikir Excel.
"Kak, bagaimana?" Jeje menggoyang lengan kakaknya yang melamun, berpikir keras.
Excel bingung, namun dia harus menenangkan Jeje yang panik sejak tadi. "Kakak lihat dulu, jika benar ada bekas pukulan, kita pikirkan cara menyelamatkan Mama."
__ADS_1
"Oke, setuju,"Jeje mengangguk pasti. Dia sangat menggebu-gebu penuh semangat. Seakan ada misi penyelamatan ala detektif. Tangannya mengepal kuat, seiring dada kecilnya yang di angkat naik.
***
"Aku ngga bohong kan, Kak?" Saat mereka menjauh dari Mamanya, menaiki tangga dengan tergesa menuju kamar di lantai dua.
"Iya, tapi kapan semua itu di mulai ya, Je? Bukankah Mama selalu bersama kita sepanjang waktu? Kalau di pukul, pasti Mama akan teriak, kita juga bisa dengar kan?" Excel masih berusaha menganalisa dengan logikanya, meski dia sedikit terpengaruh dengan ucapan adiknya.
"Kalau malam kan Mama tidur sama Papa Harris, Kak. Mungkin saja kan? Pas kita tidur, Mama di pukulin. Jadi kita ngga dengar, Kak!,"
"Tapi, Je. Papa kan baik sama kita, mana mungkin dia berbuat kasar sama Mama?"
"Ih, Kakak!" Jeje menghentak keras kakinya ke tanah. "Kakak mau Mama sakit lagi kaya dulu?"
"Bukan begitu, Je. Maksud Kakak, Papa Harris kan terlihat sangat menyayangi Mama, jadi Kakak pikir itu tidak mungkin," Balas Excel sedikit kesal, dia belum bisa menemukan alasan mengapa Papa sambungnya menyakiti Mamanya. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu.
"Kalau Kakak ngga mau bantu Jeje, bilang saja. Jeje akan minta bantuan sama Jen saja," Jeje melangkah dengan cepat untuk merayu Jen, agar dia bisa menyelamatkan Mamanya.
"Jen, mau ngga bantuin aku?" Tanya Jeje pada kembarannya yang belum lama masuk bersama Kristal.
"Kris, kamu keluar dulu, kami mau bicara sebentar," Ucap Jeje lembut, seakan takut perkataannya menyakiti hati Kristal.
"Sebentar saja, Kris, kami tidak bermaksud apa-apa," Ucap Jen, seolah meminta pengertian.
Kristal sedikit lega dengan penghiburan dari Jen. Dia berbalik ke pintu, setelah matanya beradu pandang sejenak dengan ketiganya secara bergantian. Ya, Excel ada di ruangan itu, namun, dia hanya diam sambil membaca sebuah buku. Lama-lama muka Excel mirip lembaran buku itu, kering dan datar.
"Kau minta bantuan apa dariku, Je? Sampai mengusir Kristal segala?" Jen memandang galak ke arah kembarannya.
"Jen, nanti malam, kamu ajak Mama tidur sama kamu, ya!"
"Kenapa memangnya?" Balas Jen cepat. Jeje lupa, Jen bukan orang yang suka di suruh-suruh atau di atur.
Jeje merengut kesal, "Ikuti saja kata-kataku, nanti akan ku beritahu semuanya, Oke?"
"Tidak, beritahu dulu, atau aku tidak mau melakukan permintaanmu!" Jen bersedekap dengan dagu sedikit maju. Seakan menantang Jeje.
__ADS_1
"Bisa tidak kau menurut dulu?"
"Tidak!" Pekik Jen.
Jeje meghela nafas, dengan bahu menurun, pasrah. Dia memang tidak bisa menang melawan Jen. Akhirnya, Jeje menceritakan semuanya kepada Jen.
"Masa sih, Je? Aku juga melihatnya, tapi ku kira itu Mama sedang masuk angin seperti biasa," Jen tidak percaya dengan ucapan Jeje. Hal yang sama dengan yang Excel ucapkan. Jen berpikir Mamanya masuk angin dan di kerokin punggung dan lehernya, seperti dulu-dulu. Saat masih tinggal di rumah Utinya. Kata Mamanya, kerokan adalah jalan pintas menuju kesembuhan dan gratis.
"Ngga mungkin, pokoknya kita harus menyelamatkan Mama. Titik. Dan kamu harus membujuk Mama," Jeje bersungut. Dia segera keluar kamar meninggalkan Jen yang meminta pendapat Excel, yang hanya di balas dengan bahu yang terangkat.
***
"Jen, cepat selesaikan makanmu, lalu ajak Mama ke kamar," Bisik Jeje dari balik tangannya.
"Iya, iya," Jawab Jen malas. Sebenarnya dia ragu, tapi dia tidak mau membuat Jeje kesal. Jadi, dia memilih menuruti Jeje.
Jen melangkah ke kamar Mamanya, dan dengan ragu memanggil Mamanya
"Ma, Mama," Panggil Jen lirih. Dia berharap Mamanya tidak mendengar sehingga dia tidak bingung mencari- alasan.
Tetapi, Mamanya muncul, dengan wajah sembab, dan lelah, "Ada apa, Jen?"
"Jen mau tidur di temani Mama. Jen kangen Mama," Jen mencium pipi Mamanya bergantian, sebagai tanda permintaan maaf.
"Oh, baiklah kalau begitu. Kita ke kamar Jen sekarang." Kira bernapas lega, dia sudah berpikir yang tidak-tidak saat mendengar panggilan Jen. Kira menggandeng tangan Jen, dan melangkah dengan riang ke kamar.
Tak berselang lama, Jeje dan Excel menyusul ke dalam kamar. Mendapati Mamanya sudah terlelap dan Jen masih berpura-pura tidur. Jeje segera mengunci pintu kamar dan menyimpan kunci itu dengan aman.
"Huh, berhasil," Jeje meninju udara dengan tangan terkepal. Bibirnya bergerak tanpa suara. Mama adalah segalanya bagi Jeje. Entahlah, apa hal itu juga yang dirasakan oleh kedua saudaranya. Tapi, sekarang dia akan memasang benteng untuk Mamanya, agar Mamanya tetap aman di dalam perlindunganya. Excel hanya pasrah melihat ekspresi kepuasan di wajah Jeje. Tak sampai hati rasanya, membuyarkan kesenangan adik kembarnya.
"Semoga apa yang di katakan Jeje tidak benar," Batin Excel sebelum tenggelam lagi ke dalam buku-buku tebal tanpa gambar penuh warna.
•
•
__ADS_1
•
•