
Rian sedang dalam perjalanan pulang, dan seperti biasa pula, dia selalu melewati kafe Ivy, seperti sedang bermain random keberuntungan. Dan ya, kali ini dia beruntung, pucuk di cinta, ulam pun tiba. Jika sekali gagal, hanya perlu bersabar, dan terus mencoba.
Rian segera menepi ke halaman kafe, ketika di lihatnya, seseorang yang di carinya, keluar dari rimba persembunyian. Rian tersenyum mendapati wanita itu, menatapnya. Dawai-dawai di hatinya, terpetik pelan. Rindu, sangat rindu. Teduh mata itu, selalu membuat Rian, memujanya. Meski kobaran api tampak di ambang kilasan mata, bagi Rian, itulah gairah yang mampu menyulut bara dalam hatinya.
Kira memilih menghindar, segera masuk ke dalam mobilnya. Namun, begitu dia membuka pintu mobil, Rian buru-buru menutupnya kembali.
Kira mendengus, membuang nafasnya kasar.
"Apa maumu, Mas? Aku capek, Mas. Aku lelah menghadapi kamu seperti ini," Ufuk mata Kira mulai penuh. Ingin marah, tapi, bahkan setitik emosi saja dia tak mampu mengungkapkan, benar-benar lelah. Menghadapi orang yang pantang menyerah akan suatu hal yang mustahil, adalah hal yang paling menjengkelkan.
"Ra, aku kemari atas nama Ibu, Ibu yang menginginkan kamu kembali," Tatapan Rian meluruh. Luruh dan lenyap, bagai debu di hempas angin, entah kemana. Seperti itulah harapan Rian saat ini. Kira benar-benar membuat benteng tinggi, dalam setiap kehadirannya. Pasti, Rian tahu pasti, Kira sudah tidak mengharapkan dirinya.
"Mas, aku sudah menikah, kurasa waktu itu kau melihat siapa suamiku. Aku tidak bisa kembali padamu, dan aku tidak akan pernah mau kembali padamu, Mas. Sekali saja bersamamu, aku sakit, Mas. Mengertilah, Mas. Ku mohon," Kira menangkupkan kedua belah tangannya. Air matanya benar-benar lolos tanpa bisa di cegah.
"Aku tidak akan menyakitimu lagi, Ra. Aku berjanji. Aku juga memohon, Ra. Demi anak-anak, demi Ibu. Kita balik lagi ya?," Permintaan konyol yang membuat Kira semakin benci mantan suaminya. Demi anak yang mana? Demi Ibu yang seperti apa?
"Mas, sudah berapa kali ku bilang. Aku tidak akan kembali bersamamu. Alasannya, karena aku sudah menikah. Aku sudah jadi istri orang. Apa aku kurang jelas mengucapkan?," Kira mengepal kuat. Kira merasa harus segera mengakhiri ini.
"Bohong, Ra. Kamu pembohong. Aku tahu, istri Tuan Harris kabur, dan itu pasti karena kamu. Apa aku benar?."
"Mas, jangan membuatku tertawa, apa kau sedang menuduhku sebagai orang ketiga?," Kira membuka kedua tangannya yang berada di samping tubuhnya. Kira bingung, dia sudah mengatakan bahwa dialah istri Harris, tapi Rian menolak percaya. Bukti, dia butuh bukti.
"Iya, aku tahu kau sakit hati karena aku, dan kau, lihat kau sekarang!," Rian melihat mantan istrinya dari atas turun ke bawah. Semuanya, bukan barang murah yang biasa dia beli dulu. "Jika hanya hasil kerjamu di kafe, ini tidak akan melekat padamu."
"Mas, hidup seseorang bisa berubah. Kau mungkin terlalu menganggapku kecil dan remeh. Kau tidak tahu, apa yang bisa ku lakukan demi anakmu. Kau tidak tahu apa yang bisa di lakukan seorang wanita yang di sakiti," Kira menyilangkan kedua tangannya di dada. Berkali-kali dia membasahi bibirnya yang seakan gersang.
Rian terdiam, kelu, entah bagaimana dia akan menjawab Kira. Benar, dia menganggap Kira remeh, kecil dan lemah. Tapi, dia juga tidak bisa membiarkan Kira, menjadi wanita penuh dendam. Terlebih, dia sedang berurusan dengan Bos besar, seperti Harris.
"Mas, sudahlah. Kurasa kau tahu arti kata berhenti, aku sudah tidak bisa kau miliki. Bahkan kau sentuh. Cintai apa yang kamu miliki sekarang. Jaga dia, tuntun dia. Jangan lagi kamu mengharapkan aku, dan jangan kau membuatku membencimu lebih dari ini."
"Ra, tapi bagaimana dengan Ibu? Dia sangat ingin menebus kesalahannya padamu. Dan bagaimana dengan anak-anak? Apa aku tidak punya kesempatan untuk sekedar bertemu mereka?," Rian belum menyerah, Rian masih ingin meraih cinta wanita ini. Merengkuh lagi bahagia saat wanita ini dalam pelukannya. Wanita dengan sejuta kesabaran dan kasih sayang. Tidak berlebihan rasanya, bila mengatakan bahwa Kira adalah wanita sempurna.
"Bilang pada Ibu, tebus kesalahannya dengan menyayangi Melisa dan anaknya. Jangan sampai mereka bernasib seperti aku. Dan jangan sampai kau mengemis seperti ini kepada Melisa, suatu saat nanti. Untuk anak-anak, aku akan membuat mereka mengerti, jika mereka bersedia, aku yang akan membawanya padamu," Jawab Kira
Kira tak lagi bisa bersabar, dia menghentak pintu mobil dengan kasar. Dia mengemudi seperti orang gila. Hingga ketika lampu merah, dia berhenti mendadak, menimbulkan decit yang mengerikan. Berulang kali dia memukul setir mobil. Ya, dia harus mengakhiri drama balikan dari mantan. Lelah, terlebih, dalam rumahnya, ada srigala yang siap menerkam kapan saja.
*****
Mentari sudah tergelincir, dan merubah warna langit, menjadi hitam. Seperti halnya mentari, Harris juga kembali ke peraduannya. Ke dalam sarang, dimana seseorang tengah menantinya.
__ADS_1
Kecewa, ketika bukan dia yang di harapkan. Sedang berdiri diambang pintu dengan senyum ceria, makan rupanya membuatnya memiliki energi untuk hal-hal seremeh senyum.
"Sayang, kau sudah pulang?," Viona berjalan tergesa menyambut suami orang pulang ke dalam rumah. Yang di sambut, muram, kosong dan acuh. Seolah dia baru mendengar gemerisik daun bergesekan tertimpa angin.
"Sayang, kamu tahu, tadi istrimu kedatangan penagih hutang loh," Viona mensejajarkan langkahnya dengan Harris. Harris sudah mengepal dengan gigi yang merapat dalam mulutnya yang terkatup rapat.
"Ris, aku tahu, dia cantik dan seksi tapi kamu jangan tergoda olehnya. Dia itu penipu, dia hanya mau hartamu, dia tidak tulus sama kamu, Yang," Harris yang hendak menaiki tangga berhenti, menarik lagi sebelah kakinya yang, sudah berada di anak tangga pertama. Harris memutar kakinya, berhadapan dengan wanita yang ingin di singkirkannya jauh-jauh.
"Lalu?."
Viona seperti mendapat angin segar, ketika Harris meresponnya. Binar di matanya, berkilauan di terpa cahaya lampu. Membuat Harris ingin muntah.
"Istrimu tidak sebaik yang kau kira, Yang. Percayalah padaku, dia, dia hanya, hanya ingin membuatmu menderita," Viona meraih tangan Harris yang sedang menggantung jasnya.
"Aku pulang," Kira merasa lelah, namun ketika melihat pemandangan di depannya, darahnya terasa mendidih. Hilang sudah lelahnya, berganti amarah yang bergemuruh, berdentang-dentang, seperti mendobrak dadanya.
"Dari mana saja, kau?," Harris menghempas tangan Viona dengan kasar. Tatapan gelap Harris bersambut dengan kobaran amarah di mata Kira.
"Aku dari Dokter Vivian, kenapa?," Kira menegakkan wajahnya menatap Harris.
"Ikut denganku," Harris menyeret tangan Kira sedikit kasar. Membawanya ke lantai atas. Ke dalam kamar.
Pintu menjeblak dan menutup sama kerasnya. Membuat seluruh penghuni rumah merepet ketakutan. Johan, bahkan sudah siaga dengan lengan baju tergulung sampai siku, setelah mendengar gelegar amarah dari Tuannya.
"Kau ini kenapa?," Kira menarik pergelangan tangannya dari cekalan Harris yang melemah.
"Mengapa kau melakukan itu tanpa persetujuanku, ha? Kau istriku, kau harus minta izin dariku, saat akan melakukan sesuatu. Bukan seperti ini!," Harris berkacak pinggang. Kesal. Ketika niat baiknya, untuk membuat semuanya tenang, malah dia yang mendapat kubangan.
Harris tahu, semua yang terjadi di sini sejak pagi. Setiap orang di dalam rumah ini, kini terpantau olehnya, tanpa terkecuali. Dan, si bodoh itu, bahkan dia tidak sadar, bahwa Harris kini, tidak senaif dulu. Saat dia bersama Viona.
Kira mematung. Membiarkan Harris mengeluarkan pendapatnya.
"Berhentilah menjadi baik, hanya demi sesuatu yang bahkan bukan milikmu. Lebih baik kau menjadi jahat, dan kejam. Kau tau, kau bukan protagonis. Kau harus kuat dan jangan naif. Ayolah, kau tidak cocok berperan seperti itu."
Kira menatap netra suaminya, yang sama dengannya saat Rian memohon agar dia kembali padanya. Lalu, bibirnya mengulas senyum.
"Apa yang Viona katakan?," Kira mendekat. Mengamati wajah lelah di depannya.
"Kau sudah bisa menebaknya, bukan?," Harris menyambar wanita di depannya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak tahu jika dia berpikir sejauh itu. Benar dugaanku, dia tidak peduli siapapun, selain dirinya," Kira memejamkan matanya. Berusaha memahami keinginan suaminya. Dia hanya mengkhawatirkan keselamatannya.
"Buatlah dia mengerti, meski caramu terkesan jahat, tunjukkan taringmu padanya seperti saat menghadapi mantan sahabatmu itu. Tajam dan menyakitkan," Harris mengusap pelan surai hitam lembut. Keduanya berusaha saling memahami, menyamakan tujuan, menyingkirkan gangguan. Ujian, membuat mereka semakin dekat.
"Iya, aku mengerti, jadi, dia yang pindah atau kita yang pindah?," Ucapan Kira membuat Harris mengernyit. Harris melepaskan pelukannya, dan menatap netra istrinya. Menatap senyuman manis yang membuat giginya mengintip.
"Dia yang pindah, ada apartemen kosong milikku, kita tetap bisa memantau dia, aku tetap bisa mengurusnya, kau tidak perlu kuatir lagi akan keselamatan dia dan anaknya," Harris meraih dagu istrinya dan menggoyangkan pelan.
"Awalnya, aku setuju denganmu, tapi, hari ini, melihat kelakuannya, aku menjadi muak. Kau menolongnya naik dari jurang, dan dia mendorongmu ke jurang."
"Sudahlah, aku menyerah pada wanita itu. Ku kira saat mengandung dan lemah, dia bisa menyadari kesalahannya. Tapi aku keliru. Dan kurasa, Melisa juga seperti itu, jadi bagaimana aku harus membuat mereka jera?," Kira menghempas badannya ke ranjang. Lelah.
Harris merebahkan badannya di sebelah Kira. "Besok, semua akan selesai besok."
"Maksudnya?," Kira bangkit lagi. Bingung.
"Ya, kau tunggu besok, tapi jangan berulah, turuti saja kata-kataku. Dan, kali ini aku benar-benar marah," Harris kembali mendelik. Mendekatkan wajahnya di raut milik istrinya.
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa?," Kira mengerjap mencoba mengingat apa yang salah dengannya kali ini.
"Kau tidak menyambutku seperti biasa. Kau darimana?,"
"Oh, kukira aku salah lagi." Kira menurunkan bahunya yang semula tegang. Lega. "Aku ke tempat Ivy tadi, dan aku, aku," Kira membenturkan dahinya di kening suaminya. "Jangan marah, ya,"
"Apa dulu?," Harris menjauh, membiarkan istrinya merasa hampa dan takut.
"Tadi aku ketemu Mas Rian dan-,"
"Mulai sekarang jangan pergi sendiri. Bawa salah seorang yang ada di sini. Aku bisa menambahnya jika kurang. Mereka dengan senang hati, berada di sini," Harris tahu, sangat tahu apa yang terjadi pada Kira.
Ya, Ivylah yang membuat Harris tahu apa yang terjadi pada Kira. Seperti janjinya, Ivy akan memastikan Kira bahagia. Meskipun Ivy yakin, Harris sangat memahami istrinya yang sederhana. Kira yang selalu terlihat lemah saat dia berbuat baik. Dan celah itu yang membuat Viona berpikir bahwa dia dengan mudah mendepak Kira dari sisi Harris.
•
•
•
•
__ADS_1